Connect with us

Potret

Konsisten Juara, Siswa SMAN 3 Bogor Dapat Beasiswa Universitas Trisakti

Published

on

Konsisten Juara, Siswa SMAN 3 Bogor Dapat Beasiswa Universitas Trisakti
Adli Firlian Ilmi, siswa SMA Negeri 3 Bogor, berhasil meraih juara 3 tingkat provinsi Jawa Barat dalam Trisakti Economic and Accounting Competition selama dua tahun berturut-turut, pada 2025 dan 2026. Foto/Istimewa

KlikBogor – Konsistensi dalam meraih prestasi akademik menjadi salah satu indikator penting dari kesungguhan seorang pelajar dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya.

Hal tersebut ditunjukkan oleh Adli Firlian Ilmi, siswa SMA Negeri 3 Bogor, yang berhasil meraih juara 3 tingkat provinsi Jawa Barat dalam Trisakti Economic and Accounting Competition selama dua tahun berturut-turut, masing-masing pada 2025 dan 2026.

Pencapaian tersebut menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan akademik Adli. Pada 2025, ketika masih duduk di kelas XI, ia mengikuti kompetisi tersebut dan berhasil meraih juara 3 tingkat provinsi untuk cabang ekonomi.

Setahun kemudian, Adli kembali berkompetisi, kali ini pada cabang akuntansi, dan kembali menempati posisi yang sama. Keberhasilannya mempertahankan prestasi dalam dua tahun berturut-turut menunjukkan konsistensi, ketekunan, serta kemampuannya dalam menghadapi tantangan akademik yang menuntut ketelitian dan penalaran analitis.

Bagi Adli, pencapaian ini bukan semata-mata tentang mempertahankan posisi di podium. Kompetisi menjadi ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, dan mengukur perkembangan diri di tengah persaingan dengan pelajar dari berbagai daerah.

Baca juga: Warga Babakan Pasar Ikuti Pemeriksaan Kanker Gratis 

Pengalaman tersebut sekaligus mempertegas pentingnya persiapan yang matang, disiplin belajar, dan kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi.

Prestasi ini juga menjadi bagian dari kontribusi dan karakter pelajar SMA Negeri 3 Bogor dalam kompetisi akademik di berbagai tingkat. Lingkungan pendidikan yang mendorong pengembangan potensi, kedisiplinan, dan semangat berkompetisi merupakan faktor penting dalam membantu siswa-siswi mengoptimalkan kemampuan mereka.

Meski demikian, keberhasilan setiap siswa tetap membutuhkan usaha, komitmen, dan proses belajar yang berkelanjutan.

Apresiasi terhadap pencapaian tersebut turut disampaikan oleh Aulia Danibrata, Dekan dari Trisakti School of Management (TSM). Pihak Universitas Trisakti memberikan penghargaan atas konsistensi prestasi yang ditunjukkan oleh Adli serta kontribusi SMA Negeri 3 Bogor dalam ajang kompetisi akademik tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi SMAN 3 Bogor yang terbukti secara konsisten mampu mencetak bibit-bibit unggul. Kehadiran siswa-siswi dari sekolah ini tidak hanya meramaikan perlombaan, tetapi selalu berhasil membawa standar kompetensi ke level yang lebih tinggi,” ungkap Aulia dalam keterangannya, Senin, 12 Oktober 2026.

Baca juga: Pelajar SMPN 11 Kota Bogor Ciptakan Perahu Pengangkut Sampah 

Sebagai bentuk apresiasi lebih lanjut, Adli memperoleh kesempatan beasiswa pendidikan penuh selama 3 tahun bahkan lebih dari Universitas Trisakti.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, beasiswa tersebut dapat dimanfaatkan apabila Adli memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Trisakti.

Apresiasi ini menjadi nilai tambah dari pencapaian yang diraihnya sekaligus membuka peluang inspirasi bagi siswa siswi SMAN 3 Bogor untuk melanjutkan pengembangan akademiknya ke jenjang perguruan tinggi.

Dalam keteranganya, pihak SMAN 3 Bogor menyampaikan bahwa prestasi ini menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperluas kompetensi, khususnya dalam bidang ekonomi dan akuntansi.

Konsistensi dalam berkompetisi bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari proses panjang untuk membangun kapasitas diri dan mempersiapkan masa depan akademik maupun profesional.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret

Wawalkot Borong Dagangan Kakek 88 Tahun saat Sidak Jalan Merdeka

Published

on

By

Wawalkot Borong Dagangan Kakek 88 Tahun saat Sidak Jalan Merdeka
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin memborong dagangan kakek berusia 88 tahun saat sidak di Jalan Mereka, Kecamatan Bogor Tengah, Kamis, 1 Oktober 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Wakil Wali Kota (Wawalkot) Bogor, Jenal Mutaqin tiba-tiba menghentikan langkah inspeksi mendadak (sidak) saat melihat seorang kakek masih berjualan di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah.

Jenal kemudian menghampiri kakek tersebut dan memutuskan memborong seluruh dagangan yang dibawa dengan cara dipikul menggunakan karung. Dagangan berupa sayur mayur itu dibeli tanpa menyisakan barang untuk dijual kembali.

Baca juga: 39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti

Jenal mengaku spontan membeli seluruh dagangan karena merasa iba melihat kondisi penjual yang sudah berusia lanjut.

“Saya lebih melihat ke psikologis orang tua, kasihan, kami borong (dagangan) untuk dimasak,” kata Jenal, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Jenal, penjual yang telah menginjak usia 88 tahun itu membuat dirinya teringat kepada sang kakek yang telah meninggal dunia.

“Asa (bahas Sunda artinya serasa) ke kakek, walaupun kakek sudah meninggal,” ujar Jenal.

Baca juga: Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Ia mengatakan, kakek tersebut diketahui tinggal di kawasan Gadog, Kabupaten Bogor. Karena usianya yang sudah lanjut, ia kemudian meminta sang kakek untuk pulang dan tidak lagi berjualan di lokasi tersebut.

Sayur mayur yang diborong tersebut selanjutnya akan dimasak dan dikonsumsi bersama oleh petugas Satpol PP yang turut mendampingi kegiatan sidak.

(hrs/ckl)

Continue Reading

Potret

39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti

Published

on

By

39 Tahun Mengabdi, Sekwan Boris Derurasman Purnabakti
Sekretaris DPRD (Sekwan) Kota Bogor, Boris Derurasman masa purnabakti setelah 39 tahun mengabdi sebagai bagian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Dok. Diskominfo Kota Bogor

KlikBogor – Boris Derurasman yang menjabat sebagai Sekretaris DPRD (Sekwan) Kota Bogor, memasuki masa purnabakti setelah 39 tahun mengabdi sebagai bagian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Selama puluhan tahun pengabdiannya, ia telah menjalankan berbagai tugas, mengambil keputusan, serta mengemban tanggung jawab telah menjadi bagian dari perjalanannya yang tercatat dalam sejarah pemerintahan Kota Bogor.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas seluruh pengabdian Sekwan Kota Bogor selama menjalankan tugas.

“Setiap pengabdian pasti memiliki waktunya. Tetapi kebaikan, dedikasi, dan keteladanan yang diberikan selama menjalankan tugas akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Pemerintah Kota Bogor,” ujar Dedie Rachim di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor, Rabu, 30 September 2026.

Baca juga: Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Dedie Rachim menyampaikan penghargaan atas kebersamaan dan kerja yang telah dibangun selama menjalankan roda pemerintahan.

“Terima kasih, Pak Boris, atas pengabdian, kerja keras, dan kebersamaan selama ini. Selamat memasuki masa purna bakti. Semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kesempatan untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat,” katanya.

Bagi Pemkot Bogor, kata Dedie Rachim, purna bakti seorang aparatur bukan berarti berakhirnya hubungan dengan kota yang telah dilayani. Sebab, setiap orang yang mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk Kota Bogor telah menjadi bagian dari perjalanan kota ini.

“Terima kasih untuk setiap langkah yang telah ditempuh, setiap waktu yang telah diberikan, dan setiap pengabdian yang diberikan oleh Pak Boris,” ucap Dedie Rachim.

Baca juga: Mengapa Protein Hewani Penting bagi Tumbuh Kembang Anak?

Sementara itu, Boris Derurasman menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat perkataan, sikap, maupun keputusan yang kurang berkenan atau terdapat kesalahan yang pernah dilakukan.

“Terima kasih kepada semua pihak yang selama ini sudah bersama-sama, membantu dan mendukung saya dalam menjalankan tugas. Tentu selama perjalanan pengabdian ini tidak semuanya sempurna. Karena itu, saya secara pribadi memohon maaf apabila ada perkataan, sikap atau perbuatan saya yang kurang berkenan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja,” ujarnya.

Boris berharap hubungan dan silaturahmi yang telah terjalin selama menjalankan tugas dapat terus terjaga meski masa pengabdian secara kedinasan telah berakhir.

“Semoga silaturahmi dan kebersamaan yang sudah terbangun selama ini tetap terjaga. Saya mohon doa agar setelah purna bakti ini bisa menjalani kehidupan dengan baik dan tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Potret

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah

Published

on

By

Asal-usul 11 Kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal, Berawal dari 3 Wilayah
Camat Tanah Sareal, Rokib (tengah). Foto/Istimewa

KlikBogor – Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, memiliki 11 kelurahan dengan latar belakang sejarah dan kultur masyarakat yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak terlepas dari sejarah pembentukan wilayah yang sebelumnya berasal dari beberapa kecamatan dan wilayah administratif.

Camat Tanah Sareal, Rokib mengatakan, 11 kelurahan di Kecamatan Tanah Sareal terbentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.

Dari 11 kelurahan tersebut, enam kelurahan sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor. Keenam kelurahan itu yakni Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai.

“Kayumanis, Kencana, Mekarwangi, Cibadak, Sukaresmi, dan Sukadamai itu berasal dari Kecamatan Semplak. Kemudian Kecamatan Semplak berubah menjadi Kecamatan Kemang,” kata Rokib dikutip Rabu, 30 September 2026.

Sementara itu, tiga kelurahan lainnya, yakni Kedung Jaya, Kedung Waringin, dan Kedung Badak, sebelumnya berasal dari Kecamatan Kedung Halang.

Rokib menjelaskan, nama ketiga kelurahan tersebut memiliki keterkaitan dengan istilah “kedung”. Dalam pemahaman masyarakat, kedung merujuk pada muara air yang cukup besar. Namun, seiring perubahan kondisi geografis dan perkembangan wilayah, keberadaan kedung tersebut sebagian tidak lagi terlihat.

“Seiring dengan perubahan kondisi geografis, perubahan keadaan dan lain sebagainya, sehingga tinggal namanya saja,” ujarnya.

Baca juga: Margonda dan Jejak Sejarah di Bogor: Pernah Tinggal di Gang Slot

Setelah perubahan batas wilayah tersebut Kecamatan Kedung Halang berubah menjadi Kecamatan Sukaraja, sementara tiga kelurahan tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Tanah Sareal.

Ia menambahkan, Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki sejarah yang berbeda. Kedua kelurahan tersebut sebelumnya berkaitan dengan kantor perwakilan camat (Kapermat) Tanah Sareal yang berada di wilayah Kebon Pedes atau Pondok Rumput.

“Kelurahan Tanah Sareal dengan Kebon Pedes ini memang berasal dari Kapermat, yang dulu kantornya di Kebon Pedes atau di Pondok Rumput. Itu berasal dari Kapermat yang induknya adalah Bogor Utara,” katanya.

Pada masa tersebut, wilayah kerja Kapermat Tanah Sareal juga mencakup Kelurahan Sempur. Namun, setelah terjadi perubahan wilayah administrasi, Sempur kemudian masuk ke Kecamatan Bogor Tengah.

Rokib mengatakan, perubahan wilayah tersebut turut memengaruhi kultur masyarakat di masing-masing kelurahan. Ia menyebut, enam kelurahan yang berasal dari Kecamatan Semplak cenderung memiliki penggunaan bahasa lebih kental dengan nuansa Betawi.

Sementara itu, tiga kelurahan yang berasal dari Kecamatan Kedung Halang lebih kuat dengan kultur Sunda. Menurut Rokib, bahasa Sunda yang digunakan di wilayah tersebut memiliki kekhasan tersendiri dan cenderung Sunda Bogor maupun Banten.

Baca juga: Tanah Sareal Diproyeksikan jadi Pusat Pertumbuhan Kota Bogor

Adapun Kelurahan Tanah Sareal dan Kebon Pedes memiliki karakter masyarakat yang berbeda karena sejarah perkembangannya sebagai bagian dari wilayah perkotaan.

“Jadi itu historinya 11 kelurahan dan kulturnya berbeda-beda,” ujar Rokib.

Selain perbedaan kultur, kondisi kependudukan dan luas wilayah di Kecamatan Tanah Sareal juga beragam. Rokib menyebut luas Kecamatan Tanah Sareal mencapai sekitar 20,60 kilometer persegi atau 2.060 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 239 ribu jiwa.

Perkembangan wilayah tersebut terus berlangsung seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur. Kecamatan Tanah Sareal dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan di Kota Bogor.

Rokib mengatakan, pembangunan akses jalan tol layang di wilayah Jalan Sholeh Iskandar turut membuka akses dan mendorong perkembangan kawasan. Pertumbuhan tersebut juga ditandai dengan perubahan lahan yang sebelumnya belum terbangun menjadi kawasan permukiman.

“Tanah Sareal ini menjadi pusat pertumbuhan, baik pertumbuhan penduduk maupun perkembangan infrastruktur,” katanya.

Menurutnya, pembangunan berbagai kompleks perumahan dan permukiman baru membuat arus urbanisasi ke wilayah Kecamatan Tanah Sareal cukup tinggi. Meski demikian, pertumbuhan tersebut juga diikuti berbagai persoalan perkotaan yang masih menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat.

“Tetapi masalah-masalah klasik yang kita hadapi masih tetap ada,” kata Rokib.

(hrs/ckl)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer