Connect with us

Serba Serbi

SIG Bangun Laboratorium Ketiga, Jadi Pusat Riset dan Pelatihan di Bogor

Published

on

SIG Bangun Laboratorium Ketiga, Jadi Pusat Riset dan Pelatihan di Bogor
PT. Saraswanti Indo Genetech (SIG) kembali akan membangun gedung laboratorium ketiganya di Kota Bogor. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Untuk memperluas layanan dan memenuhi permintaan jasa pengujian di laboratorium oleh sektor industri yang terus meningkat, PT. Saraswanti Indo Genetech (SIG) kembali akan membangun gedung kantor laboratorium ketiganya di Kota Bogor.

Rencananya, gedung SIG Tower akan dibangun di Jalan Perdana Raya Budi Agung, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal. Gedung laboratorium sains masa depan ini akan dibangun di atas lahan seluas 4.940 m², dengan luas bangunan 46.445 m2 yang terdiri atas 18 lantai.

Adapun fasilitas yang akan dibangun mencakup laboratorium berstandar internasional, innovation hub, ruang pelatihan, pusat data, dan area kolaboratif untuk industri, dan akademisi.

Pimpinan Proyek, Dwi Yulianto Laksono, mengatakan PT. SIG saat ini sudah memiliki dua gedung kantor laboratorium di Kota Bogor, yakni di Jalan Rasamala No. 20 Taman Yasmin dan Jalan Rasamala Taman Yasmin No. 46 Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Gedung baru yang akan dibangun di Jalan Perdana Raya Budi Agung merupakan gedung ketiga. Selain di Kota Bogor, terdapat juga laboratorium di daerah lain, yakni Semarang dan Surabaya.

Ia mengungkapkan pembangunan gedung ketiga ini dilatari oleh kebutuhan akan layanan laboratorium uji oleh sektor industri yang semakin meningkat secara intensif.

Di samping itu, untuk memberi dukungan bagi para peneliti akademik. Hal tersebut guna mendukung pemenuhan regulasi persyaratan dalam kontrol edaran produk yang aman dan bermutu.

Dwi membeberkan pembangunan SIG Tower telah mengantongi izin ketinggian (KKOP) dari Lanud Atang Sendjaja dengan tinggi bangunan 70 M tanggal 18 Januari 2024. Lalu Persetujuan Kegiatan Pemanfaatan Ruang Untuk Kegiatan Berusaha yang diterbitkan oleh DPMPTSP Kota Bogor, melalui sistem OSS yang diterbitkan tanggal 22 Maret 2024, dengan luas lahan 4.940 m2.

“Kami juga telah memperoleh Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (AMDAL) dari Dinas Lingkungan Hidup tanggal 27 Maret 2025 dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dari DPMPTSP dan PUPR Kota Bogor tanggal 19 Juni 2025,” jelasnya, Senin, 23 Juni 2025.

PT. SIG merupakan perusahaan swasta dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang berdiri sejak 2001 di Kota Bogor, di mana salah satu aktivitasnya adalah usaha jasa pengujian laboratorium (KBLI 71202).

Ini adalah laboratorium pertama di Indonesia, yang terakreditasi ISO/IEC 17025 oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk ruang lingkup GMO (Genetically Modified Organism).

“Gedung ini, dirancang sebagai pusat unggulan untuk pengujian laboratorium, riset ilmiah, pelatihan SDM, dan kolaborasi lintas sektor yang mendukung kebutuhan strategis nasional di bidang pangan, lingkungan, kesehatan, farmasi, serta ketahanan hayati,” sebutnya.

SIG juga, lanjut Dwi, menyelenggarakan program pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi pemuda dan warga sekitar, sebagai upaya peningkatan kapasitas SDM lokal agar dapat terlibat dalam sektor industri laboratorium dan teknologi.

Hal ini, sejalan dengan visi SIG untuk tidak hanya membangun fasilitas berkelas dunia, tetapi juga mengangkat potensi masyarakat lokal agar tumbuh bersama dalam ekosistem inovasi.

Ia menambahkan pembangunan SIG Tower juga menjadi bagian dari komitmen SIG dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan untuk warga masyarakat sekitar antara lain pemberian CSR yang mendukung sarana prasarana posyandu, tempat ibadah, fasum kebersihan dan penanggulangan banjir seperti pengelolaan drainase, maupun pembuatan gapura masuk perumahan.

“Bahkan melalui proyek ini, SIG membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal, baik dalam fase konstruksi maupun operasional. Pelibatan tenaga kerja lokal secara aktif menjadi wujud nyata pemberdayaan ekonomi wilayah sekitar. Dengan pendekatan interdisipliner, inklusif, dan berbasis dampak sosial, SIG Tower diharapkan menjadi pusat unggulan laboratorium sekaligus ikon kontribusi inovasi dan pemberdayaan masyarakat yang nyata di Indonesia,” ungkapnya.

“Kami percaya bahwa pembangunan berkelanjutan harus memberikan manfaat ganda, kemajuan sains dan teknologi, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. SIG Tower akan menjadi simbol transformasi dan kontribusi kami bagi bangsa,” imbuhnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Katulampa Punya Wahana Ngalun yang Kini Terus Dikembangkan

Published

on

By

Katulampa Punya Wahana Ngalun yang Kini Terus Dikembangkan
‎Lurah Katulampa, Deni Ramdhani saat memaparkan potensi wilayah yakni Wahana Ngalun di Bendung Katulampa tepatnya Kali Baru. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, memiliki potensi wisata yang kini terus dikembangkan sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya Wahana Ngalun di Bendung Katulampa tepatnya di Kali Baru, yang dinilai memiliki daya tarik tinggi.

‎Lurah Katulampa, Deni Ramdhani, mengatakan bahwa potensi tersebut hingga saat ini masih terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

‎“Potensi wilayah kita mempunyai Wahana Ngalun di Bendung Katulampa. Sampai saat ini masih terus kita kembangkan,” ujar Deni kepada awak media, Rabu, 15 April 2026.

‎Menurutnya, keberadaan wahana tersebut telah memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan, meski pengelolaannya saat ini masih dilakukan oleh komunitas.

‎“Dari sisi ekonomi selama ini sudah berjalan dan itu sangat membantu masyarakat. Tetapi memang pengelolaannya masih sebatas di-handle oleh teman-teman komunitas,” jelasnya.

‎Baca juga: Pemkot Bogor Kucurkan Rp51 Miliar untuk Rehabilitasi Tahap II GOR Pajajaran

Ke depan, pihak kelurahan berharap adanya intervensi dari pemerintah, baik dalam hal penataan, tata kelola, maupun pengembangan fasilitas penunjang lainnya agar potensi tersebut bisa lebih maksimal.

‎“Harapannya tentu ada intervensi dari pemerintah, termasuk dalam tata kelola dan lainnya,” ungkapnya.

‎Selain itu, pihaknya juga berencana melibatkan warga lokal secara langsung dalam pengelolaan, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata.

“Kita ingin ke depan membentuk pengelolaan oleh warga lokal, supaya tata kelolanya lebih baik dan benar-benar memberikan manfaat untuk masyarakat,” katanya.

Baca juga: Puluhan Rumah Warga di Tegallega Diterjang Banjir Lintasan

Deni menegaskan, dengan lokasi yang strategis, Wahana Ngalun di Katulampa memiliki peluang besar untuk terus berkembang sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.

‎Deni berharap, ke depan potensi ini tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga mampu memperkuat budaya dan keterlibatan masyarakat sekitar.

‎“Harapannya ke depan bisa terus dikembangkan dan menjadi bagian dari budaya masyarakat, sehingga memberikan dampak manfaat yang lebih luas,” tandasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Tips Jaga Tubuh Tetap Fit saat Naik Pesawat

Published

on

By

Tips Jaga Tubuh Tetap Fit saat Naik Pesawat
Ilustrasi penumpang pesawat. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Perjalanan udara dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, terutama akibat perubahan tekanan dan kondisi kabin yang kering. Karena itu, menjaga kondisi tubuh sebelum dan selama penerbangan menjadi hal penting agar tetap nyaman.

“Keluhan yang paling sering itu nyeri telinga, terutama kalau kita sedang tidak fit atau merasa pilek,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Citra Ariani dikutip Rabu, 15 April 2026.

Dalam tayangan IPB Pedia di IPB TV, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi lantaran adanya ketidakseimbangan tekanan udara antara bagian dalam dan luar telinga.

Baca juga: Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya

Selain nyeri telinga, penumpang juga kerap mengalami pusing, mual, atau mabuk perjalanan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipicu oleh dehidrasi maupun faktor psikologis.

“Bisa karena dehidrasi dan juga tekanan psikologis, misalnya bagi orang yang belum terbiasa naik pesawat dan merasa takut,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi darurat di pesawat memang jarang terjadi. Namun, beberapa kasus seperti serangan jantung tetap mungkin terjadi meski tidak umum.

Oleh karena itu, menjaga kondisi tubuh sebelum terbang menjadi hal penting. Sejalan dengan itu, Citra menyarankan penerapan pola hidup sehat sebelum dan selama perjalanan.

“Tidur cukup, makan secukupnya, dan tetap beraktivitas fisik itu sangat membantu agar tubuh tetap fit,” katanya.

Baca juga: Rendam Kaki Air Hangat Bantu Redakan Migrain, Ini Mekanismenya

Penumpang juga disarankan tidak duduk terlalu lama. Lakukan peregangan ringan atau berjalan sejenak di kabin untuk membantu sirkulasi darah.

“Kita bisa lakukan senam sederhana supaya kaki tetap memompa darah kembali ke jantung,” tambah Citra.

Hal penting lainnya adalah menjaga hidrasi tubuh. Konsumsi air putih secara cukup selama penerbangan dapat membantu mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko pusing maupun kelelahan.

Citra mengatakan, dengan persiapan yang baik dan kebiasaan sederhana tersebut, perjalanan udara dapat tetap aman dan nyaman. Ia mengingatkan agar setiap penumpang menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar selama perjalanan sehari-hari.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya

Published

on

By

Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya
Badak bercula satu, spesies hewan langka. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Belakangan ini masyarakat semakin sering mendengar kabar kemunculan satwa langka di berbagai wilayah. Fenomena tersebut kerap dianggap sebagai tanda bahwa kondisi alam mulai membaik. Namun, para ahli konservasi mengingatkan bahwa kemunculan satwa langka belum tentu berarti ekosistem sudah pulih.

Pakar konservasi satwa dari IPB University, Prof Ani Mardiastuti, menjelaskan kemunculan satwa langka yang semakin sering terlihat tidak selalu menandakan peningkatan populasi. Setidaknya ada tiga penyebab utama dari fenomena tersebut.

Salah satu penyebab utama, menurutnya, justru adalah fragmentasi dan penyusutan habitat yang membuat satwa lebih sering berpapasan dengan manusia.

“Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia,” ujar Prof Ani dikutip Selasa, 14 April 2026.

Kedua, selain faktor habitat, kemunculan satwa langka juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi deteksi yang semakin memudahkan peneliti menemukan keberadaan satwa di alam.

Berbagai teknologi kini digunakan dalam pemantauan satwa, seperti kamera trap yang mampu merekam aktivitas satwa pada malam hari menggunakan inframerah serta bioakustik untuk mendeteksi satwa malam seperti burung hantu melalui rekaman suara.

“Kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan dalam kedua teknologi ini untuk mempercepat identifikasi, misalnya dalam mengenali individu harimau dari belangnya atau membedakan suara burung dengan mencocokkan rekaman dengan perpustakaan suara internasional seperti Xeno-canto,” tambahnya.

Selain itu, teknologi drone juga dimanfaatkan untuk memonitor sarang burung berukuran besar seperti elang jawa, burung pemangsa, atau bangau di lokasi yang sulit dijangkau seperti tebing tinggi atau hutan mangrove.

Prof Ani juga menjelaskan bahwa kemunculan kembali satwa yang lama tidak terlihat sering berkaitan dengan ekspedisi khusus yang dilakukan para peneliti. Upaya ini bertujuan mencari spesies yang diperkirakan telah punah, yang dikenal sebagai “Lazarus Species”.

Ketika spesies langka ditemukan, para peneliti kemudian membantu pemerintah menentukan status konservasi dan tingkat kelangkaannya berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta penyusunan National Red List untuk konteks Indonesia.

Ia menambahkan bahwa tantangan konservasi juga berkaitan dengan faktor sosial dan ekonomi. Salah satu contoh adalah penggunaan bagian tubuh burung cendrawasih untuk hiasan adat di Papua.

Menurutnya, masyarakat adat sebenarnya memiliki kesadaran konservasi, tetapi sering kali terdesak oleh kebutuhan ekonomi sehingga penegakan hukum tetap diperlukan.

Prof Ani berharap temuan spesies langka dapat memicu semangat para peneliti untuk terus melakukan eksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia, meskipun pendanaan penelitian di bidang pencarian spesies masih menjadi tantangan di dalam negeri.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer