Berita

Pengembangan Ruminansia Pedaging Lewat Integrasi Nutrisi Mikroba-Phytogenic Additive

Published

on

Herbal mineral block untuk ternak. Foto/Istimewa.

KlikBogor – Permintaan akan produk daging terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Namun demikian, peningkatan populasi dan produktivitas ternak lokal belum mampu mengimbangi lajunya peningkatan kebutuhan akan konsumsi daging sapi bagi masyarakat Indonesia yang cenderung meningkat setiap tahunnya.

Hal ini juga beriringan dengan program pemerintah yang dikenal dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk.

Demikian hal itu dipaparkan Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University, Profesor Sri Suharti, dalam konferensi pers pra orasi ilmiah yang digelar virtual, Kamis, 10 Juli 2025.

Profesor Sri Suharti menambahkan bahwa peternakan merupakan pilar pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan nasional. Dan seiring dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi pangan bergizi yang salah satunya adalah konsumsi daging sapi atau kerbau, maka perlu peningkatan populasi ternak ruminansia sebagai penghasil daging.

Berdasarkan catatannya, pada 2024, pemerintah telah melakukan analisis proyeksi kebutuhan konsumsi daging sapi nasional sejumlah 759,67 ribu ton. Di sisi lain, produksi daging yang dihasilkan dari ternak sapi dan kerbau lokal sebanyak 496,25 ribu ton (65% dari kebutuhan konsumsi). Dengan demikian terjadi defisit sebanyak 263,42 ribu ton.

Apabila populasi ternak ini tidak segera ditingkatkan, kata Profesor Sri Suharti, maka akan terjadi pengurasan populasi ternak sapi dan kerbau lokal. Hal ini dapat menyebabkan populasi ternak sapi dan kerbau akan punah sehingga terperangkap dari ketergantungan impor ternak sapi bakalan.

“Program peningkatan populasi ternak ruminansia tentunya juga memerlukan dukungan pakan yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan performa  yang optimal,” katanya.

Ia mengatakan produktivitas ternak ruminansia yang dipelihara oleh peternak rakyat masih relatif rendah, sehingga memerlukan sentuhan teknologi baik breeding (pembibitan), feeding (pakan) maupun manajemen.

Selain peningkatan produktivitas, pengembangan peternakan ruminansia hendaknya diikuti dengan peningkatan kualitas produk daging yang dihasilkan dan ramah lingkungan.

Namun, ia menyinggung bahwa sistem saluran pencernaan ternak ruminansia berbeda dengan ternak monogastrik karena lambung ruminansia terbagi empat kompartemen, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum.

Pada rumen sendiri dihuni oleh mikroba (bakteri, protozoa, fungi) yang sangat banyak dan memegang peranan sangat penting dalam pencernaan atau degradasi dan fermentasi pakan.

“Mikroba rumen inilah yang mengubah pakan (rumput, konsentrat) menjadi senyawa volatile fatty acid (VFA) yang selanjutnya dikonversi menjadi produk yang bernilai gizi tinggi seperti daging dan susu,” jelasnya.

Profesor Sri Suharti melanjutkan saat ini masih terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan ternak ruminansia. Permasalahan pertama adalah produktivitas ternak lokal masih relatif rendah.

Kemudian, permasalahan kedua adalah kualitas produk daging yang dihasilkan. Produk daging ruminansia atau yang dikenal dengan red meat mengandung asam lemak jenuh yang relatif tinggi dibandingkan daging unggas.

“Permasalahan ketiga adalah emisi metan oleh ternak ruminansia yang dapat menyebabkan pemanasan global,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menekankan tantangan ini mendorong perlunya inovasi strategis yang tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga berkontribusi pada mitigasi metan.

Selama dekade terakhir, minat terhadap penggunaan produk tanaman dan senyawa bioaktif sebagai rumen modifier telah meningkat. Sebagian besar penelitian berfokus pada dampaknya terhadap fermentasi rumen, emisi metan, sintesis protein mikroba dan produktivitas ternak.

“Untuk meningkatkan produktivitas ternak dan menghasilkan daging berkualitas tinggi yang ramah lingkungan, sejumlah strategi inovatif mulai diterapkan oleh para peneliti dan praktisi peternakan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah pengembangan isolat mikroba yang berpotensi sebagai probiotik selulolitik. Mikroba ini berfungsi membantu proses pencernaan serat kasar di saluran pencernaan ternak, sehingga meningkatkan efisiensi pakan dan performa ternak,” paparnya.

Selain itu, dilakukan juga modifikasi fermentasi di rumen guna meningkatkan proses fermentasi di rumen dan menekan produksi gas metan, yang dikenal sebagai salah satu gas rumah kaca utama dari sektor peternakan.

Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan phytogenic additive, yaitu bahan tambahan alami berbasis tanaman yang dapat mengubah pola fermentasi rumen secara positif.

Strategi ketiga adalah suplementasi asam lemak tidak jenuh terproteksi dalam pakan ternak. Ia menjelaskan langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas nutrien daging yang rendah asam lemak jenuh.

“Ketiga pendekatan ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan efisiensi produksi ternak secara berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek lingkungan,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan hayati sangat tinggi, termasuk dalam hal keanekaragaman mikroorganisme. Mikroba di Indonesia tersebar luas dan berasal dari berbagai sumber ekologis, seperti tanah, air, endofit tumbuhan, organisme laut, serta lingkungan ekstrem.

Keberagaman habitat ini menjadikan Indonesia sebagai sumber potensial mikroba dengan sifat-sifat unik dan aplikatif dalam berbagai bidang, seperti bioteknologi industri, kesehatan, pertanian, dan lingkungan.

Dalam bidang peternakan, khususnya nutrisi ruminansia, peran mikroba selulolitik sangat penting untuk mendegradasi dan fermentasi pakan ruminan yang berkarakteristik tinggi serat. Dalam proses isolasi bakteri selulolitik asal herbivora endemik Indonesia, ditemukan bakteri-bakteri mampu mendegradasi serat.

Selain itu, fungi selulolitik asal saluran pencernaan ternak maupun dari tanaman laut (fungi endofit) juga mempunyai kemampuan selulolitik yang tinggi terutama dalam mendegradasi lignin.

“Inokulasi mikroba selulolitik pada ternak ruminansia sebagai probiotik dapat meningkatkan kemampuan ternak ruminansia dalam melakukan degradasi dan fermentasi pakan berserat yang berbasis by product hasil pertanian,” ujarnya.

Sebagai negara tropis, Indonesia juga kaya akan tanaman yang mengandung senyawa bioaktif atau sekunder tanaman yang berpotensi sebagai phytogenic additive pada ternak.

Lanjutnya, pemberian bahan pakan yang mengandung senyawa sekunder tanaman, seperti saponin atau metabolit sekunder lainnya dapat memodifikasi mikroba rumen dan peningkatan produktivitas ternak.

“Salah satu tanaman lokal Indonesia yang banyak mengandung saponin adalah buah lerak (Sapindus rarak). Ekstraksi lerak dengan metanol dapat mengandung senyawa saponin yang cukup tinggi yaitu 85%,” jelasnya.

Dari hasil uji in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak lerak dapat memodifikasi mikroba dan fermentasi di rumen. Saponin lerak (S. rarak) dapat dijadikan agen defaunasi untuk menekan pertumbuhan protozoa rumen, sehingga bakteri-bakteri rumen yang dipredasi oleh protozoa seperti Prevotella ruminicola dapat berkembang optimal serta meningkatkan produksi VFA total dan menstimulasi produktivitas ternak serta menurunkan produksi metan.

Tanaman herbal lainnya, seperti kombinasi Kelor (Moringa oleifera) dan Kunyit (Curcuma longa Linn), secara efektif meningkatkan kecernaan pakan dan mengurangi emisi gas metan. Pemberian legum pohon seperti lamtoro (Leucaena leucocephala pada taraf 36% pada sapi yang diberi rumput tropis berkualitas rendah, dapat meningkatkan performa ternak dan menurunkan metan sampai 20%.

Kemudian, pengembangan inovasi herbal mineral block yang mengandung phytogenic additive dapat menstimulasi fermentasi rumen dan peningkatan performa ternak.

Namun, terang Profesor Sri Suharti, seiring upaya peningkatan produktivitas ternak, peningkatan kualitas produk daging ruminansia juga perlu dilakukan. Daging ruminansia secara alami cenderung memiliki kandungan asam lemak jenuh yang relatif tinggi akibat proses biohidrogenasi di rumen.

“Untuk meningkatkan nilai fungsional dan kesehatan dari daging ruminansia, diperlukan upaya sistematis untuk menurunkan kandungan asam lemak jenuh. Ini bisa dilakukan melalui rekayasa nutrisi, seperti pemberian pakan tinggi asam lemak tidak jenuh terproteksi,” jelasnya.

Penggunaan minyak kedele, flaxseed, kanola, dan wijen yang diproteksi dengan teknik sabun kalsium atau enkapsulasi dapat melindungi lemak dari proses hiohidrogenasi dan meningkatkan proporsi asam lemak tidak jenuh pada produk daging.

“Eksplorasi sumber-sumber asam lemak tidak jenuh yang murah dan efisien masih terus perlu dilakukan,” katanya.

Ke depan, dikatakan Profesor Sri Suharti, masih menghadapi tantangan besar untuk mencukupi kebutuhan daging tanpa merusak lingkungan dan sehat dikonsumsi. Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan antara lain: pertama, mengembangkan teknologi untuk menggali potensi mikroba secara lebih sistematis dan kreatif, sehingga menghasilkan probiotik konsorsium supermicrobe.

Kedua, memproduksi phytogenic additive yang lebih efisien, hemat biaya dan mudah diterapkan di tingkat industri. Ketiga, meningkatkan kualitas daging ternak lokal yang rendah asam lemak jenuh dan aman dikonsumsi.

“Dengan demikian, pengembangan ternak ruminansia pedaging yang berkelanjutan dapat tercapai dan peternakan bisa menjadi pilar ekonomi serta ketahanan pangan nasional,” tutup Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama, Pengembangan Fapet itu.

(ckl/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version