Berita
Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Perlu Berbasis Sains dan Teknologi
KlikBogor – Perikanan tangkap memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, namun saat ini menghadapi tekanan serius akibat meningkatnya permintaan, stagnasi produksi, serta eksploitasi berlebih.
Demikian hal tersebut disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto dalam konferensi pers pra orasi ilmiah yang digelar via Zoom, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menambahkan, banyak stok ikan, baik di tingkat global maupun nasional termasuk di Indonesia, telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal bahkan berlebih. Situasi ini diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal.
Oleh karena itu, diperlukan pergeseran menuju pengelolaan perikanan yang berkelanjutan berbasis sains dan teknologi. Salah satu pendekatan penting adalah integrasi etologi ikan atau studi perilaku ikan dalam pengelolaan berbasis ekosistem.
“Pemahaman terhadap respons ikan dapat meningkatkan selektivitas alat tangkap dan mengurangi dampak ekologis,” kata Prof Riyanto.
Ia menambahkan, pendekatan ini juga mendorong inovasi teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan lampu LED dan alat pengurang tangkapan sampingan (bycatch reduction devices/BRD), serta mendukung kebijakan adaptif terhadap perubahan iklim.
Penelitian menunjukkan bahwa organisme akuatik memiliki respons berbeda terhadap cahaya. Penyu, misalnya, sensitif terhadap panjang gelombang tertentu, sehingga teknologi pencahayaan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi tangkapan sampingan.
Pada ikan, penggunaan cahaya dapat meningkatkan efektivitas penangkapan. Lampu LED hijau dengan sumber energi baterai air laut terbukti memberikan hasil optimal, baik dari sisi produktivitas maupun efisiensi.
“Inovasi ini telah menghasilkan paten dan diterapkan di beberapa wilayah, seperti Banten dan Bangka Belitung,” kata Prof Riyanto.
Selain meningkatkan hasil tangkapan, terang Prof Riyanto, lampu LED juga dapat menggantikan umpan alami pada komoditas seperti kakap merah, kerapu, dan rajungan. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga mampu menekan bycatch.
Kemudian, penggunaan lampu LED hijau pada jaring insang dapat mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama, sementara LED merah efektif menurunkan tangkapan sampingan mimi laut hingga 63 persem.
“Implementasi teknologi ini perlu diperluas melalui integrasi dalam standar operasional dan kebijakan perikanan,” imbuhnya.
Prof Riyanto mengatakan, upaya peningkatan selektivitas juga dilakukan melalui pengembangan BRD pada perikanan pukat udang, khususnya di Laut Arafura. Salah satu teknologi yang efektif adalah US Turtle Excluder Devices (TED), yang dapat mengurangi tangkapan sampingan sekaligus meningkatkan hasil tangkapan udang.
“Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas,” katanya.
Prof Riyanto juga mengatakan, etologi ikan juga berperan dalam pengelolaan sidat yang berkelanjutan. Melalui pengembangan alat tangkap selektif, kajian fisiologi, serta pengaturan musim dan zonasi, ketergantungan pada benih alami dapat dikurangi sekaligus menjaga kelestarian stok.
Di sisi lain, perikanan tangkap juga menghadapi tantangan lingkungan berupa alat tangkap hilang atau terbuang (Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear atau ALDFG). ALDFG dapat terus menangkap biota, merusak habitat, dan menyumbang sekitar 10 persen sampah laut global.
Prof Riyanto menjelaskan, di Indonesia, mayoritas nelayan pernah mengalami kehilangan alat tangkap, yang berdampak pada kerugian ekonomi dan lingkungan. Penanganannya memerlukan pendekatan terpadu melalui regulasi, pengawasan, inovasi alat tangkap, ekonomi sirkular, serta upaya restorasi ekosistem.
Ia menandaskan bahwa ke depan, pengelolaan perikanan perlu beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi.
“Transformasi ini harus didukung inovasi teknologi, penegakan hukum yang efektif, serta integrasi antara sains dan kebijakan, dengan tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil dan keberlanjutan ekosistem,” pungkasnya.
(rls/hrs)
Berita
Sukaresmi Gali Potensi Ekonomi Baru, dari Bunga Telang hingga Keripik Tempe
KlikBogor – Kelurahan Sukaresmi terus berupaya menggali potensi wilayah baru di tengah perubahan tata guna lahan yang terjadi melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lurah Sukaresmi, Yayan Hariansyah, mengatakan perubahan wilayah yang sebagian besar telah berkembang menjadi kawasan perumahan membuat potensi unggulan lama semakin berkurang. Karena itu, pihaknya berupaya mencari alternatif potensi ekonomi yang dapat dikembangkan masyarakat.
“Potensi di wilayah Sukaresmi memang ada beberapa hal yang sedang kita angkat dan kembangkan, salah satunya UMKM. Dulu Sukaresmi terkenal dengan jambu merahnya, tetapi karena wilayahnya banyak yang berubah menjadi perumahan dan sebagainya, kita harus mencari potensi lain, seperti pengembangan bunga telang untuk minuman dan keripik tempe,” ujar Yayan kepada awak media di kantornya, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, selain produk abon tongkol dan jus jambu merah yang telah lebih dulu dikenal masyarakat, berbagai produk olahan baru terus didorong agar mampu menjadi identitas ekonomi baru Kelurahan Sukaresmi.
“Selain abon tongkol, dulu juga terkenal dengan jus jambu merah. Namun karena lahan sudah berkurang, kami mencari potensi lain yang bisa dikembangkan masyarakat,” katanya.
Baca juga: Kebakaran Angkot di Kota Bogor, Kerugian Capai Rp45 juta
Di sisi lain, Kelurahan Sukaresmi juga tengah mensosialisasikan sejumlah program Pemerintah Kota Bogor kepada masyarakat. Salah satu program yang saat ini menjadi fokus adalah sosialisasi terkait Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
“Program kerja yang disosialisasikan salah satunya terkait program PSEL. Selain itu, ada juga sosialisasi BPJS dan pelayanan administrasi kependudukan lainnya,” jelas Yayan.
Tidak hanya itu, pihak kelurahan secara rutin melaksanakan kegiatan koordinasi dan aksi bebersih setiap akhir pekan. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan di wilayah RW 02.
Baca juga: Bependa Kota Bogor Gandeng Camat dan Lurah Genjot PAD, Target Tembus Rp2 Triliun
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, Kelurahan Sukaresmi juga menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor. Pada pekan lalu, kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah digelar di RW 06 dengan melibatkan warga dan kader.
“Kami menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup untuk menjelaskan teknis pengelolaan sampah. Karena saat ini hanya penanganan sampah saja yang ada di wilayah, sedangkan pengelolaannya belum,” ungkapnya.
Sementara itu, di RW 05, Kelurahan Sukaresmi bersama DLH mengembangkan program budidaya maggot sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik. Program tersebut diawali dengan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
“Di RW 05 kami bekerja sama juga dengan DLH mengajukan bantuan baby maggot. Saat ini sudah mulai dari rumah tangga ada pemilihan sampah, dan di RT 01 sudah ada pengembangan maggot yang dapat menjadi bagian dari pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat,” tutup Yayan.
(ckl/hrs)
Berita
Bependa Kota Bogor Gandeng Camat dan Lurah Genjot PAD, Target Tembus Rp2 Triliun
KlikBogor – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bogor menggandeng aparatur wilayah Camat dan Lurah untuk mengoptimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Untuk memperkuat hal tersebut dilakukan gathering sinergi optimalisasi PAD dan transformasi digital bersama aparat kecamatan dan kelurahan se-Kota Bogor di Elingo Restoran, Kecamatan Bogor Utara.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspemkesra) Setda Kota Bogor, Eko Prabowo yang hadir dalam acara tersebut mengingatkan aparatur wilayah untuk wajib bersyukur karena kondisi fiskal di Kota Bogor sampai dengan saat ini masih baik-baik saja. Dibuktikan dengan TPP atau tunjangan aparaturnya terbayarkan terus dan tetap utuh tanpa ada rasionalisasi.
“Sekarang tinggal bagaimana kami untuk bertempur dan bekerja sebagai ‘petarung’ guna membantu juga berbakti kepada Kota Bogor serta masyarakat. Supaya visi-misi kota ini tercapai. Salah satu indikator visi-misi tercapai adalah jika PAD-nya juga tercapai,” ungkap Eko kepada wartawan, Kamis, 21 Mei 2026.
Untuk itu, Eko juga mengingatkan mengenai pentingnya modal sosial dan saling percaya atau mengisi ruang kosong di wilayah yang nantinya akan diisi oleh Bapenda. Apalagi tantangan PAD ke depan tidak mudah, harus pandai-pandai mengekstensifikasi sumber-sumber PAD alternatif yang bisa dikembangkan melalui peran serta wilayah.
“Saya sadarkan juga kepada teman-teman lurah dan camat, bahwa kinerja ini menjadi salah satu bentuk penilaian. Saya sebagai unsur tim penilai karir mereka, menjadikan poin ini sebagai salah satu unsurnya,” katanya.
“Kalau mereka bagus dalam melaksanakan tugas ini, mendorong serta mengembangkan potensi PAD di wilayahnya hingga hasilnya optimal, sudah barang tentu akan digabungkan dengan nilai indikator lainnya secara objektif dan rasional untuk promosi naik jabatan,” tambah Eko.
Eko menjelaskan, beberapa potensi di wilayah yakni Pajak Bumi Bangunan (PBB), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), serta Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) seperti restoran juga kafe.
Seiring dengan hal tersebut, lanjut Eko, Bapenda saat ini sedang mengembangkan digitalisasi terkait pajak resto, sehingga begitu dibayar oleh konsumen, langsung terpilah 10 persennya dan langsung masuk ke kas daerah.
“Digitalisasi ini sedang dikembangkan sebagai salah satu cara mengurangi deviasi atau kebocoran. Untuk PBG juga jelas, baru menumpuk batu bata atau pasir saja sudah harus dipantau oleh orang wilayah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bapenda Kota Bogor, Abdul Wahid mengatakan, pertemuan ini diikuti jajaran wilayah Camat, Lurah, dan Kasipem se-Kota Bogor dengan jumlah kurang lebih 150 orang.
Kegiatan ini dalam upaya melakukan percepatan pendapatan PAD Kota Bogor. Terlebih, jajaran wilayah bersentuhan langsung dengan para Wajib Pajak (WP).
“Kami coba menyinergikan antara Bapenda Kota Bogor bersama jajaran Lurah dan Camat Se-Kota Bogor. PAD Kota Bogor saat ini kurang lebih sekitar Rp1,7 triliun. Harapan ke depan dengan terbangunnya sinergi ini bisa mencapai Rp2 triliun. Upaya kolaborasi dan kebersamaan ini akan terus kami tingkatkan, karena saya yakin melalui kolaborasi, capaian PAD Kota Bogor akan lebih tinggi,” ujarnya.
Wahid menjelaskan bahwa para Lurah termasuk Kasipem ditujukan untuk memudahkan proses pendataan. Ketika sudah didata, potensi itu akan muncul. Pihaknya juga terus menggenjot kolaborasi dengan OPD lain, tidak hanya jajaran wilayah.
Untuk penerapan teknologi, Bapenda menggunakannya untuk memudahkan proses pendataan. Terutama untuk sektor kafe dan restoran yang saat ini sedang menjamur di Kota Bogor, diprediksi ada sekitar 3.000 kafe dan restoran yang tersebar di 68 kelurahan.
“Untuk proses pendataan wajib pajak PBB-P2, kami ada aplikasinya yaitu Si Wahid (Sistem Warga Himpun Data). Melalui aplikasi ini, pelayanan ke masyarakat bisa sehari selesai,” jelasnya.
Wahid menambahkan, mengenai aplikasi digital lainnya yang diluncurkan yakni Laku Pandai untuk memudahkan masyarakat dan mempercepat proses penagihan kepada WP.
“Dalam program Laku Pandai ini, kami bekerjasama dengan Bank BJB untuk membuka agen di 68 kelurahan. Jajaran wilayah yang menjadi agen Laku Pandai bisa langsung menagih kepada masyarakat hanya bermodalkan gadget,” pungkasnya.
(ckl/hrs)
Berita
Kebakaran Angkot di Kota Bogor, Kerugian Capai Rp45 juta
KlikBogor – Satu unit angkutan kota (angkot) trayek 16 jurusan Salabenda-Pasar Anyar terbakar di Jalan Sudirman, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Kamis, 21 Mei 2026 siang.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor, Teofilo Patrocinio Freitas mengatakan, peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 10.00 WIB.
Ia menjelaskan, kebakaran diduga bermula dari aki kendaraan yang terbakar sebelum api merambat ke bagian jok dan membesar.
“Awal mula terjadinya kebakaran menurut pelapor bermula dari aki lalu merambat ke jok mobil kemudian api membesar,” paparnya.
Petugas pemadam kebakaran menerima laporan langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Tak butuh waktu lama, kobaran api berhasil dijinakkan dan tidak merambat ke objek lain.
“Petugas terlibat Regu 2 Cibuluh, Yasmin, dan Sukasari. Sedangkan unit kendaraan dari Cibuluh, Yasmin, dan Sukasari,” imbuh Teofilo.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, angkot tersebut mengalami kerusakan dengan estimasi kerugian mencapai sekitar Rp45 juta.
(ckl/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi6 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita11 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini1 tahun agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
