Berita
Pakar IPB Ungkap Ciri-ciri Beras Oplosan yang Mudah Dikenali
KlikBogor – Pakar Teknologi Industri Pertanian IPB University, Profesor Tajuddin Bantacut, mengungkap ciri-ciri beras oplosan yang bisa dikenali secara kasat mata.
Ia menjelaskan bahwa beras oplosan dapat terlihat dari warna yang tidak seragam, butiran yang berbeda ukuran, dan tekstur nasi yang lembek setelah dimasak.
“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat ‘dicurigai’ sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” jelas Profesor Tajuddin dikutip Jumat, 11 Juli 2025.
Dalam beberapa kasus, beras oplosan juga dicampur dengan bahan tambahan benda asing termasuk zat pewarna atau pengawet berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Profesor Tajuddin mengimbau agar masyarakat mewaspadai beras yang terlihat tidak biasa, berwarna aneh, atau berbau.
“Hindari membeli beras tanpa label atau dari sumber yang tidak jelas. Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang,” imbuhnya.
Perihal daya simpan, ia menjelaskan bahwa idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan agar kualitasnya tetap terjaga. Sebab, beras juga bisa mengalami kerusakan secara alami, terutama jika disimpan terlalu lama.
Meski beras sudah disimpan di tempat yang terkendali, menurut Profesor Tajuddin, kualitasnya tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme.
“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan,” jelasnya.
Ia menambahkan terdapat tiga jenis beras yang dikaitkan oplosan yang beredar di masyarakat. Pertama, beras campuran yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung. Jenis ini secara umum ditemukan di beberapa daerah.
Kedua, beras “blended” atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur. Ketiga, beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali, padahal mutunya sudah menurun.
Profesor Tajuddin mengajak masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras dan waspada terhadap penipuan kualitas. Selain itu, perlu edukasi yang lebih luas agar masyarakat memahami dampak kesehatan dari mengonsumsi beras yang sudah rusak atau tercemar.
“Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman,” katanya.
(ary/hrs)
Berita
Lansia 83 Tahun Tewas Usai Terserempet Kereta di Kebon Pedes
KlikBogor – Seorang pria lanjut usia berinisial MRS (83) meninggal dunia setelah terserempet kereta komuter relasi Bogor–Jakarta di Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa, 3 November 2026.
Peristiwa tersebut terjadi saat korban yang merupakan warga sekitar tengah berjalan kaki di bantaran rel kereta sekira pukul 09.45 WIB.
Kapolsek Tanah Sareal, Kompol Sonson Sudarsono mengatakan, berdasarkan keterangan saksi di lokasi, korban terserempet kereta komuter yang melaju dari arah Bogor menuju Jakarta.
“Untuk kronologis dari pihak saksi di lokasi bahwa yang bersangkutan sedang berjalan di bantaran rel kereta, kemudian tiba-tiba ada kereta yang dari arah Bogor menuju Jakarta, kemudian korban tersebut terserempet,” kata Sonson kepada awak media.
Baca juga: Fenomena Downgrade Lifestyle Ramai di Medsos, Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
Ia menegaskan, berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, korban bukan tertabrak secara langsung, melainkan terserempet kereta yang melintas.
“Jadi bukan tertabrak, jadi informasinya di lapangan itu bahwa terserempet kereta api yang menuju ke Jakarta,” ujarnya.
Setelah mendapat informasi, pihak kepolisian memastikan peristiwa tersebut dan berkoordinasi dengan tim Inafis juga warga setempat untuk melakukan evakuasi serta menghubungi pihak keluarga korban.
Baca juga: Dedie Rachim Sambangi Sekolah Rakyat 3 Kemang, Tinjau Kegiatan Belajar hingga Asrama
Setelah proses evakuasi, jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka atas koordinasi dan permintaan pihak keluarga untuk selanjutnya dimakamkan.
“Untuk selanjutnya korban atas koordinasi dan keinginan pihak keluarga, kemudian dibawa ke rumah duka dan untuk dilakukan pemakaman,” pungkasnya.
(hrs/ckl)
Berita
Dedie Rachim Sambangi Sekolah Rakyat 3 Kemang, Tinjau Kegiatan Belajar hingga Asrama
KlikBogor – Dari balik celah kaca pintu ruang kelas Sekolah Rakyat (SR) 3 di Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbakom) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, melihat anak-anak belajar dengan tekun dan penuh semangat bersama para guru yang juga berasal dari wilayah Kota Bogor.
Ketika waktu istirahat tiba, Dedie Rachim perlahan membuka pintu dan menyapa para siswa serta guru. Ia berinteraksi dengan para siswa dengan memberikan sejumlah pertanyaan seputar wawasan kebangsaan.
Didampingi Kepala SR 3, Siti Nurma Nugraha, Dedie Rachim kunjungan ke ruang makan siang siswa. Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan meninjau asrama bersama para wali asuh dan wali asrama yang beberapa di antaranya juga berasal dari Kota Bogor.
SR 3 yang berlokasi di Pusbakom dan asrama Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur Perhubungan (PPSDMAP) Kemenhub ini merupakan sekolah rintisan gratis dengan konsep boarding school yang diselenggarakan Kementerian Sosial. Fasilitas pendukungnya melibatkan lintas kementerian, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Baca juga: Sekolah Rakyat Bakal Dibangun di Rancamaya, Tampung 2.000 Siswa
Berlokasi di Jalan Raya Kemang, Parung, Kabupaten Bogor, keberadaan SR ini tidak dibatasi oleh letak geografis. Program tersebut ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera desil 1 dan 2 agar dapat memperoleh hak pendidikan.
Di Kota Bogor, SR juga tersedia di Jalan Ahmad Yani, dengan sebagian besar siswanya berasal dari wilayah Kabupaten Bogor.
“Kami memastikan bahwa siswa-siswi yang berasal dari daerah asalnya, terutama dari Bogor ya, bisa ikut dalam proses pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah Rakyat 3 Kemang Bogor ini. Tentunya saya berharap anak-anak yang sekarang mendapatkan kesempatan belajar di Sekolah Rakyat ini bisa memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas yang dipinjamkan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia,” ucap Dedie Rachim, Senin, 2 November 2026.
Dalam pertemuan dengan para guru, wali asuh, wali asrama, pegawai lainnya, serta para siswa, Dedie Rachim berpesan agar seluruh fasilitas yang tersedia dijaga dengan baik. Sebab, fasilitas tersebut akan digunakan kembali secara berkelanjutan untuk kegiatan pengembangan kompetensi.
“Jadi pesan saya ke sini, karena kita semua memakai uang rakyat dan kita kembalikan untuk rakyat, maka kita juga harus menyadari betul uang rakyat yang kembali ke rakyat ini dimanfaatkan oleh rakyat untuk sebesar-besarnya nanti ke depan mencerdaskan kehidupan bangsa dan tentu saja nanti bisa memberdayakan mereka sebagai anak-anak Indonesia yang punya keunggulan di masing-masing bidang,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Bahagia di Balik Sekolah Rakyat di Kabupaten Bogor
Saat ini, pembangunan SR di Kota Bogor tengah dipersiapkan untuk berlokasi di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan. Lahan yang disediakan Pemkot Bogor sedang dalam tahap pematangan sebelum selanjutnya dibangun oleh pemerintah pusat.
Nantinya, SR Rancamaya direncanakan memiliki kapasitas hingga ribuan siswa dari wilayah Bogor Raya, termasuk siswa yang saat ini masih menempati sekolah rintisan di sejumlah lokasi milik kementerian.
“Pematangan lahan sampai dengan Desember bulan depan, kemudian di awal 2027 kita akan bangun di Rancamaya. Kapasitasnya bisa masing-masing 1.000 siswa. Nah, siswa yang dititipkan di Jasinga tentunya akan kita tarik. Sebelumnya juga kita titipkan di Inten Suweno, ya. Akan masuk ke Sekolah Rakyat Rancamaya,” ucapnya.
(rls/hrs)
Berita
Berseri, Wisata Edukasi Pertanian di Kantor DKPP Kota Bogor
KlikBogor – Kota Bogor memiliki konsep ketahanan pangan perkotaan melalui program Bogor Edu Wisata Farm and Nursery (Berseri) di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang sejak awal memantau langsung progres pengembangan Berseri, kembali mengunjungi lokasi tersebut untuk memastikan seluruh program berjalan optimal, pada Senin, 2 November 2026.
Dalam kunjungannya, Dedie Rachim melihat langsung kebun anggur yang dikembangkan menggunakan sistem greenhouse berukuran sekitar 5 x 6 meter. Di dalamnya terdapat tujuh batang pohon anggur dari varietas GosV, Julian, dan Angelica.
Baca juga: EIGER Nature Diresmikan, Padukan Petualangan, Edukasi dan Pelestarian Alam
Penataan kawasan perkantoran yang lebih representatif tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kenyamanan lingkungan kerja, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui transformasi ketahanan pangan dan pertanian perkotaan.
Selain memastikan pengembangan kebun dalam greenhouse berjalan baik, Dedie Rachim juga meninjau kolam budidaya ikan air tawar dengan sistem bioflok.
Di lokasi tersebut, Dedie Rachim memastikan budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok yang ramah lingkungan dapat berjalan secara optimal.
Baca juga: Dedie Rachim Pastikan Persiapan Porprov Jabar Sudah 100 Persen
Sekretaris DKPP Kota Bogor, Wina mengatakan bahwa saat ini DKPP memiliki destinasi edukasi dan wisata bagi masyarakat bernama Berseri. Di dalamnya terdapat greenhouse yang dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman buah-buahan serta sayuran dengan sistem hidroponik.
“Selain itu, di DKPP juga terdapat budidaya ikan nila dengan sistem bioflok yang sudah beberapa kali panen dan dibagikan kepada masyarakat risiko stunting termasuk sayur dan buah,” ungkapnya.
Selain menjadi destinasi wisata edukasi, kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat edukasi dan penelitian bagi masyarakat.
Dengan demikian, di tengah keterbatasan lahan perkotaan, ketahanan pangan dan pertanian tetap dapat dikembangkan secara optimal melalui berbagai inovasi.
“Diharapkan dapat menjadi tempat edukasi, pelatihan, magang sekaligus wisata baik untuk anak sekolah, petani, pembudidaya ikan maupun masyarakat luas,” ujarnya.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Serba Serbi12 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Berita1 tahun ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi2 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata

Pingback: Perbedaan Nila dan Mujair, Simak Penjelasan Dosen IPB
Pingback: Disdagin Awasi Ketat Peredaran Beras Oplosan di Bogor