Connect with us

Berita

Antisipasi Cuaca Ekstrim, Kecamatan Tangguh Bencana Dideklarasikan

Published

on

Antisipasi Cuaca Ekstrim, Kecamatan Tangguh Bencana Dideklarasikan
Pemkot Bogor deklarasikan Kecamatan Tangguh Bencana di Kantor BPBD Kota Bogor, Kamis, 30 April 2026. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendeklarasikan Kecamatan Tangguh Bencana di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Kamis, 30 April 2026.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan deklarasi ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menyikapi kondisi cuaca ekstrem yang belakangan semakin meningkat intensitasnya.

Pemkot Bogor mencatat curah hujan telah mencapai 120 milimeter per hari. “Ini bukan hanya global warming, tetapi ini sudah global disaster. Karena itu, harus diantisipasi, apalagi Bogor yang biasanya curah hujan tidak ekstrem itu menjadi sangat ekstrem dan perlu teman-teman di kecamatan siap siaga,” ujar Dedie Rachim.

Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan di tingkat kecamatan hingga kelurahan. Melalui program Kecamatan Tangguh Bencana, aparat wilayah diharapkan mampu memberikan edukasi, informasi, serta komunikasi kepada masyarakat, sekaligus melakukan langkah-langkah pencegahan.

“Mitigasi misalnya kalau point bencana di Kota Bogor pohon tumbang, mestinya Camat Lurah yang lebih tahu mana kira-kira pohon yang sudah berpotensi untuk tumbang atau dahannya patah. Kan harus tahu, harus mengenal,” jelasnya.

Setelah ini, kata Dedie Rachim, pihaknya akan melakukan percepatan pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana. Dengan seluruh kelurahan memiliki kesiapan yang baik, diharapkan upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat bisa berjalan lebih optimal.

“Kalau seluruh kelurahan sudah menjadi kelurahan tangguh bencana tentu kita akan lebih siap memitigasi, dan mengedukasi masyarakat termasuk juga mencegah kejadian bencana yang lebih banyak lagi di Kota Bogor, terutama banjir lintasan, tanah longsor, pergerakan tanah, hingga pohon tumbang,” katanya.

Ditempat yang sama, Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, menyampaikan apresiasi atas deklarasi tersebut. Ia berharap langkah ini dapat mempercepat upaya penanggulangan bencana di Kota Bogor.

“Kami siap bersama pemerintah kota mewujudkan Kecamatan Tangguh Bencana dan Kelurahan Tangguh Bencana, karena ini menjadi salah satu program yang dapat mengurangi dampak-dampak bencana di Kota Bogor,” ucapnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

HEBAT, Kelurahan Gudang Benahi Lingkungan hingga UMKM

Published

on

By

HEBAT, Kelurahan Gudang Benahi Lingkungan hingga UMKM
Lurah Gudang, Feri Setiawan. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Pemerintah Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, terus bersolek meningkatkan kualitas wilayah dan kesejahteraan warganya.

Di bawah kepemimpinan Lurah Feri Setiawan, kelurahan yang menjadi jantung ekonomi Kota Bogor ini mengusung visi dan misi bertajuk “HEBAT”.

Feri mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi prioritas utama guna menciptakan lingkungan pemukiman yang nyaman, bersih, dan asri.

​Ia mengakui bahwa karakteristik Kelurahan Gudang sebagai wilayah padat penduduk memiliki tantangan tersendiri.

Namun, hal itu tidak menyurutkan komitmennya untuk menghadirkan perubahan nyata, terutama dalam hal ketertiban lingkungan.

​”Misi kami yaitu mewujudkan lingkungan pemukiman yang nyaman, bersih, dan asri. Meskipun semua tahu kondisi Kelurahan Gudang seperti apa, kami terus berupaya maksimal,” ujar Feri Setiawan kepada awak media di Aula Kelurahan Gudang, Kamis, 30 April 2026.

​Ia juga menyoroti perubahan signifikan terkait isu keamanan. Jika sebelumnya wilayah ini kerap diidentikkan dengan potensi tawuran, kini kondisi tersebut telah berubah total.

​”Dulu mungkin orang mendengar kata ‘Gudang’ pasti identik dengan tawuran. Tapi Alhamdulillah, selama dua tahun kepemimpinan saya, tidak ada lagi tawuran. Kami menggalakkan program Jaga Lembur setiap malam Sabtu dan Minggu untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan,” tegasnya.

​Secara administratif, Kelurahan Gudang sendiri memiliki luas wilayah 32,5 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 6.447 jiwa (data Maret 2026).

Lokasinya yang bersinggungan langsung dengan kawasan niaga Surya Kencana menjadikan penataan pedagang kaki lima (PKL) sebagai agenda rutin.

​Hingga saat ini, pihak kelurahan telah melakukan sosialisasi dan penertiban di sejumlah titik, seperti Jalan Bataman, Jalan Pedati, dan Jalan Lawang Saketeng.

Total terdapat ratusan PKL yang terus dikomunikasikan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengganggu ketertiban umum.

​Selain infrastruktur fisik, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pilar penting. Kelurahan Gudang aktif memfasilitasi kelompok belajar PKBM (Paket A, B, dan C) untuk menekan angka putus sekolah, serta menjalin kerja sama dengan Universitas BSI dalam pelatihan komputer grafis bagi kader PKK dan pengurus RT/RW.

​Di sektor ekonomi, potensi UMKM seperti Toge Goreng dan Es Pala terus dikembangkan.

Feri juga mengungkapkan keberhasilan pembangunan 10 titik septic tank komunal bantuan pemerintah pusat serta perintisan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

​”Kami juga merintis Kelompok Wanita Tani (KWT) Geulis. Meski kami tidak punya lahan pertanian yang luas, kami berkolaborasi dengan pihak KAI untuk memanfaatkan lahan di pinggir rel demi produktivitas warga,” tambah Feri.

​Menutup pemaparannya, Lurah yang dikenal akrab dengan warganya ini mengajak rekan-rekan media untuk terus berkolaborasi, terutama dalam mempromosikan potensi lokal.

Ia juga menyambut baik rencana aksi sosial seperti “Jumat Bersih” yang melibatkan organisasi profesi jurnalis.

​”Kami membuka pintu lebar untuk kolaborasi. Jika ada event yang bisa memunculkan potensi UMKM kami, silakan. Mari kita sama-sama menjaga kenyamanan wilayah ini,” pungkasnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Berita

Sungai Ciparigi di Tegallega Diduga Tercemar Limbah dari Hotel dan Mal

Published

on

By

Sungai Ciparigi di Tegallega Diduga Tercemar Limbah dari Hotel dan Mal
Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman saat mengecek lokasi pipa pembuangan di Sungai Ciparigi. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Sungai Ciparigi di Kampung Babakan Fakultas, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, diduga tercemar limbah yang dibuang oleh salah satu hotel dan pusat perbelanjaan.

Warga setempat mengeluhkan kondisi bau tidak sedap setiap limbah tersebut dialirkan ke sungai meski tidak terjadi setiap hari.

Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, mengatakan adanya dua unit usaha yang membuang limbah mereka ke Sungai Ciparigi yang melintasi wilayahnya.

Pihak kelurahan juga telah melayangkan teguran, hingga kini belum ada langkah konkret dari pihak pengelola.

“Kita sudah pernah kasih teguran, baik tertulis maupun lisan. Cuma sampai hari ini memang belum ada tindakan apapun. Mereka masih tetap membuang limbahnya (ke Sungai Ciparigi),” ujar Hardi Suhardiman dikutip Kamis, 30 April 2026.

Hardi juga mengaku telah meminta hasil uji laboratorium untuk memastikan limbah yang dibuang aman bagi lingkungan dan tidak berdampak buruk bagi masyarakat.

Permintaan tersebut didasari atas keluhan warga mengenai aroma tidak sedap yang muncul dari aliran pipa pembuangan tersebut.

“Sampai hari ini kita belum dikasih hasil laboratorium dari Hotel Santika maupun dari Botani Square. Dampaknya bau dan juga otomatis air jadi meningkat, karena ada dua pipa,” tambahnya.

Dikonfirmasi, pihak Manajemen Hotel Santika Bogor menyatakan bahwa air limbah yang dihasilkan telah melalui proses pengolahan khusus sebelum dibuang.

“Air limbah dari Hotel Santika Bogor selalu melalui pengolahan secara khusus,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, limbah yang dihasilkan selalu memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Dan juga pengecekan dilakukan secara rutin tiap bulan dan hasil tes lab-nya ada,” tambah pihak Manajemen Hotel Santika.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya mengkonfirmasi pihak Botani Square terkait dugaan pencemaran limbah ke Sungai Ciparigi.

(hrs)

Continue Reading

Berita

Serunya Anak SD Belajar Tawar-menawar di Pasar Gembrong Sukasari

Published

on

By

Serunya Anak SD Belajar Tawar-menawar di Pasar Gembrong Sukasari
Sekolah Dasar (SD) High Scope Indonesia Rancamaya tengah mengunjungi Pasar Gembrong Sukasari. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor mengenalkan Pasar Gembrong Sukasari ke anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD) High Scope Indonesia Rancamaya pada Rabu, 29 April 2026. Langkah ini dilakukan agar generasi muda bisa mengenal pasar tradisional dengan seni tawar menawarnya.

Dirut PPJ Kota Bogor, Jenal Abidin, memaparkan pihaknya menyambut baik adanya kunjungan dari SD High Scope Indonesia Rancamaya ke Pasar Gembrong Sukasari di mana kegiatan ini sejalan dengan program PPJ yang mulai mengenalkan pasar tradisional kepada generasi mendatang.

“Jadi di usia TK, SD hingga mahasiswa kami undang untuk masuk ke pasar tradisional. Kedua sebagai saran edukasi buat anak usia dini, generasi muda bahwa pasar tradisional  berbeda dengan mal. Di pasar bisa tawar menawar dan itu adalah seni nya. Kami tekankan di usia dini (SD). Kami sosialisasi kan bahwa pasar yang sudah di revitalisasi ini, nyaman dikunjungi berbagai usia,” ungkap Jenal usai acara.

Lebih lanjut, kata Jenal, tidak hanya ibu-ibu saja yang ke pasar, bapak-bapak yang mengantar bisa menikmati kopi sambil menunggu ibu-ibu belanja. Ada juga play ground di Pasar Gembrong untuk anak-anak dan semua dikenalkan ke generasi muda sejak dini.

“Bahwa pasar tradisional sudah nyaman dan naik kelas. Pasar Gembrong ini bisa dijadikan pasar wisata, dan masyarakat bisa wisata belanja,” jelasnya.

Sementara itu, Guru IPS dan PPKN SD High Scope Indonesia Rancamaya, Anggita Ayu, memaparkan para siswa dan siswi bisa belajar tentang kebutuhan dan keinginan dengan mengobservasi tentang proses jual serta beli yang ada di Pasar Gembrong Sukasari.

“Kegiatan ini diperlukan agar anak-anak mengerti tentang jual-beli dan memahami antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya anak-anak belajar bahwa kita harus memprioritaskan kebutuhan. Kami membawa 12 siswa, kelas 2 dan 3. Ini pasar tradisional, anak-anak sudah ke mall dan mereka belajar hal baru juga merasakan situasi baru. Ada beberapa anak yang belum pernah sama sekali ke pasar,” ungkap Ayu.

Dengan demikian, lanjut Ayu, jika mereka ke pasar bisa menawar harga, sedangkan di mal sudah tertera label harganya. Anak-anak juga bisa membandingkan harga yang lebih murah dibandingkan di mal.

“Tujuan kegiatan ini memperkenalkan situasi di pasar, sistem jual beli, bagaimana cara interaksi penjual dan pembeli,” tandasnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer