Serba Serbi
Super Pedas, IPB University Ciptakan 4 Varietas Cabai Habanero Lokal
KlikBogor – Ahli pemuliaan tanaman IPB University, Prof Muhamad Syukur, berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia. Keempatnya, yaitu Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.
Jenis cabai super pedas ini menjadi varietas habanero pertama yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
“Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” ujar Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University sekaligus tokoh di balik pemuliaan cabai habanero lokal ini dikutip Selasa, 14 Juli 2026.
Prof Syukur mengatakan, salah satu daya tarik utama dari inovasi ini adalah tingkat kepedasannya luar biasa yang diukur menggunakan skala scoville heat units (SHU), bisa lima kali lipat lebih pedas dari rawit biasa. Masing-masing varietas memiliki karakteristik warna dan tingkat kepedasan yang berbeda.
Baca juga: Kekeringan Landa 2 Kelurahan di Kota Bogor, BPBD Salurkan 12.000 Liter Air Bersih
Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Sedangkan Margi 2 IPB memiliki warna peach dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU.
Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Sedangkan Tabia Sala Kuning IPB yang berwarna kuning juga memiliki tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU.
Selain menang di tingkat kepedasan, keunggulan utama habanero rakitan IPB University ini terletak pada daya adaptasinya. Cabai habanero impor umumnya memiliki daya adaptasi yang rendah di iklim tropis, sementara varietas IPB University ini dirancang khusus agar tangguh dan tahan hama atau penyakit keriting kuning.
Baca juga: Ratusan Angkot di Kota Bogor “Pensiun” Tak Lagi Mengaspal
Prof Syukur menambahkan, benih keempat varietas tersebut telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga, sehingga sudah bisa diakses secara massal oleh para petani di Indonesia.
Prof Syukur berharap varietas cabai baru ini dapat berkembang di petani maupun industri. Ia melihat varietas ini memiliki potensi serapan pasar domestik maupun global.
“Di dalam negeri kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat untuk mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, potensi besar juga untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membuat hot pack yang digunakan saat musim dingin,” katanya.
Prof Syukur mengungkapkan bahwa timnya telah memulai proses perakitan varietas ini sejak 2020. Selama 6 tahun perjalanan riset tersebut, tim peneliti menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
“Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal,” kata pakar pemuliaan tanaman IPB University yang telah melahirkan lebih dari 30 varietas cabai unggul ini.
(rls/hrs)
Pingback: 9 Proyek Strategis Kota Bogor Lanjut, Revitalisasi Gedung Kemuning Gading Ditunda
Pingback: Petugas Damkar Jinakkan Kebakaran Alang-alang di Pamoyanan