Connect with us

Serba Serbi

Benarkah Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia? Ini Kata Pakar IPB

Published

on

Benarkah Tawon Bisa Mengenali Wajah Manusia? Ini Kata Pakar IPB
Pakar serangga dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Tri Atmowidi. Dok. IPB University

KlikBogor – Kemampuan tawon mengenali wajah manusia ramai diperbincangkan di media sosial belakang ini. Tidak sedikit yang percaya bahwa tawon dapat mengingat orang yang pernah mengganggu sarangnya dan akan menyerang kembali ketika bertemu di kemudian hari. Lalu, benarkah serangga ini memiliki kemampuan tersebut?

Pakar serangga dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Tri Atmowidi menjelaskan bahwa kemampuan tawon mengenali wajah memang telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian, meskipun hanya ditemukan pada spesies tertentu.

Ia mengungkapkan, penelitian yang dilakukan Tibbets dan tim dari University of Michigan pada tawon kertas (Polistes fuscatus) menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kemampuan mengenali wajah sesama tawon dalam koloninya. Kemampuan tersebut melibatkan sistem saraf dan proses kognitif yang cukup kompleks.

“Pengenalan wajah pada tawon dilakukan secara visual melalui mata yang memiliki sel-sel reseptor khusus. Berbeda dengan manusia, tawon mampu melihat warna ultraviolet (UV), biru, dan hijau, tetapi tidak dapat melihat warna merah,” ujar Prof Tri dikutip Rabu, 17 Juni 2026.

Baca juga: Golongan Darah O Lebih Rentan Kolesterol Tinggi, Benarkah?

Ia menambahkan, penelitian tersebut menemukan adanya sel-sel saraf khusus pada otak tawon yang berperan dalam proses pengenalan wajah. Kemampuan pemrosesan visual ini juga memungkinkan tawon mengenali wajah manusia.

“Pada spesies ini terdapat beberapa individu betina calon ratu yang saling bersaing untuk menjadi ratu koloni. Karena itu, mereka membutuhkan kemampuan mengenali individu lain dalam kelompoknya. Kemampuan pengenalan wajah berkembang sebagai bagian dari kebutuhan sosial tersebut,” jelasnya.

Prof Tri mengatakan, kemampuan semacam ini tidak dimiliki oleh seluruh jenis tawon. Hingga saat ini, bukti ilmiah paling kuat ditemukan pada tawon kertas, yang merupakan serangga sosial dengan struktur koloni yang kompleks.

Sebaliknya, tawon dengan tingkat sosial lebih rendah maupun tawon soliter yang hidup sendiri tidak menunjukkan kemampuan pengenalan wajah yang baik karena tidak memiliki kebutuhan untuk mengenali individu lain secara detail.

Baca juga: Longsor Jalan Kebon Pedes Digarap, Target Rampung November

Prof Tri menambahkan, tawon sosial seperti tawon kertas juga berpotensi mengingat individu yang pernah mengganggu sarangnya. Jika merasa terancam, tawon akan menunjukkan perilaku defensif sebagai bentuk perlindungan terhadap koloni.

“Ketika sarang terganggu, tawon dapat bereaksi agresif dan kemungkinan memberikan respons yang lebih intens apabila bertemu kembali dengan ancaman yang pernah dikenali sebelumnya. Kemampuan ini merupakan strategi pertahanan koloni,” katanya.

Selain mengandalkan penglihatan, tawon juga menggunakan komunikasi kimia melalui feromon. Senyawa ini berfungsi menyampaikan berbagai informasi kepada anggota koloni, termasuk adanya ancaman.

“Pada tawon kertas, ancaman dikenali terutama melalui penglihatan, baik wajah maupun gerakan. Gerakan yang tiba-tiba atau mencurigakan di sekitar sarang dapat memicu respons pertahanan. Selain itu, tawon juga menggunakan feromon komunikasi untuk memberi tahu anggota koloni mengenai adanya bahaya,” terangnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu sarang tawon ketika menemukannya di lingkungan sekitar. Tawon pada dasarnya bersifat defensif dan hanya menyerang ketika merasa terancam.

“Masyarakat sebaiknya tidak melempar, mengguncang, atau membakar sarang tawon. Jaga jarak aman, hindari gerakan mendadak di sekitar sarang, dan jangan menggunakan aroma yang terlalu menyengat ketika berada dekat sarang,” pesannya.

(rls/hrs)

Serba Serbi

Turunkan 15 Atlet, Kempo Kota Bogor Bidik 4 Emas di Porprov Jabar

Published

on

By

Turunkan 15 Atlet, Kempo Kota Bogor Bidik 4 Emas di Porprov Jabar
Atlet shorinji kempo Kota Bogor, Muhammad Yahya tengah bertanding dengan Syahrul Syaban, atlet shorinji kempo Kabupaten Karawang di Gymnasium Sekolah Vokasi IPB, Kota Bogor, Jumat, 6 November 2026. Foto/KlikBogor

KlikBogor – Cabang olahraga (cabor) shorinji kempo Kota Bogor membidik empat medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat 2026. Untuk mewujudkan target tersebut, sebanyak 15 atlet diterjunkan untuk berlaga pada 13 nomor pertandingan.

Pelatih Shorinji Kempo Kota Bogor, Ariandi Sofyan mengatakan, persiapan para atlet telah dilakukan secara maksimal. Bahkan, para atlet hingga mengikuti try out atau uji tanding ke Jepang.

“Persiapan kita sudah matang banget, sampai try out juga ke Jepang,” ujar Ariandi di Gymnasium Sekolah Vokasi IPB, Jumat, 6 November 2026.

Ia mengatakan, empat medali emas menjadi target yang akan disumbangkan dalam Porprov Jabar 2026. Namun, secara internal, tim pelatih memasang target lebih tinggi, yakni enam medali emas.

Baca juga: Kota Bogor Siaga Hadapi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Menurutnya, peluang untuk mencapai target tersebut cukup terbuka. Sejumlah nomor pertandingan menjadi andalan Kota Bogor, khususnya nomor embu yang memiliki potensi menyumbangkan medali.

“Yang diunggulkan ada empat nomor, sementara tiga nomor lainnya juga potensial. Jadi, bisa enam atau tujuh emas,” kata Ariandi.

Ia menambahkan, kekuatan kontingen Kota Bogor juga ditopang pengalaman atlet yang pernah berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON). Tercatat, terdapat delapan atlet eks PON yang menjadi bagian dari kontingen dan diandalkan pada empat nomor pertandingan.

Dari sisi persaingan, Kota Bandung dinilai menjadi salah satu pesaing terberat pada nomor embu. Sementara itu, pada nomor randori, kekuatan atlet dari berbagai daerah dinilai relatif merata sehingga persaingan diperkirakan berlangsung ketat.

Baca juga: Judo Kota Bogor Sapu Bersih 4 Emas di Porprov XV Jabar 2026

Pada hari pertama pertandingan, sejumlah atlet Kota Bogor mulai menjalani babak penyisihan. Kompetisi menggunakan sistem double elimination atau gugur ganda, sehingga atlet yang mengalami satu kekalahan masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pertandingan.

Ariandi menyebutkan, hasil sementara menunjukkan satu atlet Kota Bogor mengalami kekalahan pada nomor randori kelas 65–70 kilogram, sedangkan satu atlet lainnya berhasil meraih kemenangan.

“Baru satu kali kalah. Jadi masih ada kesempatan satu kali lagi (pertandingan). Yang menang satu (atlet),” katanya.

Untuk diketahui, penyelenggaraan cabor shorinji kempo di Kota Bogor berlangsung mulai 5 hingga 8 November 2026 di Gymnasium Sekolah Vokasi IPB.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Serba Serbi

Turun di 26 Kelas, Judo Kota Bogor Bidik 12 Emas Porprov Jabar

Published

on

By

Turun di 26 Kelas, Judo Kota Bogor Bidik 12 Emas Porprov Jabar
PJSI Kota Bogor menargetkan 12 medali emas pada Porprov XV Jawa Barat 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Kota Bogor menargetkan 12 medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat yang digelar November 2026.

Ketua Pengcab PJSI Kota Bogor, An An Andri Hikmat mengatakan, perjuangan atlet Judo Kota Bogor telah dimulai melalui nomor kata, baik kategori junior maupun senior.

Ia berharap di empat kelas yang dipertandingkan, yakni dua kelas Juno dan dua kelas Nageno bisa memberikan yang terbaik.

Baca juga: Mengapa Udang Berubah Merah saat Dimasak?

Sementara itu, untuk nomor fighter atau pertarungan, pertandingan dijadwalkan mulai pukul 13.00 WIB dengan kategori junior. Andri juga berharap para atlet mampu menyumbangkan sedikitnya dua hingga empat medali.

“Kita optimistis. Berkat dukungan dan doa dari semua pihak yang selama ini mendukung PJSI Kota Bogor, mudah-mudahan target 12 emas sampai dengan selesai bisa tercapai, bahkan bisa lebih,” kata Andri kepada awak media di Indoor B GOR Pajajaran, Kota Bogor, Kamis, 5 November 2026.

Pada Porprov Jabar 2026, PJSI Kota Bogor mengikuti seluruh kelas yang dipertandingkan dalam cabang olahraga judo dengan total 26 kelas.

“Semua kelas kami ikuti. Total ada 26 kelas,” jelas Andri.

Baca juga: Judo Kota Bogor Sapu Bersih 4 Emas di Porprov XV Jabar 2026

Andri mengungkapkan, untuk mempertahankan gelar juara umum bukan perkara mudah. Judo Kota Bogor telah tiga kali berturut-turut menyandang predikat juara umum, sehingga Porprov kali ini menjadi tantangan tersendiri.

“Kalau ada peribahasa, mengejar itu lebih mudah daripada mempertahankan. Kami sudah tiga kali Porprov berturut-turut menjadi juara umum. Ini Porprov keempat tentu menjadi tantangan yang cukup berat bagi kami,” katanya.

Namun begitu, Andri optimis dengan persiapan atlet yang telah dilakukan sejak tiga tahun lalu, target 12 medali emas dapat tercapai.

“Mudah-mudahan dengan persiapan yang cukup panjang dan matang, target 12 emas bisa tercapai. Kalau lebih, itu menjadi bonus bagi kami. Sekali lagi  mohon dukungan agar judo Kota Bogor bisa meraih juara umum yang keempat kalinya,” katanya.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Serba Serbi

Mengapa Udang Berubah Merah saat Dimasak?

Published

on

By

Mengapa Udang Berubah Merah saat Dimasak?
Ilustrasi lobster air tawar. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Mengapa udang segar yang semula berwarna abu-abu atau transparan berubah menjadi merah-oranye saat dimasak? Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Sekolah Vokasi IPB University, Ai Imas Faidoh Fatimah menjelaskan, perubahan warna tersebut dipengaruhi oleh astaksantin (astaxanthin), pigmen alami dari kelompok karotenoid yang sudah ada dalam tubuh udang.

“Warna merah pada udang matang berasal dari perubahan interaksi antara pigmen dan protein selama pemasakan. Ketika dipanaskan, struktur protein berubah sehingga warna asli astaksantin menjadi lebih terlihat,” jelas Ai dalam keterangannya dikutip Kamis, 5 November 2026

Pada udang mentah, imbuh Ai, astaksantin berikatan dengan protein, terutama crustacyanin. Saat terkena panas, protein mengalami denaturasi sehingga interaksinya dengan pigmen terganggu dan warna merah-oranye astaksantin menjadi lebih terlihat.

Baca juga: Judo Kota Bogor Sapu Bersih 4 Emas di Porprov XV Jabar 2026

Ai mengingatkan masyarakat tentang potensi alergi akibat konsumsi udang. Menurutnya, salah satu protein utama pemicunya adalah tropomiosin, protein pada jaringan otot yang relatif tahan panas.

“Proses pemasakan tidak serta-merta menghilangkan sifat alergenik tropomiosin. Artinya, udang yang sudah matang tetap dapat memicu reaksi alergi pada orang yang sensitif,” ungkap Ai.

Selain tropomiosin, protein lain seperti arginine kinase, myosin light chain, dan sarcoplasmic calcium-binding protein juga dapat menjadi alergen.

Pada individu yang alergi, protein tersebut dikenali sistem kekebalan tubuh dan memicu respons imun melalui antibodi imunoglobulin E (IgE), yang menyebabkan pelepasan histamin dan mediator peradangan lainnya.

Baca juga: Fenomena Downgrade Lifestyle Ramai di Medsos, Pakar IPB Ungkap Penyebabnya

Gejala alergi udang berbeda pada setiap orang, mulai dari gatal, biduran, pembengkakan, hingga gangguan pencernaan. Pada kondisi berat, reaksi dapat berkembang menjadi sesak napas bahkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi sistemik yang mengancam jiwa.

“Reaksi alergi pun tidak sama pada setiap orang. Tingkat keparahannya dipengaruhi oleh sensitivitas individu, jumlah alergen yang masuk, dan kondisi kesehatan masing-masing,” paparnya.

Ai mengatakan, untuk mengurangi risiko, orang dengan riwayat alergi udang perlu menghindari udang beserta produk turunannya, seperti terasi dan kaldu udang, serta mewaspadai kontaminasi silang selama pengolahan makanan.

Jika muncul gejala ringan seperti gatal atau biduran, antihistamin dapat digunakan sesuai anjuran tenaga medis. Namun, bila terjadi sesak napas, pembengkakan tenggorokan, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat.

“Pada kondisi anafilaksis, epinefrin (adrenalin) merupakan terapi utama yang harus diberikan sesegera mungkin, disertai penanganan medis darurat,” pungkasnya.

Dengan memahami kandungan dan karakteristik udang, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam mengolah dan mengonsumsi produk pangan laut, tidak hanya memperhatikan cita rasa dan tampilan, tetapi juga potensi risiko kesehatannya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer