Berita

Setiap Tahun Kekeringan Landa Kampung Legok Muncang

Published

on

Ketua RT01 RW15 Syarif Hidayatulloh saat memaparkan dampak kekeringan di Kampung Legok Muncang. Warga kini tengah membuat sumur bor dan memperbaiki sarana MCK sebagai upaya antisipasi dampak kekeringan yang kerap melanda setiap tahun.

KlikBogor – Kekeringan kerap melanda Kampung Legok Muncang RT01 RW15, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, dalam setiap tahun. Akibat dampak itu, ratusan warga dari 40 kepala keluarga mengalami krisis air bersih.

Menurut Ketua RT setempat, Syarif Hidayatulloh, kekeringan air dirasakan warga setiap tahun semenjak mereka bermukim di wilayah tersebut tahun 2020.

“(Tahun 2024) sudah 5-6 bulan mungkin kita kekeringan air di wilayah relokasi double track ini, jadi semenjak pindah ke sini (tahun 2020) mengalami kekeringan,” kata Syarif ditemui di lokasi, Rabu, 25 September 2024.

Setiap musim kemarau, sumur-sumur warga yang menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari menyusut drastis bahkan mengering.

“Sumber air kita dari sumur, cuman sumurnya rata-rata kedalaman 8-12 meter. Kalau musim kemarau selalu kering. Kalau digali lagi bebatuan,” katanya.

Selama itu, kata Syarif, untuk kebutuhan air minum, warga harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp20 ribu untuk pembelian empat galon air isi ulang setiap harinya.

Sementara untuk MCK dan sebagainya memanfaatkan air sungai Cisadane yang dipompa. Namun, ujarnya, saat ini kondisinya sudah tidak terpenuhi seiring banyaknya warga yang menggunakan sarana MCK.

“MCK ini (airnya) dari sungai Cisadane yang difilter. Cuman sekarang kan pemakaian sudah banyak 40 kepala keluarga, jadi antara air masuk dan keluar nggak seimbang,” katanya.

“Ke sini (jam) setengah enam itu udah antre, mending ngasih buat anak sekolah atau ibu-ibu, kita orang lelaki paling mandinya ke sungai aja,” imbuh Syarif.

Dalam beberapa hari ini, warga merasa bersyukur ada sumber air dari hujan, ditambah penyaluran air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor.

“Alhamdulillah sudah tiga hari turun hujan, ada lah sumber air kita, terus kemarin dari BPBD, dikirim air, prediksi saya cukup untuk tiga harian,” tandasnya.

Sementara Ketua RW setempat, Rudi Irawan mengatakan, ada beberapa upaya yang dilakukan untuk penanganan dampak kekeringan yang terjadi di wilayah RT01.

“Penanganan sementara, kita mengandalkan air sungai Cisadane. Cuman untuk minum warga beli air isi ulang. Per hari itu bisa empat galon, pagi sampai malam,” katanya.

Pihak kelurahan dan kecamatan juga sudah menindaklanjuti warga yang terdampak kekeringan dengan mengirimkan air melalui BPBD dan Damkar.

“Kelurahan sama kecamatan juga sangat membantu. Alhamdulillah dibantu untuk pengiriman air dari BPBD sama Damkar. Ada 5.000 sama 1.000 liter. Terakhir kemarin untuk stok warga dari toren ke toren,” katanya.

Saat ini, warga juga tengah membangun sumur bor, termasuk merapikan sarana MCK, sebagai upaya antisipasi dampak kekeringan.

“Kita sekarang kerja bakti untuk pembuatan sumur bor dan perapihan MCK supaya layak. Alhamdulillah, tahun ini banyak yang bantu,” ucapnya.

Untuk jaringan PDAM sendiri, pihaknya sudah mengajukan dan tinggal menunggu pelaksanaan dari Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor.

“Akses PDAM sudah ditentukan titiknya, tinggal pekerjaan saja. Pengajuannya sudah. Dan PDAM melalui kegiatan Inpres siap untuk Kampung Legok Muncang,” katanya.

(hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version