Serba Serbi
Ibu-Ibu Lansia di Kebon Pedes Sulap Lahan Tidur jadi Kebun Lewat KWT Bersahaja
KlikBogor – Kelompok Wanita Tani (KWT) Bersahaja di RT 04 RW 07, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif.
Diinisiasi ibu-ibu lansia, kelompok tersebut mengembangkan pembibitan, penanaman tanaman pangan, hingga pengolahan sampah menjadi pupuk sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga lingkungan.
”Hari ini kami sengaja mengenalkan potensi wilayah, salah satunya KWT Bersahaja di RT 04 RW 07. Ini diinisiasi oleh ibu-ibu lansia yang luar biasa dan konsisten menjadi penggiat lingkungan. Mereka mengelola pengolahan sampah menjadi pupuk hingga memanfaatkan lahan tidur milik warga untuk pembibitan dan penanaman yang sudah berjalan selama dua tahun,” ungkap Lurah Kebon Pedes, Lulut Wiyono kepada awak media, Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Dibuka September, EIGER Nature Siapkan Petualangan yang Bermakna
Lulut menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan untuk KWT menggunakan skema kolaborasi yang erat. Melalui kesepakatan pinjam-pakai tanpa biaya selama kurang lebih dua tahun, sebanyak 11 titik lahan warga dipadukan dengan Fasilitas Umum (Fasum) untuk dikelola ibu-ibu KWT.
Selain memperasri lingkungan dan mengisi waktu luang, hasil panennya turut menambah nilai ekonomi keluarga serta mempersiapkan wilayah menghadapi ajang lomba Bogor Bersih.
Keberadaan KWT Bersahaja melengkapi jaringan KWT di Kebon Pedes yang kini berjumlah tiga kelompok, bersama KWT Mekar Sari dan KWT Wijaya Kusuma. KWT Wijaya Kusuma sendiri dikenal sebagai KWT percontohan terbaik yang pernah ditinjau langsung oleh Presiden dan Menteri.
Keberhasilan KWT percontohan tersebut kini direplikasi ke wilayah sekitar guna mendukung program Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan Peatland/Crop Resilience (PCR).
Baca juga: Hari Ketujuh, Pencarian ASN Kota Bogor di Sungai Cisadane Dihentikan
Selain pemanfaatan lahan pertanian kota, sistem pengelolaan sampah terpadu di Kebon Pedes juga diperkuat dengan keberadaan Bank Sampah dan unit pengolahan sampah mandiri.
Edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga dimasifkan melalui sosialisasi rutin setiap Sabtu, pengajian malam Sabtu, hingga pertemuan RW pada hari Minggu.
Upaya tersebut dilakukan untuk menyongsong rencana strategis pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Kota Bogor Optimis Raih 100 Medali Emas pada Porprov Jabar
KlikBogor – Sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat Tahun 2026, Kota Bogor optimistis bisa meraih 100 medali emas dalam ajang yang akan digelar pada November mendatang itu.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim didampingi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor, Dedy Sumarna mengatakan bahwa atlet, para pelatih, maupun official siap menghadapi Porprov.
“Tentu kita optimistis, 100 emas kita bisa raih. Artinya, sejauh ini persiapan sudah matang. Saya memberikan apresiasi kepada Ketua KONI, Dispora, para ketua cabor, para pelatih, para atlet,” ujar Dedie Rachim, Rabu, 7 Oktober 2026.
Baca juga: IMSO ke-23 Resmi Ditutup, Tim Indonesia Raih 61 Medali
Baca juga: Kota Bogor Menuju Porprov Jabar, 5 Ribu Lebih Atlet Siap Bertanding
Menjelang pembukaan Porprov, Dedie Rachim meminta dan berpesan agar para atlet menjaga stamina serta semangat untuk mengikuti Porprov.
“Mudah-mudahan semangatnya masih sama, karena kita memang sudah menargetkan di dalam Porprov yang ke-15 ini kita raih 100 emas,” ucap Dedie Rachim.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Batuk dan Pilek “Membandel”, Dokter IPB Jelaskan Penyebabnya
KlikBogor – Keluhan batuk, pilek, dan demam yang bertahan lebih lama dari biasanya banyak dirasakan masyarakat belakangan ini. Banyak yang menganggap flu yang menyerang kali ini lebih “membandel” dan membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu untuk benar-benar pulih.
dr Wahyu Rachwaldy, dokter Klinik IPB University, menyampaikan bahwa kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fenomena medis yang dapat dijelaskan berdasarkan dinamika virus, kondisi lingkungan, dan respons imun tubuh.
“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),” jelas dr Wahyu dalam keterangannya dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, fenomena flu yang bertahan lebih lama dari biasanya ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah sirkulasi bersamaan (co–circulation) berbagai jenis virus respiratorik di masyarakat, mulai dari influenza A/B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2.
Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt, yakni ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun.
Baca juga: Panen Raya di Katulampa, Pemkot Dukung Swasembada Pangan
Kenali Batas Normal
Menurut dr Wahyu, infeksi virus saluran pernapasan atas tanpa komplikasi umumnya memiliki pola perjalanan penyakit yang terukur. Pada masa akut, yakni hari pertama hingga ketiga, gejala mencapai puncaknya berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas.
Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam mulai mereda dan energi tubuh berangsur pulih, meski batuk dan sekresi hidung masih dapat bertahan.
“Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua minggu,” tambahnya.
Kendati demikian, lanjut dr Wahyu, flu atau ISPA bisa tergolong membandel atau tidak normal apabila gejala utama seperti demam, sesak, atau batuk berdahak kental berlangsung lebih dari 10 hingga 14 hari tanpa adanya perbaikan.
“Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak nafas,” paparnya.
Adapun gejala lokal yang spesifik seperti nyeri hebat di area wajah atau dahi yang mengindikasikan sinusitis, serta nyeri telinga tajam hingga penurunan pendengaran, menjadi pertanda infeksi yang perlu perhatian khusus.
Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama tidak selalu disebabkan infeksi virus aktif. Kerusakan mukosa dapat memudahkan bakteri berkembang dan memicu infeksi sekunder seperti sinusitis bakterialis akut, bronkitis, atau pneumonia.
Peradangan persisten juga dapat menyebabkan batuk pascainfeksi. Kondisi tersebut membuat saluran napas menjadi sangat sensitif terhadap udara dingin, asap, maupun debu hingga memicu batuk kering selama tiga hingga delapan minggu.
“Faktor lain yang memperlambat pemulihan meliputi infeksi berulang akibat terinfeksi jenis virus berbeda tepat saat akan sembuh, serta tercetusnya reaksi alergi atau asma yang sebelumnya tersembunyi,” sebutnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Hibahkan 160 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Kota Bogor
Lingkungan Turut Berpengaruh
Lebih lanjut, dr Wahyu menjelaskan bahwa perubahan cuaca ekstrem dan polusi udara dapat memperberat gejala serta memperlama penyembuhan.
Paparan PM2.5, NO₂, dan SO₂ dapat merusak silia serta membran epitel, sehingga mengganggu mekanisme alami tubuh dalam mengeluarkan dahak dan patogen.
“Polusi yang terus-menerus juga memicu peradangan kronis yang memperparah pembengkakan mukosa hidung dan tenggorokan. Ditambah lagi, kondisi udara dingin dan kering juga dapat menurunkan produksi mukus pelindung serta memperlambat respons imun lokal di area hidung,” tutur dr Wahyu menjelaskan.
Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat segera berkonsultasi ke tenaga medis jika flu tak kunjung membaik. Pertolongan medis sangat diperlukan apabila pasien mengalami sesak napas, napas terasa berat dan berbunyi, timbul nyeri dada hebat atau rasa tertekan saat bernapas, serta demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari tiga hingga lima hari berturut-turut.
Tanda bahaya lainnya meliputi dahak berwarna hijau pekat, cokelat, atau bercampur darah, hingga terjadinya penurunan kesadaran, pusing berat, dan dehidrasi.
(rls/hrs)
Serba Serbi
Mengapa Protein Hewani Penting bagi Tumbuh Kembang Anak?
KlikBogor – Dalam diskusi publik, sering dikatakan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kualitas pendidikan, inovasi teknologi, dan perekonomian. Namun, banyak yang melupakan bahwa fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) adalah kecukupan dan kualitas asupan gizi dari produk ternak seperti susu, daging, dan telur.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menyampaikan bahwa protein hewani penting untuk perkembangan otak dan tubuh, yang memengaruhi daya saing global SDM.
“Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” ujar Prof Ronny dalam keterangannya dikutip Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, saat ini banyak orang merasa kenyang karena konsumsi nasi yang berlimpah, sementara asupan protein hewani masih minim dan dianggap tidak memadai.
Dari sudut pandang kecukupan gizi, ia menerangkan, tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino, 9 di antaranya tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan dan minuman.
“Dari segi kualitas gizi, tahu dan tempe merupakan sumber protein, tetapi tidak selengkap protein hewani dari susu, daging, dan telur. Produk ternak disebut sumber protein lengkap karena menyediakan semua asam amino esensial dalam satu hidangan,” jelas Prof Ronny.
Baca juga: 404 Siswa dari 23 Negara Ikuti Kompetisi Matematika-Sains di Indonesia
Manfaat Protein Hewani dari Telur, Daging, dan Susu
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebutir telur mengandung 6 gram protein lengkap serta hampir semua vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Telur mengandung protein yang paling mudah diserap, dengan nilai biological value 100.
Selain itu, telur mengandung kolin bahan baku neurotransmitter yang mempertajam memori dan fokus. Lutein dan DHA dalam telur penting untuk perkembangan otak dan retina.
Adapun daging, zat besi yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah diserap oleh tubuh dengan persentase sebesar 25 persen, sedangkan zat besi dari bayam yang diserap oleh tubuh hanya mencapai 5 persen.
“Kekurangan zat besi akan menyebabkan anemia dan otot juga akan kekurangan oksigen. Data empiris menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja putri di Indonesia mengalami anemia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas belajar,” jelas Prof Ronny.
Zink juga berperan dalam menentukan kualitas pertumbuhan sekaligus mencegah kejang pada anak-anak kita. Vitamin B12 yang terkandung dalam daging dan produk hewani lainnya sangat esensial untuk perkembangan otak.
Sementara itu, susu penting untuk tulang dan tinggi anak karena kandungan kalsium, fosfor, dan protein yang merangsang pertumbuhan tulang serta produksi IGF-1.
Dari sisi konsumsi susu, Prof Ronny menyebut, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter per tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter per tahun per kapita.
“Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” imbuhnya.
Baca juga: Makanan Sisa Disimpan di Kulkas, Berapa Lama Masih Aman Dikonsumsi?
Dampak Kekurangan Protein Hewani
Prof Ronny mengatakan, pengabaian konsumsi protein hewani akan menimbulkan dampak yang sangat fatal baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Saat ini, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2023, 1 dari 5 anak Indonesia masuk dalam kategori pendek dengan perkembangan otak terhambat akibat stunting. Angka stunting anak Indonesia yang mencapai 21,5 persen merupakan cerminan nyata pengabaian konsumsi protein hewani.
“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80 persen. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelas Prof Ronny.
“Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2020 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,” simpulnya.
Ia menegaskan, produk protein hewani seperti susu, daging, dan telur bukan sekadar makanan yang memenuhi selera dan mengenyangkan, tetapi juga merupakan investasi bagi SDM yang berkualitas.
“Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,” tutupnya.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Serba Serbi11 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Berita1 tahun ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi1 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata

Pingback: PT KAI dan Pemkot Bogor Bakal Tata Bersama Kawasan Stasiun