Berita

IPB University Dorong Inovasi Kelembagaan Petani Lewat Komunitas Estate Padi-Kampus Desa

Published

on

Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Prof. Amiruddin Saleh. Foto/Istimewa.

KlikBogor – IPB University kembali melahirkan guru besar yang akan dikukuhkan pada Sabtu, 26 Juli 2025, di Gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB University, Darmaga, Bogor. Salah satunya adalah Prof. Amiruddin Saleh.

Dalam orasi ilmiahnya, Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) ini menyampaikan gagasan strategis mengenai penguatan kelembagaan petani dan desa melalui dua model inovatif, yakni Komunitas Estate Padi (KEP) dan Kampus Desa.

Orasi ilmiah berjudul “Inovasi Kelembagaan Pertanian: Analisis Komunitas Estate Padi dan Kampus Desa di Indonesia,” Prof. Amiruddin menggarisbawahi pentingnya kelembagaan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi digital dalam menghadapi tantangan regenerasi petani, fragmentasi usaha tani, serta kesenjangan antara dunia akademik dan masyarakat desa.

“Transformasi pertanian tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan manajemen teknis atau manajemen kelembagaan. Diperlukan model kelembagaan yang adaptif, berbasis komunikasi kelompok, dan ditopang teknologi digital agar petani dan desa bisa mandiri dan berdaya saing,” tegas Prof. Amiruddin saat konferensi pers pra orasi ilmiah yang digelar virtual, Kamis, 24 Juli 2025.

Komunitas Estate Padi: Model Kolektif Menuju Pertanian Berdaya Saing

Prof. Amiruddin memaparkan model Komunitas Estate Padi (KEP) dikembangkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan struktural yang dihadapi petani kecil di Indonesia mulai dari fragmentasi lahan, lemahnya posisi tawar, hingga krisis regenerasi petani muda.

Dengan pendekatan berbasis kawasan dan manajemen kolektif, KEP menyatukan seluruh rantai nilai produksi pertanian padi dari pembenihan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran dalam satu sistem terpadu.

Ia menambahkan model ini telah diimplementasikan di tujuh kabupaten di Jawa dan Sumatera, dan berhasil menunjukkan peningkatan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta tumbuhnya startup agribisnis berbasis petani.

Salah satu keunggulan utama KEP terletak pada pembentukan struktur sosial yang demokratis melalui Forum Perwakilan Petani Pemilik dan Penggarap Lahan (FP4L). “Forum ini memungkinkan petani menjadi pengambil keputusan, bukan sekadar pelaksana program,” kata Prof. Amiruddin.

Menurutnya, keterlibatan aktif petani dalam perencanaan, pelatihan, dan pengelolaan usaha menjadikan KEP sebagai ruang belajar kolektif yang mendorong tumbuhnya budaya organisasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Lebih jauh, KEP mengintegrasikan teknologi digital dan mekanisasi pertanian sebagai bagian dari operasional harian. Penggunaan benih unggul seperti varietas IPB 3S, drone untuk pemupukan, irigasi presisi, serta pelatihan digital marketing menjadi bagian dari transformasi menuju pertanian modern yang berbasis data.

Pendekatan ini tak hanya menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperlihatkan bahwa pertanian bisa menjadi profesi yang prospektif dan menarik bagi generasi muda.

“KEP bukan hanya model pertanian modern. Ia adalah ruang sosial tempat petani membentuk forum demokratis, berbagi pengetahuan, dan mengadopsi teknologi berbasis digital seperti drone, mekanisasi, hingga digital marketplace,” ungkap Prof. Amiruddin.

Keberhasilan KEP, menurutnya, bukan hanya ditentukan oleh intervensi teknologi, tetapi oleh kualitas komunikasi kelompok dan kemampuan komunitas untuk tumbuh bersama dalam kelembagaan yang inklusif, adaptif, dan berbasis gotong royong.

Kampus Desa: Transformasi Ilmu Menjadi Pemberdayaan Komunitas

Selain KEP, Prof. Amiruddin juga menyoroti pentingnya Kampus Desa, sebuah model intervensi edukatif yang dirancang untuk menjembatani jurang antara universitas dan masyarakat desa. Berbasis pada prinsip community-based education dan project-based learning, Kampus Desa bukan sekadar program pengabdian kepada masyarakat, tetapi merupakan gerakan transformasional yang memperkuat kapasitas komunitas desa secara partisipatif dan berkelanjutan.

Dalam model ini, mahasiswa dan dosen IPB University tidak hanya berperan sebagai pendidik atau fasilitator, tetapi sebagai co-learner, belajar bersama warga desa melalui pendekatan kolaboratif.

Prosesnya dimulai dari pelatihan pra-keberangkatan, pemetaan sosial partisipatif, desain bersama program aksi (co-design), pelaksanaan di lapangan (co- implementation), hingga refleksi bersama dalam forum warga.

“Masalah utama pembangunan desa bukan kurangnya teknologi, tapi lemahnya komunikasi dan pengorganisasian sosial. Kampus Desa hadir sebagai ruang bersama untuk mengelola perubahan dari bawah,” ujar Prof. Amiruddin.

Program ini telah diimplementasikan sejak 2018 di lebih dari 60 desa dan kelurahan di wilayah Bogor, melalui sinergi antara Sekolah Vokasi IPB, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM), universitas lokal dan mitra internasional seperti University of British Columbia (UBC), Kanada. Program ini berhasil mengaktifkan forum warga, memunculkan relasi baru antara desa dan universitas, serta mendorong agensi komunitas dalam merancang dan menjalankan program lokal.

Salah satu inovasi yang membedakan program ini adalah penyelenggaraan “Wisuda Kampus Desa,” yang menandai selesainya siklus pembelajaran dan pengakuan terhadap capaian warga. Bukan seremoni seremonial semata, wisuda ini merepresentasikan lahirnya aktor-aktor perubahan di tingkat akar rumput.

Namun, Prof. Amiruddin juga mencatat bahwa pelembagaan jangka panjang dan pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan masih menjadi tantangan penting. Karena itu, dibutuhkan sistem pendampingan berkelanjutan, perekrutan fasilitator lokal, dan integrasi program dalam kebijakan desa.

“Dengan komunikasi kelompok sebagai fondasi, dan dialog sebagai metode utama, Kampus Desa menjadikan desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama transformasi sosial,” pungkasnya.

Dua model inovasi tersebut menempatkan komunikasi kelompok sebagai jantung dari pengorganisasian sosial dan transformasi kelembagaan. Pertemuan tatap muka, diskusi kelompok, hingga platform digital, seperti WhatsApp dan Zoom digunakan secara strategis dalam membangun kepercayaan dan kohesi sosial petani.

“Komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi. Ia adalah medium demokrasi akar rumput dan fondasi perubahan sosial yang sesungguhnya,” tambahnya.

Prof. Amiruddin menyerukan kepada semua pihak pemerintah, akademisi, komunitas, dan generasi muda untuk membangun ekosistem pertanian dan desa yang tangguh dan berkelanjutan.

“Kita butuh kebijakan yang menempatkan petani dan warga desa sebagai subjek pembangunan, bukan hanya pelaksana program. Hal ini selaras dengan agenda pembangunan nasional seperti koperasi merah putih.

(*/hrs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Exit mobile version