Connect with us

Serba Serbi

Been Sae Bakery Cabang ke 7 Hadir di Kota Bogor, Tawarkan Kue Lezat dan Ramah di Kantong 

Published

on

Been Sae Bakery Cabang ke 7 Hadir di Kota Bogor, Tawarkan Kue Lezat dan Ramah di Kantong 
Grand opening toko kue Been Sae Bakery Cabang ke-7 di Jalan Raya Semplak No. 321, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

KlikBogor – Been Sae Bakery melebarkan sayap usahanya dengan membuka cabang baru di Kota Bogor, tepatnya di Jalan Raya Semplak No. 321, Kecamatan Bogor Barat.

Kehadiran toko kue Been Sae Bakery siap memanjakan lidah masyarakat Bogor dengan aneka cake lezat, halal, dan ramah di kantong.

Manager Been Sae Bakery, Hendro, mengatakan pembukaan cabang ke-7 ini merupakan bentuk komitmen Been Sae Bakery untuk semakin dekat dengan pelanggan.

“Ini kabar gembira buat masyarakat Bogor karena telah hadir toko kue yang menyediakan aneka cake lezat halal dengan harga yang terjangkau,” ujar Hendro, Kamis, 18 Desember 2025.

Suasana toko kue Been Sae Bakery Cabang ke-7 ramai dikunjungi pembeli.

Been Sae Bakery menawarkan varian produk super lengkap, mulai dari cake tart, bolu, roll cake, roti, cup cake, donat, brownies, dan lain sebagainya.

Kue ini cocok untuk oleh-oleh keluarga, momen spesial bersama orang tersayang, hingga acara bersama kerabat terdekat.

Untuk donat hias dihargai mulai dari Rp6 ribu dan aneka cake mulai Rp30 ribuan, sedangkan cake tart mulai Rp85 ribuan saja.

Hendro menambahkan cake tart Been Sae Bakery rasanya lezat dan creamnya selembut ice cream. Dekorasinya juga unik banget, ada yang bentuk mie, burger, dan strawberry.

“Varian rasa juga ada vanila, black forest, tiramisu, rainbow dan vanila. Kalau mau pesan custom juga bisa,” katanya.

Nah, buat Anda yang penasaran langsung saja datang ke toko kue Been Sae Bakery cabang ke-7 atau dapat melakukan pemesanan via Whatsapp ke 0822-7777-5236.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

PKL Masuk Pasar Bisa Akses KUR dan Pinjaman Tanpa Agunan dari PNM

Published

on

By

PKL Masuk Pasar Bisa Akses KUR dan Pinjaman Tanpa Agunan dari PNM
Suasana aktivitas jual beli di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Program penataan pedagang kaki lima (PKL) di seputar Pasar Bogor yang diarahkan untuk bergeser ke Pasar Jambu Dua dan Pasar Gembrong Sukasari membuka peluang peningkatan kesejahteraan pedagang.

Kegiatan relokasi ini tidak hanya menata kawasan, melainkan juga diiringi dengan dukungan akses permodalan bagi para pelaku usaha.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan mendorong perbankan untuk membuka akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan persyaratan yang lebih ringan bagi para PKL yang menempati lokasi baru di dalam pasar.

Selain itu, para pedagang juga dapat memanfaatkan skema pembiayaan tanpa agunan yang difasilitasi oleh Permodalan Nasional Madani (PNM), termasuk melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar).

“Penataan ini bukan hanya soal penertiban, tetapi juga upaya meningkatkan taraf ekonomi para pedagang. Kita dorong agar mereka memiliki akses permodalan yang lebih mudah, sehingga usahanya bisa berkembang,” ujar Dedie Rachim, Selasa, 31 Maret 2026.

Melalui berbagai skema pembiayaan tersebut, diharapkan para PKL yang sebelumnya berjualan di emper toko, trotoar, dan badan jalan dapat naik kelas dengan menempati lokasi yang lebih representatif serta memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

Dengan langkah ini, penataan kawasan Pasar Bogor diharapkan tidak hanya menciptakan ketertiban dan kenyamanan lingkungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Potensi Kangkang Katup Asal Lingga, Tanaman Antidiabetes-Antioksidan

Published

on

By

Potensi Kangkang Katup Asal Lingga, Tanaman Antidiabetes-Antioksidan
Tanaman kangkang katup (Phanera semibifida). Dok. IPB University.

KlikBogor – Baru-baru ini, Peneliti IPB University menemukan potensi tanaman kangkang katup (Phanera semibifida) sebagai antidiabetes dan antioksidan.

Riset yang melibatkan tim peneliti Meyla Suhendra, Dr Berry Juliandi, Prof Huda Darusman, Dr Siti Sa’diah, dan Prof Fitmawati ini masuk dalam 117 Inovasi Indonesia yang dirilis Business Innovation Center (BIC) 2025.

Kangkang katup diketahui merupakan tanaman yang belum dibudidayakan secara luas. Namun, masyarakat di Kepulauan Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai bahan utama minuman herbal pahit yang dipercaya berkhasiat menjaga kesehatan, termasuk memberikan efek awet muda dan umur panjang.

Dr Berry Juliandi menjelaskan, inovasi ini memanfaatkan ekstrak batang kangkang katup yang mengandung senyawa polifenol.

Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase, sehingga mampu menekan kadar glukosa darah (antihiperglikemik) sekaligus berperan sebagai antioksidan, khususnya bagi penderita prediabetes dan diabetes tipe 2.

“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” kata Berry dalam keterangannya dikutip Sabtu, 28 Maret 2026.

Menurut Berry, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal untuk terapi antihiperglikemia.

Selain itu, ekstraknya juga berpeluang dimanfaatkan sebagai antioksidan alami guna mencegah stres oksidatif pada penderita diabetes.

Diabetes melitus (DM) sendiri merupakan penyakit degeneratif dengan jumlah penderita yang terus meningkat secara global.

Pada 2024, tercatat sekitar 589 juta orang di dunia mengidap diabetes. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah penderita tertinggi, yakni mencapai 20,4 juta orang.

Selama ini, terapi diabetes umumnya menggunakan obat-obatan kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping seiring peningkatan penggunaannya.

Kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang efektif dan minim efek samping, seperti yang ditawarkan melalui inovasi kangkang katup ini.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Tren Konsumsi Minuman Manis Melonjak, Ahli IPB Ingatkan Hal Ini

Published

on

By

Tren Konsumsi Minuman Manis Melonjak, Ahli IPB Ingatkan Hal Ini
Ilustrasi minuman manis. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Zuraidah Nasution, menjelaskan bahwa berbagai studi menunjukkan konsumsi sugar sweetened beverages (SSB) atau minuman berpemanis di Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir.

Tak hanya itu, bahkan Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata gula yang dikonsumsi dari minuman berpemanis saja dapat mencapai sekitar 50 persen dari batas harian yang dianjurkan.

“Bayangkan, 50 persen itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan,” kata Zuraidah dalam keterangannya dikutip Rabu, 25 Maret 2026.

Ia menyebut, kondisi ini diperparah dengan mudahnya akses terhadap minuman manis, mulai dari minuman kemasan hingga minuman siap saji, seperti teh manis, boba, atau kopi kekinian yang sering kali tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas.

Ia menjelaskan bahwa batas asupan gula yang dianjurkan per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian.

“Jika rata-rata kebutuhan energi 2.000 kilokalori, maka sekitar 50 gram gula atau setara empat sendok makan,” imbuhnya.

Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali terbentuk sejak usia anak dan dapat terbawa hingga dewasa.

Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membentuk pola konsumsi yang lebih sehat.

Ia menyarankan orang tua untuk tidak terbiasa menyimpan minuman berpemanis di rumah serta mengajak anak membaca label informasi nilai gizi pada kemasan.

“Secara sederhana, kita bisa mengurangi kemungkinan anak menjadi ketergantungan pada minuman berpemanis. Misalnya dengan tidak menyetok minuman manis di rumah atau mengajak anak memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah,” katanya.

Meski demikian, Zuraidah menegaskan agar tidak harus sepenuhnya menghindari minuman manis, tetapi perlu mengatur konsumsi gula secara bijak.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup,” katanya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer