Serba Serbi

Menguak Fakta: Apakah Kucing Bisa Menangis seperti Manusia?

Published

on

Anak kucing peliharaan.

KlikBogor – Kucing adalah sejenis mamalia karnivora dari keluarga Felidae. Saat ini, kucing merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara karena tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan.

Setiap kucing juga punya kepribadian unik, ada yang manja, ada pula yang tenang dan suka menyendiri. Lantas apakah kucing bisa menangis? Pertanyaan ini seringkali muncul di benak para pemilik hewan peliharaan.

Menurut dosen IPB University dari Program Studi Paramedik Veteriner Sekolah Vokasi, drh Tetty Barunawati Siagian, kucing tidak menangis seperti manusia.

Meskipun kucing memiliki saluran air mata dan bisa mengeluarkan air mata secara fisik, mereka tidak menangis akibat emosi seperti yang dilakukan manusia.

“Kucing tidak menangis seperti yang kita bayangkan. Jika kita melihat air mata mengalir di wajah kucing, itu biasanya karena iritasi atau masalah medis, bukan karena alasan emosional,” jelas drh Tetty dikutip dari ipb.ac.id, Kamis, 1 Mei 2025.

Sebagai gantinya, terang drh Tetty, kucing mengekspresikan perasaan atau kebutuhan mereka melalui vokalisasi, seperti mengeong atau mengerang.

Suara-suara tersebut digunakan kucing untuk berkomunikasi, baik untuk menyampaikan rasa sakit, kelaparan, atau stres, meskipun tidak ada air mata yang mengiringinya.

Ia lanjut menjelaskan, kucing juga memiliki cara-cara nonverbal untuk menunjukkan perasaan mereka, seperti mengibaskan ekor ketika merasa terganggu, atau bersembunyi saat merasa cemas atau stres.

“Kucing yang sedang sedih mungkin akan bersembunyi, makan lebih sedikit, tidur lebih banyak, dan meringkuk. Mereka sangat pandai menyembunyikan emosinya,” katanya.

Ia mengatakan, ada beberapa alasan umum mengapa kucing mengeluarkan suara vokalisasi, antara lain karena rasa lapar, haus, cemas, atau butuh akan perhatian.

Perubahan dalam lingkungan mereka, seperti kedatangan orang baru, juga dapat memicu stres dan membuat mereka lebih vokal.

Untuk mengetahui tanda-tandanya, drh Tetty memberikan beberapa petunjuk, seperti meongan panjang yang menandakan keinginan atau rasa sakit, postur tubuh yang tegang, atau tingkah laku gelisah yang menunjukkan kecemasan.

“Jika kucing terus-menerus mengeluarkan suara atau menunjukkan tanda-tanda kesakitan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter hewan,” sarannya.

Pun jika mendapati kucing menangis, penting untuk memeriksa kebutuhan dasarnya terlebih dahulu, seperti makanan dan air. Apabila kucing tampak sakit atau terluka, segera bawa ke dokter hewan.

Dalam beberapa kasus, dikatakan drh Tetty, kucing hanya membutuhkan perhatian atau kasih sayang lebih dari pemiliknya.

Dengan memahami cara kucing berkomunikasi, pemilik hewan peliharaan dapat lebih peka terhadap kebutuhan emosional dan fisik kucing mereka.

(ary/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version