Serba Serbi

Mikrobiom, Teman Sepanjang Hayat yang Bermanfaat Buat Manusia

Published

on

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto. Dok. IPB University.

KlikBogor – Tubuh manusia juga dihuni oleh kumpulan mikroorganisme, yang disebut mikrobiom. Mikrobiom, yang hidup di tubuh manusia ternyata berperan besar menjaga kesehatan sejak lahir hingga akhir hayat.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto, mengungkapkan hal ini dalam tayangan IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV bertajuk “Mikrobiom, Teman Sepanjang Hayat”.

“Tubuh kita bukan hanya kumpulan sel-sel, tapi juga dihuni berbagai mikroorganisme seperti bakteri, jamur, hingga yeast. Semua mikroorganisme yang berasosiasi dengan tubuh kita dan umumnya bermanfaat, itulah yang disebut mikrobiom,” jelas Prof Antonius dikutip Minggu,  14 September 2025.

Prof Antonius melanjutkan mikrobiom tersebar di kulit, mulut, hingga usus besar. Bahkan, hampir separuh dari berat feses manusia merupakan bakteri.

“Usus besar itu ibarat metropolitan bakteri. Dalam satu gram feses bisa terdapat sekitar satu triliun bakteri,” katanya.

Ia juga menjelaskan mikrobiom pertama kali hadir sejak bayi lahir. Bayi yang lahir normal melalui vagina akan langsung mendapatkan bakteri dari ibunya.

“Bakteri dari ibu ini penting. Ada penelitian yang menunjukkan kaitannya dengan risiko autisme atau penyakit autoimun pada bayi lahir caesar tanpa paparan mikrobiom alami,” katanya.

Mikrobiom juga berhubungan dengan kesehatan mental. Mikroorganisme di usus menghasilkan dopamin dan serotonin yang memengaruhi otak.

“Usus yang sehat akan mendukung otak yang sehat. Karena itu ada istilah happy tummy, happy life,” ungkap Prof Antonius.

Untuk menjaga keseimbangan mikrobiom, Prof Antonius menyarankan konsumsi makanan berserat dan produk fermentasi tradisional, seperti tempe, tape, atau yogurt.

“Makanan berserat memberi nutrisi bagi bakteri usus, sementara makanan fermentasi langsung memasukkan mikroorganisme baik ke dalam tubuh,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan menggunakan antiseptik atau desinfektan. “Bakteri normal di kulit atau usus melindungi kita dari bakteri berbahaya. Kalau dibasmi berlebihan justru memberi ruang bagi bakteri jahat,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa hidup terlalu bersih tidak selalu baik. Anak-anak yang sering bermain lumpur atau air di desa justru memiliki sistem imun yang lebih kuat dibanding anak-anak yang hidup di lingkungan sangat steril. “Kalau terlalu higienis, sistem pertahanan tubuh tidak terlatih,” ujarnya.

Prof Antonius berpesan bahwa mikrobiom adalah sahabat sejati tubuh manusia. mikrobiom berperan besar dalam menjaga kesehatan.

“Mikroorganisme itu bukan musuh, melainkan pelindung yang membuat kita sehat. Karena itu, jagalah keseimbangannya melalui pola makan, gaya hidup, dan interaksi dengan alam,” tandasnya.

(ary/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version