Serba Serbi
Kabogorfest 2025 Siap Digelar, Ada Lebih 12 Zona Kegiatan
KlikBogor – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, meninjau kesiapan Kabogorfest 2025. Acara ini akan berlangsung 11-26 Juni 2025 di area Stadion Pakansari.
Ajat Rochmat Jatnika menyampaikan kunjungan ini bertujuan untuk memastikan seluruh zona dan tenant siap menjelang pelaksanaan kegiatan tahunan yang dinanti masyarakat.
Sekda bilang bahwa hari ini merupakan momen untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap seluruh zona kegiatan.
“Hari ini kita coba melakukan check and recheck ya, kesiapan pelaksanaan Kabogorfest tahun 2025. Alhamdulillah secara umum semua tenant sudah siap,” ujar Ajat, Senin, 9 Juni 2025.
Kabogorfest tahun ini akan menghadirkan lebih dari 12 zona kegiatan, mencakup berbagai sektor mulai dari pelayanan publik, UMKM, komersial, perbankan, bisnis, olahraga, pertanian, peternakan, perikanan, hingga kebudayaan.
Antusiasme masyarakat dan pelaku usaha terhadap kegiatan tahun ini disebut luar biasa, terlihat dari penuhnya seluruh area tenant di kawasan Pakansari.
“Kita melihat peminatnya luar biasa tahun ini, jumlah tenant sangat banyak. Bisa ditanyakan ke panitia, tapi yang jelas area Pakansari ini penuh. Masyarakat sangat berminat dan antusias untuk ikut berpartisipasi di Kabogorfest tahun ini,” imbuhnya.
Saat ini, proses pengisian booth oleh para tenant tengah berlangsung. Sekda juga menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi ajang penyesuaian teknis untuk memastikan seluruh zona termanfaatkan secara optimal.
“Kalau ada kekurangan, kita lakukan penyesuaian,” kata Ajat.
Selain itu, pihak panitia juga menggandeng instansi terkait dalam pengamanan dan pengaturan teknis, seperti Satpol PP, pengaturan lalu lintas dan parkir, serta berkoordinasi dengan pihak PLN untuk memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan.
Salah satu agenda penting dalam Kabogorfest adalah Job Fair yang akan dilaksanakan selama dua hari pada 16–17 Juni mendatang.
“Tempat khusus untuk Job Fair sedang kita siapkan. Hari ini kita pastikan semuanya bergerak, dan mudah-mudahan dalam satu sampai tiga hari ke depan, seluruh persiapan bisa final dan acara berjalan dengan lancar,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bogor, Bambang W Tawekal, mengatakan instansinya akan menampilkan beragam hal yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dinas, termasuk menjalin kolaborasi dengan para stakeholder yang selama ini telah bermitra dengan Diskominfo.
“Kami akan memfasilitasi kegiatan dari berbagai perangkat daerah, khususnya dalam rangka peningkatan layanan publik berbasis digital,” ungkapnya.
Selain itu, Diskominfo juga akan menghadirkan informasi-informasi terkini yang relevan bagi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan Kabogorfest.
Ia juga sangat menyambut baik Kabogorfest 2025 merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor yang digagas Bupati Bogor, Rudy Susmanto dan dikoordinasikan secara langsung oleh Sekda Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika bersama jajaran perangkat daerah.
Bambang berharap kegiatan ini menjadi ajang strategis bagi seluruh sektor yang ada di Kabupaten Bogor untuk menunjukkan potensi dan keunggulannya masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan Kabupaten Bogor secara menyeluruh baik dari sisi geografis, kewilayahan, maupun dari berbagai potensi yang dimiliki. Potensi-potensi ini harus dikembangkan secara positif guna mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas wilayah, dan pada akhirnya peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
(ags/dho)
Serba Serbi
Panen Perdana Anggur Introduksi di IPB University
KlikBogor – Budidaya anggur (Vitis vinefera) mulai dikembangkan IPB University tepatnya di kawasan Agribusiness and Technology Park (ATP).
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet turut melakukan panen perdana tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan di ladang greenhouse tersebut.
“Panen anggur ini bagian dari riset yang dikembangkan di IPB untuk mendukung program buah secara nasional,” ujar Alim, Jumat sore, 6 Maret 2026.
Menurutnya, pengembangan buah ini di dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk yang selama ini didatangkan dari luar negeri.
“Mungkin yang biasanya kita impor, nanti bisa dikembangkan di negara kita sendiri, sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan impor sekaligus menyediakan buah-buahan pada masyarakat,” katanya.
Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming
Alim juga menekankan pentingnya strategi penguatan sektor pertanian nasional. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produktivitas berbagai komoditas, baik pangan maupun hortikultura.
“Kita harus bertumpu pada kekuatan diri sendiri, salah satunya adalah peningkatan produktivitas nasional untuk semua komoditas,” jelasnya.
Sementara IPB akan mendorong melalui pengembangan riset untuk menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi.
“Yang kedua kita dorong bagaimana mengoptimalkan budidaya yang ada melalui berbagai inovasi, apakah dari sisi input untuk pupuk, SOP, irigasi, hingga penanganan hama penyakit,” imbuhnya.
Di greenhouse ini terdapat tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan, antara lain gosv, ilaria, dan jupiter. Selain untuk pengembangan komoditas hortikultura, budidaya anggur ini juga menjadi sarana riset dan pembelajaran bagi mahasiswa.
(ckl/hrs)
Serba Serbi
Angka Pernikahan Turun, Apa yang Terjadi? Ini Penjelasan Pakar IPB
KlikBogor – Angka pernikahan di Indonesia yang terus menurun setiap tahun menjadi sorotan kalangan akademisi. Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, menyebut fenomena tersebut dipengaruhi berbagai faktor.
Ia mengatakan, pernikahan bagi generasi muda saat ini tidak lagi dipandang sebagai simbol prestise atau status sosial. Banyak anak muda memilih untuk menunda pernikahan demi mengejar pendidikan, membangun karier, serta mengembangkan diri.
“Pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama. Generasi muda cenderung fokus pada pendidikan, karier, dan pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah,” kata Risda dikutip Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu penurunan angka pernikahan. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga budaya yang semakin kompleks.
“Dari sisi ekonomi, kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” jelasnya.
Baca juga: Imigrasi Bogor Bongkar Dugaan Penipuan Daring, 13 Warga Negara Jepang Diamankan
Faktor pendidikan dan karier juga turut berpengaruh. Masa pendidikan yang semakin panjang serta orientasi kuat pada pencapaian karier dinilai meningkatkan kemungkinan penundaan pernikahan.
Selain itu, perubahan norma sosial turut berkontribusi. Risda menyoroti, mulai munculnya normalisasi hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi (kumpul kebo) di masyarakat.
Konten viral di media sosial, seperti narasi “marriage is scary”, juga dinilai membentuk persepsi negatif terhadap pernikahan di kalangan generasi muda.
Risda menambahkan, gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu, konsumsi, dan pencarian pengalaman pribadi turut menggeser prioritas dari pernikahan ke karier, hobi, maupun perjalanan.
“Perkembangan teknologi dan tren ‘digital dating’ juga memunculkan fenomena ‘paradox of choice’, yakni kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang semakin sulit berkomitmen,” ujar Risda.
Ia mengingatkan bahwa penurunan angka pernikahan dapat berdampak pada struktur demografi dalam jangka panjang karena berpotensi menurunkan angka kelahiran.
Saat ini, total fertility rate (TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,19. Selain itu, tren tersebut juga berisiko meningkatkan kesepian atau isolasi sosial pada usia lanjut.
Baca juga: Jenal Mutaqin Kembali Beraktivitas, Ikut Pekan Panutan Bayar PBB-P2
Dari sisi kesehatan reproduksi, ia menambahkan bahwa jika penurunan pernikahan terjadi bersamaan dengan meningkatnya hubungan seksual di luar pernikahan, risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, juga dapat meningkat akibat minimnya komitmen dan perlindungan kesehatan yang konsisten.
Untuk merespons fenomena ini, Risda menekankan pentingnya membangun pola pikir bahwa pernikahan merupakan tujuan hidup yang diinginkan (marriage is desirable), bukan sesuatu yang menakutkan.
Pendidikan dan penyuluhan keluarga, sambung Risda, perlu dikemas secara menarik dan relevan dengan karakter generasi muda.
Ia juga menyoroti peran pemerintah melalui kebijakan publik yang ramah keluarga, seperti dukungan keseimbangan kerja dan keluarga, penyediaan fasilitas perumahan bagi pasangan muda, perluasan lapangan pekerjaan, serta pemberian upah yang layak.
Disamping itu, penelitian berkelanjutan dinilai penting untuk memantau perubahan norma dan perilaku generasi muda, guna memahami pola penundaan pernikahan dan dampaknya terhadap ketahanan keluarga di masa mendatang.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming
KlikBogor – Teknologi drone dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar dalam era pertanian presisi. Dua dosen Program Studi Ilmu Komputer, Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (SSMI) IPB University, Karlisa Priandana dan Medria Kusuma Dewi Hardhienata, menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan teknologi swarm drone.
Pengembangan teknologi swarm drone untuk indoor farming ini menjadi inovasi baru dalam mendukung pertanian cerdas yang lebih efisien dan presisi.
“Swarm drone ini awalnya kami kembangkan untuk membantu pelaksanaan pemantauan atau surveillance untuk indoor farming. Swarm drone dirancang sebagai sekumpulan drone kecil yang mampu bekerja secara koordinatif layaknya segerombolan lebah,” urai Karlisa Priandana dikutip Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan, indoor farming merupakan teknik budi daya yang tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca dan iklim. Sebab, seluruh faktor pertanian seperti suhu, cahaya, dan kelembapan, dapat dikendalikan. Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan tanaman secara berkelanjutan.
Selama ini, pemantauan biasanya mengandalkan kamera atau sensor statis. Namun, perangkat tersebut berpotensi mengalami kerusakan.
“Swarm drone digunakan untuk meng-cover atau menjadi backup ketika sensor statis mengalami gangguan sehingga pemantauan tetap berjalan,” imbuhnya.
Karlisa mengungkapkan, setiap drone dilengkapi kamera multispektral dan sensor lingkungan yang terintegrasi dengan sistem internet of things (IoT), sehingga mampu mengumpulkan data kondisi tanaman secara menyeluruh.
Analisis Real-Time Berbasis AI
Medria Kusuma Dewi Hardhienata menambahkan bahwa seluruh data lapangan dikirimkan secara real-time ke komputer pusat untuk dianalisis menggunakan model AI.
“Hasil analisis ini membantu petani atau operator mengambil keputusan secara cepat, akurat, dan berbasis data sehingga produktivitas dan kualitas tanaman dapat meningkat,” ujarnya.
Drone mengambil citra berbagai jenis tanaman yang kemudian dianalisis menggunakan algoritma cerdas untuk mengidentifikasi jenis tanaman secara otomatis.
Sistem komunikasi berbasis AI juga memungkinkan drone saling berinteraksi, mengatur formasi, serta menyesuaikan posisi tanpa bertabrakan, bahkan di ruang indoor farming yang sempit.
Ke depan, teknologi swarm drone diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi pertanian modern, tetapi juga mendukung praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi berbasis data.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi1 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi4 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita8 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini12 bulan agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
