Connect with us

Serba Serbi

5 Tips Efektif Kelola Waktu untuk Ibu-Ibu Pelaku UMKM

Published

on

Para pelaku UMKM meramaikan bazar di acara pelatihan karate di Gedung Serbaguna DPRD Kota Bogor. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Bagi banyak ibu dengan peran ganda, ibu rumah tangga sekaligus menjalankan usaha, waktu 24 jam sehari sering kali tidak cukup. Berbagai tantangan kerap mereka hadapi dalam menyeimbangkan urusan keluarga dan aktivitas usaha.

Sekolah Keluarga Berkualitas IPB University hadir menjawab permasalahan tersebut. Dalam Webinar Keluarga Produktif dan Berdaya (30/4), Dr Istiqlaliyah Muflikhati, dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen, membagikan sejumlah tips praktis dalam mengelola waktu secara efektif.

“Waktu merupakan sumber daya yang terbatas, sehingga harus dikelola secara bijak melalui perencanaan yang matang, penentuan prioritas, serta komunikasi yang efektif antaranggota keluarga. Selain itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kehidupan keluarga juga menjadi hal yang sangat penting,” ungkap Istiqlaliyah dikutip Jumat, 8 Mei 2026.

Keterbatasan waktu, tidak adanya prioritas yang jelas, hingga kaburnya batas antara pekerjaan rumah dan usaha menjadi penyebab utama ketidakefisienan, bahkan berpotensi memicu kelelahan hingga burnout.

Sebagai solusi, Istiqlaliyah membagikan beberapa strategi yang dapat diterapkan. Pertama adalah terapkan teknik batching, salah satu cara efektif menghemat waktu adalah dengan mengelompokkan pekerjaan sejenis dalam satu waktu.

Dalam praktiknya, batching dapat dilakukan dengan memproduksi barang sekaligus dalam jumlah banyak, melakukan pengemasan dalam satu waktu, hingga berbelanja bahan baku untuk beberapa hari ke depan dalam satu kali kegiatan.

“Dengan cara ini, waktu dan energi yang digunakan menjadi lebih hemat karena tidak perlu berulang kali berpindah dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Pendekatan ini mampu membantu meningkatkan efisiensi waktu dan energi, sehingga proses kerja menjadi lebih optimal dan terorganisasi,” jelasnya.

Selanjutnya atau kedua, tentukan skala prioritas sehingga setiap pekerjaan dapat diselesaikan berdasarkan tingkat urgensi dan kepentingannya. Selain itu, penting untuk menghindari pemborosan waktu dengan mengelola distraksi dan memanfaatkan waktu secara lebih produktif.

Ketiga, susun jadwal harian. Ia menjelaskan, penyusunan jadwal harian menjadi langkah penting untuk mengatur alokasi waktu secara lebih terstruktur.

“Dengan jadwal yang jelas, aktivitas dapat berjalan lebih sistematis dan membantu mengurangi potensi pekerjaan yang tertunda atau menumpuk,” kata Istiqlaliyah.

Keempat, adalah kelola distraksi menjadi kunci agar waktu tidak terbuang percuma. Pemanfaatan waktu secara produktif akan membantu menjaga ritme kerja tetap efisien, terutama saat menjalankan peran ganda.

Terakhir atau kelima, kata Istiqlaliyah, bangun kolaborasi. Pembagian peran antaranggota keluarga sangat penting untuk meringankan beban kerja. Kolaborasi ini memungkinkan pelaku UMKM tetap fokus menjalankan usaha tanpa mengabaikan tanggung jawab domestik.

Ia menambahkan, dalam jangka panjang, penerapan strategi ini diharapkan dapat membantu ibu UMKM mengelola waktu secara lebih optimal, meningkatkan produktivitas, serta menjaga keseimbangan antara usaha dan kehidupan keluarga.

“Ibu yang sehat, bahagia, dan terorganisasi dengan baik adalah fondasi keluarga yang kuat dan usaha yang berkembang. Mulai dari langkah kecil, konsisten, dan rayakan setiap kemajuan!” pungkasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Mayapada Hospital Bogor Gandeng PAPDI Bogor Gelar Workshop Intra-Articular Injection

Published

on

By

Mayapada Hospital Bogor Gandeng PAPDI Bogor Gelar Workshop Intra-Articular Injection
Mayapada Hospital Bogor bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Bogor menggelar workshop bertajuk “Mastering Intra-Articular Injection: A Practical Approach”, Minggu, 3 Mei 2026.

KlikBogor – Guna mendukung peningkatan kompetensi tenaga medis di bidang penyakit dalam dan manajemen muskuloskeletal, Mayapada Hospital Bogor bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Bogor menggelar workshop bertajuk “Mastering Intra-Articular Injection: A Practical Approach” pada Minggu, 3 Mei 2026.

Workshop yang digelar di Mayapada Hospital Bogor ini menjadi wadah pembelajaran praktis bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk memperdalam keterampilan dalam prosedur intra-articular injection, yaitu teknik injeksi ke dalam sendi yang umum digunakan dalam penanganan nyeri sendi, inflamasi, serta berbagai kondisi muskuloskeletal lainnya.

Direktur Mayapada Hospital Bogor, dr Andreas Wijaya, MARS, FISQua, CPC mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pembelajaran berkelanjutan bagi dokter.

“Dokter memiliki kewajiban untuk belajar sepanjang hayat, sehingga kami bekerja sama dengan organisasi profesi kesehatan (PAPDI) untuk menyediakan wadah agar para dokter bisa berkembang secara keilmuan dan keahlian. Tujuannya satu kami ingin memberikan pelayanan terbaik kepada pasien,” ujarnya.

Ia menjelaskan, workshop ini berfokus pada dokter spesialis penyakit dalam karena injeksi intraartikular merupakan salah satu kompetensi mereka. Kegiatan ini juga menjadi sarana penyegaran pengetahuan dengan perkembangan ilmu terbaru.

Selain itu, dr Andreas mengatakan bahwa penggunaan teknologi turut ditekankan dalam teknik penyuntikan, khususnya pemanfaatan USG (ultrasonografi) untuk meningkatkan akurasi tindakan medis.

“Dengan teknologi imaging seperti USG, dokter bisa melihat secara langsung posisi penyuntikan hingga ke jaringan otot dan tulang, sehingga lebih akurat dan tepat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PAPDI Cabang Bogor, dr Erwin, SpPD, FINASIM mengatakan, kegiatan ini merupakan kolaborasi kedua antara kedua pihak. Ia menegaskan, workshop ini bukan untuk menambah kompetensi, melainkan sebagai upaya penyegaran terhadap kemampuan yang sudah dimiliki para dokter.

“Ini kedua kalinya kami bekerja sama dengan Mayapada Hospital Bogor. Kegiatan ini lebih ke me-review dan me-refresh apa-apa yang sudah didapat, menambah pengetahuan juga mungkin ada ilmu dan teknologi terbaru untuk praktik nanti,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kompetensi yang harus terus diasah adalah injeksi intraartikular. Ia menekankan seluruh anggota PAPDI harus tetap mahir agar kualitas layanan kepada pasien tetap terjaga.

“Kompetensi ini tidak boleh hilang. Semua anggota PAPDI harus mahir dan bisa. Kami selalu me-refresh ilmu serta teknologi terbaru, karena terus berkembang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa PAPDI fokus terhadap 12 subdivisi yang harus terus dipertahankan kompetensi untuk menambah pengetahuan. Karena itu, kolaborasi lintas bidang juga menjadi kunci dalam pelayanan kesehatan saat ini.

“Kami kerja sama semua, karena sekarang cabang ilmu pengetahuan itu kalau punya kompetensi bukan saling sikut-sikutan, tapi saling berkolaborasi. Semua sama, kita kerjakan sesuai kompetensi untuk kemaslahatan umat manusia,” katanya.

Ketua Panitia, dr Fahrenheit, SpPD menambahkan, workshop ini diikuti oleh 64 peserta yang sebagian besar dari PAPDI Cabang Bogor serta Jakarta, Tangerang, Malang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi atau imunologi ternama, serta narasumber multidisiplin berpengalaman di bidangnya.

Peserta akan memperoleh pembelajaran komprehensif mulai dari teori, clinical approach, hingga praktik langsung yang aplikatif.

Selain sebagai sarana edukasi medis, workshop ini juga menjadi bagian dari komitmen Mayapada Hospital Bogor dalam mendukung pengembangan ilmu kedokteran berkelanjutan serta memperkuat jejaring kolaborasi dengan organisasi profesi kesehatan di Indonesia.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Ikan Sapu-Sapu Disarankan jadi Pupuk Cair Tanaman Hias

Published

on

By

Ikan Sapu-Sapu Disarankan jadi Pupuk Cair Tanaman Hias
Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Chatgpt.

KlikBogor – Pembasmian ikan sapu-sapu (pleco) di perairan DKI Jakarta dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, di balik upaya tersebut, terdapat peluang pemanfaatan yang belum banyak dioptimalkan.

Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, Prof Mala Nurilmala menekankan bahwa hasil pembasmian seharusnya tidak berakhir menjadi limbah semata.

Ia mendorong agar ikan sapu-sapu diolah menjadi produk bernilai guna, salah satunya pupuk cair untuk tanaman hias. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah dari hasil pengendalian spesies invasif.

“Sebaiknya ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk pupuk cair tanaman hias. Memang tidak bisa digunakan lagi untuk makhluk hidup karena berada di perairan yang sangat tercemar oleh logam berat,” ujar Prof Mala dalam keterangannya dikutip Jumat, 1 Mei 2026.

Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu yang hidup di sungai-sungai Jakarta berisiko tinggi terpapar logam berat. Kondisi ini membuatnya tidak aman untuk dikonsumsi manusia maupun dimanfaatkan sebagai pakan ternak, karena berpotensi menimbulkan akumulasi zat berbahaya dalam rantai makanan.

“Ikan dari perairan tercemar tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga jika digunakan sebagai pakan ternak. Logam beratnya bisa terakumulasi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut tidak berlaku bagi ikan sapu-sapu yang hidup di perairan bersih. Dalam lingkungan yang tidak tercemar, ikan ini pada dasarnya masih dapat dimanfaatkan sebagaimana ikan pada umumnya.

Lebih jauh, Prof Mala menyoroti sifat adaptif ikan sapu-sapu yang membuat populasinya sulit dikendalikan. Tanpa adanya keseimbangan ekosistem dan predator alami, spesies ini dapat berkembang pesat, mendominasi habitat, serta mengancam keberadaan ikan lokal.

“Sebenarnya ikan ini bisa membantu menyerap logam di perairan. Namun karena ekosistemnya tidak seimbang, populasinya menjadi sangat banyak dan berdampak negatif,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi pupuk tanaman hias dinilai sebagai solusi yang lebih bijak dibandingkan penguburan. Selain memberikan manfaat, langkah ini juga dapat mengurangi potensi penumpukan limbah organik yang sulit terurai, mengingat struktur tubuh ikan sapu-sapu yang relatif keras.

Dengan pendekatan inovatif ini, pembasmian ikan sapu-sapu tidak hanya berhenti sebagai upaya pengendalian populasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi berkelanjutan mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang yang bernilai bagi masyarakat.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Zestera: “Jalan Tengah” Menikmati Minuman Soda Tanpa Gula

Published

on

By

Zestera: “Jalan Tengah” Menikmati Minuman Soda Tanpa Gula
Tim mahasiswa IPB University yang tergabung dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2026 memperkenalkan Zestera, minuman infused lemon soda water dengan kadar gula 0 gram. Dok. IPB University.

KlikBogor – Kegemaran masyarakat Indonesia terhadap minuman manis kini mendapat tantangan baru yang lebih menyehatkan.

Tim mahasiswa IPB University yang tergabung dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2026 memperkenalkan Zestera, minuman infused lemon soda water dengan kadar gula 0 gram.

Mengusung misi mengubah pola hidup masyarakat, Zestera hadir sebagai “jalan tengah” bagi mereka yang ingin menikmati kesegaran minuman soda tanpa risiko gula berlebih.

Inovasi ini diketuai oleh Nufail Raimy Aziz, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Baca juga: Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya

Keunikan Zestera terletak pada penggunaan stevia sebagai pemanis alami. Stevia dipilih karena tidak mengandung kalori dan tidak memicu kenaikan gula darah, sehingga aman dikonsumsi secara rutin sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

“Zestera hadir sebagai jalan tengah agar tetap bisa minum enak tanpa harus khawatir gula berlebih. Kami memposisikan produk ini bukan sebagai ‘minuman orang sakit’, melainkan minuman sehari-hari yang lebih smart dan stylish,” ujar Nufail Raimy Aziz mewakili tim dikutip Selasa, 28 April 2026.

Menjaga cita rasa tetap lezat tanpa gula biasa tentu bukan perkara mudah. Nufail mengungkap, ia dan tim telah melakukan banyak eksperimen untuk menyeimbangkan rasa manis, asam, dan aroma buah guna menutupi rasa khas stevia. Hasilnya, sebuah minuman yang ringan, menyegarkan, dan tidak membuat enek di lidah.

Baca juga: Seratus Jenis Anggrek jadi Koleksi Kebun Anggrek Kartini Taman Heulang

Menyasar gen Z dan milenial, Zestera memanfaatkan edukasi santai melalui media sosial untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebih.

Dukungan dari PMW 2026 pun diakui sangat krusial dalam memvalidasi ide dan memberikan pendanaan awal agar usaha ini berkembang lebih terarah.

“Dukungan PMW membantu kami berkembang lebih terstruktur, tidak sekadar coba-coba. Ke depannya, kami berencana menambah varian rasa namun tetap setia pada konsep minuman sehat tanpa gula,” tambah Nufail.

Hadirnya Zestera menjadi bukti bahwa tren gaya hidup sehat bisa dimulai dari pilihan minuman yang tepat, tanpa harus mengorbankan kenikmatan waktu santai.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer