Serba Serbi

Strategi 3S untuk Kelola Uang THR dan Insentif Lebaran dengan Bijak

Published

on

Ilustrasi pengelolaan keuangan.

KlikBogor – Menjelang Lebaran, peningkatan pengeluaran kerap tidak terhindarkan. Agar tetap bijak dalam mengatur finansial, Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Istiqlaliyah Muflikhati, membagikan sejumlah strategi pengelolaan keuangan yang dapat diterapkan menjelang hari raya tersebut.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana anggaran berdasarkan skala prioritas. Penyusunan anggaran dimulai dengan mengidentifikasi seluruh kebutuhan, kemudian mengurutkannya dari yang paling utama hingga yang kurang mendesak.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat anggaran dengan cara mengidentifikasi kebutuhan. Lalu diurutkan mulai dari yang utama (primer) sampai yang kurang penting. Contohnya, zakat fitrah, zakat mal, transportasi dan kebutuhan mudik atau silaturahim, sampai tunjangan hari raya (THR) untuk keluarga dan kue lebaran,” jelas Istiqlaliyah dikutip Rabu, 11 Maret 2026.

Setelah kebutuhan primer terpenuhi, selanjutnya menyusun daftar kebutuhan sekunder, seperti baju lebaran, dekorasi rumah, atau kegiatan rekreasi bersama keluarga.

Namun demikian, Istiqlaliyah menekankan agar seluruh perencanaan tetap disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

“Anggaran tentunya harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Sebisa mungkin hindari utang,” tegasnya.

Terkait pengelolaan tunjangan hari raya (THR), Istiqlaliyah menyarankan agar dana tersebut tidak langsung dihabiskan untuk belanja.

Ia memperkenalkan prinsip 3S dalam mengalokasikan pendapatan, termasuk THR.

“Setiap menerima uang masuk, termasuk THR, sebaiknya dialokasikan untuk 3S, yaitu spending (konsumsi/belanja), saving (menabung), dan sharing (infaq/berbagi),” urainya.

Ia mengingatkan agar THR dimanfaatkan untuk menambah anggaran belanja yang sudah direncanakan, bukan dibelanjakan seluruhnya.

Apabila berkeinginan membawa oleh-oleh saat mudik, sebaiknya tetap dalam batas wajar dan tidak berlebihan, katanya.

Untuk berhemat, masyarakat dapat memanfaatkan promo atau diskon. Namun, ia mengingatkan agar tidak mudah tergoda oleh potongan harga untuk barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

“Perlu diingat, dahulukan memenuhi kebutuhan, bukan keinginan,” kata Istiqlaliyah.

Lebih lanjut, ia memaparkan, sejumlah strategi untuk menekan pengeluaran impulsif saat berbelanja kebutuhan lebaran.

Hal tersebut di antaranya adalah membuat dan mematuhi anggaran yang telah disusun, menggunakan metode pembayaran nontunai dengan batas tertentu, serta membatasi kebiasaan scrolling saat belanja daring karena dapat memicu pembelian impulsif.

Ia juga menyarankan untuk mengurangi window shopping atau melihat-lihat barang tanpa rencana, karena dapat menimbulkan dorongan belanja spontan.

Apabila muncul keinginan membeli barang di luar daftar kebutuhan, sebaiknya tidak langsung melakukan pembayaran, melainkan menunda keputusan hingga keesokan hari.

Selain itu, setiap kali menemukan promo atau diskon, pastikan kembali bahwa barang tersebut memang termasuk dalam daftar kebutuhan.

Ia juga mengingatkan agar menghindari belanja dalam kondisi emosional, seperti saat lapar atau stres, karena dapat memengaruhi pengambilan keputusan.

Sebagai penutup, Istiqlaliyah kembali mengingatkan pentingnya disiplin finansial.

“Hindari utang dan sisihkan dana untuk pasca-Lebaran. Jangan sampai setelah Lebaran bingung karena tidak ada simpanan,” pungkasnya.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version