Connect with us

Opini

Jam Layanan Baru Perpustakaan Kota Bogor Memperkuat Peran Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Published

on

Jam Layanan Baru Perpustakaan Kota Bogor Memperkuat Peran Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Oleh: Intan Nur Kamila
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten

Perpustakaan Kota Bogor mengumumkan penyesuaian jam layanan buka melalui unggahan Instagram pada 5 November 2025. Dalam pengumuman tersebut disampaikan bahwa jam layanan baru mulai berlaku pada 1 Desember 2025, yaitu Senin–Kamis pukul 08.00–15.00 WIB serta Sabtu–Minggu pukul 08.00–20.00 WIB.

Sebagai mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan pemustaka, kebijakan jam layanan ini dapat dipahami dalam konteks konsep perpustakaan sebagai ruang publik (library as a public space). Pengaturan waktu buka menjadi aspek penting dalam memastikan perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan latar belakang aktivitas yang beragam.

Menurut Sulistyo-Basuki, perpustakaan umum merupakan lembaga layanan informasi yang terbuka bagi seluruh masyarakat dan berfungsi sebagai ruang publik yang mendukung proses belajar sepanjang hayat. Dalam pandangan ini, perpustakaan tidak hanya berorientasi pada koleksi, tetapi juga pada akses, keterbukaan, dan pemanfaatan ruang oleh masyarakat.

Penyesuaian jam layanan seperti yang diterapkan Perpustakaan Kota Bogor juga ditemukan di beberapa perpustakaan daerah lain. Perpustakaan Umum DKI Jakarta (Cikini), misalnya, dikenal dengan jam layanan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat perkotaan, termasuk membuka layanan pada akhir pekan.

Sementara itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Dispusipda Jabar) juga menerapkan jam layanan yang memungkinkan masyarakat mengakses ruang perpustakaan di luar hari kerja.

Dalam kajian ilmu perpustakaan, praktik tersebut menunjukkan upaya penguatan fungsi perpustakaan sebagai ruang publik yang dapat diakses secara lebih luas. Jika dibandingkan dengan perpustakaan yang masih menerapkan jam layanan terbatas, model layanan dengan waktu buka yang variatif lebih mendukung peran perpustakaan sebagai ruang sosial, ruang belajar, dan ruang literasi.

Dengan diberlakukannya jam layanan baru, Perpustakaan Kota Bogor dapat ditempatkan sejajar dengan perpustakaan daerah lain yang mengimplementasikan gagasan library as a public space sebagaimana dikemukakan oleh Sulistyo-Basuki, terutama melalui kebijakan layanan yang menekankan keterbukaan dan aksesibilitas ruang perpustakaan bagi masyarakat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Mengelola Keuangan Generasi Z dalam Perspektif Ekonomi Islam

Published

on

By

Mengelola Keuangan Generasi Z dalam Perspektif Ekonomi Islam
Fadilah Balfas (kiri) mahasiswa STMIK Tazkia Bogor.

Oleh: Fadilah Balfas

Dalam kehidupan modern saat ini, generasi Z tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Segala sesuatu serba digital, termasuk urusan keuangan. Mulai dari dompet digital, belanja online, hingga investasi kripto, semuanya begitu mudah diakses hanya lewat ponsel.

Namun kemudahan ini juga membawa tantangan besar, bagaimana agar generasi muda tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan tetap mengelola keuangannya dengan bijak sesuai tuntunan Islam.

Konsep Harta dalam Islam

Dalam pandangan Islam, harta bukanlah tujuan hidup, melainkan amanah dari Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)

Ayat ini menegaskan bahwa harta pada hakikatnya milik Allah, sementara manusia hanyalah pengelola (mustakhlaf) yang diberi tanggung jawab untuk memanfaatkannya dengan cara yang halal.

Oleh karena itu, setiap pengeluaran, investasi, maupun tabungan seharusnya dilandasi niat ibadah dan tanggung jawab moral dihadapan Allah.

Fenomena Keuangan Generasi Z

Generasi Z dikenal aktif di media sosial, mudah terpengaruh tren, dan sering kali menilai kesuksesan dari gaya hidup. Fenomena “healing setiap pekan” atau “beli barang biar terlihat keren di story” menjadi hal lumrah. Akibatnya, banyak anak muda yang kesulitan menabung bahkan hidup dari gaji ke gaji.

Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.”

Hadis ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang kita dapatkan dan keluarkan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, kesadaran finansial bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah.

Prinsip Pengelolaan Keuangan Menurut Islam

Ada beberapa prinsip dasar yang bisa diterapkan oleh generasi Z dalam mengelola keuangan:

1. Membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Islam mengajarkan keseimbangan (wasathiyah). Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Prinsip ini sangat penting agar tidak boros terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat.

2. Menabung dan berinvestasi dengan cara halal.

Tabungan bukan berarti kikir, melainkan bentuk perencanaan masa depan. Islam pun mendorong produktivitas, namun investasi harus bebas dari riba, gharar (ketidakjelasan), dan maisir (spekulasi berlebihan).

3. Berzakat, bersedekah, dan membantu sesama.

Mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah membersihkan jiwa dan menumbuhkan keberkahan. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

4. Mencatat dan mengevaluasi pengeluaran.

Rasulullah SAW mengajarkan disiplin dalam setiap urusan, termasuk keuangan. Mencatat pemasukan dan pengeluaran akan membantu seseorang terhindar dari pemborosan dan utang yang tidak perlu.

Generasi Z memiliki peluang besar untuk menjadi generasi yang sukses secara finansial sekaligus berkah dalam pandangan Allah SWT. Kuncinya bukan pada seberapa besar penghasilan, tetapi seberapa baik pengelolaan dan keberkahan dalam penggunaannya.

Dengan memahami prinsip-prinsip ekonomi Islam dan menjadikan harta sebagai sarana ibadah, generasi muda bisa tumbuh menjadi pribadi yang cerdas finansial, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.

Continue Reading

Opini

Menggugat Kemerdekaan Hakiki di Tengah Cengkeraman Kapitalisme dan Individualisme

Published

on

By

Menggugat Kemerdekaan Hakiki di Tengah Cengkeraman Kapitalisme dan Individualisme
Subhan Murtadla, Ketua PC Syarikat Islam Kota Bogor.

Oleh : Subhan Murtadla

Agustus kembali datang, membawa harum nostalgia perjuangan, pekik “merdeka!” yang menggema dari lorong sejarah, mengingatkan kita pada tumpah darah para pejuang yang merelakan segalanya demi Tanah Air bernama Indonesia. Namun, ketika kita menatap wajah bangsa hari ini, ada satu pertanyaan yang menggantung di langit kemerdekaan kita: Benarkah kita sudah benar-benar merdeka?

Kapitalisme dan Individualisme: Bahaya Senyap di Balik Kemerdekaan

Hari ini, wajah Indonesia telah banyak berubah. Globalisasi dan kemajuan teknologi membawa angin besar yang tak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyelipkan racun yang tak kasat mata: ideologi kapitalisme dan budaya individualisme.

Kapitalisme mendorong logika pasar bebas yang menempatkan keuntungan di atas nilai-nilai kemanusiaan. Segala sesuatu diukur dari untung rugi materi, bukan dari manfaat sosial. Sementara individualisme menanamkan gagasan bahwa sukses adalah urusan pribadi, bukan hasil kerja bersama. “Yang penting saya selamat, saya sukses, saya naik kelas” menjadi mantera yang sering diucapkan, bahkan tanpa sadar.

Padahal, bangsa ini dibangun di atas fondasi ideologi kerakyatan dan budaya gotong royong. Satu bangsa, satu rasa. Satu jatuh, semua mengulurkan tangan. Itulah roh Indonesia.

Kini, budaya gotong royong perlahan tergeser. Di kota besar, tetangga pun tak saling mengenal. Di desa, nilai tolong-menolong perlahan digantikan transaksionalisme. Semua serba dihitung. Semua serba bayar. Bahkan solidaritas pun mulai dikomersialisasikan.

Hari Kemerdekaan: Momentum Menyadari Arah Bangsa

Dalam kondisi ini, hari kemerdekaan seharusnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan dengan lomba makan kerupuk dan karnaval bendera tetapi menjadi momentum refleksi bersama: Apakah kemerdekaan hanya sebatas lepas dari penjajah asing? Ataukah kemerdekaan sejati adalah saat rakyat terbebas dari penjajahan gaya baru: ketimpangan ekonomi, ketidakpedulian sosial, dan dominasi kekuatan modal?

Memaknai Kemerdekaan yang Hakiki

Kemerdekaan hakiki adalah saat bangsa ini kembali ke jati dirinya. Ketika rakyat menjadi pusat pembangunan, bukan korban pembangunan. Ketika gotong royong menjadi roh kehidupan, bukan hanya slogan di baliho. Ketika nilai kebersamaan lebih kuat daripada ego sektoral.

Kita harus melawan penjajahan yang lebih halus: Ketika anak muda lebih kenal selebriti luar negeri daripada sejarah bangsanya. Ketika petani berjuang sendiri di tengah pasar bebas yang tak adil. Ketika kemiskinan struktural dianggap sebagai takdir, bukan masalah sosial.

Kembali Menjadi Indonesia

Kemerdekaan bukan sekadar ritual. Ia adalah proyek kebudayaan dan peradaban. Ia menuntut kita kembali merawat akar bangsa: kerakyatan dan gotong royong. Sebab, hanya dengan itulah kita bisa bertahan sebagai bangsa yang bermartabat di tengah badai globalisasi.

Mari kita rayakan kemerdekaan ini dengan lebih dari sekadar seremonial. Mari kita isi dengan tindakan nyata: membantu tetangga tanpa pamrih, mendorong ekonomi kerakyatan, menghidupkan kembali semangat musyawarah, dan menanamkan rasa bangga menjadi bangsa yang besar karena persatuan dan nilai kebersamaan.

Merdeka bukan hanya soal bebas. Merdeka adalah soal berdaulat, bermartabat, dan berjiwa sosial. Itulah kemerdekaan yang sejati.

Continue Reading

Opini

Fenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam

Published

on

By

Fenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
Subhan Murtadla, Ketua PC Syarikat Islam Kota Bogor.

Oleh : Subhan Murtadla

Dedi Mulyadi, seorang tokoh yang dikenal luas di Indonesia, bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai sosok yang gigih dalam menjaga lingkungan dan budaya lokal. Mantan Bupati Purwakarta ini, yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, memiliki gaya kepemimpinan yang unik, dekat dengan masyarakat, dan selalu mengedepankan kearifan lokal dalam berbagai kebijakan dan tindakannya.

KDM, Komitmen terhadap Lingkungan

Salah satu hal yang membuat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menonjol adalah kepeduliannya terhadap alam. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk membersihkan sungai, menanam pohon, dan menegur pihak-pihak yang merusak lingkungan. Dalam banyak kesempatan, ia menekankan bahwa alam harus dijaga dengan penuh kesadaran, bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga demi anak cucu di masa depan.

KDM juga vokal menentang alih fungsi lahan yang merusak ekosistem. Ia menolak eksploitasi alam secara serampangan dan kerap membela hak-hak masyarakat adat dalam menjaga hutan dan sumber daya alam mereka.

KDM Menjaga Kearifan Lokal

Selain menjaga alam, Kang Dedi Mulyadi juga aktif melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Sunda. Ia sering menggunakan pakaian adat Sunda dalam berbagai kesempatan dan mempromosikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai solusi dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan bahwa masyarakat Sunda sejak dulu memiliki filosofi “leuweung hejo, masyarakat ngejo” (hutan hijau, masyarakat makmur). Artinya, kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada kelestarian lingkungan.

KDM Pendekar di Medan Sosial

Tak hanya soal lingkungan, Kang Dedi Mulyadi juga dikenal sebagai sosok yang sering membantu masyarakat kecil. Melalui media sosialnya, ia kerap membagikan kisah-kisah perjuangan rakyat kecil dan memberikan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan.

Karena konsistensinya dalam menjaga lingkungan dan membela rakyat kecil, banyak orang menjulukinya sebagai “Pendekar Penjaga Alam.” Gaya hidupnya yang sederhana dan sering turun langsung ke lapangan membuatnya dicintai oleh banyak masyarakat.

KDM Inspirasi bagi Generasi Muda

Kang Dedi Mulyadi adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga soal kepedulian dan tindakan nyata. Keberaniannya dalam membela alam dan budaya lokal menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan nilai-nilai kearifan lokal.

Dengan segala kontribusinya, Kang Dedi Mulyadi membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tak hanya memikirkan kebijakan di atas kertas, tetapi juga turun tangan langsung untuk menjaga bumi dan kesejahteraan masyarakat.

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer