Connect with us

Serba Serbi

Ini Cara Pelepasan Tukik yang Sesuai Animal Welfare

Published

on

Ini Cara Pelepasan Tukik yang Sesuai Animal Welfare
Ilustrasi tukik atau anak penyu. Dok. Pixabay/barredodaisy

KlikBogor – Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University, Mohammad Mukhlis Kamal memberikan tanggapan terkait cara pelepasan tukik atau anak penyu yang langsung diarahkan ke laut.

Dalam video yang beredar, tukik dilepaskan dari dalam ember secara langsung ke arah gelombang laut. Hal tersebut dinilai menghilangkan tahapan alami tukik untuk melewati hamparan pasir pantai sebelum memasuki perairan.

Menurut Mukhlis, pelepasan tukik dengan cara tersebut pada prinsipnya tidak menjadi masalah, selama dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kesejahteraan tukik.

“Dengan cara melepaskannya saat ombak menghempas pantai, menurut opini saya tidak apa-apa. Gerakan dinamis air akibat hantaman ombak bukan masalah, karena tubuh tukik dengan kaki depan sebagai ‘dayung’ akan mengatasinya,” ujar Mukhlis dalam keterangannya dikutip Rabu, 16 September 2026.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pelepasan dengan cara tersebut dapat menimbulkan stres pada tukik karena tidak dilakukan secara perlahan.

Lima Prinsip Animal Welfare

Umumnya, tukik dilepaskan dengan cara diletakkan di pantai. Secara alamiah, apabila tukik ditempatkan dengan posisi berlawanan dengan arah hempasan air laut ke pantai, tukik akan berbalik arah dan bergerak menuju laut.

Mukhlis juga menanggapi banyaknya komentar negatif terhadap video yang memperlihatkan tukik dituangkan langsung ke pantai karena dinilai tidak mengikuti prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).

“Dalam prinsip animal welfare, terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan, yakni bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa takut atau stres, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari cedera dan rasa sakit,” urainya.

Hindari Sentuhan Tangan 

Menurut Mukhlis, hal yang justru perlu lebih diperhatikan adalah menghindari kontak langsung antara tukik dan tangan manusia saat akan dilepaskan. Pengalaman tersebut diperoleh saat dirinya melakukan pelepasan penyu di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat.

“Yang justru paling perlu diperhatikan adalah hindari kontak langsung tukik dengan tangan manusia saat akan melepaskannya. Mungkin khawatir ada kontak bakteri atau virus dari tangan manusia ke tukik,” katanya.

Konservasi Tak Sekadar Lepas Liar

Mukhlis mengatakan, kegiatan penangkaran penyu yang dilakukan saat ini pada prinsipnya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan terhadap tempat peneluran, tempat mencari makan, serta penyediaan koridor migrasi melalui marine protected area (MPA) atau kawasan konservasi perairan.

Selain perlindungan habitat, konservasi juga dilakukan melalui intervensi manusia. Telur penyu yang ditemukan di lokasi peneluran, selain dilindungi, dapat dipindahkan ke tempat penangkaran untuk dilakukan penetasan buatan dengan perlakuan suhu tertentu.

Langkah tersebut bertujuan melindungi telur penyu dari perburuan manusia serta ancaman predator, seperti babi, anjing, biawak, dan satwa lainnya. Telur kemudian ditetaskan hingga menjadi tukik dan selanjutnya dilepasliarkan kembali ke laut.

Jangan Terlalu Lama

Mukhlis mengatakan, waktu ideal untuk melepas tukik adalah sekitar satu minggu setelah menetas. “Bilamana ditahan terlalu lama, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan nalurinya untuk ‘pulang’,” paparnya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Kota Bogor Optimis Raih 100 Medali Emas pada Porprov Jabar

Published

on

By

Kota Bogor Optimis Raih 100 Medali Emas pada Porprov Jabar
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim (tengah) bersama Kadispora Kota Bogor, Anas S. Rasmana dan Ketua KONI Kota Bogor, Dedy Sumarna (kanan). Dok. Diskominfo Kota Bogor

KlikBogor – Sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat Tahun 2026, Kota Bogor optimistis bisa meraih 100 medali emas dalam ajang yang akan digelar pada November mendatang itu.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim didampingi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor, Dedy Sumarna mengatakan bahwa atlet, para pelatih, maupun official siap menghadapi Porprov.

“Tentu kita optimistis, 100 emas kita bisa raih. Artinya, sejauh ini persiapan sudah matang. Saya memberikan apresiasi kepada Ketua KONI, Dispora, para ketua cabor, para pelatih, para atlet,” ujar Dedie Rachim, Rabu, 7 Oktober 2026.

Baca juga: IMSO ke-23 Resmi Ditutup, Tim Indonesia Raih 61 Medali

Baca juga: Kota Bogor Menuju Porprov Jabar, 5 Ribu Lebih Atlet Siap Bertanding

Menjelang pembukaan Porprov, Dedie Rachim meminta dan berpesan agar para atlet menjaga stamina serta semangat untuk mengikuti Porprov.

“Mudah-mudahan semangatnya masih sama, karena kita memang sudah menargetkan di dalam Porprov yang ke-15 ini kita raih 100 emas,” ucap Dedie Rachim.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Batuk dan Pilek “Membandel”, Dokter IPB Jelaskan Penyebabnya

Published

on

By

Batuk dan Pilek "Membandel", Dokter IPB Jelaskan Penyebabnya
Ilustrasi batuk dan pilek. Dok. Pixabay/Mohamed_hassan

KlikBogor – Keluhan batuk, pilek, dan demam yang bertahan lebih lama dari biasanya banyak dirasakan masyarakat belakangan ini. Banyak yang menganggap flu yang menyerang kali ini lebih “membandel” dan membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu untuk benar-benar pulih.

dr Wahyu Rachwaldy, dokter Klinik IPB University, menyampaikan bahwa kondisi ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fenomena medis yang dapat dijelaskan berdasarkan dinamika virus, kondisi lingkungan, dan respons imun tubuh.

“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),” jelas dr Wahyu dalam keterangannya dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, fenomena flu yang bertahan lebih lama dari biasanya ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah sirkulasi bersamaan (co–circulation) berbagai jenis virus respiratorik di masyarakat, mulai dari influenza A/B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, hingga SARS-CoV-2.

Selain itu, terdapat pula fenomena post-pandemic immunity debt, yakni ketika perubahan pola paparan patogen selama beberapa tahun terakhir membuat sistem imun tubuh harus kembali menyesuaikan diri saat terpapar banyak virus secara beruntun.

Baca juga: Panen Raya di Katulampa, Pemkot Dukung Swasembada Pangan

Kenali Batas Normal

Menurut dr Wahyu, infeksi virus saluran pernapasan atas tanpa komplikasi umumnya memiliki pola perjalanan penyakit yang terukur. Pada masa akut, yakni hari pertama hingga ketiga, gejala mencapai puncaknya berupa demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas.

Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam mulai mereda dan energi tubuh berangsur pulih, meski batuk dan sekresi hidung masih dapat bertahan.

“Pada akhirnya, orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan total dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering wajar bertahan hingga dua minggu,” tambahnya.

Kendati demikian, lanjut dr Wahyu, flu atau ISPA bisa tergolong membandel atau tidak normal apabila gejala utama seperti demam, sesak, atau batuk berdahak kental berlangsung lebih dari 10 hingga 14 hari tanpa adanya perbaikan.

“Masyarakat juga perlu mewaspadai double sickening, yakni kondisi ketika sempat membaik selama satu hingga dua hari, kemudian kembali memburuk secara drastis dengan demam tinggi atau sesak nafas,” paparnya.

Adapun gejala lokal yang spesifik seperti nyeri hebat di area wajah atau dahi yang mengindikasikan sinusitis, serta nyeri telinga tajam hingga penurunan pendengaran, menjadi pertanda infeksi yang perlu perhatian khusus.

Menurut dr Wahyu, flu yang berlangsung lama tidak selalu disebabkan infeksi virus aktif. Kerusakan mukosa dapat memudahkan bakteri berkembang dan memicu infeksi sekunder seperti sinusitis bakterialis akut, bronkitis, atau pneumonia.

Peradangan persisten juga dapat menyebabkan batuk pascainfeksi. Kondisi tersebut membuat saluran napas menjadi sangat sensitif terhadap udara dingin, asap, maupun debu hingga memicu batuk kering selama tiga hingga delapan minggu.

“Faktor lain yang memperlambat pemulihan meliputi infeksi berulang akibat terinfeksi jenis virus berbeda tepat saat akan sembuh, serta tercetusnya reaksi alergi atau asma yang sebelumnya tersembunyi,” sebutnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Hibahkan 160 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia di Kota Bogor

Lingkungan Turut Berpengaruh

Lebih lanjut, dr Wahyu menjelaskan bahwa perubahan cuaca ekstrem dan polusi udara dapat memperberat gejala serta memperlama penyembuhan.

Paparan PM2.5, NO₂, dan SO₂ dapat merusak silia serta membran epitel, sehingga mengganggu mekanisme alami tubuh dalam mengeluarkan dahak dan patogen.

“Polusi yang terus-menerus juga memicu peradangan kronis yang memperparah pembengkakan mukosa hidung dan tenggorokan. Ditambah lagi, kondisi udara dingin dan kering juga dapat menurunkan produksi mukus pelindung serta memperlambat respons imun lokal di area hidung,” tutur dr Wahyu menjelaskan.

Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat segera berkonsultasi ke tenaga medis jika flu tak kunjung membaik. Pertolongan medis sangat diperlukan apabila pasien mengalami sesak napas, napas terasa berat dan berbunyi, timbul nyeri dada hebat atau rasa tertekan saat bernapas, serta demam tinggi yang tidak kunjung turun lebih dari tiga hingga lima hari berturut-turut.

Tanda bahaya lainnya meliputi dahak berwarna hijau pekat, cokelat, atau bercampur darah, hingga terjadinya penurunan kesadaran, pusing berat, dan dehidrasi.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Mengapa Protein Hewani Penting bagi Tumbuh Kembang Anak?

Published

on

By

Mengapa Protein Hewani Penting bagi Tumbuh Kembang Anak?
Ilustrasi protein hewani. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Dalam diskusi publik, sering dikatakan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kualitas pendidikan, inovasi teknologi, dan perekonomian. Namun, banyak yang melupakan bahwa fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) adalah kecukupan dan kualitas asupan gizi dari produk ternak seperti susu, daging, dan telur.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menyampaikan bahwa protein hewani penting untuk perkembangan otak dan tubuh, yang memengaruhi daya saing global SDM.

“Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” ujar Prof Ronny dalam keterangannya dikutip Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, saat ini banyak orang merasa kenyang karena konsumsi nasi yang berlimpah, sementara asupan protein hewani masih minim dan dianggap tidak memadai.

Dari sudut pandang kecukupan gizi, ia menerangkan, tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino, 9 di antaranya tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan dan minuman.

“Dari segi kualitas gizi, tahu dan tempe merupakan sumber protein, tetapi tidak selengkap protein hewani dari susu, daging, dan telur. Produk ternak disebut sumber protein lengkap karena menyediakan semua asam amino esensial dalam satu hidangan,” jelas Prof Ronny.

Baca juga: 404 Siswa dari 23 Negara Ikuti Kompetisi Matematika-Sains di Indonesia

Manfaat Protein Hewani dari Telur, Daging, dan Susu

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebutir telur mengandung 6 gram protein lengkap serta hampir semua vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Telur mengandung protein yang paling mudah diserap, dengan nilai biological value 100.

Selain itu, telur mengandung kolin bahan baku neurotransmitter yang mempertajam memori dan fokus. Lutein dan DHA dalam telur penting untuk perkembangan otak dan retina.

Adapun daging, zat besi yang terkandung di dalamnya dapat dengan mudah diserap oleh tubuh dengan persentase sebesar 25 persen, sedangkan zat besi dari bayam yang diserap oleh tubuh hanya mencapai 5 persen.

“Kekurangan zat besi akan menyebabkan anemia dan otot juga akan kekurangan oksigen. Data empiris menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja putri di Indonesia mengalami anemia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas belajar,” jelas Prof Ronny.

Zink juga berperan dalam menentukan kualitas pertumbuhan sekaligus mencegah kejang pada anak-anak kita. Vitamin B12 yang terkandung dalam daging dan produk hewani lainnya sangat esensial untuk perkembangan otak.

Sementara itu, susu penting untuk tulang dan tinggi anak karena kandungan kalsium, fosfor, dan protein yang merangsang pertumbuhan tulang serta produksi IGF-1.

Dari sisi konsumsi susu, Prof Ronny menyebut, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter per tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter per tahun per kapita.

“Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” imbuhnya.

Baca juga: Makanan Sisa Disimpan di Kulkas, Berapa Lama Masih Aman Dikonsumsi?

Dampak Kekurangan Protein Hewani

Prof Ronny mengatakan, pengabaian konsumsi protein hewani akan menimbulkan dampak yang sangat fatal baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Saat ini, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2023, 1 dari 5 anak Indonesia masuk dalam kategori pendek dengan perkembangan otak terhambat akibat stunting.  Angka stunting anak Indonesia yang mencapai 21,5 persen merupakan cerminan nyata pengabaian konsumsi protein hewani.

“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80 persen. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelas Prof Ronny.

“Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2020 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,” simpulnya.

Ia menegaskan, produk protein hewani seperti susu, daging, dan telur bukan sekadar makanan yang memenuhi selera dan mengenyangkan, tetapi juga merupakan investasi bagi SDM yang berkualitas.

“Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,” tutupnya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer