Berita

Menggali Potensi Ekonomi Kreatif di Kota Bogor, Ini Harapan Ketua dan Dewan Pembina Gekrafs

Published

on

Gekrafs Talk Coffee, diskusi santai membahas terkait ekonomi kreatif nasional, khususnya yang ada di Kota Bogor. Dok. Istimewa.

KlikBogor – Gekrafs Kota Bogor menggelar Gekrafs Coffee Talk dengan mengangkat tema “Potensi Ekonomi Kreatif di Kota Bogor” di Ruto Cofee, Jalan Puter, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Diskusi santai ini membahas terkait ekonomi kreatif nasional, khususnya yang ada di Kota Bogor.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari internal Gekrafs Kota Bogor, yaitu Muhyiddin Damia selaku Ketua dan Jenal Mutaqin selaku Dewan Pembina, serta dipandu host dan moderator Mila Wiarti selaku Ketua Divisi Pemetaan Potensi Kreatif.

Gekrafs merupakan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional yang sudah ada di setiap wilayah kabupaten atau kota, provinsi, nasional serta di beberapa negara di eropa, sehingga ini merupakan sebuah wadah ekonomi kreatif terbesar yang ada di Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Gekrafs Kota Bogor, Muhyiddin Damia berharap ke depan adanya satu titik tempat di Kota Bogor yang dapat menampung lebih dari 10.000 orang, agar bisa digunakan kegiatan-kegiatan besar, seperti konser musik skala nasional dan internasional, yang akan mendatangkan multiplier effect lainnya.

“Setiap kali di Jakarta ada konser, KRL hingga Tol Jagorawi itu selalu macet, itu artinya banyak sekali warga Bogor yang hadir dalam acara konser tersebut. Nah, kenapa kita tidak mengadakan sendiri di Kota Bogor, yang itu akan berdampak positif pada PAD (pendapatan asli daerah) Kota Bogor, akan terasa multiplier effect-nya, seperti hadirnya UMKM disekitar, bazar, hotel-hotel akan full, dan lainnya,” katanya dikutip Minggu, 22 September 2024.

Baca juga: Kang Eri Ajarkan Public Speaking-Problem Solving Pelajar SMAN 4 Bogor

Sedangkan untuk membuat konser skala nasional atau internasional dengan mendatangkan bintang tamu itu memerlukan kapasitas minimal 10.000 orang agar dapat menutupi biaya artis dan biaya produksi.

“Jadi saya berharap di Kota Bogor ada satu titik tempat yang dapat memuat minimal 10.000 orang untuk kegiatan event konser musik dan lainnya,” imbuh Muhyiddin.

Sementara menurut Dewan Pembina Gekrafs Kota Bogor, Jenal Mutaqin, banyak sekali potensi ekonomi kreatif di Kota Bogor yang bisa diterapkan. Ia mencontoh saat study banding ke Surabaya, di mana aparatur sipil negara (ASN) di wilayah tersebut mewajibkan belanja produk lokal.

“Dan itu menurut saya perlu juga diterapkan di Kota Bogor, dengan jumlah ASN Kota Bogor mencapai 70.000 orang, maka jika kita wajibkan belanda produk lokal minimal Rp 500.000 per bulan, maka Rp35 miliar perputaran uang di Kota Bogor, tentu ini sangat bermanfaat sekali bagi semua pihak, khususnya UMKM Kota Bogor,” ungkapnya.

“Yang kedua Es Pala itu merupakan minuman khas Kota Bogor, saya juga ingin itu menjadi minuman welcome drink bagi hotel-hotel yang ada di Kota Bogor, sehingga minuman khas Kota Bogor lebih dikenal dan dapat membantu UMKM Kota Bogor,” lanjut Jenal.

Baca juga: Nopiyanti Mengubah Hobi Amigurumi Jadi Cuan 

Gekrafs Talk Coffee ini rencananya akan diselenggarakan setiap malam minggu di kafe-kafe di Kota Bogor, untuk berdiskusi seputar peluang, tantangan, dan isu-isu terkait ekonomi kreatif nasional, khususnya di Kota Bogor. Gimana menarikkah menurut kalian?

(red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version