Serba Serbi

Ratusan Golok Dipamerkan di Universitas Pakuan, Tertua Tahun 800-an

Published

on

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim saat menghadiri pameran pusaka golok di Aula Universitas Pakuan. Dok. Pemkot Bogor.

KlikBogor – Ratusan bilah golok dipamerkan dalam pameran pusaka golok di Aula Universitas Pakuan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir dalam acara tersebut mengatakan jika golok disahkan oleh UNESCO, maka akan ada satu alat tradisional asal Indonesia selain keris yang mendapat pengakuan internasional.

“Karena ini menyangkut literasi kesejarahan yang kemudian bisa menjadi lebih dalam lagi untuk terus dilakukan penelitian,” ujar Dedie Rachim dikutip Minggu, 15 Februari 2026.

Perjalanan panjang golok untuk diakui oleh UNESCO didukung berbagai dokumentasi, literasi, penelitian, serta upaya pelestarian yang melibatkan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Pakuan. Hal tersebut diharapkan menjadi kebanggaan bersama.

Dalam mendukung pelestarian budaya, termasuk benda pusaka, Kota Bogor juga akan segera mewujudkan Museum Pajajaran di Bumi Ageung Batutulis yang direncanakan menjadi pusat edutainment.

“Ini adalah sebuah proses bagaimana kita melestarikan budaya bangsa melalui karya-karya para pendahulu yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki manfaat,” tandas Dedie Rachim.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Golok Pedang Sepuh Nusantara, Gatut Susanta, menjelaskan bahwa pameran ini menjadi wujud sinergi dan kolaborasi dalam melestarikan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda, khususnya kalangan akademisi.

“Golok yang dipamerkan ini kurang lebih berjumlah 300 bilah, berasal dari koleksi terbaik yang sangat indah dan beragam. Yang paling lama berasal dari tahun 800-an pada masa Singosari,” kata Gatut.

Terkait pengajuan golok ke UNESCO, pihaknya telah menyerahkan berbagai kelengkapan dokumen dan administrasi, termasuk studi literasi, serta telah melakukan presentasi.

“Karena itu, kami terus berjuang agar golok juga dipahami sebagai alat ketahanan pangan, kemudian sebagai alat pertahanan, dan kini diperjuangkan sebagai pusaka,” tuturnya.

Ditempat yang sama, Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, mengatakan bahwa sebagai pihak akademisi, Universitas Pakuan berharap upaya ini dapat menarik minat mahasiswa untuk mengembangkan kajian dan penelitian dalam mendukung budaya Nusantara.

“Sehingga Universitas Pakuan juga mendukung kegiatan hari ini yang sangat baik dalam menjaga tradisi dan melestarikan budaya agar lebih dikenal dan menyebar luas,” ujarnya.

Pameran golok merupakan rangkaian kegiatan munggahan dan sarasehan budaya yang digelar di Universitas Pakuan, pada Sabtu, 14 Februari 2026.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version