Connect with us

Potret

Saat Puluhan Lansia di Kota Bogor Lulus Sekolah Lansia

Published

on

Saat Puluhan Lansia di Kota Bogor Lulus Sekolah Lansia
Sekda Kota Bogor Syarifah Sofiah Dwikorawati mengalungkan piagam kelulusan kepada siswi Sekolah Lansia BKL Ceria, pada Senin, 18 November 2024.

KlikBogor – Semangat untuk mengenyam pendidikan ditunjukkan warga lanjut usia atau lansia di Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Meski di usia yang sudah tidak muda lagi, mereka masih bersemangat untuk mengikuti sekolah lansia Bina Keluarga Lansia (BKL) Ceria.

Suasana keceriaan kini menyelimuti sekolah lansia BKL Ceria di Balai Perumahan Pabaton Indah. Sebanyak 35 siswa dan siswi angkatan pertama di sekolah tersebut menggelar syukuran kelulusan.

Kepala Sekolah Lansia BKL Ceria, Siti Rohmah mengatakan, sekolah lansia di Kota Bogor ini merupakan salah satu dari 17 kota dan kabupaten di Jawa Barat, yang terbentuk awal 2024.

Adapun siswa dan siswi Sekolah Lansia BKL Ceria berjumlah 35 orang dengan rincian 11 orang laki-laki dan 24 orang perempuan.

“Paling muda siswa berusia 62 tahun,” terang Rohmah, Senin, 18 November 2024.

Ia menjelaskan, materi yang disampaikan di sekolah lansia dalam modul 90 persen tentang kesehatan lansia dan 10 persen mengenai lingkungan dari pengelolaan sampah, limbah dan sebagainya. Kemudian olahraga dan berkebun.

“Kami meraih lansia agar tetep eksis dan daya guna serta lansia berguna agar berguna di lingkungannya,” imbuhnya.

Dipaparkan bahwa kegiatan sekolah lansia BKL Ceria tercatat resmi di BKKBN Jawa Barat dan setiap kegiatan pihaknya melaporkan melalui aplikasi Golantang.

“Narasumber yang diberikan Pemkot Bogor sangat kompeten, Alhamdulillah dan banyak dokter-dokter yang menjadi narasumber dan menjadi ajang curhat karena seusia anak-anak para siswa,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah Dwikorawati yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, sekolah lansia ini merupakan program BKL yang dilaksanakan selama 10 bulan dengan kegiatan sekolah sebulan sekali.

Para lansia mendapatkan materi pembelajaran 90 persen tentang kesehatan dan 10 persen tentang lingkungan, sosial kemasyarakatan dengan internal dan juga eksternal lingkungan di sekitarnya.

“Kami berharap dengan adanya sekolah ini, para Ibu Bapak sebagai siswa akan menambah pengetahuannya,” imbuh Syarifah.

Syarifah menyebutkan dari piramida penduduk Kota Bogor ada kurang lebih 12 persen orang lansia. Jika dari kerumunan 10 orang paling tidak ditemukan satu orang lansia.

Hal itu diakui Sekda, berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah berkaitan dengan ramah lansia di fasilitas publik. Kemudian untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

“Karena kita tidak ingin yang 12 persen lansia menjadi masyarakat yang kemudian tidak berperan. Mereka ini satu potensi sumber daya yang luar biasa dengan pengalaman hidupnya, pasti juga bisa memanfaatkan pengalamannya untuk keberlangsungan lingkungannya,” katanya.

Apalagi, setahu Sekda, di kompleks Pabaton Indah ini dari beberapa perlombaan, seperti Bogorku Bersih dan terbaru Proklim predikat utama, yang menjadi penggeraknya adalah para lansia ini.

“Karena itu tadi mereka punya pengalaman dan juga ketekunan serta kesabaran yang nggak bisa diragukan lagi,” ucap Syarifah.

Sementara salah satu siswa Sekolah Lansia BKL Ceria, Elyati Marlen menuturkan,  dengan sekolah ini dirinya bisa lebih bersosialisasi dengan tetangga di lingkungannya dari ujung ke ujung.

Disamping itu, Elyati mengaku mendapat tambahan pengetahuan tentang kesehatan dengan narasumber yang sabar dari Puskesmas maupun Kecamatan Tanah Sareal.

“Saya bersyukur dengan adanya sekolah ini, menambah teman dan pengetahuan. Karena materi lebih banyak tentang kesehatan kami, kemudian kami diberikan pengetahuan lain tentang lingkungan dan sebagainya. Kami terima kasih kepada Pemkot Bogor dan BKKBN Jawa Barat yang telah men-support acara ini,” tandasnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret

Meneliti Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Cetak IPK 4,00 di Program Magister IPB

Published

on

By

Meneliti Kelenjar Racun Ular Picung, Yasmin Nadhiva Cetak IPK 4,00 di Program Magister IPB
Yasmin Nadhiva Narindria meraih prestasi gemilang dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 dan dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University pada wisuda Desember 2025 lalu. Dok. IPB University.

KlikBogor – Ketertarikan pada detail anatomi satwa membawa Yasmin Nadhiva Narindria meraih prestasi gemilang dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Magister IPB University pada wisuda Desember 2025 lalu.

Menempuh studi magister di Program Studi Ilmu Biomedis Hewan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Yasmin berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Prestasi tersebut diraih melalui penelitian tesisnya mengenai struktur kelenjar nuchalis atau kelenjar racun pada ular picung (Rhabdophis subminiatus), spesies ular endemik Indonesia yang masih menyimpan banyak celah pengetahuan ilmiah.

Dalam penelitiannya, Yasmin mengkaji kelenjar nuchalis ular picung yang berfungsi menghasilkan racun (toxin). Ia menjelaskan bahwa racun dan bisa pada ular merupakan dua substansi yang berbeda.

“Racun umumnya digunakan sebagai mekanisme pertahanan pasif terhadap predator, sedangkan bisa (venom) digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan disalurkan melalui taring atau gigi,” jelas Yasmin dikutip Minggu, 11 Januari 2026.

Ia menambahkan bahwa ular picung dikenal berbisa. Namun selain memiliki kelenjar bisa, spesies ular ini memiliki kelenjar racun yang masih belum banyak diketahui.

Ular picung merupakan satwa endemik Indonesia yang tersebar di Pulau Jawa, beberapa wilayah Sumatra, dan Sulawesi.

Sampel penelitian Yasmin diambil dari wilayah Jawa Barat, yakni Bogor dan Bandung, dengan habitat alami di sekitar sungai atau area lembap dekat perairan.

Hingga saat ini, populasi ular picung masih tergolong melimpah dan berstatus least concern atau tidak terancam punah.

Yasmin menambahkan, penelitian terkait racun ular picung masih sangat terbuka untuk dikembangkan karena minimnya informasi, baik di kalangan masyarakat umum maupun peneliti.

“Semoga hasil penelitian ini bisa memperkaya pengetahuan tentang biologi ular picung serta membuka peluang pemanfaatan racun sebagai bahan biologis, seperti pengembangan antitoksin atau antiserum,” ujarnya.

Bagi Yasmin, kesempatan menempuh studi pascasarjana di IPB University merupakan pengalaman akademik yang berharga.

Selama studi, ia menempuh Peminatan Ilmu Faal dan Khasiat Obat, Sub-Peminatan Anatomi, Histologi, dan Embriologi, berangkat dari ketertarikannya pada bidang anatomi veteriner sejak menempuh pendidikan S1 Kedokteran Hewan di IPB University.

“Ilmu anatomi mengajarkan bahwa setiap struktur tubuh makhluk hidup memiliki peran penting dalam menunjang kehidupan. Masih banyak struktur anatomi satwa yang belum dieksplorasi, dan itu mendorong saya untuk terus meneliti,” katanya.

Melalui tesis berjudul penelitian struktur kelenjar nuchalis ular picung, Yasmin berhasil menambah informasi ilmiah baru mengenai keberadaan dan karakteristik kelenjar racun pada spesies tersebut, yang melengkapi pengetahuan sebelumnya tentang kelenjar bisa yang telah lebih dulu dikenal.

(rls/hrs)

Continue Reading

Potret

Cungkup Prasasti Batutulis Kini Terintegrasi dengan Bumi Ageng

Published

on

By

Cungkup Prasasti Batutulis Kini Terintegrasi dengan Bumi Ageng
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon (kedua dari kanan) didampingi Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman (kanan) dan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (kiri) meresmikan revitalisasi Cungkup Prasasti Batutulis, Rabu, 31 Desember 2025. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon meresmikan Cungkup Prasasti Batutulis di Kota Bogor, yang telah selesai direvitalisasi, pada Rabu, 31 Desember 2025.

Turut mendampingi, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, dan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman.

Menbud Fadli Zon mengungkapkan revitalisasi Cungkup Prasasti Batutulis diawali dari pertemuannya dengan Wali Kota Bogor saat meninjau kawasan Batutulis beberapa waktu lalu dan merupakan komitmen kuat untuk memajukan kebudayaan nasional.

“Hari ini kita resmikan revitalisasi cungkup dari prasasti yang sangat masyhur, yaitu Prasasti Batutulis. Prasasti ini merupakan penanda kejayaan Kerajaan Pajajaran dan menjadi ikon penting bagi Kota Bogor serta Jawa Barat,” ucap Menbud.

Fadli Zon menambahkan bahwa kawasan Prasasti Batutulis yang sebelumnya terhalang dengan tembok dan terpisah dengan Bumi Ageung (kawasan yang akan menjadi Museum Pajajaran), kini telah terintegrasi.

Nantinya, Museum Pajajaran akan menyimpan artefak sekaligus memberikan narasi sejarah tentang Pajajaran dan Sunda. Selain itu, direncanakan pula pembangunan amphitheater sebagai pusat kegiatan seni, seminar, dan workshop bagi generasi muda.

Menurutnya, langkah awal ini merupakan aspek perlindungan dalam pengamanan fisik prasasti untuk mencegah pelapukan dan kerusakan akibat kontak langsung, seperti dipegang atau disiram minyak dan sebagainya, sehingga Kementerian Kebudayaan memberikan pelindung kaca.

“Jadi walaupun dilindungi, prasasti tetap terlihat jelas, namun kelestariannya tetap terjaga,” ujar Fadli Zon.

Cungkup Prasasti Batutulis. Foto/Istimewa.

Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, atas arahan Gubernur Dedi Mulyadi, memberikan dukungan penuh terhadap langkah pelestarian budaya.

Pemprov Jabar juga telah menurunkan tim untuk bersama-sama membuat perencanaan Museum Pajajaran. Adapun Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang disiapkan sekitar Rp16 miliar.

“Kami akan mem-back up penuh dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Kota Bogor,” tutur Herman.

Herman menegaskan bahwa pelestarian budaya ini merupakan urusan yang luar biasa lantaran menyangkut generasi penerus.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat dan provinsi.

Ke depan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Kementerian Kebudayaan, dan Pemprov Jawa Barat akan terus memperkuat sinergi.

“Dan yang paling penting adalah bagaimana kawasan ini bermanfaat bagi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan melalui kesempatan berusaha, seperti penyediaan suvenir, merchandise, hingga kafe kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke Museum Pajajaran. Hal ini harus kita kembangkan menjadi sebuah Intellectual Property (IP) yang kuat,” ucapnya.

Usai melakukan peresmian, Dedie Rachim mengajak Fadli Zon dan Herman Suryatman mengunjungi beberapa situs di kawasan Batutulis.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Potret

Ketulusan Dede Sukriya Menjaga Gorong-Gorong Cikaret

Published

on

By

Ketulusan Dede Sukriya Menjaga Gorong-Gorong Cikaret
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (kedua kiri) saat menyerahkan penghargaan kepada Dede Sukriya. Dok. Diskominfo Kota Bogor.

KlikBogor – Niat tulus dari hati mendorong Dede Sukriya untuk terus menjaga lingkungan. Sosok pegiat lingkungan ini pun menerima penghargaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor atas jerih payahnya membersihkan gorong-gorong di wilayahnya yakni di Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim dalam kegiatan Kaleidoskop Akhir Tahun 2025 Pemkot Bogor di Takeshi Mutiara Bogor Raya, Jalan Regional Ring Road (R3), Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, pada Senin, 29 Desember 2025.

Apresiasi dan rasa bangga diungkapkan Dedie Rachim atas aksi yang dilakukan Dede Sukriya.

“Saya merasa salut dan bangga kepada Dede Sukriya. Bayangkan, bebersih sorangan, tidak digaji, kita semua bangga kepada Dede Sukriya,” ungkap Dedie Rachim.

Selain bangga, ia juga mengungkapkan rasa prihatin dan sedih atas respons masyarakat yang masih kurang mengapresiasi tindakan bebersih yang dilakukan Dede Sukriya.

Sementara itu, Dede Sukriya mengaku melaksanakan kegiatan bebersih dengan niat tulus dari hati sebagai salah satu jalan ibadah. Ia mengungkapkan bahwa mulai membersihkan gorong-gorong sejak tahun 2015.

Artinya, kurang lebih selama 10 tahun dirinya konsisten menjaga lingkungan di wilayahnya.

Selain sampah pecahan kaca dari botol atau gelas, popok bayi, popok orang tua, sampah plastik, hingga styrofoam menjadi jenis sampah yang sering ditemui.

Untuk mencegah sampah masuk kembali ke saluran air, Dede Sukriya mengaku sempat membuat saringan berbahan kawat dengan biaya pribadi.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer