Connect with us

Potret

Jennifer Sharon, Pelukis Muda Asal Kota Bogor Pamerkan Karya Lukis

Published

on

Jennifer Sharon, Pelukis Muda Asal Kota Bogor Pamerkan Karya Lukis
Pj Wali Kota Bogor Hery Antasari (kiri) saat meninjau pameran lukisan karya Jennifer Sharon di Sharon's Art Gallery.

KlikBogor – Menjalani hobi menggambar dan melukis sejak usia 4 tahun, pelukis muda Jennifer Sharon (13) kini sudah memiliki galeri lukis pribadinya yang diberi nama Sharon’s Art Gallery.

Sharon’s Art Gallery yang terletak di Jalan Layung Sari I No. 60, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini diresmikan langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Bogor Hery Antasari, pada Sabtu, 16 November 2024.

Keberadaan galeri lukis ini menjadi penyemangat bagi anak-anak muda di Kota Bogor untuk terus konsisten mengembangkan minat dan bakatnya agar tidak mudah menyerah.

“Ini hasil karya seniman muda Kota Bogor Jawa Barat yang sangat luar biasa yang juga menunjukkan konsistensinya kualitasnya dedikasinya sejak usia dini, sejak usia 4 tahun sampai memiliki galeri sendiri,” kata Pj Wali Kota Bogor, Hery Antasari dikutip Senin, 18 November 2024.

Dengan hadirnya galeri lukis ini menambah lagi destinasi bagi para penikmat seni, sehingga ke depan Disparbud Kota Bogor bisa membuat denah petunjuk digital untuk masyarakat yang ingin berkunjung ke galeri kesenian termasuk Sharon’s Art Gallery.

Sharon yang juga Duta Anak KPAID kategori anak kreatif aktif dalam mensosialisasikan keberadaan KPAID.

Ketua KPAID Kota Bogor, Dede Siti Amanah menyampaikan bahwa kehadiran Sharon memberi pandangan sisi lain kondisi anak di Kota Bogor.

Karena selama ini, lanjutnya, masyarakat menganggap bahwa KPAID hanya identik dengan laporan kasus, anak-anak yang mengalami sedih hati dan berjuang memperjuangkan haknya, namun dengan hadirnya duta-duta ini menunjukan bahwa anak-anak di Kota Bogor memiliki latar belakang berbeda-beda yang juga bisa tumbuh kembang dengan baik.

“Semoga ke depan makin banyak menebar manfaat dan menginspirasi anak-anak lainnya untuk bersemangat, belajar dalam menggapai minat dan bakat serta untuk meraih cita-cita,” ucapnya.

Untuk tahap awal Sharon’s Art Gallery ini memamerkan 30 lukisan dari berbagai konsep, tema, dan teknik melukis.

Jennifer Sharon mengatakan bahwa saat ini dirinya masih terus mengeksplor kekhususan atau karakter melukis yang dimilikinya.

“Saya masih terus mengeksplor kemampuan diri untuk mencari ciri khas apa yang saya miliki. Sehingga di sini ada lukisan saya berbeda beda ada yang cat timbul, ada yang tipis, akrilik, ada yang abstrak ada juga yang realism,” katanya.

Sharon bercerita awal mulai hobi melukis ketika usia 4 tahun. Saat itu, ia senang menggambar yang kemudian di sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar sering ditunjuk oleh sekolah mengikuti lomba menggambar dan melukis.

Ketika itu, ia pun selalu berhasil meraih juara sampai pada akhirnya ia pun rutin mengikuti lomba tingkat lokal, regional nasional bahkan luar negeri, dan pernah juga mengikuti pameran di luar negeri.

“Iya karena lomba menang terus kemudian mami mulai cari-cari event lomba sendiri terus aku juga mau ikut, pas sering ikut itu menang terus juara. Jadi aku usia 4 tahun mulai menggambar usia 6 tahun menggunakan kanvas dan sampai sekarang masih tetap melukis,” ujarnya.

Dari hasil lukisan dan mengikuti perlombaan Sharon kini sudah mengumpulkan sekitar 500 piala juara melukis serta piagam penghargaan.

Orang tua Sharon Nia dan Jerry mengungkapkan bahwa galeri ini dapat dikunjungi oleh masyarakat karena terbuka untuk umum.

Sebab, kehadiran galeri ini diharapkan bisa memberikan manfaat dan menginspirasi anak-anak di Kota Bogor.

(hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret

Mengubah Sampah jadi Paving, Cerita KKN Mahasiswa IPB di Babakan Sadeng

Published

on

By

Mengubah Sampah jadi Paving, Cerita KKN Mahasiswa IPB di Babakan Sadeng
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University yang tergabung dalam Kelompok Babakan Sadeng Squad menghadirkan solusi sederhana namun berdampak melalui pembuatan eco-paving block dari sampah plastik. Foto: IPB University.

KlikBogor – Sampah plastik masih menjadi persoalan klasik di banyak desa, termasuk di Desa Babakan Sadeng, Kabupaten Bogor. Limbah plastik yang sulit terurai sering kali menumpuk, dibuang sembarangan, dan berakhir mencemari lingkungan sekitar.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University yang tergabung dalam Kelompok Babakan Sadeng Squad menghadirkan solusi sederhana namun berdampak melalui pembuatan eco-paving block dari sampah plastik.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama warga Desa Babakan Sadeng dan dipusatkan di rumah salah satu warga yang aktif dalam program Kampung Ramah Lingkungan (KRL). Suasana dibuat santai dan terbuka agar warga merasa nyaman untuk terlibat.

Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Dusun 2 Desa Babakan Sadeng, sejumlah ketua RT, serta warga sekitar yang antusias melihat langsung proses pengolahan sampah plastik.

“Selama masa KKN, kami mengamati sampah plastik di sini belum ditangani secara maksimal. Sebagian besar hanya dikumpulkan, bahkan dibuang ke aliran sungai. Padahal, jika dikelola dengan tepat, sampah plastik bisa diubah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai guna,” ungkap Maria Ulfah Siregar, salah satu perwakilan tim mahasiswa dikutip Rabu, 11 Februari 2026.

Berangkat dari permasalahan tersebut, ia dan tim memperkenalkan konsep eco-paving block kepada warga. Kegiatan diawali dengan sosialisasi ringan dan ajakan kepada warga untuk mengumpulkan sampah plastik dari rumah masing-masing. Sampah plastik yang terkumpul kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan eco-paving block.

“Kami dan warga bersama-sama mempraktikkan pembuatan eco-paving block. Tahapannya dilakukan dengan melelehkan sampah plastik menggunakan oli bekas, kemudian mencampurkannya dengan pasir sebelum dicetak menjadi paving block,” urai Maria.

Menurutnya, metode ini cukup sederhana, alatnya mudah ditemukan, dan tidak membutuhkan biaya besar.

Terlihat jelas antusiasme warga selama kegiatan berlangsung. Banyak warga yang baru menyadari bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Ilmu-ilmu yang diberikan oleh mahasiswa IPB sangat membantu dan bermanfaat bagi kami. Setelah melihat dan mencoba langsung prosesnya, kami jadi paham ternyata mudah,” ujar Kepala Dusun 2 Desa Babakan Sadeng ini.

Maria mengatakan, dibandingkan paving block konvensional, eco-paving block berbahan plastik ini memiliki bobot lebih ringan dan proses pembuatan yang relatif lebih sederhana.

Melalui kegiatan ini, Babakan Sadeng Squad IPB bersama warga Desa Babakan Sadeng membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak harus rumit.

Dengan kerja sama dan kemauan bersama, sampah plastik bisa diubah menjadi solusi lingkungan. Eco-paving block tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang kemandirian dan potensi ekonomi berbasis lingkungan di Desa Babakan Sadeng.

(rls/hrs)

Desa Babakan Sadeng, kkn mahasiswa ipb, sampah paving,

Continue Reading

Potret

Meneliti Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Cetak IPK 4,00 di Program Magister IPB

Published

on

By

Meneliti Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Cetak IPK 4,00 di Program Magister IPB
Yasmin Nadhiva Narindria meraih prestasi gemilang dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 dan dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University pada wisuda Desember 2025 lalu. Dok. IPB University.

KlikBogor – Ketertarikan pada detail anatomi satwa membawa Yasmin Nadhiva Narindria meraih prestasi gemilang dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University pada wisuda Desember 2025 lalu.

Menempuh studi magister di Program Studi Ilmu Biomedis Hewan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Yasmin berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Prestasi tersebut diraih melalui penelitian tesisnya mengenai struktur kelenjar nuchalis atau kelenjar racun pada ular picung (Rhabdophis subminiatus), spesies ular endemik Indonesia yang masih menyimpan banyak celah pengetahuan ilmiah.

Dalam penelitiannya, Yasmin mengkaji kelenjar nuchalis ular picung yang berfungsi menghasilkan racun (toxin). Ia menjelaskan bahwa racun dan bisa pada ular merupakan dua substansi yang berbeda.

“Racun umumnya digunakan sebagai mekanisme pertahanan pasif terhadap predator, sedangkan bisa (venom) digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan disalurkan melalui taring atau gigi,” jelas Yasmin dikutip Minggu, 11 Januari 2026.

Ia menambahkan bahwa ular picung dikenal berbisa. Namun selain memiliki kelenjar bisa, spesies ular ini memiliki kelenjar racun yang masih belum banyak diketahui.

Ular picung merupakan satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Jawa, beberapa wilayah Sumatra, dan Sulawesi.

Sampel penelitian Yasmin diambil dari wilayah Jawa Barat, yakni Bogor dan Bandung, dengan habitat alami di sekitar sungai atau area lembap dekat perairan.

Hingga saat ini, populasi ular picung masih tergolong melimpah dan berstatus least concern atau tidak terancam punah.

Yasmin menambahkan, penelitian terkait racun ular picung masih sangat terbuka untuk dikembangkan karena minimnya informasi, baik di kalangan masyarakat umum maupun peneliti.

“Semoga hasil penelitian ini bisa memperkaya pengetahuan tentang biologi ular picung serta membuka peluang pemanfaatan racun sebagai bahan biologis, seperti pengembangan antitoksin atau antiserum,” ujarnya.

Bagi Yasmin, kesempatan menempuh studi pascasarjana di IPB University merupakan pengalaman akademik yang berharga.

Selama studi, ia menempuh Peminatan Ilmu Faal dan Khasiat Obat, Sub-Peminatan Anatomi, Histologi, dan Embriologi, berangkat dari ketertarikannya pada bidang anatomi veteriner sejak menempuh pendidikan S1 Kedokteran Hewan di IPB University.

“Ilmu anatomi mengajarkan bahwa setiap struktur tubuh makhluk hidup memiliki peran penting dalam menunjang kehidupan. Masih banyak struktur anatomi satwa yang belum dieksplorasi, dan itu mendorong saya untuk terus meneliti,” katanya.

Melalui tesis berjudul penelitian struktur kelenjar nuchalis ular picung, Yasmin berhasil menambah informasi ilmiah baru mengenai keberadaan dan karakteristik kelenjar racun pada spesies tersebut, yang melengkapi pengetahuan sebelumnya tentang kelenjar bisa yang telah lebih dulu dikenal.

(rls/hrs)

Continue Reading

Potret

Cungkup Prasasti Batutulis Kini Terintegrasi dengan Bumi Ageng

Published

on

By

Cungkup Prasasti Batutulis Kini Terintegrasi dengan Bumi Ageng
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon (kedua dari kanan) didampingi Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman (kanan) dan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (kiri) meresmikan revitalisasi Cungkup Prasasti Batutulis, Rabu, 31 Desember 2025. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon meresmikan Cungkup Prasasti Batutulis di Kota Bogor, yang telah selesai direvitalisasi, pada Rabu, 31 Desember 2025.

Turut mendampingi, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, dan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman.

Menbud Fadli Zon mengungkapkan revitalisasi Cungkup Prasasti Batutulis diawali dari pertemuannya dengan Wali Kota Bogor saat meninjau kawasan Batutulis beberapa waktu lalu dan merupakan komitmen kuat untuk memajukan kebudayaan nasional.

“Hari ini kita resmikan revitalisasi cungkup dari prasasti yang sangat masyhur, yaitu Prasasti Batutulis. Prasasti ini merupakan penanda kejayaan Kerajaan Pajajaran dan menjadi ikon penting bagi Kota Bogor serta Jawa Barat,” ucap Menbud.

Fadli Zon menambahkan bahwa kawasan Prasasti Batutulis yang sebelumnya terhalang dengan tembok dan terpisah dengan Bumi Ageung (kawasan yang akan menjadi Museum Pajajaran), kini telah terintegrasi.

Nantinya, Museum Pajajaran akan menyimpan artefak sekaligus memberikan narasi sejarah tentang Pajajaran dan Sunda. Selain itu, direncanakan pula pembangunan amphitheater sebagai pusat kegiatan seni, seminar, dan workshop bagi generasi muda.

Menurutnya, langkah awal ini merupakan aspek perlindungan dalam pengamanan fisik prasasti untuk mencegah pelapukan dan kerusakan akibat kontak langsung, seperti dipegang atau disiram minyak dan sebagainya, sehingga Kementerian Kebudayaan memberikan pelindung kaca.

“Jadi walaupun dilindungi, prasasti tetap terlihat jelas, namun kelestariannya tetap terjaga,” ujar Fadli Zon.

Cungkup Prasasti Batutulis. Foto/Istimewa.

Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, atas arahan Gubernur Dedi Mulyadi, memberikan dukungan penuh terhadap langkah pelestarian budaya.

Pemprov Jabar juga telah menurunkan tim untuk bersama-sama membuat perencanaan Museum Pajajaran. Adapun Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang disiapkan sekitar Rp16 miliar.

“Kami akan mem-back up penuh dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Kota Bogor,” tutur Herman.

Herman menegaskan bahwa pelestarian budaya ini merupakan urusan yang luar biasa lantaran menyangkut generasi penerus.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat dan provinsi.

Ke depan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Kementerian Kebudayaan, dan Pemprov Jawa Barat akan terus memperkuat sinergi.

“Dan yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini bermanfaat bagi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan melalui kesempatan berusaha, seperti penyediaan suvenir, merchandise, hingga kafe kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke Museum Pajajaran. Hal ini harus kita kembangkan menjadi sebuah Intellectual Property (IP) yang kuat,” ucapnya.

Usai melakukan peresmian, Dedie Rachim mengajak Fadli Zon dan Herman Suryatman mengunjungi beberapa situs di kawasan Batutulis.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer