Serba Serbi

Lactowaf, Wafer Pakan untuk Genjot Produksi Susu Sapi Perah

Published

on

Mahasiswa IPB University dari Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan menghadirkan inovasi Lactowaf, wafer pakan sapi perah. Dok. IPB Universiy.

KlikBogor – Mahasiswa IPB University dari Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan menghadirkan inovasi Lactowaf, wafer pakan tinggi asam palmitat yang dinilai mampu meningkatkan produksi sekaligus kualitas susu sapi perah.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) ini diinisiasi oleh Muhammad Ligan Haikal, beranggotakan Muhammad Nurfadhilah, Muhammad Recky Renaldy, Salsa Birul Wahlidaini Merdekawati Apriliana, dan Lise Meitner Aribah Nasution, serta dibimbing oleh Prof Yuli Retnani.

Ketua Tim, Muhammad Ligan Haikal, menjelaskan bahwa ide Lactowaf muncul dari fakta bahwa produksi susu nasional masih jauh dari kebutuhan masyarakat.

“Indonesia masih mengimpor hingga 74 persen kebutuhan susu, padahal konsumsi terus meningkat,” ungkap Ligan dikutip Selasa, 7 Oktober 2025.

Ia mengurai, salah satu faktor rendahnya produksi susu adalah kualitas pakan yang belum optimal. Ia bersama tim pun mulai membuat suplementasi pakan yang dibutuhkan oleh sapi perah.

“Kami melihat peluang menghadirkan suplementasi pakan berbentuk wafer dengan kandungan nutrien yang baik serta asam lemak terproteksi,” ujarnya.

Baca juga: Yoghurt atau Kefir, Mana Pilihan Terbaik Bagi Kesehatan?

Menurut Ligan, suplementasi asam palmitat penting karena terbukti meningkatkan kecernaan bahan kering dan efisiensi pakan. Hal tersebut berpengaruh positif terhadap performa sapi perah.

“Dengan teknologi ini, produksi dan kualitas susu diharapkan bisa meningkat,” imbuh Ligan.

Ia menjabarkan Lactowaf memiliki dua keunggulan utama. Dari sisi nutrisi, produk ini mengandung lemak nabati terproteksi yang dapat meningkatkan kadar asam lemak tidak jenuh dalam susu, seperti oleat dan linoleat.

Dari sisi bentuk, wafer dinilai lebih praktis, tahan lama, tidak mudah tercecer, dan tetap mudah dikonsumsi sapi, bahkan ketika hewan mengalami gangguan mulut seperti penyakit mulut dan kuku (PMK).

Dalam pengembangan usaha, tim telah menyusun strategi berlapis. Dari mulai jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

“Jangka pendek, fokus kami penjualan di Bogor dan sekitarnya, membangun branding, serta mengurus izin edar. Jangka menengah, memperluas distribusi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan skala produksi lebih besar. Jangka panjang, kami ingin ekspansi ke seluruh Indonesia dengan dukungan investor atau perusahaan besar,” bebernya.

Baca juga: Rahasia Dibalik Tulang Ikan Bandeng yang Mudah Ditarik

Ia mengungkapkan bahwa respons awal dari peternak sangat positif. Mereka menilai produk ini praktis, meningkatkan nafsu makan, serta memperbaiki kualitas susu. Bentuk wafer juga mengurangi pemborosan pakan yang sering terjadi pada bentuk mash atau konsentrat.

Meski demikian, tim menghadapi beberapa kendala. Seperti harus menjaga kualitas bahan baku dan konsistensi nutrisi wafer. Dengan peralatan sederhana, ada kalanya wafer mudah hancur.

“Tantangan lain adalah membangun kepercayaan peternak, yang membutuhkan edukasi, promosi, dan demonstrasi langsung,” kata Ligan.

Ke depan, tim berharap Lactowaf tidak berhenti pada program PKM-K, tetapi berkembang menjadi usaha rintisan pakan berkelanjutan.

“Dengan dukungan penelitian, jaringan pemasaran, serta kerja sama dengan koperasi susu maupun industri, Lactowaf bisa membantu mengurangi ketergantungan impor susu dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal,” tandasnya.

(ary/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version