Connect with us

Potret

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Published

on

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah
Camat Tanah Sareal, Rokib (tengah). Foto/Istimewa

KlikBogor – Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memiliki 11 kelurahan dengan latar belakang sejarah dan kultur masyarakat yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari sejarah pembentukan wilayah yang sebelumnya berasal dari beberapa kecamatan dan wilayah administratif.

Camat Tanah Sareal, Rokib mengatakan, 11 kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.

Dari 11 kelurahan tersebut, enam kelurahan sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor. Keenam kelurahan itu yakni Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai.

“Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai itu berasal dari Kecamatan Semplak. Kemudian Kecamatan Semplak berubah menjadi Kecamatan Kemang,” kata Rokib dikutip Rabu, 30 September 2026.

Sementara itu, tiga kelurahan lainnya, yakni Kedung Jaya, Kedung Waringin, dan Kedung Badak, sebelumnya berasal dari Kecamatan Kedung Halang.

Rokib menjelaskan, nama ketiga kelurahan tersebut memiliki keterkaitan dengan istilah “kedung”. Dalam pemahaman masyarakat, kedung merujuk pada muara air yang cukup besar. Namun, seiring perubahan kondisi geografis dan perkembangan wilayah, keberadaan kedung tersebut sebagian tidak lagi terlihat.

“Seiring dengan perubahan kondisi geografis, perubahan keadaan dan lain sebagainya, sehingga tinggal namanya saja,” ujarnya.

Baca juga: Margonda dan Jejak Sejarah di Bogor: Pernah Tinggal di Gang Slot

Setelah perubahan batas wilayah tersebut Kecamatan Kedung Halang berubah menjadi Kecamatan Sukaraja, sementara tiga kelurahan tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Tanah Sareal.

Ia menambahkan, Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki sejarah yang berbeda. Kedua kelurahan tersebut sebelumnya berkaitan dengan kantor perwakilan camat (Kapermat) Tanah Sareal yang berada di wilayah Kebon Pedes atau Pondok Rumput.

“Kelurahan Tanah Sareal dengan Kebon Pedes ini memang berasal dari Kapermat, yang dulu kantornya di Kebon Pedes atau di Pondok Rumput. Itu berasal dari Kapermat yang induknya adalah Bogor Utara,” katanya.

Pada masa tersebut, wilayah kerja Kapermat Tanah Sareal juga mencakup Kelurahan Sempur. Namun, setelah terjadi perubahan wilayah administrasi, Sempur kemudian masuk ke Kecamatan Bogor Tengah.

Rokib mengatakan, perubahan wilayah tersebut turut memengaruhi kultur masyarakat di masing-masing kelurahan. Ia menyebut, enam kelurahan yang berasal dari Kecamatan Semplak cenderung memiliki penggunaan bahasa lebih kental dengan nuansa Betawi.

Sementara itu, tiga kelurahan yang berasal dari Kecamatan Kedung Halang lebih kuat dengan kultur Sunda. Menurut Rokib, bahasa Sunda yang digunakan di wilayah tersebut memiliki kekhasan tersendiri dan cenderung Sunda Bogor maupun Banten.

Baca juga: Tanah Sareal Diproyeksikan jadi Pusat Pertumbuhan Kota Bogor

Adapun Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki karakter masyarakat yang berbeda karena sejarah perkembangannya sebagai bagian dari wilayah perkotaan.

“Jadi itu historinya 11 kelurahan dan kulturnya berbeda-beda,” ujar Rokib.

Selain perbedaan kultur, kondisi kependudukan dan luas wilayah di Kecamatan Tanah Sareal juga beragam. Rokib menyebut luas Kecamatan Tanah Sareal mencapai sekitar 20,60 kilometer persegi atau 2.060 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 239 ribu jiwa.

Perkembangan wilayah tersebut terus berlangsung seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur. Kecamatan Tanah Sareal dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan di Kota Bogor.

Rokib mengatakan, pembangunan akses jalan tol layang di wilayah Jalan Sholeh Iskandar turut membuka akses dan mendorong perkembangan kawasan. Pertumbuhan tersebut juga ditandai dengan perubahan lahan yang sebelumnya belum terbangun menjadi kawasan permukiman.

“Tanah Sareal ini menjadi pusat pertumbuhan, baik pertumbuhan penduduk maupun perkembangan infrastruktur,” katanya.

Menurutnya, pembangunan berbagai kompleks perumahan dan permukiman baru membuat arus urbanisasi ke wilayah Kecamatan Tanah Sareal cukup tinggi. Meski demikian, pertumbuhan tersebut juga diikuti berbagai persoalan perkotaan yang masih menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat.

“Tetapi masalah-masalah klasik yang kita hadapi masih tetap ada,” kata Rokib.

(hrs/ckl)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret

Pelajar SMPN 11 Kota Bogor Ciptakan Perahu Pengangkut Sampah 

Published

on

By

Pelajar SMPN 11 Kota Bogor Ciptakan Perahu Pengangkut Sampah 
M. Fairus Muttaqin, siswa kelas 8 SMPN 11 Kota Bogor saat menunjukkan cara kerja Ciliwung Care-Taker di festival Bogor Innovation Award (BIA) 2026, Selasa, 8 September 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Kepedulian terhadap kondisi Sungai Ciliwung mendorong pelajar SMPN 11 Kota Bogor menciptakan inovasi berupa perahu pengangkut sampah bernama Ciliwung Care-Taker.

Alat tersebut dirancang untuk membantu membersihkan sampah yang mengapung di permukaan air dengan memanfaatkan barang bekas dan teknologi kendali jarak jauh.

Salah seorang anggota tim, M. Fairus Muttaqin, siswa kelas 8 SMPN 11 mengatakan, ide pembuatan alat tersebut berawal dari keprihatinan para siswa terhadap banyaknya sampah di Sungai Ciliwung yang berada di sekitar sekolah.

“Awalnya kami melihat bahwa sampah Ciliwung di dekat sekolah sangat banyak. Dia (sampah) mencemarkan lingkungan dan kualitas air,” kata Fairus di festival Bogor Innovation Award (BIA), Gedung Startup Center Science and Techno Park (STP) IPB University Taman Kencana, Selasa, 8 September 2026.

Berangkat dari kondisi tersebut, para siswa berupaya menciptakan solusi melalui sebuah alat yang dapat membantu mengurangi sampah di permukaan air.

Kesempatan mengikuti Bogor Innovation Award (BIA) 2026 kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan dan memasukkan proyek tersebut dalam kompetisi inovasi.

“Karena itu kami menciptakan solusi. Kebetulan sekali ada lomba BIA, jadi kami coba untuk memasukkan proyek kami ke dalam lomba tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Pembelajaran Tatap Muka di Kota Bogor Kembali Digelar

Proyek Ciliwung Care-Taker dikerjakan oleh lima pelajar SMPN 11 yang berasal dari kelas 8 dan 9. Perahu tersebut dirancang menggunakan model katamaran atau dua lambung ganda. Model ini dipilih untuk meningkatkan kestabilan perahu sekaligus memperbesar kapasitasnya ketika beroperasi di perairan.

“Kenapa kami menggunakan katamaran atau dua lambung ganda? Karena kami ingin memaksimalkan kapasitas dan juga agar perahu stabil saat menerima arus sungai yang kencang, ombak dari laut, dan juga mungkin ketika benturan dengan bebatuan,” jelas Fairus.

Secara fungsi, Ciliwung Care-Taker digunakan untuk mengambil sampah yang mengapung di permukaan air. Selain sungai, alat tersebut dapat digunakan di danau hingga wilayah pinggiran laut.

Pengoperasiannya dilakukan menggunakan telepon seluler. Gerakan yang diberikan melalui ponsel dikirimkan sebagai sinyal menuju perangkat melalui koneksi Bluetooth. Sinyal tersebut kemudian digunakan untuk mengendalikan pergerakan perahu.

Dalam sistem elektroniknya, para siswa menggunakan ESP32 beserta expansion board dan perangkat pengatur gerakan motor. Penggerak perahu memanfaatkan extra fan AC mobil yang dimodifikasi agar dapat digunakan sebagai sistem penggerak.

Menariknya, bahan pelampung perahu memanfaatkan jeriken bekas berkapasitas lima liter yang diperoleh dari lingkungan sekolah. Para siswa juga berupaya menggunakan barang bekas dan bahan yang dapat didaur ulang dalam pembuatan bodi perahu.

“Kami membuat seluruh rangkaian atau bodi perahu menggunakan barang bekas atau bahan daur ulang,” tutur Fairus.

Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming

Pembuatan Ciliwung Care-Taker dilakukan secara bertahap melalui empat prototipe. Prototipe pertama dibuat selama sekitar dua minggu, prototipe kedua selama tiga minggu, prototipe ketiga selama satu bulan, sedangkan prototipe keempat yang saat ini digunakan dikembangkan selama sekitar tiga minggu.

Pada prototipe keempat, ukuran perahu diperbesar dengan kapasitas yang lebih besar. Desain tersebut disesuaikan agar kemampuan pengambilan sampah semakin optimal. Perahu diperkirakan mampu mengambil sampah hingga 30 kilogram, sedangkan kapasitas beban yang dapat ditampung di atas perahu mencapai sekitar 50 kilogram.

Untuk saat ini, alat tersebut dapat mengambil berbagai jenis sampah yang mengapung. Namun, sampah berupa benda tajam belum dapat diambil karena masih menggunakan jaring plastik.

“Untuk ke depannya, insyaallah kami akan menggunakan jaring kawat sehingga bisa mengambil benda tajam dan sampah lainnya,” kata Fairus.

Inovasi tersebut juga telah diuji dan diaplikasikan secara langsung di Sungai Ciliwung yang berada di sekitar SMPN 11, kawasan Sempur, Kota Bogor. Inovasi teknologi yang dikembangkan tersebut dengan biaya pembuatan sekitar Rp900.000.

Tidak berhenti pada prototipe yang ada saat ini, tim Ciliwung Care-Taker juga menyiapkan sejumlah pengembangan. Salah satunya adalah penggunaan sensor untuk mendeteksi ukuran sampah, mengukur jarak antara perahu dan sampah, serta mendeteksi apakah suatu benda merupakan sampah tajam yang aman atau tidak untuk diambil.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Potret

Perjuangan Ngatino, Pegawai Toko Material yang Antarkan Anak jadi Lulusan Terbaik IPB University

Published

on

By

Perjuangan Ngatino, Pegawai Toko Material yang Antarkan Anak jadi Lulusan Terbaik IPB University
Ngatino, seorang pegawai toko bahan bangunan, berhasil mengantarkan putrinya Rizka Aulia Apriliani, meraih prestasi membanggakan sebagai salah satu lulusan terbaik IPB University. Dok. IPB University

KlikBogor – Keterbatasan pendidikan tak pernah mengecilkan ukuran mimpi seorang ayah. Ngatino, seorang pegawai toko bahan bangunan, membuktikannya ketika mengantarkan putrinya Rizka Aulia Apriliani, meraih prestasi membanggakan sebagai salah satu lulusan terbaik IPB University.

Meskipun hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD), Ngatino selalu menanamkan kepada anak-anaknya agar selalu giat belajar, rajin, dan bersungguh-sungguh dalam bidang yang diminati.

“Dan memang dari dulu anak kami, Rizka semangat belajarnya tinggi,” ucap Ngatino dikutip Rabu, 26 Agustus 2026.

Rizka Aulia diwisuda pada Rabu, 19 Agustus 2026 di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga. Ia menjadi lulusan terbaik Fakultas Pertanian berkat capaian indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,85.

“Sebagai orang tua, sangat bangga anak kami telah berhasil dan mendapatkan nilai yang bagus. Bersyukur juga sama Allah SWT, doa-doa kami sebagai orang tua dikabulkan. Semoga untuk ke depannya anak kami selalu sukses di bidang yang diminatinya,” tambahnya.

Baca juga: Kisah Wisudawan IPB University Peraih IPK 3,95, dari Kampus ke BUMN

Rizka merupakan lulusan Program Studi Agronomi dan Hortikultura (AGH), Fakultas Pertanian. Sejak lulus dari SMAN 2 Bekasi, ia diterima di IPB University melalui jalur SBMPTN (kini Seleksi Nasional Berdasarkan Tes/SNBT).

“Selama belajar di AGH, saya justru menemukan bahwa perjalanan sebuah tanaman jauh lebih kompleks dan menarik dari yang saya bayangkan. AGH mengajarkan saya bahwa pertumbuhan tidak pernah terjadi dalam satu malam,” ujar Rizka.

Menurutnya, seperti halnya tanaman, setiap pencapaian membutuhkan awal yang baik, lingkungan yang mendukung, ketekunan dalam merawat, serta proses panjang hingga akhirnya menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Baca juga: Keseruan Main Layangan di Langit Katulampa, Putus Terbang Lagi

Rizka bersyukur kedua orang tuanya memberikan kepercayaan dan dukungan penuh terhadap dirinya selama menempuh studi di IPB University.

Ia juga merasa sangat terbantu dengan adanya beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sehingga bisa menyelesaikan studi tanpa banyak membebani orang tua.

“Meski kedua orang tua hanya lulus SD, saya sangat bangga karena mereka selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya dan ingin kami merasakan kehidupan yang lebih baik.

Pesan mereka yang selalu saya ingat, ‘Jangan lupa salat, berdoa, dan bersyukur.’ Pesan sederhana yang akan selalu menjadi pegangan dalam setiap langkah saya,” ungkap Rizka.

(rls/hrs)

Continue Reading

Potret

Paskibraka Kota Bogor Tampil Memukau saat Penaikan Bendera di HUT ke-81 RI

Published

on

By

Paskibraka Kota Bogor Tampil Memukau saat Penaikan Bendera di HUT ke-81 RI
Syafa Putri Gisalna saat membawa baki dalam Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kota Bogor di Lapangan Sempur, Senin, 17 Agustus 2026 pagi. Dok. Diskominfo Kota Bogor

KlikBogor – Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Bogor tampil memukau saat penaikan bendera dalam Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kota Bogor di Lapangan Sempur, Senin, 17 Agustus 2026.

Sang Merah Putih naik dan berkibar di atas tiang dengan sempurna. Barisan formasi juga terlihat rapi saat berjalan dan memasuki lapangan upacara.

Baca juga: Upacara HUT ke-81 RI, Dedie Rachim Ajak Jaga Persatuan dan Kebersamaan

Para petugas pengibar tersebut adalah Muhammad Syariel Putra Dwi Candra, siswa SMA Negeri 7 sebagai pembentang bendera; Gusti Arya Kamandanu, siswa SMA Rimba Madya sebagai orang tengah; dan Arya Adzkia Rahman, siswa SMA Negeri 1 sebagai pengerek bendera.

Sedangkan pembawa baki adalah Syafa Putri Gisalna, siswa SMK Tri Dharma 2 Bogor serta Komandan Barisan Muhammad Rifki Aditya, siswa SMA Negeri 5 Bogor.

Ketua Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Bogor, Dava Fauzan Maulana mengaku bangga dengan penampilan para pasukan. Latihan yang dilakukan beberapa bulan ke belakang membuahkan hasil yang maksimal.

“Alhamdulillah, semua proses latihan, capek, panas, dan perjuangan selama ini akhirnya terbayar dengan penampilan yang maksimal saat penaikan Bendera Duplikat Pusaka HUT RI ke-81 tingkat Kota Bogor,” ucapnya.

Baca juga: Cerita Para Pelajar Kota Bogor: Bangga Jadi Paskibraka

Meski begitu, Dava mengaku masih ada hal-hal yang perlu dievaluasi. Namun yang terpenting, para pasukan sudah berupaya dan berusaha memberikan yang terbaik dengan penuh tanggung jawab.

“Sebagai Duta Pancasila Paskibraka Indonesia, jangan berhenti sampai di sini. Tetap jaga disiplin, kekompakan, dan sikap sebagai teladan buat teman-teman lainnya,” pesannya.

Sebagai informasi tambahan, pasukan pengibar juga diisi oleh para prajurit dari Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Atang Sendjaja (ATS).

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer