Connect with us

Berita

Terpilih jadi Ketua Kadin Kota Bogor, Arwinsyah Putra Dorong Koperasi-UMKM Go Internasional

Published

on

Terpilih jadi Ketua Kadin Kota Bogor, Arwinsyah Putra Dorong Koperasi-UMKM Go Internasional
Arwinsyah Putra terpilih sebagai Ketua Kadin Kota Bogor untuk periode 2026-2031 dalam Mukota VIII, Kamis, 18 Juni 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Arwinsyah Putra resmi terpilih dan sah menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bogor untuk periode 2026-2031.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Kota (MUKOTA) VIII Kadin Kota Bogor yang digelar di The Podium Function Spaces, Lippo Plaza Ekalokasari, Bogor, Kamis, 18 Juni 2026.

​Arwinsyah Putra menggantikan posisi ketua sebelumnya, Bagus Maulana Muhammad, untuk memimpin arah baru dunia usaha dan memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah daerah selama lima tahun ke depan.

​Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi mendalam, sekaligus ucapan selamat atas terlaksananya Mukota VIII serta terpilihnya kepengurusan yang baru.

​Dalam sambutannya, Dedie Rachim memaparkan kondisi makro ekonomi wilayah yang saat ini mencatatkan pertumbuhan positif di angka 5,65 persen.

Meski target nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto berada di angka 8 persen, ia mengaku tetap optimis dengan potensi lokal yang dimiliki Kota Bogor.

​”Kota Bogor hari ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,65 persen. Kita memahami dinamika politik dan perkembangan ekonomi dunia saat ini memengaruhi berbagai lini. Namun, saya optimis pertumbuhan ekonomi ini akan terus bertambah selama kondusifitas dan situasi kota terjaga dengan baik,” ujarnya.

​Ia juga menekankan bahwa stabilitas ekonomi sangat bergantung pada Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Oleh karena itu, ia mengajak para pengusaha yang bernaung di bawah Kadin untuk proaktif menjaga iklim usaha yang aman.

​Selain itu, Wali Kota menyoroti pentingnya kepastian program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.

​”Potensi perputaran uang di Kota Bogor dari MBG saja bisa mencapai lebih dari Rp1 triliun per tahun. Ini potensi yang sangat besar. Kami berharap kepengurusan Kadin yang baru bisa ikut menjaga kondusifitas wilayah agar persoalan baru tidak muncul dan ekonomi terus bergerak,” tambahnya.

​Nasihat senada disampaikan oleh Ketua Kadin Jawa Barat, Almer Faiq Rusydi. Sebagai mantan Ketua Kadin Kota Bogor, Almer mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya bagi Arwinsyah Putra bukan sekadar memenangkan kontestasi, melainkan bagaimana menjalankan roda organisasi dan membangun ekosistem yang solid.

​”Tantangan nyata setelah ini adalah membuat suatu ekosistem pengurus yang bisa bersinergi dengan Pemerintah Kota Bogor dan Forkopimda guna memastikan iklim usaha tetap kondusif,” jelas Almer.

​Almer juga secara khusus menginstruksikan Arwinsyah untuk merangkul seluruh elemen pengusaha di Kota Bogor tanpa membeda-bedakan latar belakang.

​”Arahan dari saya untuk Kang Arwin, rangkul semua pihak dan ayomi semuanya. Masukkan ke dalam kepengurusan, tidak apa-apa jika di awal kepengurusan ini terlihat gemuk. Nanti dalam waktu enam bulan hingga satu tahun, organisasi akan mengevaluasi mana yang bisa bekerja maksimal,” tegasnya.

​Sebagai ketua terpilih sekaligus ketua formatur, Arwinsyah Putra menegaskan komitmennya untuk bekerja keras merealisasikan visi dan misinya.

Pria berlatar belakang arsitek lulusan Universitas Trisakti ini berjanji menjadikan Kadin sebagai mitra strategis utama pemerintah dalam pembangunan ekonomi kota.

​Salah satu langkah konkret awal yang akan diakselerasi adalah mendorong penguatan sektor Koperasi dan UMKM agar mampu menembus pasar ekspor di tengah dinamika nilai tukar rupiah.

​”Saya akan bekerja keras menjalankan visi misi saya, utamanya menjadi mitra strategis pemerintah dalam dunia usaha. Saya juga sudah menyampaikan kepada komunitas UMKM dan koperasi, kemarin ada sekitar 100 komoditas produk lokal, seperti camilan makaroni panggang, yang potensial untuk kita dorong ekspornya ke luar,” kata Arwinsyah.

​Ia pun meminta dukungan penuh dari pemerintah daerah agar pintu kolaborasi selalu terbuka demi kemajuan dunia usaha di Kota Bogor.

​Sebelum prosesi serah terima jabatan, Ketua Kadin Kota Bogor periode 2021-2026, Bagus Maulana Muhammad, menyampaikan laporan capaian perjalanan organisasinya yang terbagi ke dalam tiga fase penting.

​”Fase pertama (2021-2022) adalah masa konsolidasi dan taaruf di tengah batasan pandemi Covid-19. Fase kedua adalah tahun kolaborasi, di mana kami menyatukan komposisi seimbang antara pengurus senior dan junior. Dan fase ketiga (2024-2026) adalah tahun prestasi, yang ditandai dengan keberhasilan membangun gedung Kadin Kota Bogor yang representatif, serta mencatatkan sejarah di mana Ketua Kadin Jabar saat ini berhasil terpilih dari kader Kota Bogor,” kata Bagus.

(rls/hrs)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Dirum Perumda PPJ Ajukan Mundur, Tugas Sementara Dirangkap Direksi

Published

on

By

Dirum Perumda PPJ Ajukan Mundur, Tugas Sementara Dirangkap Direksi
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim didampingi Dirut Perumda Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor, Jenal Abidin saat meninjau pembangunan Pasar Merdeka, Kamis, 6 Agustus 2026. Foto/Klikbogor

KlikBogor – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, membenarkan bahwa Direktur Umum (Dirum) Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor, Samsudin, telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Pengajuan tersebut disampaikan langsung kepada Wali Kota dan saat ini sedang diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Dedie Rachim mengatakan, keputusan untuk mengundurkan diri merupakan hak pribadi yang didasari berbagai pertimbangan, baik secara personal maupun profesional. Ia menghormati keputusan tersebut.

“Kenapa mau keluar, tentu ada pertimbangan pribadi, dan pertimbangan profesional. Jadi saya menyerahkan, karena beliau yang menyampaikan ke saya untuk mengundurkan diri. Ya, mangga (bahasa Sunda artinya silahkan,” ujar Dedie Rachim kepada wartawan usai peninjauan pembangunan Pasar Merdeka, Kamis, 6 Agustus 2026.

Baca juga: Pasar Merdeka Tampil dengan Wajah Baru: Pasar Bersih hingga Onderdil

Namun, Dedie Rachim mengaku tidak menanyakan secara rinci alasan maupun rencana karier bersangkutan setelah melepas jabatannya di Perumda PPJ.

“Beliau kan seorang yang punya jaringan yang luas. Saya enggak nanya, ‘Pak, diterima di perusahaan apa?’. Masa ditanya, ‘Pak, di sana gajinya berapa? Di sini gajinya berapa?’ Kan enggak saya tanya. Ya, barangkali di sana lebih besar, masa kita tahan-tahan. Mangga ditanya,” katanya.

Terkait keberlangsungan Perumda PPJ, Dedie Rachim memastikan roda perusahaan tetap berjalan. Untuk sementara waktu, tugas Dirum akan dirangkap oleh jajaran direksi yang saat ini masih menjabat.

“Untuk sementara bisa dirangkap lah oleh direksi yang ada,” kata Dedie Rachim. Baca juga: Perumda Pasar Pakuan Jaya Fungsikan Lahan Eks Pasar dan Plaza Bogor jadi Area Parkir Sementara

(hrs)

Continue Reading

Berita

Ribuan Anak di Kota Bogor Ditarget Kembali Bersekolah

Published

on

By

Ribuan Anak di Kota Bogor Ditarget Kembali Bersekolah
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi. Fofo/Klikbogor

KlikBogor – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memperkuat upaya menekan angka tidak sekolah (ATS) melalui kolaborasi lintas sektor dan penyediaan berbagai jalur pendidikan yang lebih mudah diakses masyarakat. Saat ini, jumlah ATS di Kota Bogor tercatat sekitar 9.900 anak.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Herry Karnadi mengatakan bahwa Wali Kota Bogor dan Wakil Wali Kota Bogor memberikan perhatian serius terhadap penanganan ATS di Kota Bogor.

Untuk mempercepat penanganan, Disdik menggandeng berbagai perangkat daerah dan instansi, mulai dari Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Badan Pusat Statistik (BPS), Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan, kecamatan, hingga unsur kewilayahan.

Selain itu, Disdik juga melibatkan Karang Taruna, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Rumah Data, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), serta berbagai lembaga masyarakat untuk bersama-sama mengajak anak-anak yang putus sekolah kembali mengenyam pendidikan.

Herry mengatakan, gerakan tersebut telah dimulai sejak Juni 2026 melalui Gebyar PKBM yang dilaksanakan di seluruh kecamatan di Kota Bogor. Selanjutnya, Rakornis digelar untuk menyamakan langkah seluruh pemangku kepentingan agar penanganan ATS berjalan lebih efektif.

“Hari ini kita Rakornis untuk menyamakan lagi langkah dan target,” ujar Herry di sela Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) penanganan ATS Tingkat Kota Bogor Tahun 2026 di Hotel Onih, Kamis, 6 Agustus 2026.

Baca juga: Komisi II Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Parkir di Kota Bogor

Pemkot Bogor menargetkan sebanyak mungkin anak yang putus sekolah dapat kembali bersekolah sebelum penutupan atau cut off Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada Agustus 2026. Dengan demikian, data yang tercatat di Kementerian Pendidikan dapat diperbarui sehingga angka ATS Kota Bogor semakin menurun.

Saat ini, jumlah anak tidak sekolah di Kota Bogor tercatat sekitar 9.900 anak. Angka tersebut telah mengalami penurunan dibandingkan Desember tahun lalu yang mencapai sekitar 10.700 anak.

Herry berharap kolaborasi lintas sektor yang semakin luas dapat mempercepat penurunan angka tersebut dalam beberapa bulan ke depan. Untuk mendukung target itu, Disdik Kota Bogor menyiapkan tiga langkah strategis.

Pertama, melalui program beasiswa SMP swasta. Kedua, memperluas akses pendidikan melalui PKBM, dan ketiga, membentuk Kelompok Belajar (Pokjar) yang akan mendekatkan layanan pendidikan hingga tingkat lingkungan.

Melalui Pokjar, proses belajar dapat dilaksanakan di fasilitas umum seperti posyandu, aula kelurahan, maupun kantor RW dengan dukungan tenaga pendidik dari PKBM.

Menurut Herry, konsep Pokjar merupakan strategi jemput bola agar anak-anak yang terkendala jarak maupun akses tetap dapat memperoleh layanan pendidikan.

Baca juga: Gebyar PKBM Kota Bogor, Ribuan Siswa Terima Ijazah Paket A hingga C

Pemkot Bogor juga menargetkan penurunan ATS hingga 2.000–3.000 anak pada tahun ini. Target tersebut akan dibarengi dengan verifikasi data ATS, termasuk mengidentifikasi warga yang telah pindah domisili atau tidak lagi berada di Kota Bogor.

Ia menjelaskan, ada tiga faktor penyebab utama anak putus sekolah. Faktor pertama adalah akses pendidikan, seperti keterbatasan daya tampung sekolah, ruang belajar, maupun ketersediaan sarana pendidikan.

Faktor kedua adalah tingkat kesejahteraan yang menyebabkan kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah, mulai dari biaya transportasi, seragam, hingga perlengkapan belajar.

Sementara faktor ketiga adalah faktor kultural, salah satu contohnya masih adanya pandangan sebagian masyarakat yang menganggap pendidikan hingga jenjang SD atau SMP sudah cukup.

Herry menambahkan, dua faktor yakni akses pendidikan dan tingkat kesejahteraan ditangani melalui program beasiswa, PKBM, dan Pokjar. Sedangkan faktor kultural belum bisa terjangkau dan memerlukan pendekatan yang lebih panjang melalui edukasi, sosialisasi, serta peningkatan kesadaran orang tua mengenai pentingnya pendidikan.

(hrs)

Continue Reading

Berita

Kampoong Ecopreneur Undang Anak Muda dan Santri Belajar Bisnis Gratis

Published

on

By

Kampoong Ecopreneur Undang Anak Muda dan Santri Belajar Bisnis Gratis
Yayasan Kampoong Ecopreneur membuka program pendidikan bisnis gratis bagi anak muda dan calon santri. Foto/Istimewa

KlikBogor – Yayasan Kampoong Ecopreneur membuka program pendidikan bisnis gratis bagi anak muda dan calon santri yang ingin menjadi ecopreneur atau pengusaha berbasis lingkungan. Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini mengatakan, lebih dari 100 orang telah mendaftar sebagai calon Santri Ecopreneur.

“Saat ini kami membuka pendaftaran Santri Ecopreneur dan sudah ada lebih dari 100 orang yang mendaftar,” kata Jamil, Kamis, 6 Agustus 2026.

Jamil mengatakan, program itu digagas untuk menjawab tiga persoalan yang dinilai saling berkaitan, yakni kerusakan alam, lemahnya perekonomian desa, dan meningkatnya persoalan kesehatan mental.

Menurutnya, dalam 15 tahun terakhir Indonesia kehilangan sekitar 18 juta hektar hutan, sementara banyak desa yang memiliki sumber daya alam belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Ia juga menyebut, sekitar 31 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan mental.

Berangkat dari persoalan tersebut, Kampoong Ecopreneur membangun pusat pendidikan dan pemberdayaan di atas tanah wakaf seluas 1,7 hektar di Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

Melalui tempat ini, yayasan tersebut berupaya melahirkan pengusaha yang menjalankan bisnis sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Pasar Merdeka Tampil dengan Wajah Baru: Pasar Bersih hingga Onderdil

Salah satu program yang dikembangkan adalah One Family One Ecopreneur, yakni gerakan untuk melahirkan sedikitnya satu pengusaha lingkungan dalam setiap keluarga.

Jamil mengatakan bahwa program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mendampingi peserta dan warga dalam mengembangkan usaha berbasis potensi desa.

Di Desa Sadeng Kolot, Kecamatan Leuwisadeng, misalnya, Kampoong Ecopreneur menggandeng petani untuk membudidayakan ubi. Para petani akan mendapat pendampingan sejak proses penanaman hingga pemasaran agar produknya dapat menembus pasar ekspor.

“Kami mendampingi petani agar hasilnya bisa diekspor ke Singapura dan Malaysia. Pada Agustus ini, kami akan mulai menggarap lahan seluas 1,5 hektare,” ujar Jamil.

Program tersebut mendapat dukungan dari DT Peduli dan Center for Islamic Business and Economic Studies atau CIBEST IPB University.

Penggagas CIBEST IPB, Irfan Syauqi Beik mengatakan, pemberdayaan itu diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keagamaan mereka.

“Harapannya, para petani bisa menjadi kaya secara materiil sekaligus spiritual,” kata Irfan.

Baca juga: Kampoong Ecopreneur Dampingi Petani Leuwisadeng Menuju Pasar Ekspor Ubi Ungu 

Dalam program Santri Ecopreneur, peserta akan mendapat pembinaan keagamaan, pelatihan bisnis, dan pendampingan dari sejumlah praktisi.

Para mentor antara lain Jamil Azzaini; Atok Aryanto, mantan praktisi Astra Group; Burhan Sholihin, mantan jurnalis Tempo dan salah satu pendiri Hara Chicken; serta para pelatih dan coach profesional Kampoong Ecopreneur.

Program ini ditujukan agar santri tidak hanya memahami Al-Quran, tetapi juga mampu membangun usaha yang mandiri dan berkelanjutan. Pendaftaran dibuka hingga 20 Agustus 2026, disusul pengumuman seleksi berkas pada 25 Agustus.

Peserta yang lolos akan mengikuti kelas daring pada September–Oktober, seleksi wawancara pada 25–30 Oktober, serta kelas tatap muka pada November 2026.

“Kami ingin Al-Quran jalan, bisnis jalan, spiritual meningkat, dan saldo rekening juga bertambah. Setelah mengikuti program ini, mereka diharapkan menjadi ecopreneur SuksesMulia yang kaya spiritual dan kaya material,” ujar Jamil.

(rls/hrs)

Continue Reading
Advertisement

Potret

Populer