Serba Serbi

Peran Unik Vitamin C Dibanding Vitamin Lain dalam Sistem Imun

Published

on

Jeruk, salah satu buah yang kaya akan vitamin C. Foto: Pixabay.

KlikBogor – Vitamin C berperan besar dalam menjaga sistem imun tubuh terlebih di tengah cuaca yang tak menentu. Asupan vitamin C yang cukup dapat membantu tubuh memproduksi antibodi, memperkuat sel imun, serta menjaga kesehatan kulit dan jaringan tubuh.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Prof Hardinsyah, menjelaskan bahwa kekurangan vitamin C dapat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh.

“Dampaknya bisa berupa daya tahan tubuh menurun, kulit menjadi kering dan kasar, penyembuhan luka menjadi lebih lama, serta gusi mudah berdarah,” ujarnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV dikutip Senin, 5 Januari 2026.

Prof Hardinsyah juga menjelaskan bahwa vitamin C merupakan vitamin larut air yang memiliki peran unik dibandingkan vitamin lain, terutama dalam kaitannya dengan sistem imun.

“Vitamin C berperan dalam merangsang produksi antibodi, salah satunya natural killer cell. Sel-sel ini produksinya meningkat bila kita mengonsumsi vitamin C yang cukup,” kata Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) IPB University itu.

Selain itu, vitamin C juga berperan dalam meningkatkan produksi sel darah putih serta mendukung pembentukan interferon dan kerja imunoglobulin.

Menurutnya, kebutuhan harian vitamin C orang dewasa berkisar 60–70 miligram dan masih aman dikonsumsi hingga dua kali lipat karena sifatnya yang larut dalam air.

Ia menjabarkan bahwa sumber vitamin C terbaik berasal dari buah dan sayur segar. “Kalau dari buah, kita tidak hanya dapat vitamin C, tetapi juga serat, vitamin lain, dan zat gizi pendukung lainnya. Jadi manfaatnya lebih lengkap,” ujarnya.

Adapun beberapa buah dengan kandungan vitamin C tinggi antara lain jambu biji, jeruk, tomat, pepaya, serta berbagai buah tropis lainnya.

Namun demikian, Prof Hardinsyah mengingatkan bahwa vitamin C mudah rusak oleh panas. Oleh karena itu, pengolahan sayur sebaiknya tidak menggunakan suhu tinggi.

“Kalau sayuran dimasak dengan suhu tinggi, sebagian besar vitamin C-nya hilang. Konsumsi sebagai salad atau tumis cepat masih memungkinkan vitamin C tetap ada,” jelasnya.

Terkait suplemen vitamin C, Prof Hardinsyah menyebutkan bahwa penggunaannya dapat menjadi pilihan dalam kondisi tertentu.

“Dalam kondisi darurat, seperti bepergian jauh, sulit akses buah dan sayur, atau masa pemulihan sakit, suplemen vitamin C bisa digunakan. Namun, dalam kondisi normal, sumber alami tetap lebih dianjurkan,” katanya.

Ia menjelaskan gejala kekurangan vitamin C tidak selalu spesifik, tetapi dapat terlihat dari kondisi kulit yang menjadi kasar, kering, dan bibir tampak keriput.

“Itu gejala awal yang sering muncul, meskipun bisa juga berkaitan dengan kekurangan zat gizi lain,” ujar Prof Hardinsyah.

Sebagai upaya menjaga daya tahan tubuh, ia menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi buah dan sayur secara seimbang setiap hari.

“Dengan mengonsumsi dua porsi sayur dan tiga porsi buah per hari, kebutuhan vitamin C umumnya sudah bisa terpenuhi,” ungkapnya.

(rls/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version