Berita
Guru Besar IPB Ungkap Kunci Kemandirian Mekanisasi Pertanian
KlikBogor – Guru Besar Teknik Mesin Pertanian IPB University, Prof. Wawan Hermawan menegaskan bahwa kemandirian mekanisasi pertanian Indonesia hanya dapat dicapai melalui kemampuan bangsa mendesain mesin yang sesuai dengan karakteristik agroekosistem lokal.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar berjudul Desain Mesin sebagai Jantung Inovasi Mekanisasi Pertanian Indonesia di Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dalam orasinya, Prof. Wawan menegaskan bahwa adopsi langsung mesin-mesin impor tanpa penyesuaian sering kali gagal di lapangan. Tingginya keragaman agroekosistem Indonesia, mulai dari sawah berlumpur dalam, kawasan sawah terasering, hingga beragam karakteristik tanaman dan produk pertanian, menuntut pendekatan rekayasa spesifik.
“Desain mesin pertanian bukanlah sekadar merangkai komponen mekanis, melainkan seni menerjemahkan karakteristik fisik, mekanik, aliran, aerodinamik, dan lingkungan kerja objek hayati menjadi parameter rekayasa teknik yang presisi. Mesin yang berhasil adalah mesin yang ‘memahami’ perilaku tanah, tanaman, produk pertanian, dan kondisi lingkungan tempat ia bekerja,” kata Prof. Wawan.
Menurutnya, titik awal desain mesin pertanian bukanlah gambar teknik, melainkan pengukuran karakteristik objek kerja yang akan ditangani mesin. Pada tanah, karakterisasi difokuskan pada sifat fisik dan mekanik, sedangkan pada tanaman, bagian tanaman, benih, dan produk pertanian mencakup sifat fisik, mekanik, aliran, dan aerodinamik.
Data tersebut kemudian diterjemahkan menjadi parameter desain, kapasitas kerja, kebutuhan daya, dan kriteria kinerja mesin yang sesuai dengan karakteristik objek yang ditangani dan kondisi operasionalnya.
Tiga Terobosan Rekayasa Mesin Pertanian Berbasis Biosistem
Berbekal pengalaman riset hampir empat dekade, Prof. Wawan memaparkan, tiga kelompok inovasi utama yang dikembangkannya bersama tim peneliti Divisi Teknik Biosistem IPB University.
Pertama, rekayasa traksi pada tanah sawah berlumpur. Inovasi ini mencakup pengembangan Movable Lug Wheel atau roda bersirip gerak berpegas dan Track Wheel atau roda tipe trek berbasis interaksi mekanika tanah dan roda (terramechanics).
Dalam pengujian kinerja menunjukkan bahwa roda bersirip gerak berpegas terbukti mampu menekan tingkat slip hingga 11,54 persen dibandingkan roda kaku konvensional sebesar 20,89 persen serta meningkatkan efisiensi lapang hingga 76,33 persen.
Sementara itu, pada lahan lumpur ekstrem, roda tipe trek berhasil menahan ketenggelaman (sinkage) hingga 7,32 sentimeter dengan efisiensi traksi mencapai 68,46 persen.
Kedua, sistem budidaya presisi terintegrasi dan vacuum seeder. Inovasi ini mengintegrasikan pengolahan tanah jalur (strip tillage), pemupukan, dan penanaman presisi dalam satu lintasan kerja bertenaga traktor roda dua 8,5 hp.
Pengembangan Four-Row Precision Vacuum Seeder kedelai ini berhasil mencapai kapasitas kerja 0,31 ha per jam dengan efisiensi lapang 87,9 persen tanpa merusak kulit benih, dan tingkat singulasi (penempatan satu benih pada setiap titik tanam) mencapai 100 persen.
Ketiga, integrasi sistem mekanisasi biosistem di peternakan. Perancangan Integrated Feed Conditioning Machine memiliki tiga fungsi untuk meratakan, membalik atau mengondisikan pakan, serta mengumpulkan sisa pakan (feed refusals) secara pneumatik pada bak pakan sapi dengan efisiensi hisap mencapai 94-97 persen.
Satu mesin mampu mengerjakan tiga fungsi yang efektif dan efisien untuk penanganan pakan sapi pada bak pakan sehingga meningkatkan efisiensi operasi peternakan dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja harian di peternakan skala besar.
Peran Strategis Pendidikan Tinggi Teknik
Selama karier akademiknya, Prof. Wawan telah membimbing puluhan mahasiswa sarjana, magister, dan doktor yang kini berkiprah sebagai dosen, peneliti, birokrat, dan praktisi industri mekanisasi pertanian di berbagai lembaga nasional.
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa keberlanjutan dan kemandirian mekanisasi pertanian nasional pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang disiapkan melalui pendidikan tinggi.
Menurutnya, pendidikan tinggi di bidang teknik memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga ahli dan rekayasawan yang mampu mendesain mesin serta menerjemahkan kompleksitas sistem pertanian menjadi solusi rekayasa yang efisien dan adaptif.
“Karya terbesar seorang akademisi bukanlah sekadar prototipe mesin yang berhasil dibuat, melainkan lahirnya generasi inovator dan tenaga ahli desain yang siap melanjutkan pengembangan teknologi nasional secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Prof. Wawan.
Pesan Strategis bagi Masa Depan Mekanisasi Pertanian
Menutup orasi ilmiah tersebut, Prof. Wawan merumuskan tiga pesan strategis bagi pemangku kebijakan dan insan akademis. Pertama, kebutuhan strategis, yakni mekanisasi pertanian merupakan instrumen mutlak untuk meningkatkan produktivitas dan mengatasi kelangkaan tenaga kerja muda pertanian.
Kedua, kemandirian berawal dari desain, yakni kemajuan teknologi tidak diukur dari jumlah mesin yang diimpor, melainkan dari kemampuan bangsa mendesain mesin yang sesuai agroekosistem lokal.
“Ketiga, investasi pendidikan teknik yakni pendidikan tinggi teknik merupakan investasi jangka panjang paling strategis untuk mencetak perancang mesin pertanian modern,” urai Prof. Wawan.
Ke depan, imbuhnya, agenda riset mekanisasi nasional perlu difokuskan pada tiga arah utama, yaitu pengembangan sistem traksi adaptif berbasis karakteristik tanah, sistem budidaya presisi otonom berbasis sensor, serta integrasi sistem mekanisasi biosistem yang sirkular dan berkelanjutan.
Menurut Prof. Wawan, masa depan mekanisasi pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengoperasikan mesin, tetapi terutama oleh kemampuan merancang teknologi yang lahir dari kebutuhan dan karakteristik pertanian Indonesia sendiri.
Oleh karena itu, penguatan pendidikan teknik, riset desain mesin, dan inovasi berbasis biosistem menjadi fondasi penting menuju kemandirian teknologi pertanian nasional.
(rls/hrs)
Berita
Jembatan Pulo Geulis Diresmikan, Kini Diperlebar dan Beratap
KlikBogor – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim meresmikan Jembatan Pulo Geulis di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Jembatan yang menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat tersebut kembali mendapat pembenahan setelah terakhir kali diperbaiki 41 tahun lalu.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 juta untuk perbaikan jembatan yang melintang di atas Sungai Ciliwung tersebut. Perbaikan dilakukan guna meningkatkan kenyamanan sekaligus menunjang mobilitas warga.
Dalam pekerjaan kali ini, jembatan diperlebar menjadi 2 meter dan dilengkapi atap agar akses yang dilintasi lebih nyaman digunakan masyarakat.
Dedie Rachim menjelaskan, jembatan tersebut saat ini memiliki kapasitas menahan beban hingga 20 ton.
“Anggaran kurang lebih Rp600 juta, untuk kekuatan beban (jembatan) sampai 20 ton,” ujar Dedie Rachim, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Baca juga: Sekolah Vokasi IPB University Bekali UMKM Mulyaharja Keterampilan Laporan Keuangan
Ia mengatakan, perbaikan dilakukan karena kondisi jembatan sebelumnya dinilai terlalu sempit untuk menunjang aktivitas masyarakat.
“Terakhir diperbaiki 1985. Saat itu sudah diperbaiki, tetapi sangat sempit, jadi kita perlebar dan diberikan selasar,” ungkapnya.
Selain jembatan, perbaikan jalan serta drainase di kawasan tersebut telah selesai dilakukan. Tak hanya itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga memberikan perhatian terhadap kondisi hunian warga melalui program rumah tidak layak huni (RTLH).
Dalam program tersebut, 200 rumah ditargetkan mendapatkan perbaikan. Hingga saat ini, 44 rumah telah diperbaiki, sedangkan 156 rumah lainnya masih menjadi target penyelesaian berikutnya.
Baca juga: Hubungkan 2 Wilayah, Jembatan Pasirjaya-Paledang Siap Dimanfaatkan Warga
Dedie Rachim menyebut, pelaksanaan program RTLH di kawasan Pulo Geulis, Pemkot Bogor juga mendapat dukungan dari Yayasan Buddha Suci.
“Sejalan dengan perbaikan rumah tidak layak huni yang juga dibantu Yayasan Buddha Suci, tentu lingkungannya pun harus kita perbaiki. Jembatan sudah, sebagian jalan, dan drainase juga sudah,” tuturnya.
Menurut Dedie Rachim, penataan kawasan Pulo Geulis tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas infrastruktur, tetapi juga menjaga identitas kawasan tersebut sebagai simbol toleransi dan kebersamaan di Kota Bogor.
“Ini di tengah Kota Bogor, dan kawasan ini sebagai simbol toleransi, simbol kebersamaan. Tentu jika lebih rapi dan tertata, paling tidak masyarakat lebih bahagia,” ucapnya.
Warga setempat, Hamzah mengungkapkan rasa syukur karena jembatan yang sebelumnya sempit dan kondisi jalannya tidak tertata kini telah diperbaiki. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Bogor atas terealisasinya perbaikan tersebut.
“Tadinya jembatan ini sempit, jalannya juga amburadul, Alhamdulillah akhirnya terealisasi, dibetulin. Terima kasih Bapak Wali Kota Dedie A. Rachim,” ucap Hamzah.
(hrs/ckl)
Berita
Sekolah Vokasi IPB University Bekali UMKM Mulyaharja Keterampilan Laporan Keuangan
KlikBogor – Sekolah Vokasi IPB University menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bertajuk “Mengenal Laporan Keuangan Untung dan Rugi” di Desa Wisata Mulyaharja, Kota Bogor, pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan pelaku usaha lokal, khususnya dalam melakukan pencatatan transaksi, menyusun laporan laba rugi sederhana, serta mengevaluasi keuntungan usaha secara lebih akurat.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–13.00 WIB ini merupakan bagian dari Program Pengabdian pada Masyarakat Terpusat dan Terpadu Sekolah Vokasi IPB University. Program tersebut menjadi salah satu upaya perguruan tinggi dalam mendukung penguatan kapasitas pelaku usaha melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pelatihan dipimpin oleh Resti Jayeng Ramadhanti, S.E., M.Ak., bersama tim yang terdiri atas Mela Nurdialy, S.E., M.Ak.; Eka Merdekawati, S.E., M.Ak.; Lesia Fatma Ginoga, S.E., M.Si.; Asty Khairi Inayah, S.Stat., M.M., M.S.M.; dan Hani Fitria Rahmani, S.E., M.M., M.Ak., serta melibatkan mahasiswa.
Baca juga: Hubungkan 2 Wilayah, Jembatan Pasirjaya-Paledang Siap Dimanfaatkan Warga
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi mengenai komponen laporan laba rugi, meliputi pendapatan, harga pokok penjualan, dan beban operasional. Materi disampaikan melalui pemaparan interaktif, latihan pembukuan, diskusi, serta pendampingan langsung (desk-to-desk) dengan menggunakan contoh transaksi yang dekat dengan aktivitas usaha sehari-hari.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah membantu pelaku usaha memahami bahwa keuntungan tidak cukup dihitung hanya dari selisih uang penjualan dan modal awal. Pengeluaran operasional yang sering dianggap kecil, seperti pembelian kantong plastik dan biaya parkir, juga perlu dicatat agar perhitungan laba bersih mencerminkan kondisi usaha yang sebenarnya.
Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memisahkan keuangan pribadi atau rumah tangga dari keuangan usaha. Pemisahan ini diperlukan agar modal dan kas operasional tetap terjaga, sekaligus memudahkan pemilik usaha menilai kinerja keuangan secara objektif.
Dalam sesi diskusi, peserta membahas solusi praktis untuk mencegah tercampurnya uang usaha dan kebutuhan keluarga. Tim pelaksana menyarankan penggunaan rekening atau dompet yang terpisah serta penetapan alokasi penghasilan pemilik usaha secara terencana. Dengan demikian, pengambilan uang untuk kebutuhan pribadi dapat dikendalikan tanpa mengganggu modal maupun operasional usaha.
Baca juga: Mengapa Jakarta Lebih Panas dan Bogor Masih Hujan, Dosen IPB Ungkap Penyebabnya
Pelaksanaan kegiatan mendapat respons positif dari peserta. Melalui sesi praktik, peserta berlatih membedakan pendapatan usaha dan beban operasional, sekaligus menyusun draf awal laporan laba rugi sederhana berdasarkan transaksi usaha masing-masing. Capaian ini menjadi langkah awal bagi pelaku usaha untuk membangun kebiasaan pencatatan keuangan yang lebih tertib dan berkelanjutan.
Kegiatan ini juga mengidentifikasi tantangan yang masih dihadapi sebagian pelaku usaha, yaitu belum konsistennya pencatatan transaksi serta masih bercampurnya keuangan keluarga dengan kas usaha. Temuan tersebut menjadi dasar bagi penyusunan tindak lanjut berupa penyediaan template pembukuan sederhana, pendampingan berkala, dan pelatihan lanjutan mengenai manajemen arus kas (cash flow).
Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi IPB University berharap pelaku UMKM di Desa Wisata Mulyaharja semakin mampu mengelola keuangan secara tertib, memahami tingkat keuntungan usaha, dan menggunakan informasi keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.
Program ini menegaskan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat kapasitas usaha lokal. Dengan pencatatan keuangan yang sederhana tetapi konsisten, pelaku UMKM diharapkan dapat membangun fondasi pengelolaan usaha yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.
(rls/hrs)
Berita
Hubungkan 2 Wilayah, Jembatan Pasirjaya-Paledang Siap Dimanfaatkan Warga
KlikBogor – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim bersama Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, meresmikan Jembatan Pasirjaya-Paledang, Jumat, 23 Oktober 2026. Jembatan yang melintang di atas Sungai Cisadane ini diharapkan dapat memberikan akses yang aman dan nyaman bagi warga.
Dalam momentum itu, Dedie Rachim menyampaikan rasa syukur atas terealisasinya pembangunan jembatan yang menghubungkan wilayah Kecamatan Bogor Barat dengan Kecamatan Bogor Tengah tersebut.
“Jembatan penghubung Kelurahan Pasir Jaya dengan Kelurahan Paledang, mulai sekarang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Tentu saja, ini menguatkan komitmen Pemerintah Kota Bogor untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas interkoneksi di dalam Kota Bogor,” ucap Dedie Rachim, didampingi Jenal Mutaqin.
Dedie Rachim menambahkan, ikhtiar pembangunan jembatan tersebut telah dilakukan sejak 2020. Namun, terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait koordinat titik penghubung.
Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang intensif dan silaturahmi untuk memperkuat koordinasi agar pembangunan jembatan dapat terealisasi.
“(Pak Wakil Wali Kota) secara intens tadi melakukan komunikasi dan Alhamdulillah, sudah terlaksana. Mudah-mudahan bermanfaat juga,” ungkap Dedie Rachim.
Baca juga: Kisah di Balik Pembangunan Jembatan Paledang–Pasirjaya
Wali Kota berpesan agar jembatan yang dibangun menggunakan anggaran dari uang rakyat tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk kepentingan masyarakat.
“Dan kita minta juga masyarakat menjaga, memelihara, dan tentunya memastikan bahwa ini betul-betul bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.
Jembatan Pasirjaya-Paledang memiliki panjang 48 meter dengan lebar 1,8 meter. Pembangunan jembatan yang digawangi Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor dibiayai APBD 2026 senilai Rp2,7 miliar.
Sementara itu, Lurah Pasirjaya Rizki Dwi Nugraha menyampaikan bahwa jembatan tersebut sangat dibutuhkan warga, khususnya pelajar yang bersekolah di SMP Negeri 7 Bogor dan sejumlah sekolah di kawasan Jalan Paledang.
“Alhamdulillah, jembatan ini sudah terealisasi. Yang tadinya dari tahun 2022, akhirnya di 2026 ini bisa terwujud,” ujar Rizki.
Ia menilai keberadaan jembatan dapat mempersingkat waktu perjalanan warga Pasirjaya menuju kawasan Paledang.
“Kebermanfaatannya sangat-sangatlah diperlukan, khususnya bagi warga Pasirjaya. Banyak anak sekolah di Pasirjaya yang sekolah di SMP 7 dan sekolah-sekolah yang ada di Jalan Paledang. Jadi, untuk akses ini sangat mempersingkat waktu terkait aksesibilitasnya,” tuturnya.
Baca juga: Jembatan Garuda King Ago Batu Tapak di Kota Bogor Diresmikan
Meski demikian, Rizki menjelaskan bahwa jembatan tersebut untuk sementara belum dapat dilalui sepeda motor. Hal itu dikarenakan masih terdapat kendala nonteknis, termasuk keberatan dari sebagian warga.
“Untuk sementara, motor tidak bisa dilalui karena ada beberapa faktor nonteknis yang harus diproses. Sebagian warga, khususnya warga Pasirjaya, ada yang menolak,” ungkapnya.
Pihak kelurahan, lanjut Rizki, akan melakukan sosialisasi secara bertahap. Langkah ini dilakukan agar masyarakat memahami peruntukan awal jembatan sebagai jalur penyeberangan orang.
“Ke depan mungkin perlahan bertahap kita akan sosialisasikan bagi warga, karena pada kesepakatan awal ini memang diperuntukkan untuk jembatan penyeberangan orang,” jelasnya.
Selain pembangunan jembatan, Pemkot Bogor juga tengah mengerjakan tembok penahan tanah (TPT) di lokasi terdampak longsor di RW 10 dan RW 14, kawasan Muara, Kelurahan Pasirjaya.
Rizki turut menyampaikan rencana revitalisasi Jembatan Goyang di kawasan Pancasan pada masa mendatang. Jika akses tersebut ditutup selama pekerjaan berlangsung, Jembatan Pasirjaya-Paledang berpotensi membantu mobilitas warga. Namun, jadwal revitalisasi dan skema pengalihan akses masih perlu dikonfirmasi kepada instansi terkait.
Dengan diresmikannya Jembatan Pasirjaya–Paledang, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berharap konektivitas antara Bogor Barat dan Bogor Tengah semakin baik serta mendukung aktivitas harian masyarakat.
(rls/hrs)
-
Serba Serbi2 tahun agoTarif dan Cara Bayar BisKita Trans Pakuan
-
Serba Serbi12 bulan agoRute Menuju Kebun Raya dari Stasiun Bogor: Jalan Kaki hingga Naik Angkot
-
Parlementaria2 tahun agoDaftar 50 Anggota DPRD Kota Bogor Terpilih Periode 2024-2029
-
Serba Serbi2 tahun agoRute Menuju Alun-Alun dari Perbatasan Kota Bogor
-
Pemerintahan2 tahun agoJumlah Penduduk Kota Bogor 1,1 Juta Jiwa di 2024
-
Berita1 tahun ago2 Sekolah Rakyat di Bogor Siap Beroperasi, Ini Lokasinya
-
Serba Serbi2 tahun agoCek Jam Operasional Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor
-
Serba Serbi2 tahun agoPasar Gembrong Sukasari: Lebih Nyaman, Bersih dan Tertata
