Potret

Mengayuh Koleksi Sepeda Onthel Ala ASN Bogor, Harganya Selangit! 

Published

on

Ketua Onthel Community Bogor, Rahman dengan sepeda onthel Ariel tahun 1942 usai mengikuti Kirab Merah Putih rangkaian Festival Merah Putih 2024.

KlikBogor – Di tengah pekerjaannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor, Rahman memiliki hobi terbilang menarik.

Pria berusia 55 tahun ini mengoleksi sepeda onthel, salah satu alat transportasi yang digunakan masyarakat perkotaan Indonesia dari zaman penjajahan Belanda sampai akhir tahun 1970-an.

Rahman mengenal sepeda onthel atau juga disebut sepeda unta, pit kebo atau pit pancal ini sejak kecil dari orang tuanya yang memiliki sepeda Ariel buatan tahun 1942 asal Belanda.

Kini, sepeda warisan dari orang tuanya itu menjadi salah satu koleksi dari 11 sepeda onthel di garasi rumahnya di Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

“Di rumah ada 11 sepeda onthel dari tahun 1942, 1950, dan 1960. Ada yang dapat beli dari kolektor, juga dari teman. Yang ngasih juga ada dari orang tua (sepeda Ariel),” katanya, Senin, 19 Agustus 2024.

Dari 11 sepeda onthel tersebut, imbuhnya, satu di antaranya telah dimodifikasi dipasang mesin dua tak. Sepeda onthel koleksinya itu biasa digunakan silih berganti tergantung tema acara.

Seperti pada acara Kirab Merah Putih rangkaian Festival Merah Putih (FMP) dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia (RI), Rahman yang juga Ketua Ontel Community (Oncom) Bogor tampil dengan sepeda onthel Ariel dan seragam tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Tak hanya itu, dalam kesehariannya ke tempat kerjanya di Kantor Satpol PP Kabupaten Bogor, ia menggunakan sepeda onthel. Ia mengayuh sepeda klasiknya bolak balik sejauh 50 kilometer.

“Saya setiap hari ke kantor di Cibinong naik sepeda, saya sehari (jarak tempuh) 25 kilometer ke kantor, pulang ke rumah 25 kilometer, jadi 50 kilometer bolak balik,” akunya.

Komunitas Oncom sendiri rutin berkumpul bersama setiap hari Minggu di Taman Peranginan, Jalan Sudirman, Kecamatan Bogor Tengah. Aktivitas itu dilakukan usai bersepeda keliling Kota Bogor.

“Kami kumpul bersama tiap hari Minggu sekitar jam 09.00 WIB. Kami keliling Kota Bogor, selesai olahraga (sepeda) baru kami kumpul di Taman Peranginan,” katanya.

Bagi Rahman, perawatan sepeda onthel tidak terlalu sulit. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah rutin diberikan minyak setelah sepeda digunakan aktivitas.

Ia mengatakan, sepeda onthel yang dikumpulkan bisa dikatakan sebagai investasi. Terlebih sepeda onthel dengan jenis yang sulit dicari memiliki nilai komersial tinggi.

“Harga paling murah sekitar 3 juta tergantung dari sepeda, merek, dan juga perawatannya. Kalau kondisi bagus ada yang nawar sampai 60 juta karena sudah sulit dicari tahun 1903,” katanya.

“Yang saya punya tahun 1942 sudah ada yang menawar 10 juta, tapi nggak saya jual, karena sulit mencarinya. Sayang yah,” tutup Wakil Ketua Komunitas Onthel Seluruh Indonesia (Kosti) Wilayah II meliputi Bogor, Cianjur dan Sukabumi itu.

(ckl/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version