Serba Serbi
Tips Jaga Tubuh Tetap Fit saat Naik Pesawat
KlikBogor – Perjalanan udara dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, terutama akibat perubahan tekanan dan kondisi kabin yang kering. Karena itu, menjaga kondisi tubuh sebelum dan selama penerbangan menjadi hal penting agar tetap nyaman.
“Keluhan yang paling sering itu nyeri telinga, terutama kalau kita sedang tidak fit atau merasa pilek,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Citra Ariani dikutip Rabu, 15 April 2026.
Dalam tayangan IPB Pedia di IPB TV, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi lantaran adanya ketidakseimbangan tekanan udara antara bagian dalam dan luar telinga.
Baca juga: Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya
Selain nyeri telinga, penumpang juga kerap mengalami pusing, mual, atau mabuk perjalanan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipicu oleh dehidrasi maupun faktor psikologis.
“Bisa karena dehidrasi dan juga tekanan psikologis, misalnya bagi orang yang belum terbiasa naik pesawat dan merasa takut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi darurat di pesawat memang jarang terjadi. Namun, beberapa kasus seperti serangan jantung tetap mungkin terjadi meski tidak umum.
Oleh karena itu, menjaga kondisi tubuh sebelum terbang menjadi hal penting. Sejalan dengan itu, Citra menyarankan penerapan pola hidup sehat sebelum dan selama perjalanan.
“Tidur cukup, makan secukupnya, dan tetap beraktivitas fisik itu sangat membantu agar tubuh tetap fit,” katanya.
Baca juga: Rendam Kaki Air Hangat Bantu Redakan Migrain, Ini Mekanismenya
Penumpang juga disarankan tidak duduk terlalu lama. Lakukan peregangan ringan atau berjalan sejenak di kabin untuk membantu sirkulasi darah.
“Kita bisa lakukan senam sederhana supaya kaki tetap memompa darah kembali ke jantung,” tambah Citra.
Hal penting lainnya adalah menjaga hidrasi tubuh. Konsumsi air putih secara cukup selama penerbangan dapat membantu mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko pusing maupun kelelahan.
Citra mengatakan, dengan persiapan yang baik dan kebiasaan sederhana tersebut, perjalanan udara dapat tetap aman dan nyaman. Ia mengingatkan agar setiap penumpang menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar selama perjalanan sehari-hari.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Satwa Langka Sering Terlihat, Pakar IPB Ungkap 3 Penyebabnya
KlikBogor – Belakangan ini masyarakat semakin sering mendengar kabar kemunculan satwa langka di berbagai wilayah. Fenomena tersebut kerap dianggap sebagai tanda bahwa kondisi alam mulai membaik. Namun, para ahli konservasi mengingatkan bahwa kemunculan satwa langka belum tentu berarti ekosistem sudah pulih.
Pakar konservasi satwa dari IPB University, Prof Ani Mardiastuti, menjelaskan kemunculan satwa langka yang semakin sering terlihat tidak selalu menandakan peningkatan populasi. Setidaknya ada tiga penyebab utama dari fenomena tersebut.
Salah satu penyebab utama, menurutnya, justru adalah fragmentasi dan penyusutan habitat yang membuat satwa lebih sering berpapasan dengan manusia.
“Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia,” ujar Prof Ani dikutip Selasa, 14 April 2026.
Kedua, selain faktor habitat, kemunculan satwa langka juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi deteksi yang semakin memudahkan peneliti menemukan keberadaan satwa di alam.
Berbagai teknologi kini digunakan dalam pemantauan satwa, seperti kamera trap yang mampu merekam aktivitas satwa pada malam hari menggunakan inframerah serta bioakustik untuk mendeteksi satwa malam seperti burung hantu melalui rekaman suara.
“Kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan dalam kedua teknologi ini untuk mempercepat identifikasi, misalnya dalam mengenali individu harimau dari belangnya atau membedakan suara burung dengan mencocokkan rekaman dengan perpustakaan suara internasional seperti Xeno-canto,” tambahnya.
Selain itu, teknologi drone juga dimanfaatkan untuk memonitor sarang burung berukuran besar seperti elang jawa, burung pemangsa, atau bangau di lokasi yang sulit dijangkau seperti tebing tinggi atau hutan mangrove.
Prof Ani juga menjelaskan bahwa kemunculan kembali satwa yang lama tidak terlihat sering berkaitan dengan ekspedisi khusus yang dilakukan para peneliti. Upaya ini bertujuan mencari spesies yang diperkirakan telah punah, yang dikenal sebagai “Lazarus Species”.
Ketika spesies langka ditemukan, para peneliti kemudian membantu pemerintah menentukan status konservasi dan tingkat kelangkaannya berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN) serta penyusunan National Red List untuk konteks Indonesia.
Ia menambahkan bahwa tantangan konservasi juga berkaitan dengan faktor sosial dan ekonomi. Salah satu contoh adalah penggunaan bagian tubuh burung cendrawasih untuk hiasan adat di Papua.
Menurutnya, masyarakat adat sebenarnya memiliki kesadaran konservasi, tetapi sering kali terdesak oleh kebutuhan ekonomi sehingga penegakan hukum tetap diperlukan.
Prof Ani berharap temuan spesies langka dapat memicu semangat para peneliti untuk terus melakukan eksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia, meskipun pendanaan penelitian di bidang pencarian spesies masih menjadi tantangan di dalam negeri.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Mengapa Masih Hujan di Tengah Isu El Nino “Godzilla”, Ini Kata Pakar IPB
KlikBogor – Prediksi kemarau panjang yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai menjadi perhatian. Namun, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia yang masih sering diguyur hujan menimbulkan pertanyaan. Mengapa hujan masih terjadi di tengah isu El Nino, bahkan yang disebut sebagai “Godzilla”?
Menanggapi hal ini, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika iklim, terutama karena Indonesia saat ini masih berada pada masa peralihan musim.
“Karena ini masih pancaroba, dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia,” ujar Sonni, Rabu, 8 April 2026.
Ia menegaskan, hujan yang masih turun tidak serta-merta menandakan prediksi keliru. Menurutnya, indikasi menuju kemarau panjang tetap terlihat berdasarkan adanya trend (kecenderungan) suhu muka laut yang meningkat di Samudera Pasifik.
“Iya, karena suhu muka air laut di Samudera Pasifik tengah dan timur kawasan tropis cenderung meningkat,” jelas Sonni.
Baca juga: Pakar IPB: Tanpa Perubahan, Ciliwung Bisa jadi Warisan Sungai Kotor
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia pada saat musim penghujan.
Bahkan, Sonni berujar berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang. “Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,” tambahnya.
Sonni juga mengungkapkan bahwa awal musim kemarau berpotensi datang lebih cepat dari biasanya, khususnya di wilayah Pulau Jawa yang umumnya memasuki kemarau pada Juli.
“Awal musim kemarau itu lebih maju dari biasanya,” katanya.
Ia menjelaskan, percepatan ini berkaitan dengan adanya kenaikan suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan di Indonesia.
“Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan formasi awan-awan di Indonesia,” ujar Sonni.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa El Nino dan La Nina merupakan produk fenomena interaksi laut-atmosfer dalam skala besar yang menyebabkan adanya pergeseran Sirkulasi Walker di atmosfer tropis. Periodisitas kejadian El-Nino dan La Nina ini sekitar 4 sampai 5 tahun sekali.
“Sirkulasi Walker adalah sirkulasi arah barat–timur, di mana udara naik di atas benua dan turun di atas samudera,” terangnya.
Terkait istilah “El Nino Godzilla” yang ramai diperbincangkan, Sonni menjelaskan, istilah tersebut merujuk pada kategori super El Nino dengan intensitas sangat kuat relatif terhadap kejadian El Nino biasanya.
“El Nino Godzilla mengacu pada super El Nino, yakni saat suhu muka laut di Pasifik bisa naik sekitar 2,5 derajat Celcius bahkan lebih di atas kenaikan suhu muka laut pada kejadian El Nino biasa dan El Nino Godzilla ini biasanya berlangsung rata-rata selama satu tahunan,” jelasnya.
Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming
Fenomena ini pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015, dengan dampak besar secara global seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan.
Namun demikian, Sonni menilai kondisi saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat. “Jujur saja, kekuatannya masih lemah ke moderat,” ujarnya.
Dalam analisisnya, ia juga mengaitkan potensi super El Nino (El Nino Godzilla) dengan aktivitas sunspot atau bintik hitam pada matahari.
“Berdasarkan data sunspot dan data curah hujan di 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun menunjukkan bahwa intensitas El Nino dapat diperkuat oleh sunspot,” katanya.
Kemudian berdasarkan data sunspot dan data Nino 3.4 menunjukkan bahwa El Nino Godzilla selalu terjadi setelah sunspot maksimum.
“Sunspot maksimum tahun 2025 berpotensi diikuti El Nino kuat pada 2026,” imbuhnya.
Meski begitu, ia menekankan bahwa kajian ini masih memerlukan data jangka panjang dan ruang yang lebih luas agar penjelasan ilmiahnya semakin kuat.
Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dan memahami bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan bagian dari proses transisi musim yang kompleks.
(rls/hrs)
Serba Serbi
IPB University Siapkan 2.481 Kursi Jalur SNBT 2026
KlikBogor – IPB University melalui acara “Live Bestie EP 03-2026” yang disiarkan langsung pada platform Instagram @ipbofficial dan YouTube IPB TV pada Rabu lalu, mengupas tuntas strategi pendaftaran jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Dengan kuota mencapai 30 persen atau sekitar 2.481 kursi dari total daya tampung, jalur ini menjadi kesempatan emas bagi siswa SMA sederajat lulusan tiga tahun terakhir.
Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru IPB University, Utami Dyah Syafitri, menegaskan bahwa seleksi SNBT ini murni berdasarkan skor Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Ia menambahkan, tidak ada batasan nilai minimal yang kaku, karena kelulusan sangat bergantung pada keketatan program studi (prodi) dan kuota yang tersedia.
“Seleksi SNBT itu benar-benar murni skor. Selama masuk ke dalam cut-off skornya, itu akan diterima. Pembatasan utamanya adalah kuota, maka penting bagi calon mahasiswa untuk melihat daya tampung di tiap prodi melalui laman resmi admisi.ipb.ac.id,” ujar Utami dikutip Selasa, 7 April 2026.
Tahun ini, IPB University menawarkan pilihan 61 prodi, dengan 44 prodi sarjana (S1) dan 17 prodi sarjana terapan (D4). Di antara 44 prodi S1, terdapat beberapa prodi yang relatif baru yang bisa menjadi pilihan di SNBT, seperti Smart Agriculture, Bioinformatika, Sains Biomedis, Kecerdasan Buatan, Teknik Mesin, dan Teknik Kimia.
Ia juga mengingatkan kebijakan baru terkait pemilihan prodi lintas strata. Peserta dapat memilih hingga empat pilihan prodi dengan syarat menyertakan program sarjana terapan atau diploma.
“Sekarang persepsi tentang sarjana terapan harus kita ubah. Sarjana terapan (D4) itu setara dengan sarjana (S1). Jangan ragu mengambil D4 karena lulusan D4 IPB University sudah banyak diterima di dunia kerja hingga luar negeri,” imbuhnya.
Pelaksanaan UTBK di IPB University akan dilaksanakan pada 21 hingga 30 April 2026 di dua lokasi utama, yaitu Kampus Dramaga dan Kampus Sekolah Vokasi di Cilibende.
Peserta untuk melakukan cetak kartu peserta dan survei lokasi pada 15–17 April 2026 guna menghindari kesalahan lokasi ujian.
Dalam kesempatan ini, Utami juga memberikan pesan penyemangat bagi para pejuang SNBT.
“Bagi yang belum beruntung di jalur SNBP, selamat berjuang di SNBT. Persiapan matang dan doa orang tua adalah kunci. Kami tunggu kalian di IPB University,” katanya.
Adapun bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai daya tampung dan prosedur teknis, IPB University menyediakan akses melalui laman admisi.ipb.ac.id dan utbk.ipb.ac.id.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi5 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi1 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita9 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini1 tahun agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
