Connect with us

Potret

Wawalkot Borong Dagangan Kakek 88 Tahun saat Sidak Jalan Merdeka

Published

on

Wawalkot Borong Dagangan Kakek 88 Tahun saat Sidak Jalan Merdeka
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin memborong dagangan kakek berusia 88 tahun saat sidak di Jalan Mereka, Kecamatan Bogor Tengah, Kamis, 1 Oktober 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Wakil Wali Kota (Wawalkot) Bogor, Jenal Mutaqin tiba-tiba menghentikan langkah inspeksi mendadak (sidak) saat melihat seorang kakek masih berjualan di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah.

Jenal kemudian menghampiri kakek tersebut dan memutuskan memborong seluruh dagangan yang dibawa dengan cara dipikul menggunakan karung. Dagangan berupa sayur mayur itu dibeli tanpa menyisakan barang untuk dijual kembali.

Baca juga: 39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti

Jenal mengaku spontan membeli seluruh dagangan karena merasa iba melihat kondisi penjual yang sudah berusia lanjut.

“Saya lebih melihat ke psikologis orang tua, kasihan, kami borong (dagangan) untuk dimasak,” kata Jenal, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Jenal, penjual yang telah menginjak usia 88 tahun itu membuat dirinya teringat kepada sang kakek yang telah meninggal dunia.

“Asa (bahas Sunda artinya serasa) ke kakek, walaupun kakek sudah meninggal,” ujar Jenal.

Baca juga: Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Ia mengatakan, kakek tersebut diketahui tinggal di kawasan Gadog, Kabupaten Bogor. Karena usianya yang sudah lanjut, ia kemudian meminta sang kakek untuk pulang dan tidak lagi berjualan di lokasi tersebut.

Sayur mayur yang diborong tersebut selanjutnya akan dimasak dan dikonsumsi bersama oleh petugas Satpol PP yang turut mendampingi kegiatan sidak.

(hrs/ckl)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret

39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti

Published

on

By

39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti
Sekretaris DPRD (Sekwan) Kota Bogor, Boris Derurasman masa purnabakti setelah 39 tahun mengabdi sebagai bagian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Dok. Diskominfo Kota Bogor

KlikBogor – Boris Derurasman yang menjabat sebagai Sekretaris DPRD (Sekwan) Kota Bogor, memasuki masa purnabakti setelah 39 tahun mengabdi sebagai bagian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Selama puluhan tahun pengabdiannya, ia telah menjalankan berbagai tugas, mengambil keputusan, serta mengemban tanggung jawab telah menjadi bagian dari perjalanannya yang tercatat dalam sejarah pemerintahan Kota Bogor.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas seluruh pengabdian Sekwan Kota Bogor selama menjalankan tugas.

“Setiap pengabdian pasti memiliki waktunya. Tetapi kebaikan, dedikasi, dan keteladanan yang diberikan selama menjalankan tugas akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Pemerintah Kota Bogor,” ujar Dedie Rachim di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor, Rabu, 30 September 2026.

Baca juga: Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Dedie Rachim menyampaikan penghargaan atas kebersamaan dan kerja yang telah dibangun selama menjalankan roda pemerintahan.

“Terima kasih, Pak Boris, atas pengabdian, kerja keras, dan kebersamaan selama ini. Selamat memasuki masa purna bakti. Semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kesempatan untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat,” katanya.

Bagi Pemkot Bogor, kata Dedie Rachim, purna bakti seorang aparatur bukan berarti berakhirnya hubungan dengan kota yang telah dilayani. Sebab, setiap orang yang mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk Kota Bogor telah menjadi bagian dari perjalanan kota ini.

“Terima kasih untuk setiap langkah yang telah ditempuh, setiap waktu yang telah diberikan, dan setiap pengabdian yang diberikan oleh Pak Boris,” ucap Dedie Rachim.

Baca juga: Mengapa Protein Hewani Penting bagi Tumbuh Kembang Anak?

Sementara itu, Boris Derurasman menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat perkataan, sikap, maupun keputusan yang kurang berkenan atau terdapat kesalahan yang pernah dilakukan.

“Terima kasih kepada semua pihak yang selama ini sudah bersama-sama, membantu dan mendukung saya dalam menjalankan tugas. Tentu selama perjalanan pengabdian ini tidak semuanya sempurna. Karena itu, saya secara pribadi memohon maaf apabila ada perkataan, sikap atau perbuatan saya yang kurang berkenan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja,” ujarnya.

Boris berharap hubungan dan silaturahmi yang telah terjalin selama menjalankan tugas dapat terus terjaga meski masa pengabdian secara kedinasan telah berakhir.

“Semoga silaturahmi dan kebersamaan yang sudah terbangun selama ini tetap terjaga. Saya mohon doa agar setelah purna bakti ini bisa menjalani kehidupan dengan baik dan tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Potret

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Published

on

By

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah
Camat Tanah Sareal, Rokib (tengah). Foto/Istimewa

KlikBogor – Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memiliki 11 kelurahan dengan latar belakang sejarah dan kultur masyarakat yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari sejarah pembentukan wilayah yang sebelumnya berasal dari beberapa kecamatan dan wilayah administratif.

Camat Tanah Sareal, Rokib mengatakan, 11 kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.

Dari 11 kelurahan tersebut, enam kelurahan sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor. Keenam kelurahan itu yakni Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai.

“Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai itu berasal dari Kecamatan Semplak. Kemudian Kecamatan Semplak berubah menjadi Kecamatan Kemang,” kata Rokib dikutip Rabu, 30 September 2026.

Sementara itu, tiga kelurahan lainnya, yakni Kedung Jaya, Kedung Waringin, dan Kedung Badak, sebelumnya berasal dari Kecamatan Kedung Halang.

Rokib menjelaskan, nama ketiga kelurahan tersebut memiliki keterkaitan dengan istilah “kedung”. Dalam pemahaman masyarakat, kedung merujuk pada muara air yang cukup besar. Namun, seiring perubahan kondisi geografis dan perkembangan wilayah, keberadaan kedung tersebut sebagian tidak lagi terlihat.

“Seiring dengan perubahan kondisi geografis, perubahan keadaan dan lain sebagainya, sehingga tinggal namanya saja,” ujarnya.

Baca juga: Margonda dan Jejak Sejarah di Bogor: Pernah Tinggal di Gang Slot

Setelah perubahan batas wilayah tersebut Kecamatan Kedung Halang berubah menjadi Kecamatan Sukaraja, sementara tiga kelurahan tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Tanah Sareal.

Ia menambahkan, Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki sejarah yang berbeda. Kedua kelurahan tersebut sebelumnya berkaitan dengan kantor perwakilan camat (Kapermat) Tanah Sareal yang berada di wilayah Kebon Pedes atau Pondok Rumput.

“Kelurahan Tanah Sareal dengan Kebon Pedes ini memang berasal dari Kapermat, yang dulu kantornya di Kebon Pedes atau di Pondok Rumput. Itu berasal dari Kapermat yang induknya adalah Bogor Utara,” katanya.

Pada masa tersebut, wilayah kerja Kapermat Tanah Sareal juga mencakup Kelurahan Sempur. Namun, setelah terjadi perubahan wilayah administrasi, Sempur kemudian masuk ke Kecamatan Bogor Tengah.

Rokib mengatakan, perubahan wilayah tersebut turut memengaruhi kultur masyarakat di masing-masing kelurahan. Ia menyebut, enam kelurahan yang berasal dari Kecamatan Semplak cenderung memiliki penggunaan bahasa lebih kental dengan nuansa Betawi.

Sementara itu, tiga kelurahan yang berasal dari Kecamatan Kedung Halang lebih kuat dengan kultur Sunda. Menurut Rokib, bahasa Sunda yang digunakan di wilayah tersebut memiliki kekhasan tersendiri dan cenderung Sunda Bogor maupun Banten.

Baca juga: Tanah Sareal Diproyeksikan jadi Pusat Pertumbuhan Kota Bogor

Adapun Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki karakter masyarakat yang berbeda karena sejarah perkembangannya sebagai bagian dari wilayah perkotaan.

“Jadi itu historinya 11 kelurahan dan kulturnya berbeda-beda,” ujar Rokib.

Selain perbedaan kultur, kondisi kependudukan dan luas wilayah di Kecamatan Tanah Sareal juga beragam. Rokib menyebut luas Kecamatan Tanah Sareal mencapai sekitar 20,60 kilometer persegi atau 2.060 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 239 ribu jiwa.

Perkembangan wilayah tersebut terus berlangsung seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur. Kecamatan Tanah Sareal dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan di Kota Bogor.

Rokib mengatakan, pembangunan akses jalan tol layang di wilayah Jalan Sholeh Iskandar turut membuka akses dan mendorong perkembangan kawasan. Pertumbuhan tersebut juga ditandai dengan perubahan lahan yang sebelumnya belum terbangun menjadi kawasan permukiman.

“Tanah Sareal ini menjadi pusat pertumbuhan, baik pertumbuhan penduduk maupun perkembangan infrastruktur,” katanya.

Menurutnya, pembangunan berbagai kompleks perumahan dan permukiman baru membuat arus urbanisasi ke wilayah Kecamatan Tanah Sareal cukup tinggi. Meski demikian, pertumbuhan tersebut juga diikuti berbagai persoalan perkotaan yang masih menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat.

“Tetapi masalah-masalah klasik yang kita hadapi masih tetap ada,” kata Rokib.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Potret

Pelajar SMPN 11 Kota Bogor Ciptakan Perahu Pengangkut Sampah 

Published

on

By

Pelajar SMPN 11 Kota Bogor Ciptakan Perahu Pengangkut Sampah 
M. Fairus Muttaqin, siswa kelas 8 SMPN 11 Kota Bogor saat menunjukkan cara kerja Ciliwung Care-Taker di festival Bogor Innovation Award (BIA) 2026, Selasa, 8 September 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Kepedulian terhadap kondisi Sungai Ciliwung mendorong pelajar SMPN 11 Kota Bogor menciptakan inovasi berupa perahu pengangkut sampah bernama Ciliwung Care-Taker.

Alat tersebut dirancang untuk membantu membersihkan sampah yang mengapung di permukaan air dengan memanfaatkan barang bekas dan teknologi kendali jarak jauh.

Salah seorang anggota tim, M. Fairus Muttaqin, siswa kelas 8 SMPN 11 mengatakan, ide pembuatan alat tersebut berawal dari keprihatinan para siswa terhadap banyaknya sampah di Sungai Ciliwung yang berada di sekitar sekolah.

“Awalnya kami melihat bahwa sampah Ciliwung di dekat sekolah sangat banyak. Dia (sampah) mencemarkan lingkungan dan kualitas air,” kata Fairus di festival Bogor Innovation Award (BIA), Gedung Startup Center Science and Techno Park (STP) IPB University Taman Kencana, Selasa, 8 September 2026.

Berangkat dari kondisi tersebut, para siswa berupaya menciptakan solusi melalui sebuah alat yang dapat membantu mengurangi sampah di permukaan air.

Kesempatan mengikuti Bogor Innovation Award (BIA) 2026 kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan dan memasukkan proyek tersebut dalam kompetisi inovasi.

“Karena itu kami menciptakan solusi. Kebetulan sekali ada lomba BIA, jadi kami coba untuk memasukkan proyek kami ke dalam lomba tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka di Kota Bogor Kembali Digelar

Proyek Ciliwung Care-Taker dikerjakan oleh lima pelajar SMPN 11 yang berasal dari kelas 8 dan 9. Perahu tersebut dirancang menggunakan model katamaran atau dua lambung ganda. Model ini dipilih untuk meningkatkan kestabilan perahu sekaligus memperbesar kapasitasnya ketika beroperasi di perairan.

“Kenapa kami menggunakan katamaran atau dua lambung ganda? Karena kami ingin memaksimalkan kapasitas dan juga agar perahu stabil saat menerima arus sungai yang kencang, ombak dari laut, dan juga mungkin ketika benturan dengan bebatuan,” jelas Fairus.

Secara fungsi, Ciliwung Care-Taker digunakan untuk mengambil sampah yang mengapung di permukaan air. Selain sungai, alat tersebut dapat digunakan di danau hingga wilayah pinggiran laut.

Pengoperasiannya dilakukan menggunakan telepon seluler. Gerakan yang diberikan melalui ponsel dikirimkan sebagai sinyal menuju perangkat melalui koneksi Bluetooth. Sinyal tersebut kemudian digunakan untuk mengendalikan pergerakan perahu.

Dalam sistem elektroniknya, para siswa menggunakan ESP32 beserta expansion board dan perangkat pengatur gerakan motor. Penggerak perahu memanfaatkan extra fan AC mobil yang dimodifikasi agar dapat digunakan sebagai sistem penggerak.

Menariknya, bahan pelampung perahu memanfaatkan jeriken bekas berkapasitas lima liter yang diperoleh dari lingkungan sekolah. Para siswa juga berupaya menggunakan barang bekas dan bahan yang dapat didaur ulang dalam pembuatan bodi perahu.

“Kami membuat seluruh rangkaian atau bodi perahu menggunakan barang bekas atau bahan daur ulang,” tutur Fairus.

Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming

Pembuatan Ciliwung Care-Taker dilakukan secara bertahap melalui empat prototipe. Prototipe pertama dibuat selama sekitar dua minggu, prototipe kedua selama tiga minggu, prototipe ketiga selama satu bulan, sedangkan prototipe keempat yang saat ini digunakan dikembangkan selama sekitar tiga minggu.

Pada prototipe keempat, ukuran perahu diperbesar dengan kapasitas yang lebih besar. Desain tersebut disesuaikan agar kemampuan pengambilan sampah semakin optimal. Perahu diperkirakan mampu mengambil sampah hingga 30 kilogram, sedangkan kapasitas beban yang dapat ditampung di atas perahu mencapai sekitar 50 kilogram.

Untuk saat ini, alat tersebut dapat mengambil berbagai jenis sampah yang mengapung. Namun, sampah berupa benda tajam belum dapat diambil karena masih menggunakan jaring plastik.

“Untuk ke depannya, insyaallah kami akan menggunakan jaring kawat sehingga bisa mengambil benda tajam dan sampah lainnya,” kata Fairus.

Inovasi tersebut juga telah diuji dan diaplikasikan secara langsung di Sungai Ciliwung yang berada di sekitar SMPN 11, kawasan Sempur, Kota Bogor. Inovasi teknologi yang dikembangkan tersebut dengan biaya pembuatan sekitar Rp900.000.

Tidak berhenti pada prototipe yang ada saat ini, tim Ciliwung Care-Taker juga menyiapkan sejumlah pengembangan. Salah satunya adalah penggunaan sensor untuk mendeteksi ukuran sampah, mengukur jarak antara perahu dan sampah, serta mendeteksi apakah suatu benda merupakan sampah tajam yang aman atau tidak untuk diambil.

(hrs/ckl)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer