Serba Serbi
Museum Sejarah IPB University dari Masa ke Masa
KlikBogor – Institut Pertanian Bogor (IPB) University memiliki Museum dan Galeri IPB Future di Kompleks Kampus IPB Darmaga, Bogor.
Museum yang menempati gedung eks Wisma Landhuiss ini diresmikan oleh Rektor IPB University Profesor Arif Satria, pada 12 Januari 2023.
Museum ini memiliki 11 ruangan yang akan membawa pengunjung seakan memasuki lorong informasi tentang sejarah IPB University dari masa ke masa.
“Di Museum dan Galeri IPB Future ada 11 ruangan, isi intinya tentang pembentukan IPB dari masa ke masa dan sampai kepada future IPB masa depan,” kata Hirra Nurlaeni, Supervisor Pengelolaan Museum Lembaga Manajemen Informasi dan Transformasi Digital (LMITD).
Pada saat memasuki museum, pengunjung akan disuguhkan informasi tentang sejarah terbentuknya IPB dalam bentuk audio visual.
Beranjak dari ruangan itu, pengunjung akan mendapatkan area kerja sama IPB dengan berbagai Negara.
Tak hanya itu, ruangan ini juga menampilkan wajah-wajah pemimpin IPB dari tahun 1963 hingga era sekarang.
“Kerja sama ini tentunya di berbagai bidang yang ada dari mulai masih IPB sampai sekarang menjadi IPB University dengan sembilan fakultas ditambah Fakultas Kedokteran Umum,” kata Hirra.
Disamping itu, di museum ini terdapat ruangan yang menampilkan beberapa benda yang pernah digunakan perkuliahan di IPB pada masanya. Seperti OAP, kamera dan juga alat laboratorium.
Menariknya, di ruangan tersebut arsip mahasiswa IPB pertama juga masih tersimpan apik. Kemudian ada juga produk-produk hasil penelitian para dosen IPB, salah satunya biskuit dari ikan lele.
“Kami juga terus meningkatkan untuk benda-benda pamer yang ada di Museum dan Galeri IPB Future ini,” tambah Hirra.

Museum dan Galeri IPB Future di Kompleks Kampus IPB University Dramaga, Bogor.
Untuk diketahui, IPB lahir pada 1 September 1963 berdasarkan keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 91/1963 yang kemudian disahkan oleh Presiden RI Pertama dengan Keputusan No. 279/1965.
Menurut Hirra, hal yang menjadi penting untuk disampaikan bahwa terbentuknya museum ini awalnya dari buku sejarah IPB yang disusun dan digagas oleh Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Profesor Syafrida Manuwoto.
Buku setebal delapan jilid yang disusun kurang lebih 10 tahun itu kemudian diluncurkan oleh Rektor IPB Profesor Heri Sudianto.
Dalam perjalanannya, ide untuk membangun Museum dan Galeri IPB Future muncul dari Rektor IPB Profesor Arif Satria.
“Pada masa Pak Rektor Arif Satria punya ide kenapa tidak membuat museum yang isinya di antaranya yang ada di dalam buku tersebut. Buku itu sangat lengkap dari awal pembentukan IPB berikut arsip-arsipnya,” katanya.
Museum ini tak hanya diperuntukkan untuk civitas dan warga IPB, namun terbuka bagi masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri.
Hirra menyebut sejak diresmikan pada Januari 2023 lalu, museum ini telah menjadi magnet yang ramai dikunjungi oleh pengunjung.
“Sudah banyak yang berkunjung dari PAUD, TK, SD sampai perguruan tinggi di berbagai daerah, seperti UGM, UNPAD sudah ke sini, lurah se-Kota Kabupaten Bogor, juga dari mancanegara, seperti Jepang, Singapura, Kenya, dan banyak lagi,” katanya.
Museum dan Galeri IPB Future bisa dikunjungi setiap hari Senin hingga Kamis mulai dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, sementara pada Jumat hingga 15.30 WIB, sedangkan Sabtu hingga 15.00 WIB.
“Untuk berkunjung ke sini pengunjung bisa mengisi link di website dan di luar IPB bisa pakai KTP. Dan tentunya harus berpakaian rapi serta tidak boleh pakai sandal,” tandasnya. (*)
Serba Serbi
Panen Perdana Anggur Introduksi di IPB University
KlikBogor – Budidaya anggur (Vitis vinefera) mulai dikembangkan IPB University tepatnya di kawasan Agribusiness and Technology Park (ATP).
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet turut melakukan panen perdana tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan di ladang greenhouse tersebut.
“Panen anggur ini bagian dari riset yang dikembangkan di IPB untuk mendukung program buah secara nasional,” ujar Alim, Jumat sore, 6 Maret 2026.
Menurutnya, pengembangan buah ini di dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk yang selama ini didatangkan dari luar negeri.
“Mungkin yang biasanya kita impor, nanti bisa dikembangkan di negara kita sendiri, sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan impor sekaligus menyediakan buah-buahan pada masyarakat,” katanya.
Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming
Alim juga menekankan pentingnya strategi penguatan sektor pertanian nasional. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produktivitas berbagai komoditas, baik pangan maupun hortikultura.
“Kita harus bertumpu pada kekuatan diri sendiri, salah satunya adalah peningkatan produktivitas nasional untuk semua komoditas,” jelasnya.
Sementara IPB akan mendorong melalui pengembangan riset untuk menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi.
“Yang kedua kita dorong bagaimana mengoptimalkan budidaya yang ada melalui berbagai inovasi, apakah dari sisi input untuk pupuk, SOP, irigasi, hingga penanganan hama penyakit,” imbuhnya.
Di greenhouse ini terdapat tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan, antara lain gosv, ilaria, dan jupiter. Selain untuk pengembangan komoditas hortikultura, budidaya anggur ini juga menjadi sarana riset dan pembelajaran bagi mahasiswa.
(ckl/hrs)
Serba Serbi
Angka Pernikahan Turun, Apa yang Terjadi? Ini Penjelasan Pakar IPB
KlikBogor – Angka pernikahan di Indonesia yang terus menurun setiap tahun menjadi sorotan kalangan akademisi. Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, menyebut fenomena tersebut dipengaruhi berbagai faktor.
Ia mengatakan, pernikahan bagi generasi muda saat ini tidak lagi dipandang sebagai simbol prestise atau status sosial. Banyak anak muda memilih untuk menunda pernikahan demi mengejar pendidikan, membangun karier, serta mengembangkan diri.
“Pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama. Generasi muda cenderung fokus pada pendidikan, karier, dan pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah,” kata Risda dikutip Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu penurunan angka pernikahan. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga budaya yang semakin kompleks.
“Dari sisi ekonomi, kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” jelasnya.
Baca juga: Imigrasi Bogor Bongkar Dugaan Penipuan Daring, 13 Warga Negara Jepang Diamankan
Faktor pendidikan dan karier juga turut berpengaruh. Masa pendidikan yang semakin panjang serta orientasi kuat pada pencapaian karier dinilai meningkatkan kemungkinan penundaan pernikahan.
Selain itu, perubahan norma sosial turut berkontribusi. Risda menyoroti, mulai munculnya normalisasi hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi (kumpul kebo) di masyarakat.
Konten viral di media sosial, seperti narasi “marriage is scary”, juga dinilai membentuk persepsi negatif terhadap pernikahan di kalangan generasi muda.
Risda menambahkan, gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu, konsumsi, dan pencarian pengalaman pribadi turut menggeser prioritas dari pernikahan ke karier, hobi, maupun perjalanan.
“Perkembangan teknologi dan tren ‘digital dating’ juga memunculkan fenomena ‘paradox of choice’, yakni kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang semakin sulit berkomitmen,” ujar Risda.
Ia mengingatkan bahwa penurunan angka pernikahan dapat berdampak pada struktur demografi dalam jangka panjang karena berpotensi menurunkan angka kelahiran.
Saat ini, total fertility rate (TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,19. Selain itu, tren tersebut juga berisiko meningkatkan kesepian atau isolasi sosial pada usia lanjut.
Baca juga: Jenal Mutaqin Kembali Beraktivitas, Ikut Pekan Panutan Bayar PBB-P2
Dari sisi kesehatan reproduksi, ia menambahkan bahwa jika penurunan pernikahan terjadi bersamaan dengan meningkatnya hubungan seksual di luar pernikahan, risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, juga dapat meningkat akibat minimnya komitmen dan perlindungan kesehatan yang konsisten.
Untuk merespons fenomena ini, Risda menekankan pentingnya membangun pola pikir bahwa pernikahan merupakan tujuan hidup yang diinginkan (marriage is desirable), bukan sesuatu yang menakutkan.
Pendidikan dan penyuluhan keluarga, sambung Risda, perlu dikemas secara menarik dan relevan dengan karakter generasi muda.
Ia juga menyoroti peran pemerintah melalui kebijakan publik yang ramah keluarga, seperti dukungan keseimbangan kerja dan keluarga, penyediaan fasilitas perumahan bagi pasangan muda, perluasan lapangan pekerjaan, serta pemberian upah yang layak.
Disamping itu, penelitian berkelanjutan dinilai penting untuk memantau perubahan norma dan perilaku generasi muda, guna memahami pola penundaan pernikahan dan dampaknya terhadap ketahanan keluarga di masa mendatang.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming
KlikBogor – Teknologi drone dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar dalam era pertanian presisi. Dua dosen Program Studi Ilmu Komputer, Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (SSMI) IPB University, Karlisa Priandana dan Medria Kusuma Dewi Hardhienata, menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan teknologi swarm drone.
Pengembangan teknologi swarm drone untuk indoor farming ini menjadi inovasi baru dalam mendukung pertanian cerdas yang lebih efisien dan presisi.
“Swarm drone ini awalnya kami kembangkan untuk membantu pelaksanaan pemantauan atau surveillance untuk indoor farming. Swarm drone dirancang sebagai sekumpulan drone kecil yang mampu bekerja secara koordinatif layaknya segerombolan lebah,” urai Karlisa Priandana dikutip Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan, indoor farming merupakan teknik budi daya yang tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca dan iklim. Sebab, seluruh faktor pertanian seperti suhu, cahaya, dan kelembapan, dapat dikendalikan. Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan tanaman secara berkelanjutan.
Selama ini, pemantauan biasanya mengandalkan kamera atau sensor statis. Namun, perangkat tersebut berpotensi mengalami kerusakan.
“Swarm drone digunakan untuk meng-cover atau menjadi backup ketika sensor statis mengalami gangguan sehingga pemantauan tetap berjalan,” imbuhnya.
Karlisa mengungkapkan, setiap drone dilengkapi kamera multispektral dan sensor lingkungan yang terintegrasi dengan sistem internet of things (IoT), sehingga mampu mengumpulkan data kondisi tanaman secara menyeluruh.
Analisis Real-Time Berbasis AI
Medria Kusuma Dewi Hardhienata menambahkan bahwa seluruh data lapangan dikirimkan secara real-time ke komputer pusat untuk dianalisis menggunakan model AI.
“Hasil analisis ini membantu petani atau operator mengambil keputusan secara cepat, akurat, dan berbasis data sehingga produktivitas dan kualitas tanaman dapat meningkat,” ujarnya.
Drone mengambil citra berbagai jenis tanaman yang kemudian dianalisis menggunakan algoritma cerdas untuk mengidentifikasi jenis tanaman secara otomatis.
Sistem komunikasi berbasis AI juga memungkinkan drone saling berinteraksi, mengatur formasi, serta menyesuaikan posisi tanpa bertabrakan, bahkan di ruang indoor farming yang sempit.
Ke depan, teknologi swarm drone diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi pertanian modern, tetapi juga mendukung praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi berbasis data.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi1 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi4 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita8 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini12 bulan agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
