Connect with us

Serba Serbi

Kasus Campak Melonjak, Pakar IPB Ingatkan Pentingnya Kekebalan Populasi

Published

on

Kasus Campak Melonjak, Pakar IPB Ingatkan Pentingnya Kekebalan Populasi
Ilustrasi cegah virus campak. Dok. Canva.

KlikBogor – Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), IPB University, Aisyah Amanda Hanif, mengatakan lonjakan kasus campak yang terjadi belakangan ini sebagai indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Peningkatan kasus campak sering kali menunjukkan bahwa imunitas populasi sedang menurun. Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ini kepada 12 hingga 18 orang rentan di sekitarnya,” ujarnya dikutip Minggu, 8 Maret 2026.

Berdasarkan studi, sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak berpotensi tertular apabila terpapar. Karena itu, tingkat cakupan imunisasi sangat menentukan dalam mencegah penyebaran penyakit ini.

Aisyah menambahkan, fenomena herd immunity akan tercapai apabila lebih dari 94 persen masyarakat telah memiliki kekebalan terhadap campak, baik melalui vaksinasi maupun infeksi sebelumnya.

Sementara itu, target cakupan imunisasi campak yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan adalah minimal 95 persen.

“Jika cakupan imunisasi menurun, jumlah individu yang rentan akan meningkat. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi dengan lebih mudah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa campak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan atau sekadar ruam pada kulit.

Virus campak menyebar melalui udara (airborne) dan umumnya masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.

“Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan memperbanyak diri dan menyebar ke berbagai organ. Respons imun tubuh terhadap infeksi inilah yang kemudian menimbulkan ruam khas pada pasien campak,” terangnya.

Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak dengan gizi buruk, atau individu dengan sistem imun rendah.

Komplikasi yang dapat terjadi antara lain radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).

Infeksi campak juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi sekunder akibat bakteri.

“Kondisi ini dapat memperburuk keadaan hingga berisiko menyebabkan kematian,” tambah Aisyah.

Dalam upaya pencegahan, vaksinasi menjadi langkah perlindungan yang paling efektif. Vaksin campak menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan (live attenuated virus), sehingga mampu melatih sistem imun tubuh untuk mengenali virus tanpa menimbulkan penyakit.

“Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Jika suatu saat terpapar virus campak, sistem imun dapat merespons dengan cepat dan menetralisir virus sebelum menyebabkan penyakit,” ungkapnya.

Secara ilmiah, vaksin campak terbukti memiliki efektivitas lebih dari 95 persen setelah dua dosis dan telah digunakan secara global selama puluhan tahun dengan profil keamanan yang baik.

Bagi anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, Aisyah menegaskan bahwa vaksin tetap dapat diberikan melalui program catch-up vaccination atau imunisasi kejar.

Menurutnya, langkah tersebut sangat penting karena anak yang belum divaksin merupakan kelompok yang paling rentan tertular.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak lengkap, segera melakukan imunisasi kejar jika tertunda, mengenali gejala awal campak, serta mengisolasi pasien yang dicurigai terinfeksi agar tidak menularkan kepada orang lain.

“Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dapat dicegah,” katanya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

750 Atlet Kota Bogor Siap Bertanding di Porprov: Targetkan 100 Medali Emas 

Published

on

By

750 Atlet Kota Bogor Siap Bertanding di Porprov: Targetkan 100 Medali Emas 
Rapat koordinasi perdana bersama pengurus kontingen Kota Bogor pada Porprov XV Jawa Barat 2026. Dok. Diskominfo Kota Bogor.

KlikBogor – Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan hingga saat ini sudah ada 750 atlet yang siap bertanding pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XV Jawa Barat.

Hal itu dikatakan Jenal sekaligus Ketua Kontingen Kota Bogor usai rapat koordinasi (rakor) perdana bersama pengurus di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor.

“Pemeriksaan medis juga sudah dilakukan kepada para atlet. Mudah-mudahan dari segi anggarannya mencukupi dan 750 atlet tersebut seluruhnya bisa mengikuti Porprov,” ujar Jenal, Jumat, 6 Maret 2026.

Rakor ini membahas berbagai hal secara rinci, termasuk tugas pokok dan fungsi (tupoksi) setiap bidang dalam struktur kontingen.

Selain itu, rakor juga memberikan pembaruan terkait proses verifikasi atlet yang akan berlaga mewakili Kota Bogor.

Rapat juga memastikan berbagai dokumen, persyaratan, serta kesiapan lainnya. Terlebih, Kota Bogor menjadi salah satu tuan rumah dalam penyelenggaraan Porprov XV Jawa Barat.

Baca juga: Panen Perdana Anggur Introduksi di IPB University

Terkait hal itu, Jenal menerangkan bahwa selain tuan rumah utama, terdapat pula daerah tuan rumah pendukung lainnya.

“Sehingga pertandingan nantinya tidak hanya dilaksanakan di Kota Bogor, Bekasi, dan Depok,” ungkapnya.

Di Kota Bogor sendiri terdapat sekitar 20 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan. Lokasinya tersebar di beberapa titik, seperti di wilayah Bogor Selatan dan GOR Pajajaran.

Venue itu dikelola dan diurus oleh pengurus besar. Sementara kami sebagai kontingen lebih fokus pada persiapan atlet untuk bertanding di seluruh venue yang ada di beberapa daerah tuan rumah,” jelasnya.

Jenal menegaskan, Kota Bogor tetap menargetkan perolehan 100 medali emas pada ajang Porprov XV Jawa Barat. Para atlet dipersiapkan secara matang untuk membawa harum nama Kota Bogor di kancah provinsi.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Panen Perdana Anggur Introduksi di IPB University

Published

on

By

Panen Perdana Anggur Introduksi di IPB University
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet (kanan) saat memanen perdana anggur gosv di kawasan Agribusiness and Technology Park (ATP), Jumat, 6 Maret 2026. Foto/Klikbogor.

KlikBogor – Budidaya anggur (Vitis vinefera) mulai dikembangkan IPB University tepatnya di kawasan Agribusiness and Technology Park (ATP).

Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet turut melakukan panen perdana tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan di ladang greenhouse tersebut.

“Panen anggur ini bagian dari riset yang dikembangkan di IPB untuk mendukung program buah secara nasional,” ujar Alim, Jumat, 6 Maret 2026, sore.

Menurutnya, pengembangan buah ini di dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk yang selama ini didatangkan dari luar negeri.

“Mungkin yang biasanya kita impor, nanti bisa dikembangkan di negara kita sendiri, sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan impor sekaligus menyediakan buah-buahan pada masyarakat,” katanya.

Baca juga: Drone Layaknya Lebah, Inovasi Baru IPB untuk Indoor Farming

Alim juga menekankan pentingnya strategi penguatan sektor pertanian nasional. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produktivitas berbagai komoditas, baik pangan maupun hortikultura.

“Kita harus bertumpu pada kekuatan diri sendiri, salah satunya adalah peningkatan produktivitas nasional untuk semua komoditas,” jelasnya.

Sementara IPB akan mendorong melalui pengembangan riset untuk menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi.

“Yang kedua kita dorong bagaimana mengoptimalkan budidaya yang ada melalui berbagai inovasi, apakah dari sisi input untuk pupuk, SOP, irigasi, hingga penanganan hama penyakit,” imbuhnya.

Di greenhouse ini terdapat tiga varietas anggur introduksi yang dibudidayakan, antara lain gosv, ilaria, dan jupiter. Selain untuk pengembangan komoditas hortikultura, budidaya anggur ini juga menjadi sarana riset dan pembelajaran bagi mahasiswa.

(ckl/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Angka Pernikahan Turun, Apa yang Terjadi? Ini Penjelasan Pakar IPB

Published

on

By

Angka Pernikahan Turun, Apa yang Terjadi? Ini Penjelasan Pakar IPB
Ilustrasi pernikahan. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Angka pernikahan di Indonesia yang terus menurun setiap tahun menjadi sorotan kalangan akademisi. Peneliti dan dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Risda Rizkillah, menyebut fenomena tersebut dipengaruhi berbagai faktor.

Ia mengatakan, pernikahan bagi generasi muda saat ini tidak lagi dipandang sebagai simbol prestise atau status sosial. Banyak anak muda memilih untuk menunda pernikahan demi mengejar pendidikan, membangun karier, serta mengembangkan diri.

“Pernikahan tidak lagi menjadi prioritas utama. Generasi muda cenderung fokus pada pendidikan, karier, dan pengalaman pribadi sebelum memutuskan untuk menikah,” kata Risda dikutip Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu penurunan angka pernikahan. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga budaya yang semakin kompleks.

“Dari sisi ekonomi, kesulitan finansial, tingginya biaya hidup, dan ketidakstabilan pekerjaan membuat banyak orang menunda menikah. Padahal, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi salah satu prasyarat penting dalam membangun rumah tangga,” jelasnya.

Baca juga: Imigrasi Bogor Bongkar Dugaan Penipuan Daring, 13 Warga Negara Jepang Diamankan

Faktor pendidikan dan karier juga turut berpengaruh. Masa pendidikan yang semakin panjang serta orientasi kuat pada pencapaian karier dinilai meningkatkan kemungkinan penundaan pernikahan.

Selain itu, perubahan norma sosial turut berkontribusi. Risda menyoroti, mulai munculnya normalisasi hubungan non-pernikahan seperti kohabitasi (kumpul kebo) di masyarakat.

Konten viral di media sosial, seperti narasi “marriage is scary”, juga dinilai membentuk persepsi negatif terhadap pernikahan di kalangan generasi muda.

Risda menambahkan, gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu, konsumsi, dan pencarian pengalaman pribadi turut menggeser prioritas dari pernikahan ke karier, hobi, maupun perjalanan.

“Perkembangan teknologi dan tren ‘digital dating’ juga memunculkan fenomena ‘paradox of choice’, yakni kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang semakin sulit berkomitmen,” ujar Risda.

Ia mengingatkan bahwa penurunan angka pernikahan dapat berdampak pada struktur demografi dalam jangka panjang karena berpotensi menurunkan angka kelahiran.

Saat ini, total fertility rate (TFR) Indonesia tercatat sebesar 2,19. Selain itu, tren tersebut juga berisiko meningkatkan kesepian atau isolasi sosial pada usia lanjut.

Baca juga: Jenal Mutaqin Kembali Beraktivitas, Ikut Pekan Panutan Bayar PBB-P2

Dari sisi kesehatan reproduksi, ia menambahkan bahwa jika penurunan pernikahan terjadi bersamaan dengan meningkatnya hubungan seksual di luar pernikahan, risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, juga dapat meningkat akibat minimnya komitmen dan perlindungan kesehatan yang konsisten.

Untuk merespons fenomena ini, Risda menekankan pentingnya membangun pola pikir bahwa pernikahan merupakan tujuan hidup yang diinginkan (marriage is desirable), bukan sesuatu yang menakutkan.

Pendidikan dan penyuluhan keluarga, sambung Risda, perlu dikemas secara menarik dan relevan dengan karakter generasi muda.

Ia juga menyoroti peran pemerintah melalui kebijakan publik yang ramah keluarga, seperti dukungan keseimbangan kerja dan keluarga, penyediaan fasilitas perumahan bagi pasangan muda, perluasan lapangan pekerjaan, serta pemberian upah yang layak.

Disamping itu, penelitian berkelanjutan dinilai penting untuk memantau perubahan norma dan perilaku generasi muda, guna memahami pola penundaan pernikahan dan dampaknya terhadap ketahanan keluarga di masa mendatang.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer