Berita
Teknologi Tanah Sulap Lahan Marginal untuk Pertanian Regeneratif
KlikBogor – Lahan marginal kini menjadi isu strategis pembangunan pertanian di Indonesia akibat semakin terbatasnya lahan subur, pertumbuhan penduduk yang pesat, dan perubahan iklim yang makin tidak menentu.
Demikian hal itu disampaikan Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suwardi saat konferensi pers pra orasi ilmiah berjudul ‘Teknologi Tanah sebagai Pilar Transformasi Lahan Marginal Menuju Pertanian Regeneratif’, yang digelar virtual, Kamis, 14 Agustus 2025.
Setiap tahun, tercatat sekitar 140 ribu hektare lahan pertanian produktif beralih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur, sehingga mengancam ketahanan pangan nasional.
Data menunjukkan, hampir 82 persen daratan Indonesia atau sekitar 157 juta hektare tergolong lahan marginal dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologi tanah.
Prof Suwardi mengurai karakteristik umum lahan marginal antara lain pH rendah yang memicu kelarutan aluminium dan besi hingga tingkat toksik, defisiensi unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) maupun mikro (Zn, B, Cu, Mo), kapasitas tukar kation rendah, struktur tanah tidak mantap, serta kerentanan tinggi terhadap erosi, banjir, dan kekeringan.
“Jenis lahan marginal di Indonesia mencakup tanah masam, tanah sulfat masam, tanah gambut, tanah berpasir, dan lahan bekas tambang,” paparnya.
Selama puluhan tahun, lanjutnya, pengelolaan lahan pertanian mengacu pada sistem klasifikasi kemampuan lahan yang konservatif, di mana sebagian besar lahan marginal ditempatkan sebagai kawasan terbatas atau untuk konservasi.
Pendekatan ini berguna, namun cenderung statis dan kurang adaptif terhadap kemajuan teknologi serta perubahan iklim. Kini, dibutuhkan paradigma baru berbasis teknologi tanah yang lebih dinamis dan berorientasi pada pemulihan fungsi ekosistem.
Menurutnya, teknologi tanah memegang peran kunci dalam pertanian regeneratif, suatu sistem yang memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, menjaga kestabilan iklim, dan memproduksi pangan secara berkelanjutan.
Inovasi ini mencakup penerapan metode pengelolaan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara terpadu, dengan prinsip ekologis, ekonomis, dan adaptif.
Ia menambahkan bahwa berbagai inovasi telah dikembangkan melalui penelitian selama lebih dari dua dekade, di antaranya penggunaan bahan amelioran, seperti kompos, kapur, biochar, bahan humat, dan zeolit untuk memperbaiki sifat tanah.
Kompos menambah karbon organik dan memperbaiki struktur; kapur menetralkan kemasaman sekaligus menambah kalsium dan magnesium; biochar menyimpan air dan hara; bahan humat meningkatkan ketersediaan hara serta aktivitas mikroba; dan zeolit, mineral berongga dengan kapasitas tukar kation sangat tinggi, mampu mengikat dan melepaskan unsur hara secara perlahan.
Rekayasa pemupukan juga menjadi bagian penting teknologi tanah. “Pupuk NPK–Zeolit berbasis Controlled Release Fertilizer (CRF) yang dikembangkan telah terbukti meningkatkan efisiensi pemupukan, mengurangi pencucian hara, dan meningkatkan hasil berbagai komoditas seperti padi, kelapa kopyor, karet, pisang, dan durian hingga 10–15 persen dibanding pupuk konvensional,” ujar Prof Suwardi.
Inovasi lain adalah media tanam zeoponik, campuran zeolit, kompos, dan cocopeat dengan tambahan pupuk makro, mikro, dan super absorbent polymer (SAP), yang mampu menghemat frekuensi penyiraman hingga tiga minggu tanpa menurunkan pertumbuhan tanaman.
Prof Suwardi menambahkan bahwa teknologi tanah terbukti efektif memulihkan lahan marginal ekstrem. Pada tanah sulfat masam di Jambi, kombinasi varietas adaptif, pengapuran, tata air, dan pemupukan lengkap meningkatkan hasil padi dari 1–2 ton per hektare menjadi 5–6 ton per hektare.
Di lahan gambut, pengaturan muka air presisi dan pemupukan berimbang memungkinkan budidaya kelapa, kelapa sawit, dan hutan tanaman industri secara produktif, menjadikan Indonesia eksportir utama produk kelapa dan minyak sawit, serta produsen pulp terbesar kelima dunia.
Pada lahan bekas tambang, aplikasi biochar, kompos, zeolit, dan kapur telah memperbaiki sifat fisik-kimia tanah, menurunkan logam berat, dan mendukung revegetasi dengan tanaman bernilai ekonomi.
Ia menjabarkan manfaat teknologi tanah tidak hanya teknis, tetapi juga strategis. Pertama, mengurangi tekanan pada lahan subur dengan memanfaatkan wilayah marginal untuk produksi pangan.
Kedua, meningkatkan kapasitas produksi nasional dan mengoptimalkan lahan yang sebelumnya tidak produktif. Dan ketiga, meningkatkan kesejahteraan petani di daerah terpencil melalui peningkatan hasil, efisiensi penggunaan input, dan keberlanjutan ekosistem.
“Kontribusi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya ketahanan pangan (SDG 2), aksi iklim (SDG 13), dan pelestarian ekosistem daratan (SDG 15),” katanya.
Meski potensinya besar, Prof Suwardi bilang adopsi teknologi tanah masih terkendala biaya input tinggi bagi petani kecil, keterbatasan kapasitas teknis, serta kebijakan dan dukungan kelembagaan yang belum terintegrasi lintas sektor.
Solusinya yakni memerlukan kolaborasi publik–swasta, pendidikan petani, dan pemanfaatan teknologi digital seperti Internet of Things (IoT) dan Decision Support System (DSS) untuk pemantauan dan pengambilan keputusan berbasis data.
Ia mengatakan jika gurun di belahan dunia lain dapat dihijaukan, lahan marginal Indonesia pun bisa dipulihkan dan ditingkatkan produktivitasnya.
“Kuncinya adalah memadukan inovasi teknologi tanah, kemauan politik, dukungan industri, dan partisipasi aktif petani,” paparnya.
Prof Suwardi menegaskan kesehatan tanah adalah cerminan kesehatan bangsa, tanah yang sehat menghasilkan pangan berkualitas, mensejahterakan petani, dan memperkuat kedaulatan pangan.
“Saatnya mengembalikan martabat tanah melalui ilmu, inovasi, dan tekad bersama, agar dari lahan marginal lahir pertanian regeneratif untuk masa depan Indonesia yang mandiri, maju, dan lestari,” tutupnya.
(ckl/hrs)
Berita
SPPG La Isola Batutulis Tetap Distribusikan MBG Selama Ramadan
KlikBogor – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) La Isola Batutulis tetap mendistribusikan program makan bergizi gratis (MBG) kepada para penerima manfaat selama bulan Ramadan.
Kepada awak media, Legal SPPG La Isola Batutulis, Agus Murianto, mengatakan bahwa kebijakan tersebut mengikuti arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Adapun makanan yang disalurkan dalam program MBG memiliki batas waktu konsumsi maksimal tujuh jam setelah dimasak.
“Kalau untuk bulan puasa ini kami memberi menu kering karena tidak bisa langsung dimakan. Arahan dari BGN, makanan maksimal tujuh jam dari matang. Kalau diberikan kan tidak mungkin. Maka ini arahan dari BGN, kami menggunakan makanan kering,” jelas Agus dikutip Rabu, 3 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa di SPPG La Isola Batutulis kualitas tetap menjadi prioritas utama. “Jadi tidak bisa diukur dengan besar kecilnya (makanan). Misalkan roti itu besar, tapi keras dan ada bahan pengawet, kami tidak mau. Produk-produk kami semua fresh, hari ini dibuat, besok dikirim, dan itu kualitas premium semua,” katanya.
Terkait adanya protes dari sebagian masyarakat mengenai menu makanan kering di bulan Ramadan, Agus menyampaikan bahwa penilaian gizi seharusnya berdasarkan kajian ahli gizi, bukan sekadar tampilan fisik.
“Kalau masalah gizi, yang tahu ahli gizi. Terkadang orang tua melihatnya hanya besar atau kecil. Tapi di kami sampai hari ini tetap memberi yang terbaik, kelas premium semua,” ucapnya.
Ia mencontohkan roti yang digunakan bukan roti awetan, melainkan roti standar bakery tanpa bahan pengawet meski ukurannya terlihat lebih kecil dan harganya lebih tinggi.
“Premium itu misalnya roti. Standarnya bakery, memang kelihatan kecil tapi nilai gizinya baik tanpa bahan pengawet. Harganya juga pasti lebih tinggi. Kalau kami kasih roti biasa mungkin kami untung, tapi tujuan kami bukan hanya mencari untung. Kami mencari berkah dan kualitas,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa orientasi SPPG La Isola Batutulis bukanlah keuntungan semata, melainkan mendukung dan menyukseskan program pemerintah dalam meningkatkan gizi.
“Masa untuk Indonesia Emas, Indonesia bergizi, kita kasih makanan yang tidak bergizi,” tandasnya.
(hrs)
Berita
Kebakaran Warung Soto Mie di Mekarwangi, Pemilik Terluka Bakar
KlikBogor – Kebakaran melanda sebuah warung soto mie di Kampung Situ Asem, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa pagi, 3 Maret 2026.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Bogor, Theofilo Patricio Freitas, menjelaskan kejadian bermula ketika pemilik warung hendak menyalakan kompor. Sementara warung masih dalam kondisi tertutup rapat.
“Ketika penjual soto mie ingin menyalakan kompor, terjadilah ledakan yang kemungkinan disebabkan oleh endapan gas di ruangan tertutup tersebut,” kata Theofilo kepada wartawan.
Api yang membesar dengan cepat membakar tembok bangunan warung. Pemilik kemudian melaporkan kejadian tersebut pada pukul 06.56 WIB.
Merespon kejadian itu, petugas pemadam kebakaran langsung bergerak ke lokasi dan tiba pukul 07.00 WIB.
“Lama pemadaman 15 menit dan pendinginan selesai pukul 07.20 WIB,” tambahnya.
Kejadian ini mengakibatkan warung terbakar di bagian dinding serta atap. Sedangkan pemilik warung berinisial W (58) mengalami luka bakar di bagian tangan.
“Korban langsung ditangani oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor melalui PSC Gesit 119,” terangnya.
Theo menjelaskan, empat regu menangani yaitu regu 1 Sukasari, regu 3 Sukasari, regu 1 Yasmin, dan regu 3 Yasmin.
“Empat unit kendaraan diterjunkan dan satu unit rescu Yasmin,” jelasnya.
Sementara kerugian materil akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp50 juta.
(ckl/hrs)
Berita
Cerita Jemaah Umrah Asal Kota Bogor Soal Kondisi Terkini di Tanah Suci
KlikBogor – Salah satu jemaah umrah asal Kota Bogor, Asep Faizal Rahman, membagikan cerita kondisi terkini para jemaah umrah asal Indonesia di Tanah Suci.
Ia menyebut, secara umum kondisi para jemaah masih baik dan fasilitas yang diterima mencukupi. Namun, jemaah yang datang ke Tanah Suci disebut berkurang.
“Kami masih menunggu kepastian pesawat dan segala macam. Ya, kondisi masih banyak yang ketahan pulang, tapi ada juga yang tidak jadi ke sini gitu. Kalau keamanan secara kondisi aman-aman. Namun, sempat khawatir kalau Arab Saudi diserang. Tetapi petugas kepolisian di sini tetap mengimbau agar tetap tenang,” ujar Asep kepada awak media melalui sambung telepon WhatsApp, Senin siang, 2 Maret 2026.
Ia menjelaskan, sejauh ini suplai makanan bagi jemaah masih aman dan berjalan normal. Perbedaan yang terasa adalah suasana jemaah yang tidak terlalu padat.
“Makanan mah aman. Masih cukup kalau masalah makanan dan lain-lain itu masih normal. Sekarang ada dampak yang datang berkurang. Yang ke Mekah makin berkurang, jemaah yang tawaf. Jadi tidak terlalu padat,” katanya.
Meski suasana ibadah agak leluasa, Asep mengaku, tetap memikirkan kabar mengenai puluhan ribu jemaah yang disebut belum bisa pulang dan tertahan.
“Meskipun agak leluasa beribadah, tapi sebetulnya masih ada info-info yang kayak 50 ribu jemaah enggak bisa pulang gitu, 26 ribu jemaah tertahan. Terus kayak gitu-gitulah kami memikirkan itu. Kalai sampai seperti itu, gimana mau stay-nya kami dan sebagainya,” imbuhnya.
Ia juga menuturkan bahwa pihak travel telah menyerahkan data nama jemaah kepada KBRI untuk tindak lanjut apabila terjadi kendala.
“Sudah, sudah menyerahkan nama-nama ke KBRI, kami ini ada 13 rombongan. Mudah-mudahan diberi kelancaran, mohon doanya,” ucap Asep.
(ckl/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi1 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Serba Serbi4 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Berita8 bulan ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Opini12 bulan agoFenomena Kang Dedi Mulyadi (KDM): Pendekar Penjaga Alam
