Connect with us

Serba Serbi

Sekolah Energi Diluncurkan di Kota Bogor, Siapkan Green Talent

Published

on

Sekolah Energi Diluncurkan di Kota Bogor, Siapkan Green Talent
Program Sekolah Energi resmi diluncurkan di Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Kota Bogor, Sabtu, 4 April 2026. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Program Sekolah Energi resmi diluncurkan di Kota Bogor sebagai langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di sektor energi terbarukan dan berkelanjutan.

Program kolaborasi ini digagas oleh OnePulse bersama Rumah Berguna Solution, Digikademi, serta Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, dan Pemerintah Kota Bogor.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi, menilai peluncuran Sekolah Energi menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan konsep green city melalui sektor pendidikan.

“Pemkot Bogor sendiri sudah memulai ini semua dari beberapa tahun lalu. Tapi saya pikir dengan adanya kick off penerapan green energy di sekolah ini jadi salah satu bukti bahwa masyarakat sudah sangat aware terhadap isu climate change dan penerapan teknologi green energy di kotanya,” kata Herry usai peluncuran program Sekolah Energi di Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Sabtu, 4 April 2026.

Ia juga menambahkan bahwa krisis energi global, termasuk dampak konflik geopolitik, semakin menegaskan pentingnya pengembangan sumber energi alternatif. Oleh karena itu, pendidikan menjadi kunci dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan tersebut.

Melalui program Sekolah Energi, diharapkan akan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami teknologi energi terbarukan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dalam transisi menuju masa depan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan di Indonesia.

Project Lead OnePulse Indonesia, Fauzia Hafida Rahmah, menjelaskan Sekolah Energi hadir untuk menjawab kebutuhan green talent dalam mendukung target transisi energi nasional menuju 23 persen energi terbarukan pada 2030.

“Dari berbagai kajian, ada tiga faktor utama yang harus dibenahi untuk full transition ke renewable energy. Yaitu teknologi, investasi, dan talenta. Untuk teknologi sudah banyak dibantu dan investasi sedang gencar-gencarnya. Talenta yaitu green talent kita ingin membantu juga. Itu visi misinya Sekolah Energi,” ujar Fauzia.

Program ini menargetkan siswa SMA hingga mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai energi terbarukan, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk melanjutkan studi di bidang tersebut, baik di dalam maupun luar negeri. Diharapkan, para peserta dapat menjadi pionir yang membawa inovasi energi bersih ke Indonesia di masa depan.

Kota Bogor sendiri dipilih sebagai lokasi peluncuran karena dinilai memiliki ekosistem yang mendukung, baik dari sisi kebijakan, kesadaran masyarakat, maupun prestasi di bidang lingkungan seperti program Adiwiyata. Kota ini diharapkan menjadi percontohan sebelum program diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School dipilih sebagai sekolah percontohan dalam implementasi program ini. Direktur Pendidikan Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Ari Rosandi, menyatakan pihaknya menyambut baik inisiatif tersebut dan sejalan juga dengan program Sekolah Garuda yang berfokus pada pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

“Ini merupakan langkah penting untuk membekali siswa dalam menghadapi tantangan energi dan lingkungan di masa depan. Energi dan lingkungan, keduanya sangat saling berkait,” ujarnya.

Sebagai bentuk implementasi, sekolah mulai mengembangkan penggunaan panel surya serta pengelolaan limbah makanan menjadi pupuk. Namun, Ari menekankan bahwa fokus utama program ini adalah edukasi dan peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya energi berkelanjutan.

Program ini juga melibatkan sekitar 20 sekolah yang turut hadir dalam kegiatan peluncuran. Para siswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan pengetahuan tentang energi terbarukan ke lingkungan masing-masing.

Kegiatan peluncuran juga menghadirkan talkshow bertema ‘Introduction to Green Energy and Global Climate Issue‘ dengan narasumber dari pemerintah dan lembaga internasional, seperti Rocky Mountain Institute, World Resources Institute (WRI), serta ASEAN Centre for Energy.

(hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

PKL Masuk Pasar Bisa Akses KUR dan Pinjaman Tanpa Agunan dari PNM

Published

on

By

PKL Masuk Pasar Bisa Akses KUR dan Pinjaman Tanpa Agunan dari PNM
Suasana aktivitas jual beli di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Program penataan pedagang kaki lima (PKL) di seputar Pasar Bogor yang diarahkan untuk bergeser ke Pasar Jambu Dua dan Pasar Gembrong Sukasari membuka peluang peningkatan kesejahteraan pedagang.

Kegiatan relokasi ini tidak hanya menata kawasan, melainkan juga diiringi dengan dukungan akses permodalan bagi para pelaku usaha.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan mendorong perbankan untuk membuka akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan persyaratan yang lebih ringan bagi para PKL yang menempati lokasi baru di dalam pasar.

Selain itu, para pedagang juga dapat memanfaatkan skema pembiayaan tanpa agunan yang difasilitasi oleh Permodalan Nasional Madani (PNM), termasuk melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar).

“Penataan ini bukan hanya soal penertiban, tetapi juga upaya meningkatkan taraf ekonomi para pedagang. Kita dorong agar mereka memiliki akses permodalan yang lebih mudah, sehingga usahanya bisa berkembang,” ujar Dedie Rachim, Selasa, 31 Maret 2026.

Melalui berbagai skema pembiayaan tersebut, diharapkan para PKL yang sebelumnya berjualan di emper toko, trotoar, dan badan jalan dapat naik kelas dengan menempati lokasi yang lebih representatif serta memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

Dengan langkah ini, penataan kawasan Pasar Bogor diharapkan tidak hanya menciptakan ketertiban dan kenyamanan lingkungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Potensi Kangkang Katup Asal Lingga, Tanaman Antidiabetes-Antioksidan

Published

on

By

Potensi Kangkang Katup Asal Lingga, Tanaman Antidiabetes-Antioksidan
Tanaman kangkang katup (Phanera semibifida). Dok. IPB University.

KlikBogor – Baru-baru ini, Peneliti IPB University menemukan potensi tanaman kangkang katup (Phanera semibifida) sebagai antidiabetes dan antioksidan.

Riset yang melibatkan tim peneliti Meyla Suhendra, Dr Berry Juliandi, Prof Huda Darusman, Dr Siti Sa’diah, dan Prof Fitmawati ini masuk dalam 117 Inovasi Indonesia yang dirilis Business Innovation Center (BIC) 2025.

Kangkang katup diketahui merupakan tanaman yang belum dibudidayakan secara luas. Namun, masyarakat di Kepulauan Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai bahan utama minuman herbal pahit yang dipercaya berkhasiat menjaga kesehatan, termasuk memberikan efek awet muda dan umur panjang.

Dr Berry Juliandi menjelaskan, inovasi ini memanfaatkan ekstrak batang kangkang katup yang mengandung senyawa polifenol.

Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase, sehingga mampu menekan kadar glukosa darah (antihiperglikemik) sekaligus berperan sebagai antioksidan, khususnya bagi penderita prediabetes dan diabetes tipe 2.

“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” kata Berry dalam keterangannya dikutip Sabtu, 28 Maret 2026.

Menurut Berry, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal untuk terapi antihiperglikemia.

Selain itu, ekstraknya juga berpeluang dimanfaatkan sebagai antioksidan alami guna mencegah stres oksidatif pada penderita diabetes.

Diabetes melitus (DM) sendiri merupakan penyakit degeneratif dengan jumlah penderita yang terus meningkat secara global.

Pada 2024, tercatat sekitar 589 juta orang di dunia mengidap diabetes. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah penderita tertinggi, yakni mencapai 20,4 juta orang.

Selama ini, terapi diabetes umumnya menggunakan obat-obatan kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping seiring peningkatan penggunaannya.

Kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang efektif dan minim efek samping, seperti yang ditawarkan melalui inovasi kangkang katup ini.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Tren Konsumsi Minuman Manis Melonjak, Ahli IPB Ingatkan Hal Ini

Published

on

By

Tren Konsumsi Minuman Manis Melonjak, Ahli IPB Ingatkan Hal Ini
Ilustrasi minuman manis. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Zuraidah Nasution, menjelaskan bahwa berbagai studi menunjukkan konsumsi sugar sweetened beverages (SSB) atau minuman berpemanis di Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir.

Tak hanya itu, bahkan Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis tertinggi di kawasan Asia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata gula yang dikonsumsi dari minuman berpemanis saja dapat mencapai sekitar 50 persen dari batas harian yang dianjurkan.

“Bayangkan, 50 persen itu hanya dari minuman saja. Belum dari makanan atau produk olahan lainnya yang juga mengandung gula tambahan,” kata Zuraidah dalam keterangannya dikutip Rabu, 25 Maret 2026.

Ia menyebut, kondisi ini diperparah dengan mudahnya akses terhadap minuman manis, mulai dari minuman kemasan hingga minuman siap saji, seperti teh manis, boba, atau kopi kekinian yang sering kali tidak mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas.

Ia menjelaskan bahwa batas asupan gula yang dianjurkan per hari adalah sekitar 10 persen dari kebutuhan energi harian.

“Jika rata-rata kebutuhan energi 2.000 kilokalori, maka sekitar 50 gram gula atau setara empat sendok makan,” imbuhnya.

Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi minuman manis sering kali terbentuk sejak usia anak dan dapat terbawa hingga dewasa.

Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membentuk pola konsumsi yang lebih sehat.

Ia menyarankan orang tua untuk tidak terbiasa menyimpan minuman berpemanis di rumah serta mengajak anak membaca label informasi nilai gizi pada kemasan.

“Secara sederhana, kita bisa mengurangi kemungkinan anak menjadi ketergantungan pada minuman berpemanis. Misalnya dengan tidak menyetok minuman manis di rumah atau mengajak anak memilih minuman dengan kandungan gula yang lebih rendah,” katanya.

Meski demikian, Zuraidah menegaskan agar tidak harus sepenuhnya menghindari minuman manis, tetapi perlu mengatur konsumsi gula secara bijak.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula yang dikonsumsi dalam sehari, dan imbangi dengan pola hidup sehat seperti konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, serta istirahat yang cukup,” katanya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer