Berita
Warga Bogor Diajak “Rame-Rame” Bangun Sistem Pangan Kota yang Lebih Hijau
KlikBogor – Persoalan pangan di kota, bukan hanya soal bagaimana makanan tersedia di meja makan, tetapi juga bagaimana pangan diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, hingga bagaimana sisa makanan dikelola.
Menjawab tantangan tersebut, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menggelar kegiatan “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” pada Sabtu, 26 September 2026, di Dieu Geura Arts and Community Space, Kota Bogor.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai instansi dari Pemerintah Kota Bogor, di antaranya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bogor, akademisi, pelaku usaha bidang pangan, komunitas, hingga masyarakat umum.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang temu multipihak untuk memperkuat sistem pangan perkotaan di Kota Bogor yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Adapun salah satu persoalan yang menjadi perhatian di Kota Bogor beberapa tahun terakhir ini adalah tingginya pemborosan pangan. Riset KRKP pada 2026, sisa pangan Kota Bogor mencapai 82,71 ton per hari dari rumah tangga; 10,12 ton per hari dari kafe; 10,37 ton per hari dari penyelenggaraan makan bergizi gratis di sekolah; 5,57 ton per hari dari hotel; dan 5,39 ton per hari dari restoran.
Kemudian United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat bahwa timbunan sampah makanan Kota Bogor pada 2022 mencapai 55 kilogram per kapita per tahun.
“Persoalan pangan kota tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pihak atau satu sektor saja. Kita membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, kebijakan, pelaku usaha, dan konsumen. Semangatnya adalah “rame-rame” yang mana kita bekerja bersama untuk membangun sistem pangan Kota Bogor yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ucap Wahyu Ridwan Nanta, Project Manager Pangan Kota Kita, KRKP.
Mengatasi persoalan pangan dapat dimulai dari keluarga atau rumah tangga, dan dapat dilakukan secara kolektif oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa.
“Salah satu gerakan kolektif yang telah didorong oleh pemerintah Kota Bogor adalah ASINAN BOGOR, yaitu gerakan aksi sadar kurangi pangan berlebih di Kota Bogor”, tambahnya.
Baca juga: El Nino Capai Rekor Tertinggi Sejak 1950, Pangan Global Terancam
Kota Bogor sendiri menghadapi berbagai tantangan sistem pangan yang semakin kompleks. Sebagian besar pasokan pangan masyarakat berasal dari luar wilayah kota, sementara ruang atau lahan produksi pangan di dalam kota terus menghadapi tekanan alih fungsi lahan.
“Kota Bogor hanya memiliki daya beli, dan tidak memiliki daya untuk memproduksi pangan,” ujar Widya Hasian Situmeang, Dosen Sekolah Vokasi IPB University. Di sisi lain, persoalan pemborosan pangan juga menjadi tantangan penting, terutama bagi perempuan.
“Perempuan menjadi food keeper, yang bertugas memilih jenis pangan, mengatur menu, membeli pangan, menyiapkan makanan di piring keluarga, hingga menangani sisa dan limbah pangan. Hal tersebut menjadikan perempuan memiliki beban ganda atau triple dalam kehidupan sehari-harinya,” tambah Widya.
Dari Talkshow hingga Workshop Sisa Pangan
Rangkaian kegiatan dibuka dengan Talkshow Radio “Aksi Kita Sapa Bumi: Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor”, hasil kolaborasi KRKP bersama radio Pro 2 FM RRI Bogor.
Talkshow digelar di ruang publik secara terbuka agar masyarakat dapat mengikuti langsung percakapan mengenai masa depan sistem pangan Kota Bogor. Talkshow sesi pertama fokus membahas penguatan sistem pangan perkotaan dari perspektif pemerintah, akademisi, perempuan, dan generasi muda.
Sementara itu, talkshow sesi kedua menghadirkan perspektif pelaku usaha di bidang pangan. Diskusi tersebut mengangkat praktik green entrepreneurship, pengurangan sisa pangan di dapur usaha, pemendekan rantai pasok, serta pemanfaatan bahan baku lokal.
“Bisnis hijau sangat sulit bertahan lama dan bahkan tidak menguntungkan bagi sebagian besar pelaku usaha pangan”, tutur Aling Nur Naluri Widianti, Founder Salam Rancage.
Namun, Aling optimis bahwa Bogor secara ekosistem sangat mendukung ekonomi hijau, dimana pemerintah daerah, pelaku usaha pangan, serta masyarakatnya sudah mulai tereduksi dengan tren konsumsi pangan yang lebih organik dan hijau.
Baca juga: 4 Pengamen di Angkot Kota Bogor Diberi Sanksi Hormat Bendera
Selain talkshow, pengunjung juga dapat mengakses bazar pangan lokal, exhibition sistem pangan perkotaan, konsultasi bersama pakar ahli dari klinik tanaman dan hewan IPB University, serta workshop “Praktik Pemanfaatan Sisa Pangan Menjadi Ide Usaha” yang difasilitasi oleh SMX School of Maker.
Melalui workshop ini, peserta diajak melihat sisa pangan bukan semata sebagai limbah, tetapi sebagai material yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi produk baru atau peluang usaha.
Dari talkshow, workshop dan berbagai booth edukasi yang disajikan, peserta diajak melihat kembali hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan sistem pangan kota. Mulai dari merencanakan belanja, menyimpan bahan pangan, mengolah makanan, hingga memanfaatkan sisa pangan.
Kehadiran pelaku usaha yang tengah bertransisi menuju bisnis hijau dalam kegiatan ini, diharapkan menjadi kesempatan untuk memperluas akses pasar hijau.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bertemunya pelaku usaha dengan konsumen yang mulai sadar untuk menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan serta ikut menghargai praktik baik yang dilakukan pelaku usaha.
Selain memperkenalkan produknya, para pelaku usaha dapat memperoleh umpan balik langsung dari konsumen mengenai produk dan praktik bisnis mereka.
Generasi Muda dan Konsumen Menjadi Perubahan dalam Ekosistem Pangan
Kegiatan “rame-rame” menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari perubahan sistem pangan perkotaan. Kelompok generasi muda memiliki posisi strategis karena dekat dengan pola konsumsi pangan di luar rumah, layanan pesan antar, serta berbagai kanal komunikasi digital.
Melalui pendekatan yang menggabungkan dialog publik, media, pengalaman langsung, dan interaksi dengan pelaku usaha, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong konsumen tidak hanya memahami persoalan pangan, tetapi juga mengenali pilihan dan praktik yang dapat dilakukan dalam keseharian.
Pada akhirnya, “Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor” diharapkan menghasilkan lebih dari sekadar satu hari kegiatan. Ruang temu ini ditujukan untuk memperkuat jejaring antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan konsumen; memperluas akses pasar bagi usaha yang sedang bertransisi menuju bisnis hijau; serta membangun kesepahaman mengenai langkah bersama untuk menciptakan sistem pangan Kota Bogor yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaulat.
Melalui kegiatan ini, KRKP berharap terbentuk jejaring yang lebih kuat di antara berbagai aktor sistem pangan Kota Bogor sekaligus membuka peluang kemitraan untuk mendorong praktik pangan yang lebih berkelanjutan, mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas, karena setiap pihak memiliki peran dalam menentukan bagaimana pangan diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, hingga bagaimana sisa pangan dikelola secara bijak.
(rls/hrs)