Berita

Peran Biodiversitas Serangga pada Kemajuan Sains dan Pertanian

Published

on

Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University Profesor, Purnama Hidayat. Foto/istimewa.

KlikBogor – Serangga kerap dianggap sebagai makhluk remeh, bahkan mengganggu. Namun di balik ukurannya yang kecil, serangga memiliki pengaruh yang luar biasa besar.

Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University Profesor, Purnama Hidayat, menyampaikan serangga memang dapat menjadi ancaman serius. Dari data menunjukkan bahwa 20 hingga 40 persen hasil pertanian dunia hilang setiap tahunnya akibat serangan serangga.

Selain itu, serangga juga menjadi vektor berbagai penyakit mematikan seperti malaria, demam berdarah, dan chikungunya, yang masih menjadi tantangan besar dalam kesehatan masyarakat, termasuk di Indonesia.

“Namun, kita tidak boleh hanya melihat sisi negatifnya. Di balik potensi kerugian, serangga menyimpan manfaat luar biasa yang sering kali diabaikan,” kata Profesor Purnama saat konferensi pers pra orasi ilmiah bertajuk Peran Biodiversitas Serangga terhadap Kemajuan Sains dan Pertanian via zoom meeting, Kamis, 22 Mei 2025.

Dipaparkan, serangga adalah penyerbuk utama tanaman pangan, penghasil komoditas bernilai tinggi, seperti madu dan sutra, serta pengurai bahan organik yang berperan penting dalam siklus nutrisi alam.

Lebih dari itu, serangga juga menginspirasi teknologi canggih. Struktur tubuh dan gerakan mereka menjadi model bagi pengembangan drone, helikopter, hingga kamera 360 derajat.

Jika dihitung secara ekonomi, terang Profesor Purnama, kontribusi positif serangga terhadap kehidupan manusia bahkan jauh melampaui nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia puluhan kali lipat.

Ia menyampaikan ada dua temuan penting dalam penelitian yang dilakukannya bersama tim. Pertama, adalah meneliti peran serangga sebagai musuh alami dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan.

“Salah satu studi kami menunjukkan bahwa lalat ganjur alang-alang (Orseolia javanica), yang selama ini menyebabkan kerusakan hingga 20% pada tanaman alang-alang—gulma tangguh dengan 60% biomassanya tersembunyi di dalam tanah ternyata memiliki musuh alami yang sangat efektif,” ungkapnya.

Peneliti berhasil mendeskripsikan spesies parasitoid baru yang diberi nama Patygaster orseoliae. Yang membuat menarik peneliti, parasitoid ini tidak hanya menyerang lalat ganjur pada alang-alang, tetapi juga menyerang lalat ganjur padi (Orseolia oryzae) saat tanaman padi tersedia.

Artinya, kata Profesor Purnama, alang-alang yang selama ini dianggap sebagai gulma ternyata dapat berfungsi sebagai refugia alami bagi musuh alami hama padi.

“Temuan ini membuka peluang baru dalam strategi pengendalian hama secara hayati terhadap hama ganjur padi, tanpa ketergantungan penuh pada pestisida,” ujarnya.

Ia lanjut menjelaskan temuan kedua berkaitan dengan teknologi. Dalam hal ini, peneliti mengembangkan kunci identifikasi serangga interaktif menggunakan perangkat lunak LUCID, yang dirancang untuk mempercepat dan mempermudah proses identifikasi, khususnya terhadap kutu kebul.

Kutu kebul adalah serangga kecil berwarna putih, yang saat terganggu beterbangan seperti asap (kebul). Selain menjadi hama penting, kutu kebul juga merupakan vektor bagi ratusan jenis virus penyebab penyakit tanaman.

“Karena itu, identifikasi yang akurat sangat krusial. Kunci identifikasi berbasis LUCID ini menggunakan pendekatan visual dan logika kunci yang fleksibel, sehingga memungkinkan pengguna melakukan identifikasi lebih dari 50% lebih cepat dibanding metode tradisional berbasis kunci dikotomi,” ujarnya.

Menurutnya, terobosan ini menjadi penting, karena kecepatan dalam identifikasi hama berpengaruh langsung terhadap keefektifan respons pengendalian. Selain itu, LUCID juga sangat bermanfaat dalam pelatihan, pendidikan, dan riset entomologi secara luas.

“Kita hidup di era di mana krisis pangan, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem menjadi isu nyata. Di tengah kompleksitas tersebut, serangga hadir bukan hanya sebagai bagian dari masalah, tetapi juga bagian dari solusi,” imbuhnya.

Melalui pendekatan ilmiah, ia mengatakan dapat memanfaatkan potensi serangga untuk mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan inovasi teknologi.

Oleh karena itu, Profesor Purnama mengajak akademisi, pemerintah, industri, media, dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap dunia serangga.

“Jangan lagi melihat mereka sekadar sebagai hama atau gangguan, melainkan sebagai makhluk kunci dalam ekosistem dan sumber inspirasi masa depan,” ujarnya.

(ckl/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version