Serba Serbi

Ini Sebab Daging Ayam Pejantan vs Broiler Beda Tekstur

Published

on

Daging ayam. Dok. Pixabay.

KlikBogor – Daging ayam pejantan kerap dianggap lebih alot dibanding ayam broiler. Perbedaan tekstur ini dipengaruhi faktor genetik dari kedua jenis unggas tersebut.

Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Tuti Suryati, mengatakan bahwa faktor utama penyebabnya adalah perbedaan genetik.

“Daging ayam pejantan berasal dari bangsa ayam petelur yang genetiknya dimurnikan untuk menghasilkan galur ayam dengan produktivitas telur sangat tinggi,” kata Tuti dikutip Rabu, 29 Oktober 2025.

Adapun, lanjutnya, ayam broiler berasal dari bangsa ayam tipe pedaging. Ayam ini dikembangkan melalui proses pemuliaan dalam waktu yang panjang untuk menghasilkan bibit ayam pedaging dengan pertumbuhan yang cepat dan efisien.

“Sehingga mampu mencapai bobot potong dalam waktu yang singkat (30–42 hari atau 5–6 minggu) dengan daging yang sangat empuk,” tambah Tuti.

Sementara ayam pejantan yang berasal dari ayam tipe petelur pertumbuhannya tidak seefisien ayam broiler. “Karena dipelihara lebih lama, tekstur daging ayam pejantan menjadi lebih alot, tetapi lemaknya relatif lebih rendah dibandingkan ayam broiler,” ujarnya.

Dari sisi biologis, terang Tuti, perbedaan kadar kolagen sangat berpengaruh. Kolagen merupakan komponen penyusun jaringan ikat yang jumlahnya meningkat seiring pertambahan usia ternak.

“Semakin tua umur potong ayam, jaringan ikatnya semakin banyak. Hal ini menyebabkan tingkat kealotan daging meningkat,” katanya.

Selain faktor usia, aktivitas fisik ayam juga berpengaruh terhadap tekstur daging. Ayam yang lebih aktif memiliki otot yang sering berkontraksi, sehingga teksturnya lebih keras.

“Aktivitas tinggi membuat otot ayam lebih kuat, dan otomatis dagingnya lebih alot,” jelas Tuti.

Meski demikian, kualitas daging ayam pejantan masih bisa ditingkatkan dengan teknik pengolahan yang tepat.

Ia merekomendasikan pemasakan dengan teknik perebusan atau dengan menambahkan air, seperti gulai, sop, atau opor.

Sedangkan untuk olahan goreng atau bakar, sebaiknya dilakukan perebusan pendahuluan dengan bumbu atau teknik ungkep.

“Bisa juga menggunakan panci presto, atau bahan alami seperti buah nanas dan daun pepaya untuk mengempukkan daging,” sarannya.

Ia mengingatkan proses penggorengan atau pemanggangan sebaiknya tidak terlalu lama atau hingga daging kering. Cara tersebut justru membuat tekstur semakin keras.

Meski dikenal lebih alot, Tuti menyebut, daging ayam pejantan tetap diminati sebagian konsumen.

“Ada yang lebih menyukai tekstur ayam pejantan karena mirip ayam kampung, teksturnya lebih berserat, lemaknya lebih sedikit, dan tidak terlalu lembut,” tandasnya.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version