Serba Serbi
Lomba Paduan Suara Hymne Kota Bogor Piala Wali Kota 2026: Menumbuhkan Cinta Kota Lewat Lagu
KlikBogor – Suasana berbeda terasa di Bogor Great Mall, Sabtu, 15 Agustus 2026. Alunan suara anak-anak sekolah menggema, membawakan Hymne Kota Bogor dalam babak final Lomba Paduan Suara Hymne Kota Bogor Piala Wali Kota 2026.
Lomba yang mempertemukan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan itu dibuka Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Kota Bogor melalui sebuah lagu yang kini menjadi hymne resmi daerah.
Dedie Rachim mengaku senang melihat penampilan para peserta. Menurutnya, para pelajar tidak sekadar menyanyikan lagu, tetapi mampu menjiwai setiap bait Hymne Kota Bogor.
“Ini saya sangat senang. Kenapa, karena tadi sudah ditampilkan beberapa sekolah menyanyikan Hymne Kota Bogor. Pertama, mereka sangat menjiwai, dan yang kedua tentu ini punya makna nilai kecintaan kepada Kota Bogor,” ujarnya.
Bagi Dedie Rachim, keberadaan Hymne Kota Bogor perlu lebih sering diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Ia berharap kegiatan seperti lomba paduan suara tidak berhenti sebagai ajang perlombaan, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan pengenalan dan pembiasaan di lingkungan sekolah.
Baca juga: Jalan Akses Kantor Pemerintahan di Katulampa Dibangun
Ia pun meminta Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk lebih rutin memperdengarkan Hymne Kota Bogor di sekolah-sekolah. Terlebih, Kota Bogor kini telah memiliki hymne resmi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2025.
“Ke depan tentu ini harus terus disosialisasikan, dilaksanakan kegiatan-kegiatan seperti ini, bukan hanya lomba, tapi juga mungkin pengenalan lagu,” katanya.
Dedie Rachim menilai Hymne Kota Bogor memiliki kekuatan untuk membangkitkan semangat dan rasa memiliki terhadap daerah. Bahkan, ia mengaku ikut terbawa suasana ketika mendengarkan lagu tersebut dinyanyikan.
“Kalau didengerin benar-benar tuh merinding. Lagunya juga punya makna yang dalam dan enggak membosankan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Rahmat Sabana sebagai pencipta Hymne Kota Bogor. Menurutnya, lagu tersebut dinilai mampu merepresentasikan semangat dan karakter Kota Bogor.
Baca juga: Kurang Tidur Bisa Pengaruhi Tinggi Badan, Dosen IPB Jelaskan Alasannya
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim mengatakan, sebelumnya Kota Bogor memang belum memiliki lagu hymne resmi.
Setelah dilakukan perlombaan penciptaan Hymne Kota Bogor, akhirnya terpilih satu karya yang kemudian diperkenalkan di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Dari sana, muncul arahan untuk memperluas sosialisasi, khususnya kepada pelajar.
“Mensosialisasikan diawali dari tingkat sekolah dulu. Jadi, membiasakan anak-anak itu dan untuk menghafal lagu Kota Bogor ini karena melalui lagu anak-anak insyaallah akan tumbuh kecintaannya terhadap kota kelahiran mereka atau di Kota Bogor ini,” kata Yantie Rachim.
Antusiasme sekolah pun cukup tinggi meski persiapan lomba terbilang singkat. Sebanyak 86 sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ambil bagian.
Dari puluhan peserta tersebut, proses penyaringan dilakukan melalui babak semifinal hingga menyisakan 21 peserta yang berhak tampil di babak final.
“Pesertanya yang ikut, karena ini memang agak mendadak persiapannya, ada 86 sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA, dan PKBM. Nah, dari 80 sekian ini, kami saring di semifinal, akhirnya keluar 21 SD, SMP, SMA, dan PKBM,” jelasnya.
Rangkaian lomba ini akan berlanjut ke panggung yang lebih besar. Para juara pertama dari masing-masing jenjang nantinya akan dipilih untuk tampil dalam rangkaian upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Mereka akan membawakan Hymne Kota Bogor dalam upacara tersebut.
“Nanti juara satunya kami ambil untuk nanti tanggal 17 Agustus ikut tampil mengisi acara lagu dengan Hymne Kota Bogor,” katanya.
(hrs/ckl)
Serba Serbi
Kurang Tidur Bisa Pengaruhi Tinggi Badan, Dosen IPB Jelaskan Alasannya
KlikBogor – Kebiasaan tidur terlalu malam atau bergadang ternyata dapat memengaruhi pertumbuhan tinggi badan anak. Hal ini dikonfirmasi dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), dr Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, MARS.
“Benar. Kebiasaan tidur terlalu malam dapat memengaruhi tinggi badan anak. Anak yang kurang tidur berisiko memiliki tinggi badan yang lebih pendek. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon pertumbuhan yang paling banyak keluar selama anak tidur,” ujarnya.
Ia mengatakan, hormon pertumbuhan diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak dan mencapai puncaknya saat fase deep slow-wave sleep (SWS), yaitu bagian dari fase tidur non-rapid eye movement (NREM).
Pada fase tersebut, hormon pertumbuan dilepaskan ke aliran darah menuju kejaringan yang berperan memperbaiki jarinhan, membangun otot dan memperkuat tulang.
Baca juga: Jalan Akses Kantor Pemerintahan di Katulampa Dibangun
Menurut dr Gilang, masa pubertas memang menjadi periode terjadinya lonjakan pertumbuhan tinggi badan akibat peningkatan hormon seks dan hormon pertumbuhan. Namun, pertumbuhan optimal sebenarnya harus dipersiapkan sejak sebelum pubertas melalui pola hidup sehat.
Selain tidur yang cukup, dr Gilang menekankan pentingnya asupan gizi seimbang. Ia meluruskan anggapan bahwa minum susu saja sudah cukup untuk membuat anak bertambah tinggi.
“Jadi konsumsi susu saja tidak cukup. Harus ada kombinasi dari variasi zat gizi makro dan mikro yang seimbang,” kata dr Gilang.
Baca juga: Telkom Indonesia jadi Bapak Asuh Anak Stunting di Kota Bogor
dr Gilang juga menjelaskan, anak memerlukan karbohidrat kompleks, protein hewani, lemak, vitamin D, vitamin K, kalsium, zink, magnesium, dan fosfor untuk mendukung pertumbuhan tulang secara optimal.
Adapun suplemen hanya berfungsi sebagai penunjang dan diberikan sesuai kebutuhan, misalnya pada anak yang mengalami kekurangan vitamin atau gangguan penyerapan nutrisi.
dr Gilang menyarankan orang tua membangun kebiasaan hidup sehat dengan menjaga pola makan bergizi seimbang, menerapkan jadwal tidur yang konsisten, serta mendorong anak rutin beraktivitas fisik. Ia juga mengingatkan agar penggunaan gawai dihentikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.
“Durasi tidur yang dianjurkan bervariasi sesuai usia, mulai dari 9–12 jam untuk anak usia sekolah hingga 8–10 jam untuk remaja,” tuturnya.

(rls/hrs)
Serba Serbi
Forkopimcam Cup Bogor Selatan Diikuti 20 Tim, Jadi Ajang Pererat Silaturahmi
KlikBogor – Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Pemerintah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor menggelar turnamen mini soccer Forkopimcam Cup.
Turnamen digelar di GOR Bogor Selatan selama tiga hari mulai dari 11 hingga 13 Agustus 2026, diikuti 20 tim dari berbagai unsur kelembagaan di wilayah Kecamatan Bogor Selatan.
Camat Bogor Selatan, Harry Cahyadi mengatakan, turnamen kali ini berbeda dengan pelaksanaan dua tahun sebelumnya yaitu Camat Cup dan hanya diikuti 16 tim. Tahun ini turnamen dibuat dengan melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).
“Kalau dua tahun ke belakang itu Camat Cup hanya diikuti 16 tim. Hari ini kita mencoba bergabung dengan Forkopimcam, jadi Forkopimcam Cup,” ujar Harry, Selasa, 11 Agustus 2026
Baca juga: Jalan Akses Kantor Pemerintahan di Katulampa Dibangun
Turnamen mini soccer Forkopimcam Cup tahun ini diikuti sebanyak 20 tim. Dari jumlah tersebut 16 tim di antaranya berasal dari masing-masing kelurahan di Kecamatan Bogor Selatan.
“Kalau sekarang ada 20 tim, terdiri dari 16 tim kelurahan, satu tim Kecamatan Bogor Selatan, satu tim Polsek, satu tim Koramil, serta satu tim dari unsur LPM dan FK,” jelasnya.
Ia menyebut, untuk tim kelurahan, peserta terdiri dari aparatur kelurahan, pengurus RT dan RW, serta Karang Taruna. Sementara itu, Karang Taruna tingkat kecamatan dan KNPI tingkat kecamatan turut bergabung bersama jajaran klub Kecamatan Bogor Selatan.
Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Pertandingan diawali dengan babak penyisihan yang terbagi dalam empat grup.
“Forkopimcam Cup berjalan mulai hari ini sampai dengan Kamis, jadi hari ini ada empat grup, besok perdelapan final semifinal, hingga partai final pada Kamis,” ucap Harry.
Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di tingkat Kecamatan Bogor Selatan. Turnamen tersebut juga menjadi pelaksanaan untuk ketiga kalinya sebagai ajang olahraga sekaligus mempererat hubungan antarunsur kelembagaan.
Baca juga: Tangani Banjir di Tamansari Persada, Pemkot Bogor Kembali Bangun Drainase
Turnamen mini soccer digelar dengan tujuan untuk memperkuat silaturahmi dan persaudaraan antar kelembagaan serta instansi yang berada di wilayah Kecamatan Bogor Selatan.
“Jadi intinya untuk ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan kita dan memeriahkan HUT ke-81 RI,” bebernya.
Harry berharap dengan kekompakan antarunsur pemerintahan, TNI, Polri, serta berbagai organisasi dan kelembagaan di tingkat kecamatan dan kelurahan diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat untuk terus menjaga keguyuban.
“Mudah-mudahan dengan keguyuban ini akan terimbas kepada masyarakat. Kita di tingkat kelembagaan, kecamatan dan kelurahan guyub, mudah-mudahan ke masyarakatnya berdampak guyub juga,” pungkasnya.
Selain memperebutkan gelar juara, turnamen ini juga menyediakan piala bergilir dan piagam penghargaan serta hadia menarik untuk para tim yang berhasil menjadi juara.
(hrs/ckl)
Serba Serbi
FMP 2026 Wakafkan Alpukat untuk Rumah Ibadah di Kota Bogor
KlikBogor – Program wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan fasilitas sosial, rangkaian kegiatan Festival Merah Putih (FMP) 2026 mulai dilaksanakan. Mengawali penanaman pohon alpukat secara simbolis dilaksanakan di area Masjid Agung Kota Bogor.
Ketua Panitia FMP 2026 Kota Bogor, Syahril M. Said mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya FMP menghadirkan kegiatan yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Hari ini kita mulai adalah seremonial tanam alpukat di seluruh Kota Bogor. Jadi programnya adalah wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan tempat sosial,” kata Syahril kepada wartawan, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, alpukat dipilih karena karakter iklim dan ketinggian wilayah Kota Bogor dinilai sesuai untuk pengembangan tanaman bernama latin Persea americana ini.
“Kenapa harus kami lakukan alpukat? Karena Kota Bogor dari iklim dan ketinggian lahan sangat ideal dengan jenis tanaman tersebut,” ujarnya.
Pemilihan pohon alpukat juga telah didukung pengalaman penanaman di sejumlah lokasi di Kota Bogor. Bahkan, terdapat pohon alpukat yang telah berusia puluhan tahun dan mampu menghasilkan buah dalam jumlah besar.
“Hal ini sudah kami buktikan di beberapa tempat di Kota Bogor. Umur pohon 67 tahun bisa menghasilkan 500 kilogram,” katanya.
Wakaf pohon alpukat menjadi salah satu langkah awal FMP pada tahun ke-11 untuk menciptakan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh rumah ibadah dan fasilitas sosial di Kota Bogor.
Syahril mengharapkan program serupa dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Namun, jenis tanaman yang dikembangkan nantinya perlu disesuaikan dengan kondisi agroklimat masing-masing daerah.
“Kami berharap daerah-daerah lain mengikuti program yang kami lakukan. Daerah lain belum tentu cocok dengan alpukat, tapi melihat agroklimat daerah masing-masing,” katanya.
Ia juga menjelaskan, penanaman tidak dilakukan serentak di seluruh rumah ibadah pada hari yang sama. Penanaman perdana dilakukan secara simbolis, sedangkan pelaksanaan berikutnya berlangsung secara bertahap hingga 31 Agustus 2026.
Bagi rumah ibadah maupun tempat sosial yang berminat mengikuti program tersebut dapat mendaftarkan diri kepada panitia FMP 2026. Sebelumnya, tim akan melakukan survei untuk memastikan lokasi memenuhi persyaratan teknis.
“Kami datangi untuk teknisnya. Apakah tempat tersebut memungkinkan atau tidak. Karena pada saat ini kami tidak sekadar ngasih pohon, tapi kami menanam melihat di sekitar tempat tersebut apakah teknisnya cocok,” ujar Syahril.
Ia menambahkan, jika kondisi lokasi tidak memungkinkan, maka akan menyarankan tempat lain yang lebih sesuai. “Karena kita bukan hanya memberi pohon dan menanam, tapi memperkirakan pohon ini suatu saat akan menghasilkan sesuai yang kita prediksikan,” tambahnya.
Syahril menyebut, terdapat lebih dari 900 rumah ibadah di Kota Bogor. Untuk tahap awal, FMP 2026 menargetkan sekitar 30 persen dari jumlah tersebut dapat menjadi lokasi program wakaf pohon alpukat.
“Target kami pada tahun ini mungkin 30 persen,” ungkapnya.
Program tersebut tidak berhenti pada penanaman. Panitia FMP juga berencana melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan pohon secara berkala. Rumah ibadah yang mampu merawat dan mengembangkan tanaman dengan baik akan mendapatkan penghargaan.
“Langkah awal pertama FMP dalam memberdayakan rumah ibadah ini setiap tahun akan kami lakukan dan setiap tahun hal ini akan kami pantau. Siapa yang bagus itu akan kami berikan reward kepada mereka,” katanya.
Syahril menegaskan, hasil dari pohon alpukat yang ditanam di lingkungan rumah ibadah nantinya akan menjadi manfaat bagi rumah ibadah tersebut.
“Setelah kita tanam, misal di rumah ibadah, hasilnya akan disumbangkan ke rumah ibadah tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, program ini dirancang bukan sekadar memberikan bantuan berupa bibit atau pohon, tetapi juga mendorong rumah ibadah memiliki sumber pemberdayaan ekonomi dalam jangka panjang.
“Kami hanya memberi informasi, memberi gambaran bahwa alpukat ini akan membangkitkan ekonomi di tempat-tempat yang kita akan tanam. Jadi tidak kami ambil,” tegasnya.
Panitia juga menyatakan siap membantu apabila terdapat kendala dalam perawatan, termasuk kebutuhan pupuk. “Kalau ada masalah, kalau ada kekurangan pupuk, kami akan suplai,” ujarnya.
Untuk program tahun ini, jenis alpukat yang dipilih adalah alpukat mickey. Varietas tersebut dinilai sesuai dengan karakter wilayah Kota Bogor dan memiliki nilai ekonomi yang cukup baik.
“Untuk tahun ini di Kota Bogor yang paling sesuai adalah jenis alpukat mickey,” katanya.
Alpukat mickey berasal dari Depok dan telah dikembangkan selama puluhan tahun. Berdasarkan pengalaman panitia, varietas tersebut memiliki rasa buah serta nilai jual yang menjanjikan.
“Sudah kita melihat seluruh Indonesia ini cocok dengan karakter Indonesia dan rasa buahnya juga paling baik. Rasa buah dan harga itu paling bagus di Indonesia,” ungkapnya.
Syahril mencontohkan harga alpukat di tingkat supermarket yang dapat mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram. Sementara di tingkat petani, ia memperkirakan harga berada di kisaran setengahnya.
Dengan produktivitas yang dapat mencapai ratusan kilogram per pohon, tanaman alpukat dinilai memiliki potensi ekonomi bagi rumah ibadah.
“Artinya satu pohon itu bisa menghasilkan mungkin 200 sampai 300 kilogram. Kita hitung Rp30.000 sekilo, jadi bisa sekitar Rp6 jutaan,” jelasnya.
Dari sisi perawatan, pohon alpukat relatif mudah dikembangkan. Syahril mengatakan, pemupukan dapat dilakukan secara berkala, terutama pada lokasi rumah ibadah yang tidak memiliki petugas khusus untuk merawat tanaman setiap hari.
“Cara merawat pohon alpukat setiap bulan ditabur pupuk saja. Tidak usah tiap bulan? Tapi kalau di rumah tangga boleh tiap hari, kalau di tempat ibadah karena tidak ada kami tiap minggu, tiap bulan kami berikan pupuk,” katanya.
Ia menjelaskan, pupuk organik dapat diberikan secara rutin dengan cara ditaburkan di sekitar tanaman tanpa perlu menggali tanah.
“Misalnya ada pupuk organik. Pupuk organik setiap bulan sekali. Jadi ditabur saja, enggak usah digali-gali. Simpel akhirnya,” ujarnya.
Pohon ini mulai berbuah ketika memasuki usia sekitar dua tahun. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki panitia, satu pohon berusia dua tahun dapat menghasilkan puluhan kilogram buah.
“Jadi mulai berbuah umur dua tahun. Kami punya pengalaman dua tahun dihasilkan sampai 50 kilo,” katanya.
Masyarakat yang ingin melihat contoh tanaman alpukat hasil program tersebut dapat mendatangi Masjid Al Kautsar di kawasan Perumahan Cipaku.
Menurut Syahril, lokasi tersebut menjadi salah satu contoh pohon alpukat yang telah berusia dua tahun, sementara contoh lainnya telah berusia enam tahun.
“Silakan lihat. Sudah ada contoh yang dua tahun, sudah ada contoh yang enam tahun,” ungkapnya.
Ia menegaskan, program wakaf pohon alpukat FMP 2026 merupakan bentuk pemberdayaan yang diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi rumah ibadah.
“Ini adalah hibah kami ke rumah ibadah. Daripada rumah ibadah terus mencari sumbangan, kami hibahkan tongkatnya, kami hibahkan pancingnya supaya rumah ibadah itu bisa memberdayakan dengan baik,” pungkasnya.
(hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Serba Serbi9 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Berita1 tahun ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi1 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata
