Serba Serbi

Resmi Dibuka, Hybrid Identity Pamerkan Karya Seniman Tradisional 

Published

on

Pengunjung tengah menyimak sebuah karya lukisan yang dipamerkan di Gedung Bogor Creative Center. 

KlikBogor – Pameran seni rupa mengusung tema “Hybrid Identity” dibuka dengan antusiasme tinggi menampilkan karya-karya seniman dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara yang dilangsungkan di Gedung Bogor Creative Center ini digelar bertepatan dengan hari jadi wadah kreativitas seniman Bogor Dipokersen ke-37 tahun. 

Kurator pameran, Tommy Faisal Alim mengatakan, Bogor merupakan kota yang banyak melahirkan seniman besar. Untuk itu pameran ini diharapkan dapat menginspirasi seniman-seniman yang menghasilkan karya yang secara tradisional dan juga digital.

“Sebenarnya pada pameran Hybrid Identity berharap tidak hanya teman-teman secara tradisional dalam artian menggunakan kanvas, kuas, cat colour, tapi kalau digital menggunakan komputerisasi itu sebenarnya banyak sekarang temen-temen yang melakukan kegiatan di digital,” kata Tommy, Sabtu, 5 Oktober 2024.

Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan pameran ini juga perlu untuk lebih ditingkatkan kedepannya. Sehingga seniman akan terus menciptakan karya-karya yang orisinil.

“Nah, ada beberapa cara untuk mengantisipasi supaya mereka tidak kegandrungan dengan AI, maka dibuatlah cara-cara pameran tradisional seperti ini,” ujar Tommy.

Ia mengakui karya seni rupa secara tradisional memiliki nilai autentik lebih dibandingkan dengan penggunaan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Jujur, karya-karya yang secara tradisional, yang orisinil menggunakan cat, kanvas itu lebih autentik ketimbang menggunakan cara digital,” paparnya.

Tommy juga meyakini karya-karya yang dihasilkan secara tradisional akan terus eksis di tengah teknologi modern yang terus berkembang kedepannya. 

“Walaupun kita belum tahu beberapa tahun kemudian nanti sepenuhnya AI, tapi saya yakin karya-karya tradisional menggunakan kanvas, kertas dengan cat tetap eksis,” katanya. 

Dalam pameran ini, pengunjung dapat menikmati beragam karya dari mulai lukisan, patung hingga media campur, salah satunya karya kinetik yang menarik perhatian. 

“Dan memang harapannya agar teknologi baru yang memberikan satu inovasi tidak hanya punya kepentingan sebagai fight art, tetapi dia menjadi karya-karya yang bisa punya multi manfaat,” tandasnya. 

Sementara itu, peserta pameran asal Bandung, Rudi Setiadarma menjelaskan bahwa Hybrid Identity merupakan hal yang alami. Sebab selama dimulainya makhluk sosial berhubungan dengan yang lain sudah adaptasi, akulturasi dan seterusnya, sehingga bukan sesuatu yang berbahaya dengan perbedaan-perbedaan itu.

“Biasanya terjadi pengelompokan juga, yang disebut beririsan, bersinggungan, misal kayak gitu ada dua lingkaran, yang terkadang kita punya kepentingan yang sama akan menemukan frekuensi yang sama, kalau nggak ya berbeda,” imbuhnya.

Dia juga menambahkan, kesenian di Bogor memiliki kemiripan dengan kota-kota lain. Namun ia melihat kurang jalannya infrastruktur dan sistemnya, walaupun secara individual seniman atau praktisi Bogor banyak yang keren sebenarnya. 

“Jadi itu hanya perlu silaturahmi yang lebih intens, perlu lagi bersinergi dan mengurangi rasa ego. Sebenarnya seni itu berkembang bersamaan dengan ilmu-ilmu yang lain yang sama diadaptasi dan semua terutama manajemen dan edukasi sejak dini,” tandasnya. 

(hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version