Connect with us

Opini

Syarikat Islam: Jangan Hanya jadi Penonton di Negeri Sendiri 

Published

on

Syarikat Islam: Jangan Hanya jadi Penonton di Negeri Sendiri 
Ketua PC Syarikat Islam Kota Bogor, Subhan Murtadla.

Oleh: Subhan Murtadla

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang kerap dibanggakan, kita justru menyaksikan paradoks: umat yang besar secara jumlah, tetapi lemah dalam penguasaan sumber daya. Ketimpangan ekonomi masih menganga, ketahanan pangan belum kokoh, dan kemandirian umat masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.

Pertanyaannya sederhana: sampai kapan umat hanya menjadi penonton di negeri sendiri?

Sejarah telah memberi pelajaran penting. Ketika HOS Tjokroaminoto mendirikan Syarikat Islam, yang dibangun bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan pembebasan dari ketertindasan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan dominasi kekuatan eksternal. Namun hari ini, semangat itu seolah meredup, tergantikan oleh kenyamanan retorika tanpa kerja nyata.

Kita harus jujur mengakui: problem utama umat saat ini bukan semata kekurangan sumber daya, melainkan lemahnya keberpihakan dan konsolidasi. Ekonomi umat berjalan sendiri-sendiri, tanpa kekuatan kolektif yang mampu mengubah peta permainan. UMKM tumbuh, tetapi tidak naik kelas. Koperasi ada, tetapi sering kehilangan arah. Saudagar banyak, tetapi belum terorganisir dalam kekuatan yang strategis.

Di sinilah Syarikat Islam harus mengambil peran lebih tegas dan progresif. Dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tetapi harus hadir di pasar, di sawah, di pabrik, dan di ruang-ruang kebijakan. Dakwah ekonomi harus menjadi arus utama, bukan sekadar pelengkap. Kita membutuhkan gerakan nyata untuk membangun ekosistem ekonomi umat yang terintegrasi dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.

Isu ketahanan pangan menjadi ujian konkret. Ironis jika negeri yang kaya sumber daya justru bergantung pada impor. Lebih ironis lagi jika umat yang mayoritas tidak menjadi aktor utama dalam produksi pangan. Syarikat Islam harus berada di garis depan dalam membangun kedaulatan pangan, mendorong lahirnya petani, peternak, dan pelaku usaha pangan yang kuat dan mandiri. Tanpa itu, kita hanya akan terus berada dalam lingkaran ketergantungan.

Dalam konteks sumber daya manusia, kita juga menghadapi tantangan serius. Bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang, bisa berubah menjadi beban jika tidak disiapkan dengan baik. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang mencari kerja, tetapi harus melahirkan generasi pencipta usaha. Tanpa keberanian mengubah paradigma ini, kita hanya akan memperpanjang daftar pengangguran terdidik.

Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap persoalan sosial yang semakin kompleks. Kesenjangan, kemiskinan, dan ketidakadilan masih menjadi realitas yang dirasakan sebagian masyarakat. Pengelolaan zakat, infak, dan sedekah harus naik kelas tidak hanya bersifat karitatif, tetapi produktif dan memberdayakan. Umat harus dibantu untuk bangkit, bukan sekadar bertahan.

Namun semua itu tidak akan terwujud tanpa keberanian untuk berubah. Syarikat Islam harus keluar dari zona nyaman, memperkuat konsolidasi organisasi, dan berani mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa. Transformasi digital, penguatan jaringan ekonomi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak harus menjadi agenda prioritas, bukan wacana semata.

Lebih dari itu, kita membutuhkan keberpihakan yang jelas. Syarikat Islam tidak boleh abu-abu dalam membela kepentingan umat dan rakyat kecil. Kita harus berdiri di garis depan dalam memperjuangkan ekonomi yang berkeadilan, kebijakan yang berpihak, dan pembangunan yang inklusif.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: menjadi penonton atau menjadi pelaku. Syarikat Islam memiliki sejarah, memiliki basis umat, dan memiliki nilai perjuangan yang kuat. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian untuk menghidupkan kembali spirit itu dalam kerja nyata yang terukur dan berkelanjutan.

Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Jam Layanan Baru Perpustakaan Kota Bogor Memperkuat Peran Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Published

on

By

Jam Layanan Baru Perpustakaan Kota Bogor Memperkuat Peran Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Oleh: Intan Nur Kamila
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten

Perpustakaan Kota Bogor mengumumkan penyesuaian jam layanan buka melalui unggahan Instagram pada 5 November 2025. Dalam pengumuman tersebut disampaikan bahwa jam layanan baru mulai berlaku pada 1 Desember 2025, yaitu Senin–Kamis pukul 08.00–15.00 WIB serta Sabtu–Minggu pukul 08.00–20.00 WIB.

Sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan pemustaka, kebijakan jam layanan ini dapat dipahami dalam konteks konsep perpustakaan sebagai ruang publik (library as a public space). Pengaturan waktu buka menjadi aspek penting dalam memastikan perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan latar belakang aktivitas yang beragam.

Menurut Sulistyo-Basuki, perpustakaan umum merupakan lembaga layanan informasi yang terbuka bagi seluruh masyarakat dan berfungsi sebagai ruang publik yang mendukung proses belajar sepanjang hayat. Dalam pandangan ini, perpustakaan tidak hanya berorientasi pada koleksi, tetapi juga pada akses, keterbukaan, dan pemanfaatan ruang oleh masyarakat.

Penyesuaian jam layanan seperti yang diterapkan Perpustakaan Kota Bogor juga ditemukan di beberapa perpustakaan daerah lain. Perpustakaan Umum DKI Jakarta (Cikini), misalnya, dikenal dengan jam layanan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat perkotaan, termasuk membuka layanan pada akhir pekan.

Sementara itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Dispusipda Jabar) juga menerapkan jam layanan yang memungkinkan masyarakat mengakses ruang perpustakaan di luar hari kerja.

Dalam kajian ilmu perpustakaan, praktik tersebut menunjukkan upaya penguatan fungsi perpustakaan sebagai ruang publik yang dapat diakses secara lebih luas. Jika dibandingkan dengan perpustakaan yang masih menerapkan jam layanan terbatas, model layanan dengan waktu buka yang variatif lebih mendukung peran perpustakaan sebagai ruang sosial, ruang belajar, dan ruang literasi.

Dengan diberlakukannya jam layanan baru, Perpustakaan Kota Bogor dapat ditempatkan sejajar dengan perpustakaan daerah lain yang mengimplementasikan gagasan library as a public space sebagaimana dikemukakan oleh Sulistyo-Basuki, terutama melalui kebijakan layanan yang menekankan keterbukaan dan aksesibilitas ruang perpustakaan bagi masyarakat.

Continue Reading

Opini

Mengelola Keuangan Generasi Z dalam Perspektif Ekonomi Islam

Published

on

By

Mengelola Keuangan Generasi Z dalam Perspektif Ekonomi Islam
Fadilah Balfas (kiri) mahasiswa STMIK Tazkia Bogor.

Oleh: Fadilah Balfas

Dalam kehidupan modern saat ini, generasi Z tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Segala sesuatu serba digital, termasuk urusan keuangan. Mulai dari dompet digital, belanja online, hingga investasi kripto, semuanya begitu mudah diakses hanya lewat ponsel.

Namun kemudahan ini juga membawa tantangan besar, bagaimana agar generasi muda tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan tetap mengelola keuangannya dengan bijak sesuai tuntunan Islam.

Konsep Harta dalam Islam

Dalam pandangan Islam, harta bukanlah tujuan hidup, melainkan amanah dari Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)

Ayat ini menegaskan bahwa harta pada hakikatnya milik Allah, sementara manusia hanyalah pengelola (mustakhlaf) yang diberi tanggung jawab untuk memanfaatkannya dengan cara yang halal.

Oleh karena itu, setiap pengeluaran, investasi, maupun tabungan seharusnya dilandasi niat ibadah dan tanggung jawab moral dihadapan Allah.

Fenomena Keuangan Generasi Z

Generasi Z dikenal aktif di media sosial, mudah terpengaruh tren, dan sering kali menilai kesuksesan dari gaya hidup. Fenomena “healing setiap pekan” atau “beli barang biar terlihat keren di story” menjadi hal lumrah. Akibatnya, banyak anak muda yang kesulitan menabung bahkan hidup dari gaji ke gaji.

Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.”

Hadis ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang kita dapatkan dan keluarkan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, kesadaran finansial bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah.

Prinsip Pengelolaan Keuangan Menurut Islam

Ada beberapa prinsip dasar yang bisa diterapkan oleh generasi Z dalam mengelola keuangan:

1. Membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Islam mengajarkan keseimbangan (wasathiyah). Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Prinsip ini sangat penting agar tidak boros terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat.

2. Menabung dan berinvestasi dengan cara halal.

Tabungan bukan berarti kikir, melainkan bentuk perencanaan masa depan. Islam pun mendorong produktivitas, namun investasi harus bebas dari riba, gharar (ketidakjelasan), dan maisir (spekulasi berlebihan).

3. Berzakat, bersedekah, dan membantu sesama.

Mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah membersihkan jiwa dan menumbuhkan keberkahan. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

4. Mencatat dan mengevaluasi pengeluaran.

Rasulullah SAW mengajarkan disiplin dalam setiap urusan, termasuk keuangan. Mencatat pemasukan dan pengeluaran akan membantu seseorang terhindar dari pemborosan dan utang yang tidak perlu.

Generasi Z memiliki peluang besar untuk menjadi generasi yang sukses secara finansial sekaligus berkah dalam pandangan Allah SWT. Kuncinya bukan pada seberapa besar penghasilan, tetapi seberapa baik pengelolaan dan keberkahan dalam penggunaannya.

Dengan memahami prinsip-prinsip ekonomi Islam dan menjadikan harta sebagai sarana ibadah, generasi muda bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas finansial, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.

Continue Reading

Opini

Menggugat Kemerdekaan Hakiki di Tengah Cengkeraman Kapitalisme dan Individualisme

Published

on

By

Menggugat Kemerdekaan Hakiki di Tengah Cengkeraman Kapitalisme dan Individualisme
Subhan Murtadla, Ketua PC Syarikat Islam Kota Bogor.

Oleh : Subhan Murtadla

Agustus kembali datang, membawa harum nostalgia perjuangan, pekik “merdeka!” yang menggema dari lorong sejarah, mengingatkan kita pada tumpah darah para pejuang yang merelakan segalanya demi Tanah Air bernama Indonesia. Namun, ketika kita menatap wajah bangsa hari ini, ada satu pertanyaan yang menggantung di langit kemerdekaan kita: Benarkah kita sudah benar-benar merdeka?

Kapitalisme dan Individualisme: Bahaya Senyap di Balik Kemerdekaan

Hari ini, wajah Indonesia telah banyak berubah. Globalisasi dan kemajuan teknologi membawa angin besar yang tak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyelipkan racun yang tak kasat mata: ideologi kapitalisme dan budaya individualisme.

Kapitalisme mendorong logika pasar bebas yang menempatkan keuntungan di atas nilai-nilai kemanusiaan. Segala sesuatu diukur dari untung rugi materi, bukan dari manfaat sosial. Sementara individualisme menanamkan gagasan bahwa sukses adalah urusan pribadi, bukan hasil kerja bersama. “Yang penting saya selamat, saya sukses, saya naik kelas” menjadi mantera yang sering diucapkan, bahkan tanpa sadar.

Padahal, bangsa ini dibangun di atas fondasi ideologi kerakyatan dan budaya gotong royong. Satu bangsa, satu rasa. Satu jatuh, semua mengulurkan tangan. Itulah roh Indonesia.

Kini, budaya gotong royong perlahan tergeser. Di kota besar, tetangga pun tak saling mengenal. Di desa, nilai tolong-menolong perlahan digantikan transaksionalisme. Semua serba dihitung. Semua serba bayar. Bahkan solidaritas pun mulai dikomersialisasikan.

Hari Kemerdekaan: Momentum Menyadari Arah Bangsa

Dalam kondisi ini, hari kemerdekaan seharusnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan dengan lomba makan kerupuk dan karnaval bendera tetapi menjadi momentum refleksi bersama: Apakah kemerdekaan hanya sebatas lepas dari penjajah asing? Ataukah kemerdekaan sejati adalah saat rakyat terbebas dari penjajahan gaya baru: ketimpangan ekonomi, ketidakpedulian sosial, dan dominasi kekuatan modal?

Memaknai Kemerdekaan yang Hakiki

Kemerdekaan hakiki adalah saat bangsa ini kembali ke jati dirinya. Ketika rakyat menjadi pusat pembangunan, bukan korban pembangunan. Ketika gotong royong menjadi roh kehidupan, bukan hanya slogan di baliho. Ketika nilai kebersamaan lebih kuat daripada ego sektoral.

Kita harus melawan penjajahan yang lebih halus: Ketika anak muda lebih kenal selebriti luar negeri daripada sejarah bangsanya. Ketika petani berjuang sendiri di tengah pasar bebas yang tak adil. Ketika kemiskinan struktural dianggap sebagai takdir, bukan masalah sosial.

Kembali Menjadi Indonesia

Kemerdekaan bukan sekadar ritual. Ia adalah proyek kebudayaan dan peradaban. Ia menuntut kita kembali merawat akar bangsa: kerakyatan dan gotong royong. Sebab, hanya dengan itulah kita bisa bertahan sebagai bangsa yang bermartabat di tengah badai globalisasi.

Mari kita rayakan kemerdekaan ini dengan lebih dari sekadar seremonial. Mari kita isi dengan tindakan nyata: membantu tetangga tanpa pamrih, mendorong ekonomi kerakyatan, menghidupkan kembali semangat musyawarah, dan menanamkan rasa bangga menjadi bangsa yang besar karena persatuan dan nilai kebersamaan.

Merdeka bukan hanya soal bebas. Merdeka adalah soal berdaulat, bermartabat, dan berjiwa sosial. Itulah kemerdekaan yang sejati.

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer