Connect with us

Parlementaria

DPRD Kota Bogor Apresiasi Realisasi Pembangunan Jalur Baru Saleh Danasasmita

Published

on

DPRD Kota Bogor Apresiasi Realisasi Pembangunan Jalur Baru Saleh Danasasmita
Anggota Komisi I DPRD Kota Bogor dari Fraksi PAN, Hj. Hakanna (kiri) bersama Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Rr. Juniarti Estiningsih dan Anggota Fraksi Aswaja DPRD Kota Bogor, Wisnu Ardiansyah (kanan) saat peninjauan lahan pembangunan trase baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita, Rabu, 13 Mei 2026. Foto/Istimewa.

KlikBogorTrase baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita di kawasan underpass Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, siap dikerjakan mulai pekan depan.

Anggota Komisi I DPRD Kota Bogor dari Fraksi PAN, Hj. Hakanna, mengemukakan tanggapan atas realisasi pembangunan jalur baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita.

Ia mengatakan, dirinya telah berkomunikasi langsung dengan pihak kontraktor terkait jadwal pengerjaan proyek tersebut.

“Alhamdulillah pada hari ini tadi saya juga sudah berkomunikasi dengan pembangunnya, kontraktornya juga. Insyaallah minggu depan infonya akan mulai realisasi pembangunan,” kata Hakanna di lahan rencana Jalan Saleh Danasasmita, Rabu, 13 Mei 2026.

Hakanna mengimbau masyarakat untuk mendukung proses pembangunan agar situasi di lingkungan tetap kondusif selama pengerjaan berlangsung. Sebab, proyek tersebut nantinya akan melibatkan aktivitas alat berat dan mobilisasi material.

“Untuk itu saya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk saling men-support agar lingkungan kondusif. Karena ini tidak lepas dari nanti teknisnya turun alat berat dan lain sebagainya, dan itu dibutuhkan sekali koordinasi dengan wilayah,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan jalan baru tersebut merupakan harapan lama masyarakat Bogor Selatan, khususnya warga Lawang Gintung dan Batutulis yang sebelumnya terdampak penutupan Jalan Saleh Danasasmita.

“Saya melihat warga sangat resah ya. Kami pun memahami itu karena sejak awal butuh proses tidak bisa sekaligus, tapi alhamdulillah dari Bu Hesti dari PUPR juga pemerintah kota khususnya cepat tanggap, gercep,” katanya.

Hakanna menjelaskan pembangunan trase jalan alternatif tersebut harus melalui mekanisme dan tata kelola yang sesuai aturan sehingga tidak bisa dilakukan secara instan.

“Mudah-mudahan lancar, kita dukung bersama dan insyaallah ini menjadi kebahagiaan masyarakat Bogor Selatan,” ungkapnya.

Ia juga menanggapi kekhawatiran sejumlah budayawan terkait dampak pembangunan terhadap situs sejarah di kawasan Batutulis. Menurutnya, konsep site plan proyek telah mengakomodasi keberadaan bunker maupun kawasan Sumur Tujuh sehingga situs bersejarah tetap terjaga.

Ia berharap penataan kawasan Batutulis ke depan dapat memperkuat sektor wisata sejarah di Kota Bogor.

“Kita buat mudah-mudahan harapan ke depan ini menjadi kota wisata jauh lebih baik dan juga sejarah-sejarah, monumen-monumen sejarah ini bisa kita kembangkan,” katanya.

Dilokasi yang sama, Anggota Fraksi Aswaja DPRD Kota Bogor, Wisnu Ardiansyah, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang akhirnya merealisasikan proyek tersebut setelah sempat beberapa kali tertunda.

Wisnu mengatakan pembangunan trase jalan baru ini sangat penting bagi masyarakat Bogor Selatan karena menjadi jalur utama aktivitas warga sehari-hari.

“Saya mengapresiasi Pemerintah Kota Bogor dan juga Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang walaupun sempat tertunda beberapa kali, akhirnya hari ini kita bisa memulai tahapan pekerjaan pembangunan jalan trase Danasasmita,” kata Wisnu.

Menurutnya, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan menyangkut akses vital masyarakat. Jalan itu menjadi jalur penghubung bagi pekerja, pelajar hingga akses layanan kesehatan warga Bogor Selatan.

“Ini sebenarnya bukan sekadar pembangunan fisik, tapi lebih kepada nadi kehidupan masyarakat Bogor Selatan. Ini jalur akses pekerja, sekolah, termasuk kesehatan,” ujarnya.

Wisnu yang juga merupakan warga Pamoyanan mengaku ikut terdampak langsung oleh kondisi akses jalan di kawasan tersebut. Karena itu, DPRD Kota Bogor berkomitmen melakukan pengawasan agar pembangunan berjalan sesuai rencana dan dapat selesai tepat waktu.

“Kami di DPRD tentunya berkomitmen untuk terus mengawasi supaya pembangunan ini bisa dilaksanakan sebagaimana yang direncanakan dan yang paling utama bisa cepat waktunya,” ucapnya.

Selain pembangunan jalan, Wisnu menyinggung penataan kawasan budaya di sekitar Batutulis. Ia memastikan proyek trase baru tersebut telah dibahas bersama budayawan dan pihak terkait agar tidak mengganggu area yang diduga sebagai cagar budaya.

“Insyaallah dengan rencana yang sudah dibuat tidak mengganggu kawasan-kawasan yang diduga sebagai cagar budaya, justru kita akan coba menata,” katanya.

Penataan yang dimaksud nantinya tidak hanya berfokus pada pembangunan jalan, tetapi juga meliputi fasilitas pendukung seperti pedestrian, taman, dan pengembangan kawasan budaya di sekitar trase.

“Jadi tidak hanya trase jalan, nanti ada pedestrian, taman, dan juga terkait dengan kawasan-kawasan budaya,” tambahnya.

Ia berharap pembangunan trase jalan baru pengganti Jalan Saleh Danasasmita dapat segera rampung dan memberi manfaat besar bagi masyarakat Bogor Selatan.

“Mudah-mudahan kegiatan hari ini bisa segera dilaksanakan dan ke depan bisa memberikan berkah bagi masyarakat Bogor Selatan,” pungkasnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parlementaria

Dewan Ingatkan Pemkot Agar Proyek Trase Baru Batutulis Tak Kotori Jalan 

Published

on

By

Dewan Ingatkan Pemkot Agar Proyek Trase Baru Batutulis Tak Kotori Jalan 
Anggota DPRD Kota Bogor, Edi Kholki Zaelani. Foto/Istimewa

KlikBogor – Anggota DPRD Kota Bogor, Edi Kholki Zaelani menyoroti kondisi jalan yang kotor akibat aktivitas proyek trase baru Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan.

Ia meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk memperkuat koordinasi dengan pelaksana pekerjaan agar dampak negatif terhadap aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.

Menurutnya, pengawasan terhadap kontraktor harus dilakukan secara konsisten, terutama terkait operasional kendaraan pengangkut material. Truk-truk tersebut kerap meninggalkan ceceran tanah di jalan yang berpotensi membahayakan para pengguna jalan.

“Tugas saya hanya mengingatkan Pemerintah Kota Bogor agar terus berkoordinasi dengan pihak ketiga terkait kegiatan tersebut agar kontraktor membersihkan truk pengangkut tanah yang mengakibatkan jalan menjadi kotor,” kata Edi kepada wartawan, Senin, 13 Juli 2026.

Sorotan politisi PKB dari daerah pemilihan (dapil) II Bogor Selatan ini sejalan dengan atensi yang sebelumnya disampaikan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.

Dedie Rachim menyatakan tidak akan segan memberikan teguran kepada kontraktor apabila tidak menerapkan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara maksimal di lokasi proyek.

Teguran ini mencuat setelah ditemukannya ceceran tanah di sekitar proyek trase baru Batutulis yang dinilai membahayakan masyarakat, khususnya bagi pengendara sepeda motor.

“Nanti saya tegur kontraktor yang tidak menerapkan K3. Saya saja ke proyek mencontohkan menggunakan helm dan rompi. Masa mereka tidak menerapkan K3,” tegasnya.

Senada, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin meminta para pekerja agar tetap memperhatikan sisa tanah hasil angkutan dari proyek menuju lokasi pembuangan. Sesuai standar operasional prosedur (SOP), area tersebut dibersihkan setiap sore.

Menurut kontraktor, hal itu dilakukan karena apabila pembersihan dilakukan secara berkala pada siang hari, dikhawatirkan akan menimbulkan kemacetan yang cukup padat. Selain itu, genangan air juga dapat mengganggu arus lalu lintas.

“Oleh karena itu, pembersihan dilakukan setiap sore oleh para petugas yang ditunjuk pihak kontraktor. Setiap sore area disemprot menggunakan alat steam kendaraan. Sudah kami pastikan bahwa proses tersebut terus dilakukan sesuai dengan SOP,” terangnya.

Perwakilan PT Promix Prima Karya, Dudung Agus mengatakan, setiap kendaraan yang keluar dari lokasi proyek dilakukan pembersihan. Pihaknya juga melakukan penyemprotan rutin satu hari tiga.

“Kami semprot pagi, siang, sama menjelang magrib pak,” ungkap Dudung saat dikonfirmasi wartawan, Minggu, 12 Juli 2026.

Dudung melanjutkan, pembersihan dengan sapu juga dilakukan. “Dengan alat sapu diikuti alat siram steam mobil. Nanti alat semprotnya saya fotokan,” katanya.

(hrs)

Continue Reading

Parlementaria

Soroti SILPA Dinas Sosial, Dewan Rozi Putra Sebut Hak Warga Miskin Jangan Tertunda

Published

on

By

Soroti SILPA Dinas Sosial, Dewan Rozi Putra Sebut Hak Warga Miskin Jangan Tertunda
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Rozi Putra. Dok. Humpropub DPRD Kota Bogor

KlikBogor – Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Rozi Putra, menyoroti masih adanya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) di Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor.

Hal itu disampaikannya dalam rapat kerja pembahasan Pertanggungjawaban APBD Tahun Anggaran 2025 yang digelar pada Rabu, 8 Juli 2026.

​Pria yang akrab disapa Kang Rozi ini menilai, adanya SILPA di instansi yang mengurusi kesejahteraan masyarakat menunjukkan belum optimalnya penyaluran hak-hak warga yang membutuhkan.

“Satu rupiah saja SILPA di Dinsos, itu artinya ada warga miskin, anak yatim, atau penyandang disabilitas yang tertunda haknya disampaikan tahun lalu,” ujar Rozi Putra dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.

Baca juga: Urai Kemacetan, Pemkot Bogor Siapkan Jalan R2 Tembus Kaumsari

Kang Rozi sapaan akrabnya mempertanyakan secara mendalam apa yang menjadi penyebab utama masih tersisanya anggaran perlindungan sosial.

Menurutnya, program-program sosial yang telah dianggarkan oleh pemerintah seharusnya dapat terserap 100 persen untuk menyasar masyarakat rentan.

​Jika anggaran tersebut bersisa, lanjut Rozi, hal itu menjadi indikator kuat bahwa masih ada kelompok masyarakat yang belum memperoleh hak dan bantuan yang sudah disiapkan negara.

Selain masalah serapan anggaran, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga mendesak Dinsos untuk memberikan penjelasan terkait proses pemutakhiran data kemiskinan.

Ia juga meminta kepastian apakah Dinsos telah melakukan ground checking atau verifikasi lapangan terhadap Data Tunggal Sosial Nasional (DTSN).

Baca juga: Rapat DPRD-Pemkot Bogor, Sepakati Revisi Surat Edaran DTSEN

Langkah tersebut dinilai olehnya penting lantaran komisi IV masih terus menerima banyak keluhan dari masyarakat. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah ketidaksesuaian data desil kemiskinan, yang berujung pada gagalnya anak-anak dari keluarga tidak mampu mendapatkan beasiswa sekolah.

​”Persoalan data ini tidak hanya berdampak pada bantuan sosial, tetapi juga akses layanan kesehatan hingga beasiswa pendidikan,” tegas Rozi.

​Pihaknya meminta Dinsos untuk terus melakukan pembaruan dan validasi data secara berkala dan berkala. Harapannya, tidak ada lagi program bantuan sosial di Kota Bogor yang salah sasaran atau tidak terserap akibat kendala administratif data.

“Kami meminta Dinas Sosial terus memperbarui dan memvalidasi data agar seluruh program bantuan benar-benar tepat sasaran dan dirasakan oleh masyarakat yang berhak,” pungkasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Parlementaria

Kunjungi IPA PDAM, Komisi III Dorong Percepatan Infrastruktur Air Bersih

Published

on

By

Kunjungi IPA PDAM, Komisi III Dorong Percepatan Infrastruktur Air Bersih
Komisi III DPRD Kota Bogor saat melakukan kunjungan lapangan ke IPA PDAM di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan. Dok. Humpropub DPRD Kota Bogor

KlikBogor – Komisi III DPRD Kota Bogor melakukan kunjungan lapangan ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Pakuan di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, pada Rabu, 8 Juli 2026.

Kegiatan itu dilakukan guna memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat tetap berjalan optimal, sekaligus mengevaluasi kendala defisit air yang dialami sejumlah wilayah.

​Kunjungan dipimpin langsung Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi bersama Wakil Ketua Komisi III, Abdul Rosyid, dan Sekretaris Komisi III, Pepen Firdaus.

Turut hadir jajaran anggota Komisi III, yakni Karnain Asyhar, Eka Wardhana, Juhana, Ence Setiawan, Karina Soebakti, Safrudin Bima, Nasya Kharisa Lestari, Rezky Kartika, Tri Riyanto Andhika Putra, dan Angga Alan Surawijaya.

​Ahmad Aswandi menegaskan bahwa peninjauan langsung ini bertujuan untuk menjamin masyarakat terhadap akses air bersih tidak mengalami gangguan.

Kendati demikian, dari hasil peninjauan, Komisi lll mencatat masih ada sejumlah tantangan besar yang harus segera diselesaikan oleh manajemen Perumda Tirta Pakuan.

“Kita memastikan bahwa kebutuhan air di masyarakat tidak terganggu. Ternyata PDAM sendiri masih banyak PR-nya terkait masyarakat yang masih membutuhkan air bersih, terutama di Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat. Harapannya, ke depan bisa fokus menyelesaikan masalah air di wilayah dua kecamatan tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Kiwong

​Senada dengan hal itu, Abdul Rosyid mengapresiasi implementasi teknologi canggih yang diterapkan dalam pengolahan air baku di SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Rancamaya.

Ia menyaksikan langsung bagaimana air baku yang bersumber dari sungai diproses secara higienis hingga siap konsumsi.

​Namun, meskipun pasokan debit air bersih di fasilitas ini tergolong melimpah, Abdul menyayangkan masih adanya beberapa kawasan di Kota Bogor yang belum teraliri air secara maksimal akibat minimnya fasilitas penunjang.

“Alhamdulillah debit air melimpah, tapi kita masih kekurangan beberapa spot atau daerah yang masih belum teraliri air karena alasan infrastruktur pipa dan reservoir untuk mendorong air menuju ke wilayah tersebut, terutama daerah Bogor Barat dan daerah Tanah Sareal,” katanya.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa Komisi III berkomitmen memberikan dorongan dan dukungan penuh untuk PDAM Kota Bogor dalam memaksimalkan pembangunan infrastruktur.

“Hal ini sangat dibutuhkan agar seluruh pusat Kota Bogor mendapatkan saluran air langsung di rumah masing-masing,” katanya.

​Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan memaparkan secara rinci mengenai tantangan teknis serta rencana strategis perusahaan dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

Saat ini, kata Rino, sekitar 90 persen sumber air baku Kota Bogor masih bertumpu di wilayah Selatan, seperti di Kecamatan Cijeruk dan Tangkil.

Fasilitas utama di wilayah tersebut adalah WTP (Water Treatment Plant) atau IPA Rancamaya yang dibangun pada periode 2015–2016 dengan kapasitas produksi mencapai 30 liter per detik (lps).

Ditambah pasokan dari Mata Air Tangkil sebesar 110 lps yang dialirkan melalui reservoir setempat, total kapasitas distribusi untuk Zona 1 berada di angka 140 lps.

Namun secara perhitungan teknis, kapasitas 140 lps tersebut idealnya hanya mampu melayani sekitar 14.000 pelanggan.

Kondisi riil di lapangan menunjukkan jumlah pelanggan eksisting Zona 1 saat ini telah membengkak hingga mencapai angka 17.000 sampai 18.000 pelanggan.

“Kita mengalami kekurangan pasokan sekitar 30 liter per detik di Zona 1. Selama tiga tahun terakhir, defisit ini kami tutupi dengan menyewa WTP milik Unitec,” jelas Rino.

​Situasi kritis diprediksi akan terjadi mengingat masa sewa WTP Unitec tersebut akan segera berakhir pada September 2026 mendatang karena aset tersebut hendak dijual oleh pemiliknya.

Jika infrastruktur pengganti tidak segera beroperasi, potensi defisit pasokan di Zona 1 terancam menjadi kendala serius.

​Rino mengungkapkan, manajemen Perumda Tirta Pakuan sebenarnya telah merencanakan penambahan kapasitas hingga 200 lps di wilayah Selatan sejak tiga tahun lalu.

Namun, realisasi proyek strategis tersebut terbentur masalah pendanaan. Melalui Raperda Penyertaan Modal Pemerintah (PMP), dari total kebutuhan investasi sebesar Rp134 miliar, dana yang baru terealisasi hanya sebesar Rp15 miar.

Oleh sebab itu, Tirta Pakuan sangat mengharapkan komitmen dukungan penambahan alokasi anggaran dari Pemerintah Kota dan DPRD Kota Bogor.

​Memasuki semester kedua tahun ini, prioritas perluasan jaringan akan dialihkan ke wilayah Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.

Kawasan Bogor Barat sendiri saat ini diproyeksikan mengalami alih fungsi lahan yang masif, dari kawasan agraris menjadi pusat permukiman dan niaga baru.

Pertumbuhan ini juga didorong oleh pengembangan utilitas Terminal Bubulak serta akses jalan utama menuju kampus IPB Dramaga.

​Sejauh ini, Tirta Pakuan telah mengantongi izin resmi pemanfaatan air sebesar 240 lps. Namun, karena kendala keterbatasan infrastruktur, kapasitas yang baru bisa dioptimalkan hanya sebesar 30 lps.

Melalui momentum Komisi lll DPRD Kota Bogor Kunjungan ke IPA PDAM ini, Rino berharap kemitraan strategis dengan legislatif dapat mendongkrak alokasi PMP pada tahun anggaran 2027 demi mendanai berbagai proyek strategis penuntasan krisis air bersih.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer