Connect with us

Serba Serbi

Sirih Merah Berpotensi jadi Bahan Kosmetik Lokal Pencerah Kulit

Published

on

Sirih Merah Berpotensi jadi Bahan Kosmetik Lokal Pencerah Kulit
Daun sirih merah. Foto: Pixabay/mayapujiati

KlikBogor – Guru Besar Biokimia Nutrisi IPB University, Prof Mega Safithri, baru saja mengungkap potensi luar biasa dari tanaman sirih merah sebagai bahan alami pencerah kulit.

Penemuan ini diharapkan dapat menjadi terobosan besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan baku kosmetik impor yang selama ini mendominasi pasar.

Selama ini, banyak produk pencerah kulit masih mengandalkan bahan kimia impor seperti hidrokuinon atau arbutin. Padahal, bahan-bahan tersebut terkadang memiliki risiko efek samping. Sirih merah hadir sebagai alternatif yang lebih aman dan alami.

“Secara ilmiah, senyawa bioaktif dalam sirih merah terbukti memiliki kemampuan hebat, yaitu antioksidan kuat sehingga mampu melindungi kulit dengan menghambat kerusakan pada membran sel,” terang Prof Mega dikutip Jumat, 31 Juli 2026.

Baca juga: Pilih Buah Mengkal atau Matang? Kenali Kandungan Gula dan Manfaatnya

Selain itu, sirih merah terbukti mampu menghambat produksi melanin hingga 35 persen. Senyawa bioaktifnya bekerja langsung pada enzim kunci (tyrosinase) yang memicu produksi pigmen gelap dan pada uji seluler.

Bagi Prof Mega, penemuan ini bukan sekadar riset di laboratorium, tapi juga peluang strategis. Dengan tren masyarakat yang semakin menyukai konsep natural, halal, dan eco-beauty, kosmetik berbasis sirih merah memiliki potensi pasar yang sangat cerah.

Selain itu, tanaman ini sangat mudah dibudidayakan layaknya tanaman hias, asalkan ditempatkan di area yang teduh (tidak terkena sinar matahari langsung).

Baca juga: Kampoong Ecopreneur Dampingi Petani Leuwisadeng Menuju Pasar Ekspor Ubi Ungu 

Untuk memperoleh senyawa aktifnya, Prof Mega menjelaskan, daun sirih merah yang berumur 1–2 tahun terlebih dahulu disortasi, dicuci, dan dikeringkan selama sekitar 48 jam sebelum dihaluskan.

Serbuk daun tersebut kemudian diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70 persen untuk menghasilkan ekstrak yang kaya senyawa bioaktif sebagai bahan alami pencerah kulit.

“Dengan memanfaatkan potensi lokal ini, Indonesia tidak hanya menghadirkan produk kecantikan yang aman dan berdaya saing global, tapi juga memperkuat kemandirian bahan baku kosmetik nasional,” tutupnya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Serba Serbi

Pilih Buah Mengkal atau Matang? Kenali Kandungan Gula dan Manfaatnya

Published

on

By

Pilih Buah Mengkal atau Matang? Kenali Kandungan Gula dan Manfaatnya
Buah durian. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Banyak orang memilih buah yang sudah matang karena rasanya lebih manis. Hal ini karena buah matang memiliki kandungan gula yang lebih tinggi dibanding buah yang masih mengkal.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena karbohidrat pada buah mengkal masih didominasi pati resisten yang dicerna lebih lambat oleh tubuh.

“Selama proses pematangan, pati kompleks di dalam buah akan berubah menjadi gula sederhana, seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Makanya, makin matang buahnya, makin tinggi juga kandungan gulanya dan rasanya jadi semakin manis,” ujarnya dalam program Perspektif yang tayang di YouTube IPB TV dikutip Kamis, 30 Juli 2026.

Baca juga: Benarkah Durian Pemicu Kolesterol? Ini Penjelasan Pakar IPB

Meski demikian, buah matang tetap memberikan manfaat karena kaya akan vitamin dan antioksidan. Karena itu, pilihan mengonsumsi buah mengkal atau matang sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan masing-masing.

Pada beberapa jenis buah, tingkat kematangan tertentu justru menjadi pilihan konsumsi masyarakat. Ia mencontohkan durian yang masih berkulit keras, tetapi daging buahnya sudah lembut sehingga kandungan gulanya relatif lebih rendah dibandingkan durian yang benar-benar matang.

Prof Antonius mengatakan, buah mengkal dapat menjadi pilihan bagi orang yang perlu membatasi asupan gula karena kandungan fruktosanya lebih rendah. Meski begitu, buah tersebut tetap mengandung mineral, vitamin, dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.

Namun, ia mengingatkan bahwa porsi konsumsi tetap menjadi faktor yang lebih penting daripada sekadar memilih tingkat kematangan buah.

“Kalau makan buah yang masak tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin masih oke dibandingkan makan buah yang setengah matang, tetapi jumlahnya banyak,” jelasnya.

Baca juga: Kampoong Ecopreneur Dampingi Petani Leuwisadeng Menuju Pasar Ekspor Ubi Ungu 

Prof Antonius menambahkan, baik buah mengkal maupun buah matang sama-sama bermanfaat bagi kesehatan apabila dikonsumsi secara bijak. Yang lebih dianjurkan adalah mengonsumsi buah dalam bentuk utuh agar kandungan serat alaminya tetap terjaga.

Menurutnya, serat alami berperan sebagai makanan bagi bakteri baik di usus besar. Bakteri tersebut tidak hanya membantu menjaga sistem imun, tetapi juga menghasilkan berbagai senyawa, termasuk vitamin dan hormon, yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara menyeluruh, bahkan kesehatan mental.

“Kalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food,” pungkasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Yantie Rachim Ajak Warga Berbelanja di Pasar Jambu Dua, Dukung Ekonomi Lokal

Published

on

By

Yantie Rachim Ajak Warga Berbelanja di Pasar Jambu Dua, Dukung Ekonomi Lokal
TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim saat berbelanja di Pasar Jambu Dua, Senin, 27 Juli 2026. Dok. Diskominfo Kota Bogor

KlikBogor – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor, Yantie Rachim mengajak masyarakat Kota Bogor untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Jambu Dua.

Hal tersebut disampaikan usai melakukan kunjungan ke pasar yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kota Bogor itu.

Dalam kunjungannya, Yantie Rachim melihat langsung kondisi Pasar Jambu Dua yang kini semakin tertata dan nyaman bagi para pedagang maupun pengunjung.

Ia menilai pasar tersebut memiliki berbagai keunggulan, mulai dari harga kebutuhan pokok yang terjangkau hingga ketersediaan bahan pangan yang segar.

Menurutnya, dari sisi kebersihan, Pasar Jambu Dua sudah mengalami banyak perkembangan. Penataan area pasar juga dinilai lebih rapi, sehingga memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang datang berbelanja.

“Pasarnya bersih, penataannya juga sudah rapi. Selain itu akses menuju pasar ini juga mudah, sehingga masyarakat tidak perlu kesulitan untuk datang memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Yantie Rachim, Senin, 27 Juli 2026.

Ia juga mengapresiasi keberadaan berbagai pilihan kuliner khas Bogor yang tersedia di kawasan Pasar Jambu Dua. Menurutnya, keberadaan kuliner tersebut menjadi daya tarik tambahan bagi masyarakat yang berkunjung.

“Masyarakat bisa berbelanja sekaligus menikmati berbagai pilihan makanan yang ada di sini,” katanya.

Meski demikian, Yantie Rachim memberikan masukan agar penataan area kuliner dan area penjualan kebutuhan lainnya dapat terus diperhatikan. Salah satunya dengan memisahkan lokasi penjualan kuliner dengan area penjualan pakaian agar aktivitas perdagangan lebih tertata.

“Ke depan mungkin bisa dipertimbangkan agar area kuliner dan pakaian dipisahkan, sehingga masing-masing memiliki ruang yang lebih nyaman dan tertata,” tuturnya.

Yantie Rachim juga mengimbau masyarakat Kota Bogor untuk memanfaatkan keberadaan Pasar Jambu Dua sebagai salah satu pilihan tempat berbelanja kebutuhan keluarga.

“Mari warga Kota Bogor berbelanja ke Pasar Jambu Dua. Selain membantu aktivitas ekonomi para pedagang, masyarakat juga bisa mendapatkan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang baik,” pungkasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading

Serba Serbi

Mengenal Yalanda-Nabila IPB, 2 Varietas Okra Unggul Berpotensi Ekspor

Published

on

By

Mengenal Yalanda-Nabila IPB, 2 Varietas Okra Unggul Berpotensi Ekspor
Yalanda IPB dan Nabila IPB. Dok. IPB University

KlikBogor – Setelah sukses merakit lebih dari 30 varietas cabai unggul, peneliti IPB University Prof Muhamad Syukur kembali memperkenalkan terobosan baru di bidang pangan sehat.

Kali ini, ia resmi mendaftarkan dua varietas unggul tanaman okra (bamia) lokal untuk mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) ke Kementerian Republik Indonesia.

Kedua varietas tersebut diberi nama Yalanda IPB dan Nabila IPB. Prof Syukur menjelaskan bahwa penamaan kedua varietas memiliki arti sendiri.

“Nabila yang memiliki karakteristik warna polong hijau berasal dari bahasa Arab yang berarti mulia, terhormat, dan berbudi luhur. Sementara, Yalanda berasal dari Yolanda artinya bunga violet, warna ungu,” kata pakar pemuliaan tanaman ini dikutip Jumat, 24 Juli 2026.

Baca juga: Super Pedas, IPB University Ciptakan 4 Varietas Cabai Habanero Lokal

Prof Syukur menjelaskan, varietas Yalanda IPB dan Nabila IPB adalah varietas pertama okra bersari bebas yang dilepas di Indonesia.

Karena dirakit langsung di dalam negeri, kedua varietas lokal ini memiliki daya adaptasi yang jauh lebih baik terhadap cuaca tropis basah serta ancaman hama lokal di Indonesia.

Tidak hanya adaptif, Prof Syukur menambahkan bahwa produktivitas hasil panennya pun tercatat jauh lebih tinggi.

“Umur berbunganya sangat cepat, yakni hanya 28 hingga 36 hari setelah tanam. Kemudian pada umur 33 sampai 44 hari setelah tanam, okra sudah bisa langsung dipanen,” ujarnya.

Namun, ia memberikan catatan penting bagi para petani dalam memanen sayuran ini. Menurutnya, pemanenan sebaiknya dilakukan 3 hingga 5 hari setelah bunga muncul. Keterlambatan panen dapat menyebabkan tekstur polong okra menjadi keras dan kualitasnya menurun.

“Setelah bunga keluar, dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari harus sudah dipanen. Jika terlambat, tekstur polong okra akan menjadi keras dan menurunkan kualitasnya,” katanya.

Baca juga: Kecamatan Bogor Selatan Siapkan Sahabat Bosel, Inovasi Digital untuk Pelayanan Publik

Dari sisi kesehatan, kedua varietas okra ini mempertahankan reputasinya sebagai superfood. Baik Yalanda IPB maupun Nabila IPB, keduanya memiliki profil kapasitas antioksidan yang sangat baik serta terbukti efektif untuk membantu mengontrol kadar gula darah (diabetes) dan kolesterol.

Meskipun saat ini pangsa pasar konsumsi okra di dalam negeri belum terlalu luas, Prof Syukur optimistis popularitas tanaman ini akan terus meroket seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat.

Bagi petani, komoditas ini menawarkan potensi margin keuntungan yang sangat menjanjikan dibandingkan sayuran konvensional lainnya.

Selain karena perawatan pohonnya yang relatif tidak serumit komoditas lain, okra memiliki peluang ekspor yang sangat terbuka lebar.

“Pasarnya memang belum terlalu luas di Indonesia saat ini, tapi seiring berjalannya waktu, okra akan semakin dikenal luas. Peluang ekonominya sangat besar, apalagi jika bisa memasok kebutuhan ekspor ke Jepang. Saat ini, para petani di Jawa Timur sudah berhasil melakukan ekspor tersebut,” pungkasnya.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer