Serba Serbi
Bulan Menjauh dari Bumi, Apa Dampak pada Cuaca dan Iklim?
KlikBogor – Fenomena Bulan yang perlahan bergerak menjauh dari Bumi kerap memicu berbagai spekulasi, mulai dari perubahan iklim hingga dampak terhadap kehidupan manusia. Namun, benarkah anggapan tersebut.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan bentuk lintasan orbit Bulan yang elips, bukan lingkaran sempurna.
“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi bulan terhadap bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan,” jelas Sonni dalam keterangannya dikutip Kamis, 5 Februari 2026.
Hal serupa juga berlaku pada orbit Bumi terhadap Matahari, dengan peristiwa perihelion yang terjadi pada Januari dan aphelion pada Juli setiap tahun.
Sonni menegaskan bahwa fenomena astronomi ini merupakan proses alamiah dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Terkait dampak terhadap manusia, efeknya tidak bersifat langsung, melainkan melalui mekanisme-mekanisme tertentu di bumi.
Sebagai contoh, pasang surut laut yang merupakan dampak gaya gravitasi Bulan. Kenaikan muka laut akibat pasang surut dapat berdampak pada aktivitas nelayan dan wilayah pesisir.
“Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain”, tururnya.
Sementara pada sistem iklim, fenomena ini juga tidak memberikan dampak langsung.
“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung, karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu faktor eksternal yang lebih berpengaruh terhadap iklim terkait dengan orientasi Bumi terhadap matahari adalah fluktuasi eksentrisitas orbit bumi, perubahan oblikuitas (kemiringan sumbu) rotasi Bumi, dan perubahan presesi sumbu rotasi Bumi.
Fluktuasi ketiga orientasi Bumi terhadap Matahari dikenal sebagai Siklus Milankovitch. Masing-masing perubahan komponen ini mempunyai periode.
Perubahan eksentrisitas orbit Bumi terjadi setiap 100.000 tahun hingga 400.000 tahun, perubahan oblikuitas Bumi terjadi setiap 41.000 tahun, dan perubahan presesi Bumi terjadi setiap 26.000 tahun.
“Perubahan orientasi Bumi ini menyebabkan perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh Bumi sebagai sumber energi utama iklim Bumi sehingga perubahan ini mempengaruhi iklim Bumi dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” urainya.
Selain perubahan orientasi bumi terhadap matahari, konstelasi planet dalam tata surya dapat mengubah kondisi atmosfer di bumi. Ketika planet-planet berada dalam posisi konjungsi, resultan gaya gravitasi yang besar dapat memengaruhi kondisi atmosfer bumi.
“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” paparnya.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Mengapa Tubuh Bisa Merinding? Ini Kata Ahli Saraf
KlikBogor – Ahli neurologi (saraf) sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Yeni Quinta Mondiani, menjelaskan bahwa merinding merupakan respons biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Dalam dunia medis, merinding dikenal sebagai piloerection, yaitu kondisi ketika bulu-bulu halus pada kulit berdiri akibat kontraksi otot kecil di pangkal rambut. Respons ini dikendalikan oleh sistem saraf otonom dan terjadi tanpa disadari.
“Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia. Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang,” jelas Yeni dikutip Sabtu, 20 Juni 2026.
Baca juga: Benarkah Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia? Ini Kata Pakar IPB
Ia menerangkan, bagian otak yang berperan penting dalam proses ini adalah amigdala, pusat pengolahan emosi yang berfungsi sebagai sistem alarm tubuh.
Ketika otak mendeteksi sesuatu yang dianggap penting, mengejutkan, mengancam, atau mengagumkan, tubuh akan melepaskan adrenalin sehingga muncul berbagai respons, termasuk merinding.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa seseorang lebih mudah merinding saat sedang cemas atau tertekan. Otak tidak selalu membedakan ancaman fisik dengan tekanan psikologis seperti stres pekerjaan, konflik, atau kecemasan.
“Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif,” katanya.
Tidak hanya karena rasa takut, imbuh Yeni, merinding juga dapat muncul saat mendengarkan musik yang menyentuh atau mengalami momen emosional yang mendalam.
Hal tersebut terjadi lantaran otak melepaskan dopamin, zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.
Baca juga: AHY Tinjau Renovasi MTs Negeri Kota Bogor: “Sebentar Lagi Tuntas”
Banyak orang juga mengaku merinding ketika memasuki tempat tertentu tanpa mengetahui penyebabnya. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kemampuan otak yang sangat peka dalam memproses berbagai informasi lingkungan, seperti suara, cahaya, suhu, aroma, maupun pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori.
“Ini bukan berarti seseorang sedang menerima sinyal gaib. Otak memang terus memindai lingkungan dan sering kali bekerja lebih cepat daripada kesadaran kita,” katanya.
Meski umumnya normal, ia mengingatkan agar masyarakat waspada jika merinding muncul berulang kali tanpa pemicu yang jelas, terutama bila disertai pusing, jantung berdebar, keringat berlebih, atau nyeri kepala mendadak.
“Merinding bukan tanda otak mendeteksi sesuatu yang tak terlihat. Justru fenomena ini menunjukkan betapa canggihnya sistem saraf manusia dalam merespons emosi dan lingkungan sekitar,” katanya.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Benarkah Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia? Ini Kata Pakar IPB
KlikBogor – Kemampuan tawon mengenali wajah manusia ramai diperbincangkan di media sosial belakang ini. Tidak sedikit yang percaya bahwa tawon dapat mengingat orang yang pernah mengganggu sarangnya dan akan menyerang kembali ketika bertemu di kemudian hari. Lalu, benarkah serangga ini memiliki kemampuan tersebut?
Pakar serangga dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Tri Atmowidi menjelaskan bahwa kemampuan tawon mengenali wajah memang telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian, meskipun hanya ditemukan pada spesies tertentu.
Ia mengungkapkan, penelitian yang dilakukan Tibbets dan tim dari University of Michigan pada tawon kertas (Polistes fuscatus) menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kemampuan mengenali wajah sesama tawon dalam koloninya. Kemampuan tersebut melibatkan sistem saraf dan proses kognitif yang cukup kompleks.
“Pengenalan wajah pada tawon dilakukan secara visual melalui mata yang memiliki sel-sel reseptor khusus. Berbeda dengan manusia, tawon mampu melihat warna ultraviolet (UV), biru, dan hijau, tetapi tidak dapat melihat warna merah,” ujar Prof Tri dikutip Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga: Golongan Darah O Lebih Rentan Kolesterol Tinggi, Benarkah?
Ia menambahkan, penelitian tersebut menemukan adanya sel-sel saraf khusus pada otak tawon yang berperan dalam proses pengenalan wajah. Kemampuan pemrosesan visual ini juga memungkinkan tawon mengenali wajah manusia.
“Pada spesies ini terdapat beberapa individu betina calon ratu yang saling bersaing untuk menjadi ratu koloni. Karena itu, mereka membutuhkan kemampuan mengenali individu lain dalam kelompoknya. Kemampuan pengenalan wajah berkembang sebagai bagian dari kebutuhan sosial tersebut,” jelasnya.
Prof Tri mengatakan, kemampuan semacam ini tidak dimiliki oleh seluruh jenis tawon. Hingga saat ini, bukti ilmiah paling kuat ditemukan pada tawon kertas, yang merupakan serangga sosial dengan struktur koloni yang kompleks.
Sebaliknya, tawon dengan tingkat sosial lebih rendah maupun tawon soliter yang hidup sendiri tidak menunjukkan kemampuan pengenalan wajah yang baik karena tidak memiliki kebutuhan untuk mengenali individu lain secara detail.
Baca juga: Longsor Jalan Kebon Pedes Digarap, Target Rampung November
Prof Tri menambahkan, tawon sosial seperti tawon kertas juga berpotensi mengingat individu yang pernah mengganggu sarangnya. Jika merasa terancam, tawon akan menunjukkan perilaku defensif sebagai bentuk perlindungan terhadap koloni.
“Ketika sarang terganggu, tawon dapat bereaksi agresif dan kemungkinan memberikan respons yang lebih intens apabila bertemu kembali dengan ancaman yang pernah dikenali sebelumnya. Kemampuan ini merupakan strategi pertahanan koloni,” katanya.
Selain mengandalkan penglihatan, tawon juga menggunakan komunikasi kimia melalui feromon. Senyawa ini berfungsi menyampaikan berbagai informasi kepada anggota koloni, termasuk adanya ancaman.
“Pada tawon kertas, ancaman dikenali terutama melalui penglihatan, baik wajah maupun gerakan. Gerakan yang tiba-tiba atau mencurigakan di sekitar sarang dapat memicu respons pertahanan. Selain itu, tawon juga menggunakan feromon komunikasi untuk memberi tahu anggota koloni mengenai adanya bahaya,” terangnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu sarang tawon ketika menemukannya di lingkungan sekitar. Tawon pada dasarnya bersifat defensif dan hanya menyerang ketika merasa terancam.
“Masyarakat sebaiknya tidak melempar, mengguncang, atau membakar sarang tawon. Jaga jarak aman, hindari gerakan mendadak di sekitar sarang, dan jangan menggunakan aroma yang terlalu menyengat ketika berada dekat sarang,” pesannya.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Mengenal Buaya Muara dan Buaya Air Tawar, Mana yang Pemalu dan Agresif?
KlikBogor – Bagi sebagian orang, buaya identik dengan satwa buas yang menakutkan. Namun, tidak semua buaya memiliki karakter yang sama.
Di Indonesia, setidaknya terdapat dua jenis buaya yang paling dikenal masyarakat, yakni buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar atau buaya siam (Crocodylus siamensis).
Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki perbedaan mencolok dari segi habitat, ukuran tubuh, hingga perilakunya.
Baca juga: Angkot Usia di Atas 20 Tahun di Kota Bogor Bakal Disetop Operasi
Bertepatan dengan Hari Buaya Sedunia yang diperingati setiap 17 Juni, Pakar IPB University Prof Burhanuddin Masyud mengurai perbedaan buaya muara dan buaya air tawar.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya yang tinggi. Setidaknya terdapat lima jenis buaya yang telah teridentifikasi, meskipun sejumlah pakar menyebut jumlahnya bisa lebih banyak,” ujar Prof Burhanuddin dikutip Senin, 15 Juni 2026.
Beda Habitat, Beda Karakter
Prof Burhanuddin menjabarkan, buaya muara umumnya hidup di sungai, muara, pesisir pantai, dan perairan payau.
Spesies ini memiliki tubuh lebih besar dengan panjang mencapai 5–7 meter dan bobot hingga lebih dari satu ton.
Moncongnya lebar dan kuat serta dikenal sebagai predator puncak yang teritorial dan berpotensi membahayakan manusia.
“Buaya muara aktif berenang, jantan dewasa lebih dominan dan agresif, serta memiliki wilayah kekuasaan yang kuat,” jelasnya.
Baca juga: Golongan Darah O Lebih Rentan Kolesterol Tinggi, Benarkah?
Sementara itu, buaya air tawar lebih banyak ditemukan di rawa, sungai, dan danau air tawar yang jauh dari pengaruh laut.
Ukuran buaya ini lebih kecil, umumnya memiliki panjang 1,5–2,5 meter dengan moncong yang lebih ramping berbentuk huruf “V”.
“Buaya air tawar cenderung lebih tenang, pemalu, dan menghindari manusia. Perilaku menyerang biasanya terjadi ketika satwa tersebut terdesak atau mempertahankan diri,” tambahnya.
Satwa Dilindungi
Prof Burhanuddin menjelaskan, baik buaya muara maupun buaya air tawar termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun, kondisi keduanya berbeda.
Buaya muara berstatus least concern menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), sedangkan buaya air tawar berstatus critically endangered atau kritis.
Baca juga: Urus Paspor di Balai Kota, Warga Bogor Ini Dapat Paspor Gratis
Ia menegaskan bahwa lembaga konservasi, kebun binatang, dan penangkaran memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian populasi buaya.
Selain menjadi cadangan plasma nutfah, penangkaran juga dapat mengurangi tekanan perburuan di alam serta mendukung program pelepasliaran.
“Keberhasilan penangkaran dapat menjadi sistem pendukung penting bagi konservasi buaya di habitat alaminya sekaligus mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan,” tuturnya.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Serba Serbi7 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Berita11 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi1 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata
