Connect with us

Berita

Padi IPB 9G Siap Ditanam di Lahan Kering Pamijahan Bogor

Published

on

Padi IPB 9G Siap Ditanam di Lahan Kering Pamijahan Bogor
Padi varietas IPB 9G siap diimplementasikan di lahan kering di Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Foto: ipb.ac.id.

KlikBogor – Padi varietas IPB 9G mulai diimplementasikan di lahan kering di Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Upaya ini dilakukan untuk menjawab permasalahan luasnya lahan kering dan kekurangan air yang mencapai 100 hektare (ha) di wilayah tersebut.

Penanaman padi IPB 9G dimulai secara bertahap. Penanaman perdana dilakukan seluas 0,75 ha yang direncanakan panen tiga bulan berikutnya. Satu bulan kemudian, penanaman diperluas menjadi 10 ha. Dalam satu tahun ke depan, target perluasan mencapai 100 ha.

Rektor IPB University, Profesor Arif Satria mengatakan, langkah ini merupakan upaya nyata dari IPB University untuk berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pertanian di Bogor melalui inovasi-inovasi yang dihasilkan.

“Harapannya, semakin banyak teknologi inovasi IPB yang dimanfaatkan masyarakat, maka ini bisa semakin membantu produktivitas petani dan kesejahteraan masyarakat. Kita harapkan ini bisa membawa semangat dan optimisme baru bagi masyarakat desa yang mempunyai problem dengan air,” ujar Profesor Arif dikutip dari ipb.ac.id, Rabu, 16 April 2025.

Saat ini, padi gogo IPB 9G sudah diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

“IPB University siap berkolaborasi dengan dengan pemerintah pusat dan daerah dan padi gogo ini merupakan solusi yang sangat penting terkait masalah irigasi yang ada,” imbuh Profesor Arif.

Sebagai varietas amfibi, padi IPB 9G juga diaplikasikan di lahan basah (sawah) seluas 10 ha di Desa Cibitung Wetan dan desa sekitarnya. Dalam prosesnya, penggunaan padi IPB 9G tersebut juga dikombinasikan dengan teknologi pengelolaan kesehatan tanah dan tanaman.

Teknologi ini mencakup aplikasi bahan organik, optimasi pemupukan anorganik, minimalisasi penggunaan pestisida, dan bioimunisasi dengan mikroba Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), dan endofit.

Intensifikasi ini telah meningkatkan produktivitas dari 3,5 ton GKP/ha menjadi 5,0 ton GKP/ha (meningkat 42,8 persen). Kegiatan ini melibatkan 23 orang petani dan lima alumni baru Fakultas Pertanian IPB.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Profesor Suryo Wiyono mengatakan bahwa varietas IPB 9G dan paket pengelolaan kesehatan tanah dan tanaman merupakan teknologi yang telah teruji di lapangan dan bisa diterapkan dalam skala nasional.

Sebagai informasi, selama ini upaya intensifikasi lebih terfokus kepada daerah sentra dibanding daerah subsentra. Padahal, daerah subsentra diperkirakan mencapai 60 persen luas pertanaman padi di Indonesia, salah satunya Bogor.

“Terlebih, produktivitas di lahan sentra ini sudah tinggi dan sulit ditingkatkan seperti di pantai utara Jawa Barat. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas pada daerah subsentra lebih mudah dilakukan dengan energi yang lebih rendah (low energy),” ujarnya.

Kepala Desa Cibitung Wetan, Kamaludin mengatakan, “Kami sangat senang dan sangat terbantu oleh adanya kegiatan ini. Varietas IPB 9G ini menyelesaikan persoalan irigasi dan lahan kering di desa kami.”

Ia juga mengatakan, penanaman padi dengan memperhatikan pengelolaan kesehatan tanah dan tanaman ini terbukti meningkatkan hasil panen. “Diharapkan kegiatan ini dapat memajukan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani di desa kami,” ujarnya.

(red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Tercebur ke Sumur Sedalam 17 Meter, Wanita di Parung Dievakuasi Selamat

Published

on

By

Tercebur ke Sumur Sedalam 17 Meter, Wanita di Parung Dievakuasi Selamat
Petugas pemadam kebakaran tengah mengevakuasi seorang wanita yang tercebur ke dalam sumur di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Minggu, 23 Agustus 2026 dini hari. Dok. Damkar Kabupaten Bogor

KlikBogor – Petugas pemadam kebakaran berhasil mengevakuasi seorang wanita yang tercebur ke dalam sumur sedalam sekitar 17 meter di Kampung Jabon Mekar, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Minggu, 23 Agustus 2026 dini hari.

Wakil Komandan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor Sektor Parung, Iskandar mengatakan, korban berusia 40 tahun diduga terjatuh secara tidak sengaja saat berada di sekitar bibir sumur.

Baca juga: Kebakaran Rumah di Tegal Gundil, 3 Orang Alami Luka

“Korban ditemukan berada di dasar sumur dalam kondisi lemas dan mengalami sesak napas. Proses evakuasi dilakukan menggunakan teknik mountaineering dengan sistem hauling,” kata Iskandar dalam keterangannya dikutip Senin, 24 Agustus 2026.

Proses evakuasi yang melibatkan petugas Sektor Cibinong dan Parung berlangsung selama sekitar 25 menit. Korban berhasil dievakuasi ke permukaan dalam keadaan selamat.

Baca juga: Musim Kemarau, Mengapa Puncak Bogor Terasa Makin Dingin?

Setelah dievakuasi, korban diketahui mengalami luka ringan dan selanjutnya diserahkan kepada petugas medis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Berita

Peneliti IPB Kembangkan Pemodelan Biofisik untuk Diagnosis Dini Parkinson-Alzheimer

Published

on

By

Peneliti IPB Kembangkan Pemodelan Biofisik untuk Diagnosis Dini Parkinson-Alzheimer
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Agus Kartono. Dok. IPB University

KlikBogor – Penurunan daya ingat dan kemampuan gerak kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu sesederhana itu. Perbedaan antara perubahan akibat usia dan gejala awal penyakit neurodegeneratif dapat dipetakan melalui pola aktivitas sel saraf.

Pendekatan inilah yang dikembangkan Prof Agus Kartono, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, melalui pemodelan biofisik untuk diagnosis dan pengobatan penyakit Parkinson dan Alzheimer.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 20 Agustus 2026, Prof Agus menjelaskan bahwa pemodelan biofisik dikembangkan untuk memahami perubahan pola aktivitas listrik sel saraf sekaligus membantu menentukan strategi pengobatan yang lebih tepat.

Ketertarikannya berawal dari meningkatnya penelitian mengenai Parkinson dan Alzheimer. Saat membahas hasil penelitian bersama mahasiswa S2 dalam sebuah seminar, ia semakin menyadari bahwa kedua penyakit tersebut ternyata cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Dari seminar tersebut, salah satu moderator menyampaikan bahwa ibunya terkena Alzheimer. Kemudian audiens lain mengatakan mama dan neneknya juga mengalami hal serupa. Dari situ saya melihat bahwa penyakit ini ternyata banyak terjadi di sekitar kita,” ujar Prof Agus dikutip Senin, 24 Agustus 2026.

Baca juga: Musim Kemarau, Mengapa Puncak Bogor Terasa Makin Dingin?

Menurutnya, salah satu tantangan penting adalah membedakan perubahan fungsi tubuh yang terjadi karena pertambahan usia dengan gangguan neurodegeneratif. Pemodelan biofisik kemudian digunakan untuk menyimulasikan aktivitas sel saraf dan melihat pola rangsangan yang terjadi.

Simulasi juga dapat digunakan untuk menguji pola pemberian obat Parkinson, khususnya Levodopa. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pemberian 125 mg sebanyak empat kali sehari mampu menghasilkan pola aktivitas saraf yang mendekati kondisi normal.

Sebaliknya, pemberian dosis lebih besar dalam frekuensi yang lebih sedikit dapat menghasilkan perubahan frekuensi aktivitas saraf yang lebih jauh dari kondisi normal.

“Yang bagus itu dosisnya kecil-kecil tetapi kontinu, supaya obatnya selalu ada di dalam tubuh untuk menggantikan jembatan antara dua sel saraf tadi,” jelas Prof Agus.

Selain terapi obat, pemodelan juga dikembangkan untuk menyimulasikan imunoterapi. Pada Parkinson, pendekatan tersebut digunakan untuk melihat kemungkinan pemulihan pola aktivitas listrik sel saraf melalui modulasi sistem imun.

Sementara pada Alzheimer, pemodelan digunakan untuk memahami interaksi obat dengan plak amiloid-beta yang menghambat komunikasi antarsel saraf.

Baca juga: Kebakaran Rumah di Tegal Gundil, 3 Orang Alami Luka

Prof Agus juga melihat peluang pemodelan biofisik untuk mendukung diagnosis lebih dini. Ke depan, data dari perangkat medis seperti Deep Brain Stimulation (DBS) akan dibandingkan dengan hasil simulasi untuk melihat apakah pola aktivitas saraf tertentu dapat menjadi indikator awal Parkinson atau Alzheimer.

“Ini masih berkembang. Kami baru serius sekitar dua sampai tiga tahun untuk Parkinson. Berikutnya, kami akan mencoba menggabungkan data dari DBS yang ada di rumah sakit dengan simulasi yang kami kembangkan,” katanya.

Menurut Prof Agus, pendekatan serupa sebelumnya juga telah dikembangkan untuk penyakit diabetes. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas pemodelan biofisik ke penyakit neurodegeneratif.

Ia menegaskan, pemodelan biofisik bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menyediakan informasi ilmiah yang dapat membantu pengambilan keputusan medis secara lebih terukur.

Dengan pengembangan dan validasi data klinis lebih lanjut, teknologi ini diharapkan dapat membuka peluang diagnosis yang lebih dini sekaligus mendukung terapi yang lebih presisi bagi pasien Parkinson dan Alzheimer.

(rls/hrs)

Continue Reading

Berita

Kebakaran Rumah di Tegal Gundil, 3 Orang Alami Luka

Published

on

By

Kebakaran Rumah di Tegal Gundil, 3 Orang Alami Luka
Petugas pemadam kebakaran tengah berjibaku memadamkan kebakaran rumah di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Minggu, 23 Agustus 2026. Foto/Tangkapan layar video Damkar Kota Bogor

KlikBogor – Satu unit rumah di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, terbakar, pada Minggu, 23 Agustus 2026. Dalam peristiwa tersebut, tiga orang mengalami luka ringan dan telah dilarikan ke RS PMI Kota Bogor untuk mendapatkan penanganan medis.

Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor, Moch. Ade Nugraha mengatakan, kebakaran terjadi sekira pukul 15.28 WIB.

Petugas pemadam kebakaran menerima laporan sekira pukul 15.32 WIB dan langsung mengerahkan tim dari Pos Sukasari, Yasmin, dan Cibuluh.

Baca juga: Musim Kemarau, Mengapa Puncak Bogor Terasa Makin Dingin?

Api berhasil dipadamkan setelah sekitar 20 menit petugas berjibaku melakukan pemadaman di lokasi kebakaran.

“Lama pemadaman sekitar 20 menit. Kemudian dilakukan proses pendinginan selama kurang lebih 40 menit,” ujar Ade saat dikonfirmasi via aplikasi perpesanan.

Baca juga: Gudang Eks Pabrik Tekstil di Kota Bogor Terbakar, 10 Unit Pemadam Dikerahkan

Berdasarkan informasi di lokasi, ia mengatakan, api pertama kali diketahui berasal dari ruang tengah rumah. Namun, penyebab pasti kebakaran belum diketahui.

Akibat kejadian tersebut, dua wanita mengalami luka bakar ringan dan seorang anak mengalami luka ringan. Sementara kerugian materi akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp250 juta.

(hrs/ckl)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer