Potret
Mengayuh Koleksi Sepeda Onthel Ala ASN Bogor, Harganya Selangit!
KlikBogor – Di tengah pekerjaannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor, Rahman memiliki hobi terbilang menarik.
Pria berusia 55 tahun ini mengoleksi sepeda onthel, salah satu alat transportasi yang digunakan masyarakat perkotaan Indonesia dari zaman penjajahan Belanda sampai akhir tahun 1970-an.
Rahman mengenal sepeda onthel atau juga disebut sepeda unta, pit kebo atau pit pancal ini sejak kecil dari orang tuanya yang memiliki sepeda Ariel buatan tahun 1942 asal Belanda.
Kini, sepeda warisan dari orang tuanya itu menjadi salah satu koleksi dari 11 sepeda onthel di garasi rumahnya di Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
“Di rumah ada 11 sepeda onthel dari tahun 1942, 1950, dan 1960. Ada yang dapat beli dari kolektor, juga dari teman. Yang ngasih juga ada dari orang tua (sepeda Ariel),” katanya, Senin, 19 Agustus 2024.
Dari 11 sepeda onthel tersebut, imbuhnya, satu di antaranya telah dimodifikasi dipasang mesin dua tak. Sepeda onthel koleksinya itu biasa digunakan silih berganti tergantung tema acara.
Seperti pada acara Kirab Merah Putih rangkaian Festival Merah Putih (FMP) dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia (RI), Rahman yang juga Ketua Ontel Community (Oncom) Bogor tampil dengan sepeda onthel Ariel dan seragam tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Tak hanya itu, dalam kesehariannya ke tempat kerjanya di Kantor Satpol PP Kabupaten Bogor, ia menggunakan sepeda onthel. Ia mengayuh sepeda klasiknya bolak balik sejauh 50 kilometer.
“Saya setiap hari ke kantor di Cibinong naik sepeda, saya sehari (jarak tempuh) 25 kilometer ke kantor, pulang ke rumah 25 kilometer, jadi 50 kilometer bolak balik,” akunya.
Komunitas Oncom sendiri rutin berkumpul bersama setiap hari Minggu di Taman Peranginan, Jalan Sudirman, Kecamatan Bogor Tengah. Aktivitas itu dilakukan usai bersepeda keliling Kota Bogor.
“Kami kumpul bersama tiap hari Minggu sekitar jam 09.00 WIB. Kami keliling Kota Bogor, selesai olahraga (sepeda) baru kami kumpul di Taman Peranginan,” katanya.
Bagi Rahman, perawatan sepeda onthel tidak terlalu sulit. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah rutin diberikan minyak setelah sepeda digunakan aktivitas.
Ia mengatakan, sepeda onthel yang dikumpulkan bisa dikatakan sebagai investasi. Terlebih sepeda onthel dengan jenis yang sulit dicari memiliki nilai komersial tinggi.
“Harga paling murah sekitar 3 juta tergantung dari sepeda, merek, dan juga perawatannya. Kalau kondisi bagus ada yang nawar sampai 60 juta karena sudah sulit dicari tahun 1903,” katanya.
“Yang saya punya tahun 1942 sudah ada yang menawar 10 juta, tapi nggak saya jual, karena sulit mencarinya. Sayang yah,” tutup Wakil Ketua Komunitas Onthel Seluruh Indonesia (Kosti) Wilayah II meliputi Bogor, Cianjur dan Sukabumi itu.
(ckl/hrs)
Potret
Margonda dan Jejak Sejarah di Bogor: Pernah Tinggal di Gang Slot
KlikBogor – Margonda merupakan sosok pahlawan pejuang yang ternyata memiliki jejak sejarah kuat di Kota Bogor, mulai dari menempuh pendidikan, menikah, hingga pernah tinggal di Kota Hujan ini.
Hal tersebut terungkap saat Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengunjungi Rumah Nomor 1 Gang Slot, Jalan Polisi, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, yang disebut sebagai rumah yang pernah ditinggali Margonda, pada Minggu, 26 April 2026.
Dalam kunjungannya, Dedie Rachim didampingi Kepala Dinas Sosial Kota Bogor, Camat Bogor Tengah, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor, dan sejumlah pihak lainnya.
Baca juga: Cungkup Prasasti Batutulis Kini Terintegrasi dengan Bumi Ageng
Dedie Rachim menilai kisah perjuangan Margonda perlu diangkat agar masyarakat mengetahui keterkaitannya dengan Kota Bogor.
“Saya mendengar banyak sekali cerita kepahlawanan Margonda. Insyaallah ke depan Pemerintah Kota Bogor akan memberikan bentuk penghormatan, salah satunya melalui prasasti sebagai wujud apresiasi atas perjuangannya melawan dan mengusir penjajah,” katanya.
Ketua Depok Heritage Community, Ratu Farah Diba, menjelaskan bahwa Margonda gugur bersama para pejuang lainnya saat melaksanakan serangan kilat melawan penjajah Belanda pada 16 November 1946 di Kalibata, Depok.
Jasad para pejuang kemudian dikembalikan oleh Belanda dan dimakamkan secara massal di Bogor, tepatnya di lokasi yang kini menjadi kawasan panggung terbuka Alun-Alun Kota Bogor.
Baca juga: Dedie Rachim dan Japas Telusuri Jejak Sejarah Tirto Adhi Soerjo
Selanjutnya, secara teknis, jasad para pahlawan tersebut dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Dreded dan kemudian nama Margonda diabadikan menjadi nama jalan utama di Kota Depok.
Sebagai informasi, sebelum terjun ke medan perjuangan, Margonda yang lahir di Baros, Cimahi, sempat menempuh pendidikan di sekolah kimia di Bogor.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Margonda merupakan sosok cerdas dan memiliki kapasitas intelektual yang tinggi. Lebih hebatnya lagi, beliau memilih jalan perjuangan dan gugur sebagai pahlawan.
(ckl/hrs)
Potret
Salat Idulfitri di Kebun Raya Bogor Berlangsung Khidmat
KlikBogor – Di bawah langit pagi yang cerah, lantunan takbir terus mengiringi pelaksanaan salat yang berlangsung tertib dan penuh ketenangan di Kebun Raya Bogor.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, hadir bersama keluarga, didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi bersama keluarga, dan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Hadir pula Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, bersama keluarga serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang turut melaksanakan salat Idulfitri.
Dedie Rachim menyampaikan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri di Kota Bogor berlangsung kondusif dan lancar.
Imam salat dipimpin oleh Ketua MUI Kota Bogor, KH. Tb. Muhidin, sementara khatib adalah Kepala BRIN, Prof. Arif Satria. Dalam khutbahnya, Arif Satria menyampaikan berbagai hal.
“Ini menjadi tambahan ilmu dalam suasana Salat Idulfitri yang, mudah-mudahan, menjadi bekal bagi kita dalam membangun Kota Bogor dengan nilai-nilai islami sebagai landasan berpikir untuk kemajuan kota,” ucapnya, Sabtu, 21 Maret 2026.
Arif Satria mengapresiasi pihak penyelenggara, yaitu Pemkot Bogor, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
“Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan yang lebih penting, ini membangun silaturahmi yang lebih luas antarwarga,” imbuhnya.
Arif Satria juga menyampaikan tentang tujuh nilai wasathiyah Islam untuk membangun masyarakat.
“Tujuh nilai ini perlu kita internalisasi, karena kita memiliki tanggung jawab besar untuk membangun Indonesia,” ucapnya.
Usai melaksanakan salat, warga bersama para pejabat yang hadir melakukan halal bihalal.
(rls/hrs)
Potret
Senyum Anak Yatim saat Baznas Kota Bogor Ajak Belanja di Mal
KlikBogor – Keceriaan tampak terpancar dari wajah puluhan anak yatim saat memasuki pusat perbelanjaan Ada Swalayan di Jalan Pajajaran, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.
Dengan mata berbinar, mereka menyusuri stan-stan mal yang menyediakan aneka barang. Tidak hanya sepatu dan pakaian, anak-anak juga diberi kesempatan untuk membeli perlengkapan sekolah seperti tas, alat tulis, hingga buku bacaan.
Kegiatan ini merupakan program Tebar Hadiah Ramadan (THR) yang digelar oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bogor, pada Selasa, 10 Maret 2026. Dalam program ini, sebanyak 50 anak yatim diajak berbelanja kebutuhan pribadi dengan anggaran masing-masing Rp500.000.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir dalam acara tersebut mengatakan program ini merupakan tradisi yang telah dijalankan sejak enam tahun lalu melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Ini tradisi yang sudah dibangun oleh Baznas Kota Bogor sejak tahun 2020. Kita mulai dulu waktu saya masih jadi Wakil Wali Kota. Selalu kerja sama Baznas, Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, kemudian juga Pemkot Bogor dan Ada Swalayan. Jadi ini sebuah kolaborasi yang baik,” ujar Dedie Rachim, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata penyaluran zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat, khususnya dari keluarga kurang mampu.
“Terutama kalau kita bayar zakat, infak, sedekahnya di Baznas, insyaallah ini uang yang terkumpul akan kita kembalikan kepada mereka yang kurang mampu. Anak-anak dari kalangan dhuafa atau anak yatim atau anak yatim piatu. Jadi insyaallah semuanya bermanfaat,” kata Dedie Rachim.
Ketua Baznas Kota Bogor, Subhan Murtadla, mengatakan pada tahun ini program tersebut diikuti oleh 50 anak yatim berasal dari enam kecamatan di Kota Bogor. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 100 anak.
“Alhamdulillah untuk yatim ada 50 (anak), tahun kemarin ada 100, sekarang 50. Dan tadi sudah terdistribusi, masing-masing kita kasih uang untuk belanja. Kita bekali uang untuk belanja masing-masing Rp500.000,” jelasnya.
Subhan berharap kegiatan program THR ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di masa mendatang.
“Mudah-mudahan program ini tetap berjalan dan menambah terus kuantitas dan juga kualitasnya. Kita mendorong masyarakat untuk sama-sama untuk menunaikan zakat, infaq, shadaqah ke Baznas Kota Bogor,” ucapnya.
Sementara itu, Aini, salah satu anak yatim yang mengikuti kegiatan tersebut, mengaku senang bisa berbelanja langsung memilih barang yang diinginkannya.
“Senang. Beli tas, beli sepatu. Bersyukur ya, terima kasih Baznas,” ujar Aini dengan wajah ceria.
(ckl/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi6 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita10 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini1 tahun agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
