Connect with us

Parlementaria

Pansus P4GN: Peredaran Miras Oplosan Jadi Ancaman Nyata 

Published

on

Pansus P4GN: Peredaran Miras Oplosan Jadi Ancaman Nyata 
Anggota DPRD Kota Bogor yang juga anggota Pansus P4GN, Rozi Putra. Dok. Istimewa.

KlikBogor – Pesta minuman keras (miras) oplosan yang merenggut empat korban tewas dan satu orang kritis di rumah sakit mendapat perhatian serius dari anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PKS Rozi Putra.

Rozi menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya empat warga Kota Bogor akibat mengkonsumsi miras oplosan.

Menurutnya, peristiwa tragis ini menjadi pengingat serius bahwa peredaran miras ilegal masih menjadi ancaman nyata, khususnya bagi generasi muda.

Sebagai anggota DPRD Kota Bogor sekaligus anggota Panitia Khusus Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), Rozi menegaskan, miras oplosan bukan hanya masalah kesehatan dan keamanan, tetapi juga ancaman bagi masa depan pemuda.

“Generasi muda adalah aset berharga bagi kemajuan Kota Bogor, sehingga kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi mereka dari paparan zat berbahaya,” kata Rozi, Senin, 10 Februari 2025.

Rozi pun menekankan beberapa langkah strategis yang harus segera dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan pihak terkait. Pertama adalah penegakan hukum dan pengawasan ketat peredaran miras oplosan.

“Kami mendesak aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk memperketat pengawasan serta menindak tegas produsen, pengedar, dan penjual miras oplosan. Jika perlu, dilakukan razia berkala di lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi pusat peredaran minuman berbahaya ini, termasuk lingkungan yang kerap dijadikan tempat nongkrong anak muda,” tegasnya.

Kedua, lanjutnya, edukasi dan pencegahan untuk generasi muda. Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa banyak pemuda masih kurang memahami bahaya miras oplosan.

Oleh karena itu, lembaganya mendorong Pemkot Bogor untuk lebih aktif melakukan edukasi dan sosialisasi terkait dampak negatif miras, narkotika, dan zat adiktif lainnya.

“Sosialisasi ini harus menjangkau sekolah, perguruan tinggi, komunitas pemuda, serta tempat-tempat yang menjadi pusat aktivitas anak muda,” imbuhnya.

Rozi juga mengajak seluruh organisasi kepemudaan, termasuk KNPI dan komunitas pemuda lainnya, untuk turut serta dalam gerakan “Pemuda Bogor Sehat dan Bebas Zat Berbahaya”.

“Anak muda harus menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan dan diri sendiri dari pengaruh buruk miras oplosan dan narkotika,” katanya.

Ketiga adalah penguatan regulasi dan implementasi P4GN. Dirinya sebagai anggota Pansus Raperda P4GN menegaskan bahwa kejadian ini semakin menguatkan urgensi regulasi yang lebih ketat dalam upaya pencegahan peredaran zat-zat berbahaya.

Raperda P4GN yang sedang disusun pansus tidak hanya akan berfokus pada narkotika, tetapi juga mencakup penyalahgunaan miras oplosan dan zat adiktif lainnya yang kerap menjangkiti generasi muda.

Rozi menandaskan, keempat yakni sinergi antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat dalam melindungi pemuda. Pihaknya mengajak seluruh masyarakat Kota Bogor untuk lebih proaktif dalam melaporkan indikasi peredaran miras oplosan atau zat berbahaya lainnya.

“Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya para orang tua dan komunitas pemuda, upaya pencegahan akan sulit berjalan optimal,” ucap Rozi.

Ia kembali menekankan bahwa kasus ini harus menjadi pelajaran berharga agar tidak ada lagi pemuda yang kehilangan masa depan atau bahkan nyawa akibat miras oplosan.

DPRD Kota Bogor berkomitmen untuk terus memperjuangkan kebijakan yang melindungi warga, terutama anak muda, dari ancaman miras oplosan dan penyalahgunaan zat berbahaya lainnya.

“Mari bersama-sama kita wujudkan Bogor yang nyaman dan aman untuk semua, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi pemimpin masa depan,” ajaknya.

(red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parlementaria

Pansus Pasar Rakyat Bahas Aturan Sampah hingga Produk Lokal 

Published

on

By

Pansus Pasar Rakyat Bahas Aturan Sampah hingga Produk Lokal 
Pansus Raperda Pasar Rakyat tengah melakukan pembahasan dengan instansi terkait di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Bogor, Rabu, 4 Maret 2026. Dok. Humpropub DPRD Kota Bogor.

KlikBogor – Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kota Bogor mulai membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Pasar Rakyat. Dalam rapat kerja terbaru, Pansus menekankan dua poin penting yakni tata kelola limbah dan perlindungan komoditas dalam negeri.

​Rapat yang digelar di Ruang Rapat Komisi I ini dihadiri oleh sejumlah instansi terkait di antaranya Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

​Ketua Pansus, Banu Lesmana Bagaskara, menegaskan bahwa pasar rakyat ke depan tidak boleh lagi menjadi penyumbang beban sampah terbesar ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dalam Raperda ini, Pansus mewajibkan adanya pemilahan sampah yang ketat sejak dari sumbernya.

​“Kami mewajibkan adanya pemilahan antara sampah organik dan anorganik di area pasar. Sampah organik diharapkan dapat diolah langsung di tempat, misalnya melalui budidaya maggot,” kata Banu, Rabu, 4 Maret 2026.

​Menurutnya, target akhir dari regulasi ini adalah memastikan hanya sampah anorganik yang telah terpilah yang dikirim ke TPA. Hal ini juga diharapkan dapat mengurangi tumpukan sampah pasar yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di Kota Bogor.

​Selain isu lingkungan, raperda ini menjadi payung hukum untuk melindungi pedagang dan produsen domestik. Merujuk Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), Pansus memasukkan poin mengenai kuota produk lokal di pasar rakyat.

​Banu menjelaskan bahwa pengelola pasar rakyat wajib memprioritaskan penjualan produk dalam negeri. Berdasarkan regulasi yang tengah disusun, komposisi barang di pasar harus menjaga proporsi minimal 80 persen produk lokal.

​“Produk impor diperbolehkan masuk hanya jika produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan,” imbuh Banu.

Sejauh ini, terang dia, komoditas impor dalam jumlah besar di Kota Bogor mayoritas ditemukan di Pasar Teknik Umum (Tekum), seperti kedelai dan bawang putih yang produksinya memang masih bergantung pada pasokan luar.

​Usai mendalami aspek pengelolaan dan komoditas, Pansus beralih ke pembahasan teknis mengenai dampak keberadaan pasar terhadap ketertiban umum.

Adapun beberapa poin yang akan digarisbawahi pada rapat berikutnya meliputi akses parkir dan loading dock. Penataan area bongkar muat barang agar tidak memakan badan jalan.

​Kemudian, manajemen transportasi meliputi pengaturan rute angkutan kota (angkot) dan area drop-off pengunjung. Rekayasa lalu lintas untuk memastikan lokasi pasar tidak menjadi titik kemacetan baru di sekitarnya.

​Sebagai informasi, rapat ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua Pansus H. Dody Hikmawan, serta anggota Pepen Firdaus, H. Azis Muslim, Rozi Putra, Iwan Setiawan, Abdul Rosyid, Zakiyatul Fikriyah Al-Aslamiyah, Devie Prihartini, dan Lusiana Nurissiyadah.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Parlementaria

Pansus Dorong Sanksi dalam Raperda RTH di Kota Bogor

Published

on

By

Pansus Dorong Sanksi dalam Raperda RTH di Kota Bogor
Pansus RTH DPRD Kota Bogor saat menggelar rapat bersama tenaga ahli. Dok. Humpropub DPRD Kota Bogor.

KlikBogor – Panitia Khusus (Pansus) Ruang Terbuka Hijau (RTH) DPRD Kota Bogor mendorong penguatan sanksi dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan RTH.

Dorongan itu muncul dalam rapat pembahasan pasal demi pasal bersama Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) yang digelar pada Selasa, 24 Febuari 2026 di Ruang Rapat Komisi III Gedung DPRD Kota Bogor.

Ketua Pansus RTH, Devie P. Sultani (DPS), menegaskan pentingnya kejelasan data persentase RTH dari luas wilayah Kota Bogor, baik RTH publik maupun privat, sebagai dasar implementasi perda ke depan.

“Berapa persentasenya dari keseluruhan Kota Bogor ini? Berapa sih persentase yang sudah terpenuhi, berapa yang belum? Dari ruang privat dan juga ruang publik,” ujarnya dikutip Kamis, 26 Febuari 2026.

Namun, diungkapkannya, hingga rapat berlangsung, Disperumkim belum dapat menyajikan data RTH secara detail dan rinci.

Untuk itu, Pansus menggelar rapat internal bersama tenaga ahli untuk merumuskan sejumlah penguatan norma, termasuk opsi sanksi bagi pelanggar ketentuan RTH.

“Karena dinas kemarin belum bisa memberikan data-data itu, maka kemarin kita rapat internal dengan tenaga ahli kita. Salah satunya adalah sanksi. Sanksi apa yang bisa diberikan kepada yang melanggar?,” katanya.

Politisi Partai NasDem ini mencontohkan kewajiban proporsi RTH misalnya 10 persen dan mempertanyakan konsekuensi jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi. Menurutnya, perda perlu memuat mekanisme sanksi yang konkret dan berdampak.

“Ada salah satu contoh di Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) itu ada sanksi denda yang diberikan yang harus diberikan kepada Pemerintah DKI, tapi tidak bisa masuk ke kas daerah. Contohnya pembangunan jembatan Semanggi, itu tidak menggunakan APBD, tapi dari hasil itu. Contoh lain bisa untuk beli aset,” ujarnya.

Ia menambahkan, gagasan tersebut sedang digodok untuk melihat kemungkinan dimasukkan dalam perubahan perda agar regulasi ini memiliki “greget” dan tidak berhenti pada teguran administratif.

“Jangan cuma imbauan kemudian tidak ada sanksi apa pun. Rata-rata perda kita begitu,” kata DPS.

Ia menekankan, penguatan sanksi juga menjadi strategi agar pemerintah daerah tidak semata mengandalkan APBD dalam pengadaan aset dan pembangunan. “Bagaimana kita kreatif, inovatif dari perda ini,” katanya.

Menanggapi pertanyaan terkait ketersediaan data RTH, Devie memastikan pihaknya akan memberi waktu kepada dinas terkait untuk melengkapinya.

“Makanya kita kasih waktu mereka. Kita harus minta data itu, karena dari data itu kita bisa menjalankan perda ini nantinya,” jelasnya.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Parlementaria

Pansus Godok Aturan Kesehatan Kota Bogor, Tekankan Hak Warga dan Mutu Pelayanan

Published

on

By

Pansus Godok Aturan Kesehatan Kota Bogor, Tekankan Hak Warga dan Mutu Pelayanan
Ketua Pansus DPRD Kota Bogor Raperda Penyelenggaraan Kesehatan, Juhana. Dok. Humpropub DPRD Kota Bogor.

KlikBogor – Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kota Bogor  pembahas Raperda tentang Penyelenggaraan Kesehatan telah menggelar rapat kerja bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) dan BPJS Kesehatan Kota Bogor.

Raperda ini disusun sebagai tindak lanjut penyesuaian atas Perda Kota Bogor 11/2018 tentang Penyelenggaraan Kesehatan dan merujuk pada Undang Undang 17/2023 tentang Kesehatan serta Peraturan Pemerintah 28/2024.

Ketua Pansus, Juhana mengatakan, dalam draf yang tengah dibahas ditegaskan tentang penguatan tata kelola, termasuk pengawasan mutu layanan dan penanganan pengaduan masyarakat.

Selain itu, raperda ini juga memuat pengaturan di antaranya terkait hak setiap orang untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminatif, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit, memperoleh informasi dan edukasi kesehatan yang benar, serta mendapatkan perlindungan atas data dan informasi kesehatan pribadinya.

Ia menambahkan, rapat juga membahas ihwal penguatan sistem rujukan, standarisasi mutu fasilitas kesehatan, serta peran serta masyarakat dan sektor swasta dalam mendukung ekosistem kesehatan daerah.

Menurutnya, penyelenggaraan kesehatan harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu menjawab tantangan demografi dan dinamika penyakit yang terus berkembang.

“Tujuan akhir dari raperda ini adalah memastikan hak warga untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya benar-benar terlindungi secara regulatif dan operasional. Regulasi harus jelas, implementatif, dan dapat diawasi,” tegasnya.

Juhana mengatakan bahwa regulasi ini tidak hanya mengatur pelayanan kuratif atau pengobatan semata, tetapi mencakup pendekatan promotif dan preventif.

Ia menekankan, paradigma kesehatan daerah harus bergeser dari pola reaktif menjadi sistem yang mampu mendorong pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup warga sejak dini.

“Raperda ini kami arahkan agar penyelenggaraan kesehatan di Kota Bogor tidak sekadar menunggu orang sakit. Negara harus hadir sejak tahap edukasi, pencegahan, hingga rehabilitasi secara terintegrasi,” ujar Juhana.

Tim Pansus menargetkan pembahasan Raperda Penyelenggaraan Kesehatan ini dapat menghasilkan landasan hukum yang kuat, progresif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga sistem kesehatan daerah mampu berjalan lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan.

(ckl/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer