Serba Serbi

Tikus dan Curut Berbeda, Kenali Ciri Fisik hingga Risiko Kesehatan

Published

on

Ilustrasi tikus. Dok. Pixabay/Nennieinszweidrei

KlikBogor – Tikus dan curut kerap dianggap sebagai hewan yang sama karena berukuran kecil, berwarna gelap, dan sering ditemukan di sekitar rumah. Padahal, kata dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University, Swastiko Priyambodo, keduanya merupakan hewan yang berbeda.

Swastiko menjelaskan, tikus dan curut berasal dari kelompok hewan yang berbeda. Perbedaannya juga meliputi ciri fisik, habitat, maupun pola makan.

Menurutnya, perbedaan ini penting dikenali masyarakat, terutama karena tikus dapat menjadi pembawa sejumlah penyakit yang berpotensi menginfeksi manusia.

“Tikus termasuk dalam ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat, pemakan segala terutama serealia. Sementara curut termasuk dalam ordo Insectivora yang umumnya memakan serangga dan cacing tanah,” jelas Swastiko dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.

Perbedaan juga dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Tikus umumnya memiliki ekor panjang dengan bentuk moncong yang sedang dan proporsional. Sementara itu, curut memiliki ekor lebih pendek dan moncong yang relatif lebih panjang.

Baca juga: Simpang Ciawi Bogor Ditata Lagi, Kembalikan Fungsi Jalan

Salah satu jenis tikus yang umum ditemukan di lingkungan rumah adalah tikus rumah Rattus tanezumi. Adapun curut yang sering dijumpai di sekitar permukiman dikenal sebagai curut rumah Suncus murinus. Keduanya merupakan spesies yang berbeda.

“Habitat tikus rumah di para-para atau langit-langit, sedangkan habitat curut rumah di permukaan tanah atau lantai,” ujar Swastiko.

Selain tikus rumah, masyarakat juga dapat menemukan mencit rumah Mus musculus yang berukuran lebih kecil. Mencit tersebut masih termasuk dalam ordo Rodentia, sama seperti tikus rumah dan tikus got spesies Rattus norvegicus yang memiliki ukuran tubuh lebih besar.

Swastiko menjabarkan, mencit rumah, tikus rumah, dan tikus got disebut sebagai rodensia kosmopolit, yaitu hewan pengerat yang penyebarannya merata di seluruh benua. Penyebaran ketiga spesies tikus ini mengikuti penyebaran manusia di muka bumi.

Swastiko mengatakan, perbedaan tikus dan curut juga penting diperhatikan dari sisi kesehatan. Ia menjelaskan bahwa tikus dapat menjadi pembawa sejumlah penyakit yang berpotensi menginfeksi manusia, di antaranya pes, leptospirosis yang dikenal sebagai penyakit akibat paparan urine tikus, serta hantavirus.

Baca juga: Itik dan Entok: Serupa tapi Tak Sama, Kenali Perbedaannya

Sementara itu, curut tidak membawa penyakit seperti yang dibawa oleh tikus. Karena itu, masyarakat perlu mengenali hewan yang ditemukan sebelum menentukan tindakan penanganannya.

Swastiko mengatakan, tikus rumah, mencit rumah, maupun curut rumah dapat ditangkap menggunakan perangkap berperekat atau glue trap.

Penanganan selanjutnya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kontak langsung dengan hewan maupun bahan yang berpotensi terkontaminasi.

Ia berharap pemahaman mengenai perbedaan tikus dan curut dapat membantu masyarakat lebih tepat dalam mengenali keberadaan kedua hewan tersebut di lingkungan rumah.

Selain menghindari kesalahan identifikasi, pengetahuan ini juga dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penyakit yang mungkin menyertai tikus.

(rls/hrs)

1 Comment

  1. Pingback: Ribuan Peserta Siap Unjuk Kemampuan di Final KSNR-8 dan OGS-6

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version