Serba Serbi

Ficus, Pohon Kunci Penopang bagi 18 Spesies Burung

Published

on

Pohon ficus di Kampus IPB University. Dok. IPB University.

KlikBogor – IPB University terus meneguhkan komitmennya sebagai Kampus Biodiversitas. Salah satu bentuk nyata dari komitmen ini melalui penelitian mengenai interaksi antara pohon ficus dan berbagai jenis burung di lingkungan kampus.

Pakar ekologi satwa liar dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof Ani Mardiastuti, menjelaskan bahwa pohon ficus yang dikenal sebagai kelompok beringin, memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup satwa, khususnya burung.

“Ficus ini bisa dibilang spesies kunci. Jika tidak ada, maka ekosistem akan terganggu. Ia tidak hanya menyediakan pakan, tetapi juga menjadi tempat berteduh dan berlindung bagi banyak jenis satwa,” ungkapnya.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sedikitnya ada 18 spesies burung yang memanfaatkan pohon ficus sebagai sumber pakan.

Menariknya, buah ficus bukan hanya dikonsumsi burung pemakan buah, melainkan juga burung pemakan serangga. Hal ini karena di dalam buah ficus sering ditemukan serangga yang kemudian menjadi sumber makanan bagi burung.

Kelebihan lain dari ficus adalah kemampuannya berbuah sepanjang tahun. Buah pada setiap individu pohon muncul secara bergiliran, sehingga ketersediaan pakan bagi satwa relatif terjaga.

“Kalau satu pohon selesai berbuah, pohon lain mulai menghasilkan buah. Dengan begitu, burung selalu punya makanan sepanjang tahun,” jelas Prof Ani.

Tidak hanya burung, satwa lain seperti bajing dan primata juga kerap memanfaatkan ficus. Bahkan, salah satu jenis ficus yang dikenal luas adalah buah tin, yang juga memiliki nilai historis dan disebut dalam Al-Quran.

Di IPB University, pohon ficus sengaja dipertahankan, bahkan beberapa dibiarkan tetap tumbuh di sekitar jalan kampus. Contoh nyata terlihat di depan Rektorat, di mana sepasang pohon beringin ditanam secara simbolis oleh Presiden Soeharto pada masa peresmian gedung tersebut.

“Ini bukti bahwa pohon beringin bukan sekadar peneduh, tetapi juga punya nilai budaya dan simbolik,” imbuhnya.

Prof Ani menekankan pentingnya kesadaran masyarakat kampus untuk menjaga pohon ficus. Menurutnya, langkah sederhana seperti tidak menebang, menanam lebih banyak, hingga mengintegrasikan fungsi ekologis ficus dalam kegiatan akademik bisa menjadi kontribusi nyata.

“Ayo kita jaga dan tambah jumlahnya. Manfaatnya bukan hanya untuk burung, tapi juga untuk manusia, mulai dari penyediaan oksigen, penyerapan karbon, hingga menjaga keseimbangan air,” ajaknya.

Dengan riset dan edukasi berkelanjutan, ia berharap keberadaan ficus dapat terus mendukung keanekaragaman hayati serta memperkuat peran kampus sebagai laboratorium hidup untuk konservasi.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version