Berita
IPB University Tutup 2025 dengan Capaian Strategis dan Optimisme Menuju 2026
KlikBogor – Menutup tahun 2025, IPB University menyampaikan refleksi atas berbagai capaian strategis sekaligus outlook pengembangan institusi pada 2026.
Pada 2025 menjadi fase penting dalam implementasi Rencana Strategis (Renstra) IPB 2024–2028, yang menegaskan visi IPB 2024-2028, yaitu “Menjadi perguruan tinggi inovatif dan resilien untuk kemajuan bangsa yang berkelanjutan dalam membangun techno-socio entrepreneurial university yang unggul di tingkat global pada bidang pertanian, kelautan, dan biosains tropika”.
Refleksi 2025: Konsistensi Transformasi dan Pengakuan Nasional & Internasional
Rektor IPB Univesity, Dr Alim Setiawan Slamet, menuturkan sepanjang 2025 IPB University menunjukkan konsistensi dalam menjalankan transformasi perguruan tinggi untuk penguatan tata kelola, peningkatan kualitas pendidikan, riset, inovasi dan pengabdian masyarakat.
Jumlah mahasiswa IPB per 31 Desember 2025 sebanyak 38.682 orang, dengan sebaran antara lain D4=26%, S1=52%, S2=15% dan S3=5%, dan Profesi=2%.
Sebanyak 26,1% dosen di IPB University telah meraih jabatan fungsional guru besar dan profesor, dan 21% menempati posisi lektor kepala (associate professor), sebuah capaian yang mencerminkan kekuatan akademik, produktivitas keilmuan, dan kematangan ekosistem riset IPB.
“Proporsi ini menunjukkan bahwa lebih dari seperempat dosen IPB berada pada puncak jenjang akademik, dengan kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, riset unggulan, inovasi berdampak, serta kepemimpinan akademik nasional dan global,” ujar Dr Alim, Rabu, 31 Desember 2025.
Berbagai program prioritas sesuai Renstra mulai menunjukkan hasil nyata, khususnya dalam penguatan riset unggulan, hilirisasi inovasi, serta kontribusi IPB University terhadap isu strategis nasional dan global seperti ketahanan pangan, energi, dan air.
Dalam pemeringkatan QS World University Ranking By Subject Agriculture & Forestry, IPB University menempati peringkat #49 Dunia dan #1 ASEAN. Selain itu, pada pemeringkatan THE WUR Interdisciplinary Science yang baru-baru ini diumumkan, IPB University menduduki peringkat #42 Global dan peringkat #1 Nasional.
Capaian pemeringkatan di tingkat global juga diiringi dengan pengakuan nasional melalui capaian sebanyak 16 penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025, jumlah terbanyak nasional yang diraih oleh sivitas akademika IPB University baik pada level institusi maupun individu. Jumlah raihan penghargaan ini tertinggi di antara perguruan tinggi lain di Indonesia.
“Penghargaan ini mencerminkan daya saing dan daya sanding IPB University dalam pengelolaan pendidikan tinggi, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi yang berorientasi pada dampak berkelanjutan,” kata Dr Alim.
Dari Innopreneurship and Value Creation for Community and Industry ke Global Engagement: Memperluas Jejaring dan Dampak Global
Pada 2025 juga ditandai dengan penciptaan prakondisi penting untuk penguatan Global Engagement IPB University di 2026.
Kolaborasi internasional dalam bidang riset, pendidikan, dan inovasi semakin diperluas melalui kemitraan strategis dengan berbagai universitas terbaik dunia (mis: Stanford University, Oxford University, Peking University, Tohoku University NUS, SNU, SLU, WUR, MSU, UC Davis, dll); lembaga riset internasional (mis: Leibniz Institute, CATAS, dll); industri (mis: Daewoong), dan organisasi internasional (mis: IUFRO, EU, ADB, GIZ, dll).
Mobilitas mahasiswa dan dosen, riset kolaboratif, serta keterlibatan IPB University dalam agenda global terkait pangan, pertanian berkelanjutan, dan perubahan iklim terus meningkat, memperkuat posisi IPB University di tingkat regional dan global.
Akses Pendidikan Tinggi yang Berkualitas dan Berkeadilan
Rektor Dr Alim menegaskan komitmen IPB University untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, adil, dan terjangkau, melalui pengelolaan jalur masuk yang transparan, kuota penerimaan yang proporsional, serta dukungan nyata bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah.
Pada penerimaan mahasiswa baru 2025, IPB University menerima 9.662 mahasiswa multistrata yang berasal dari 35 provinsi, dengan sebanyak 20%-nya dari Sumatra.
IPB University menyediakan beragam jalur penerimaan mahasiswa baru yang dirancang untuk mengakomodasi potensi akademik, prestasi nonakademik, serta keberagaman latar belakang daerah dan sosial ekonomi. Jalur-jalur ini di antaranya SNBP, SNBT, Ketua OSIS, Talenta, BUD, dan Seleksi Mandiri.
IPB University juga memberikan 8.500 akun gratis bagi mahasiswa yang ingin mengambil micro-credential di berbagai platform pembelajaran online.
Pengembangan softskill mahasiswa dilakukan melalui berbagai program pelatihan dan uji kompetensi, minat bakat, pengabdian masyarakat, talent pool, hingga kewirausahaan.
Untuk mendukung akses pendidikan bagi mahasiswa, IPB University menyediakan beasiswa dan bantuan biaya pendidikan. Lebih dari Rp138 miliar dana beasiswa di tahun 2025 menjangkau mahasiswa. Sebanyak hampir 40% mahasiswa IPB University adalah penerima beasiswa.
Selain itu, IPB University mengembangkan beragam program kesejahteraan mahasiswa seperti layanan konseling mahasiswa, program buah dan susu gratis, kantin sehat “Warung Kita” dan food bank.
Riset dan Inovasi Berdampak
Di bidang riset dan inovasi, Rektor Dr Alim mengatakan bahwa IPB University terus mendorong penelitian yang relevan dengan kebutuhan bangsa dan mampu menjawab tantangan global, khususnya pada isu strategis ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan kesehatan dan bioekonomi.
Pada 2025, topik riset berkaitan dengan pangan masih mendominasi sebesar 50%, disusul bidang kesehatan 17%, rekayasa keteknikan 17%, dan bidang lainnya.
IPB University terus berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui 10 program aksi ketahanan pangan yaitu pengadaan 3.156 ton benih padi varietas unggulan IPB ke Kementan RI, perluasan Kampung Inovasi IPB untuk padi sawah dan gogo pada 1.125 hektar di Subang, Sukabumi, Bogor, IKN, dan Papua.
Kemudian, pendirian IPB-KOICA Rice Innovation Center di kampus IPB, Ekspedisi Patriot Pangan kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi, inovasi pangan berbasis peternakan, Smart Green House, Plant Factory, dan Agri-Photovoltaic untuk produksi high value crop.
Integrasi data cuaca dan iklim dari 100 Automatic Weather Station (AWS), petani di Jawa & Sumatera ke dalam IPB Digitani, pengembangan inovasi Climate Resilient Agroforestry di Lahan perhutanan sosial, seluas 2000 hektare (padi gogo, alpukat, kopi dan durian di Garut, Cianjur dan Sukabumi), inovasi akuakultur dan bluefood, serta pendirian Center of Excellence (CoE) program Makan Bergizi Gratis (didukung oleh UNICEF, Bappenas, dan Bank Mandiri).
IPB University memperkuat ekosistem inovasi dan hilirisasi riset, mendorong agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi teknologi terapan, produk komersial, hingga model pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi dengan industri, pemerintah, dan mitra internasional menjadi kunci agar inovasi kampus dapat diadopsi secara luas.
“Pendekatan ini menempatkan IPB University sebagai kampus inovator, yang menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan pasar dan masyarakat,” ungkapnya.
Dari Kampus ke Desa: IPB Tegaskan Kampus Berdampak
Sampai dengan 2025, IPB University telah menyentuh dan berkontribusi pada 8.350 (9,91%) desa di berbagai provinsi di Indonesia, melalui program pengabdian masyarakat, inovasi pertanian, pangan, kelautan dan lingkungan. Kegiatan tersebut menjangkau petani, nelayan, UMKM, pemuda, dan perempuan dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan lokal.
Berbagai inovasi IPB Univesity mulai dari teknologi pertanian cerdas iklim, hilirisasi produk pangan, hingga penguatan kapasitas masyarakat desa menjadi bukti bahwa kampus dapat menjadi motor pembangunan berkelanjutan.
Program One Village One CEO (OVOC) dijalankan menggunakan pendekatan ekosistem bisnis yang dibangun untuk menghubungkan usaha produksi petani dengan pasar-pasar modern (seperti Indomaret, Total Buah Segar, All Fresh, dan lain-lain). Program ini melibatkan lebih dari 1.000 desa di seluruh Indonesia.
IPB University Ringankan UKT Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatra
Setelah sebelumnya melakukan berbagai kegiatan tanggap darurat di wilayah yang dilanda bencana banjir bandang Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat), IPB University kini melanjutkan aksi peduli bencana ke langkah jangka menengah.
Aksi jangka pendek (tanggap darurat) dilakukan berupa pengiriman bantuan pangan, obat-obatan, pipanisasi untuk mengalirkan air bersih, paket peralatan internet berbasis satelit, hingga pengiriman dokter, dosen dan mahasiswa untuk melakukan pelayanan kesehatan dan gizi, serta pendampingan dan pemulihan psikis korban terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, wanita hamil dan menyusui).
IPB University mengirim 13 dosen dan dokter, 15 mahasiswa, 8 staf ke Aceh Tamiang, Tapanuli Selatan, Agam dan lain-lain. Mengirim produk pangan berbasis inovasi IPB berupa 13.500 pcs ready to use food untuk balita dan 18.000 pcs nasi steril siap makan.
Kemudian, pendampingan psikososial dan kesehatan, Aksi Marandang Basamo pada 6 Desember 2025, serta bantuan makan malam gratis selain makan siang bersubsidi terhadap 2.000 mahasiswa IPB yang terdampak.
“Untuk aksi jangka menengah, IPB University menyiapkan sejumlah langkah di antaranya penguatan transisi dari pangan darurat ke pangan yang lebih stabil, pemulihan psikososial lanjutan, reaktivasi pertanian, membangkitkan kembali UMKM, serta peninjauan kembali uang kuliah tunggal (UKT) untuk mahasiswa terdampak bencana,” jelas Rektor.
Terkait UKT, akan diberlakukan beberapa level kebijakan mulai dari pembayaran secara dicicil, menurunkan nilai UKT, membebaskan pembayaran UKT untuk mahasiswa yang mengambil cuti akademik, hingga menggratiskan sepenuhnya.
Kebijakan ini akan diberlakukan minimal selama satu semester. Sedang dilakukan pengkajian untuk mencari formula yang tepat bagi masing-masing mahasiswa terdampak bencana.
Kemdiktisaintek mendanai empat proposal yang diajukan IPB University untuk aksi tanggap darurat maupun rehabilitasi yaitu distribusi logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan.
Sementara untuk jangka panjang, IPB University akan memberikan beragam kebijakan afirmasi yang akan diprioritaskan untuk daerah yang terkena bencana tersebut seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, program Dosen Mengabdi, beasiswa untuk mahasiswa baru asal wilayah bencana, serta beragam studi dan kajian dan policy brief kebencanaan.
Outlook 2026: Mempercepat Dampak dan Daya Saing Global
Memasuki 2026, IPB University berkomitmen untuk mempercepat implementasi Renstra 2024–2028 dengan fokus program pada peningkatan dampak riset dan inovasi melalui hilirisasi dan kemitraan strategis dengan masyarakat, industri dan pemerintah.
Kemudian, penguatan Global South Engagement yang lebih terarah pada kolaborasi berdampak dan pengakuan internasional, khususnya pada kemitraan dengan perguruan tinggi dan institusi di wilayah Global South.
Pengembangan talenta unggul mahasiswa dan dosen yang adaptif terhadap tantangan global. Kontribusi nyata terhadap program prioritas pemerintah (Asta Cita) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang pangan, energi, air, dan lingkungan.
“Dengan landasan capaian 2025 dan arah strategis yang jelas, IPB University optimistis melangkah ke tahun 2026 sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan berdampak bagi Indonesia dan dunia,” pungkas Rektor.
(rls/hrs)
Berita
Pemkot Bogor Kebut Normalisasi Drainase Jalan Dadali dan Padi
KlikBogor – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengebut perbaikan dan normalisasi drainase di sejumlah titik rawan banjir saat hujan deras.
“Kami pemetaan dari beberapa peristiwa hujan dengan intensitas tinggi, mana saja (drainese) yang bisa diperbaiki, karena memang curah hujannya di atas 140 milimeter,” kata Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat meninjau perbaikan drainase di Jalan Padi, Senin, 1 Juni 2026.
Ia menambahkan, salah satu titik drainese yang menjadi prioritas perbaikan adalah kawasan Jalan Dadali, Kecamatan Tanah Sareal. Di lokasi tersebut sebelumnya pernah mengalami kejadian yang menimbulkan korban jiwa.
“Titik di Jalan Dadali kami prioritaskan untuk diperbaiki dan juga dilakukan normalisasi drainasenya,” kata Dedie Rachim didampingi Kepala DPUPR Kota Bogor, Rr. Juniarti Estiningsih dan Kepala Disperumkim Kota Bogor, Chusnul Rozaqi.
Baca juga: Pemkot Akan Normalisasi Drainase di Sejumlah Titik Rawan Banjir
Selanjutnya, drainese di kawasan Jalan Padi, Kecamatan Bogor Utara. Pasalnya, di kawasan ini setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi selalu mengalami banjir yang cukup mengganggu aktivitas warga.
“Setiap kali hujan, di Jalan Padi airnya mencapai di atas mata kaki. Setelah dipetakan, dihitung dan dilihat kewenangannya, akhirnya kami putuskan beberapa titik yang bisa diintervensi melalui APBD Pemerintah Kota Bogor,” jelasnya.
Namun, Dedie Rachim menyebut, tidak semua titik permasalahan yang muncul menjadi kewenangan Pemkot Bogor. Beberapa lokasi mengalami kerusakan infrastruktur seperti longsor maupun kerusakan saluran yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi maupun pusat.
“Tapi ada beberapa titik yang mengalami longsor, turap jebol, tidak semuanya kewenangan Pemerintah Kota Bogor. Jadi kami prioritaskan mana yang menjadi kewenangan dan bisa langsung dieksekusi, kami eksekusi,” paparnya.
Baca juga: Dari Balai Kota ke Tegar Beriman, HJB Run 2026 Perkuat Sinergi Bogor
Ia menambahkan, selain di Jalan Dadali dan Jalan Padi, terdapat satu titik drainese yang menjadi prioritas untuk diperbaiki yakni di kawasan Yasmin sektor V, Kecamatan Bogor Barat.
“Ada yang di luar kewenangan Pemerintah Kota Bogor di perempatan Yasmin, ada drainese yang melintang di jalan nasional. Itu juga tidak bisa langsung kami intervensi. Tetapi ada langkah-langkah untuk mengurangi dampak dan sebagainya,” imbuhnya.
(hrs/ckl)
Berita
MKI dan IPB Bahas Pengelolaan Benih Bening Lobster di Bogor
KlikBogor – Masyarakat Krustase Indonesia (MKI) bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Pengelolaan Benih Bening Lobster Berbasis Masyarakat’ di IPB International Convention Center (IICC), Kota Bogor, Senin, 1 Juni 2026.
Forum ini bertujuan menata ulang tata kelola maritim serta merumuskan rekomendasi regulasi lobster yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis sains.
Agenda ini dihadiri oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Febriyantoro Martadikrama, Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Prof. Rokhmin Dahuri, serta Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu.
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, perlunya pertumbuhan ekonomi berkelanjutan demi membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) menjelang visi Indonesia Emas 2045.
“Kita bisa menjadi negara maju jika mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ungkap Rokhmin.
Rokhmin mengkritik inkonsistensi regulasi masa lalu yang mengabaikan sains dan mendesak KSP agar kebijakan maritim tidak terjebak pada konservasi kaku yang melarang pemanfaatan ruang laut secara mutlak. Sebab dapat mematikan ekonomi para nelayan yang rata-rata berpenghasilan Rp2,5 juta per bulan.
“Apakah Indonesia bisa keluar dari middle income trap menjadi negara maju dan makmur pada tahun 2045. Kita tidak boleh sekadar optimis, tetapi kita bisa menjadi negara maju jika mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan itu tadi,” ujarnya.
Rokhmin menjelaskan, banyak aturan berubah pada bidang lobster ini karena ketidakpercayaan terhadap ahli di Indonesia. Aturan harus berdasarkan kaidah berkelanjutan, kalau ada aturan yang menghambat perkembangan budidaya harus diubah dan kalau ada aturan yang merusak alam juga tatanan budidaya juga jangan diberlakukan.
“Lobster ada dua jenis yaitu clawed 30 spesies dan spiny 49 spesies. Bidang lobster ini, Indonesia hanya di rangking 6 untuk sebagai produsen. Budidaya kita juara kedua tapi gep nya jauh dengan peringkat pertama. Hanya orang bodoh yang tidak bisa memanfaatkan, kita suplai besar dan permintaan tinggi. Harus dimanfaatkan ini harus ada inovasi dan manajemen terpadu. Saya mengawal lobster sejak tahun 2017. Enam jenis lobster dimiliki kita, harus bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Rokhmin menegaskan, tujuan utama lobster itu budidaya, tapi harus dimanfaatkan dengan baik. Biaya operasional Indonesia harus lebih murah agar bisa kompetitif. Kalau mau produksi besar, ongkos produksi harus lebih murah.
“Ini karena dinamika regulasi budidaya lobster, kenapa orang masih ekspor pembudidaya kita Rp8.500 tapi harga jual ke Vietnam Rp40 ribu, maka banyak penyelundupan. Kita belum bisa budidaya bertahan seperti di Vietnam. Eksportir dibatasi maksimum tiga tahun,” tegasnya.
Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa penerbitan regulasi baru, termasuk Peraturan Menteri (Permen) Nomor 7 Tahun 2024, telah melalui harmonisasi yang panjang.
Berdasarkan rekomendasi Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan), kuota pemanfaatan Benih Bening Lobster (BBL) tahun ini ditetapkan sebanyak 232,8 juta ekor.
“KKP kini berfokus pada penyusunan modeling budidaya yang efisien agar pasokan BBL di alam liar diprioritaskan untuk industri budidaya nasional melalui koperasi nelayan, bukan untuk ekspor ilegal,” tuturnya.
Dirinya menyayangkan adanya persepsi keliru di sebagian kalangan mengenai panen udang nasional oleh Presiden RI di Kebumen beberapa waktu lalu.
“Pemindahan komoditas perikanan dalam volume puluhan ton tidaklah semudah membalikkan telapak tangan tanpa adanya manajemen budidaya yang profesional,” terangnya.
Ditempat yang sama, Ketua Umum MKI, Prof. Sulistiono menyatakan dukungan kelembagaannya terhadap kebijakan pemerintah, namun memberi catatan terkait adanya kesenjangan infrastruktur dan kapasitas adopsi teknologi pembenihan (hatchery) di lapangan.
Untuk itu, MKI secara resmi menyerahkan empat poin masukan strategis kepada KKP, yang meliputi penyesuaian pasal kebijakan lokal, penyediaan klausul masa transisi, penguatan infrastruktur pembenihan pemerintah, serta pengembangan kebijakan turunan untuk pembudidaya kecil.
“Kami di MKI mendukung penuh arah kebijakan strategis pemerintah dalam penguatan tata kelola komoditas krustasea. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesiapan budidaya, teknologi, dan infrastruktur belum sepenuhnya memadai,” jelasnya.
Pihaknya mendorong adanya penyesuaian regulasi yang memberikan ruang transisi yang terukur, serta penguatan kebijakan turunan yang berjalan paralel agar implementasi dapat efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Untuk diketahui, hasil rekomendasi tertulis dari FGD gabungan antara MKI dan FPIK IPB University selanjutnya akan disusun secara sistematis ke dalam bentuk naskah kebijakan (policy brief).
Dokumen tersebut dijadwalkan akan diserahkan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto serta kementerian terkait sebagai bahan pertimbangan utama kebijakan ke depan.
(rls/hrs)
Berita
Kebakaran Rumah di Sempur Diduga Akibat Korsleting Listrik
KlikBogor – Kebakaran rumah terjadi di Kampung Sempur Kaler, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada Sabtu, 30 Mei 2026. Kebakaran diduga akibat korsleting listrik pada sakelar di dalam rumah.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor, Moch. Ade Nugraha menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 15.05 WIB.
Ade mengatakan, berdasarkan keterangan saksi, kebakaran bermula saat terdengar suara ledakan. Saat diperiksa, ledakan tersebut berasal dari sakelar listrik.
Baca juga: Festival Kecamatan Tangguh Bencana Perkuat Edukasi dan Kesiapsiagaan Warga
Sakelar tersebut sempat dicoba dimatikan dan dinyalakan, namun muncul asap tebal yang kemudian memicu kebakaran.
“Menurut saksi saat mau mandi, saksi mendengar suara ledakan konsleting listrik, saat dicek, ternyata ledakan pada sakelar listrik, saksi mencoba mematikan dan menyalakan sakelar pada listrik, namun sakelar langsung menimbulkan asap dan terjadilah kebakaran,” ungkap Ade.
Petugas pemadam kebakaran yang menerima laporan tersebut langsung bergerak ke lokasi untuk memadamkan kobaran api.
Baca juga: Kebakaran Angkot di Kota Bogor, Kerugian Capai Rp45 juta
Kebakaran berhasil dikendalikan setelah 20 menit pemadaman petugas dan melibatkan mobil pemadam kebakaran dari Mako Sukasari, Cibuluh, dan Yasmin.
“Awal pemadaman pukul 15.31 dan selesai pemadaman pukul 15.51 WIB. Jadi lama pemadaman 20 menit dengan lama pendinginan 30 menit,” urainya.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, rumah mengalami kerusakan akibat kebakaran dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta.
(hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Serba Serbi7 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Berita11 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi1 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata
